LANDASAN, ISU, DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN KEJURUAN

34
711

Setelah pembelajaran di dalam kelas tentang landasan Pendidikan kejuruan, dengan menkaji dari referensi buku, jurnal, atau bahan bacaan lainnya, diskusikannlah dan buat kajian dengan cakupan sebagai berikut:

  1. Landasan filofosi Pendidikan kejuruan adalah eksistensialisme dan esensialisme. Buat kajian dan analisis landasan filosofi eksistensialisme dan esensialisme dan implementasi landasan filosofi tersebut dalam Pendidikan kejuruan. Referensi yang digunakan minimal 10 bahan bacaan (bukan blog atau Wikipedia) untuk membuat kajian tersebut.
  2. Landasan ekonomi Pendidikan kejuruan adalah efisiensi dan investasi. Buat kajian dan analisis landasan ekonomi efisiensi dan investasi dan implementasi landasan ekonomi tersebut dalam Pendidikan kejuruan. Referensi yang digunakan minimal 10 bahan bacaan (bukan blog atau Wikipedia) untuk membuat kajian tersebut.

Silakan diskusikan dengan teman-teman dan jawaban bisa ditulis di dalam kolom komentar. Perlu diperhatikan: 1) kajian hasil diskusi diawali dengan menuliskan NIM dan setiap mahasiswa membuat/merumuskan jawaban dengan versi masing-masing (tidak copy paste jawaban teman) meskipun hasil diskusi bersama, 2) Setiap kajian di atas, ditulis dalam satu kolom komen (tiap menjawab satu soal, langsung kirim/posting), soal nomor 2 dst ditulis dalam kolom komen yang terpisah (satu kolom komen hanya untuk menjawab satu soal saja), 3) setiap jawaban yang dituliskan harus berdasarkan referensi: buku, jurnal ilmiah, dll (bukan hasil pendapat pribadi) dan daftar referensi tersebut ditulis di bagian akhir dari jawaban tiap soal. Jawaban ditunggu sampai hari Senin, 9 September 2019 pukul 17.00. Selamat berdiskusi (DW).

34 COMMENTS

  1. 0501519003

    Landasan filosofi pendidikan kejuruan adalah eksistensialisme dan esensialisme. Filosofi eksistensialisme merupakan paham yang menempatkan manusia pada titik sentrum dari segala relasi kemanusiaan, dalam perkembangannya, eksistensialisme mengacu pada fenomena kemanusiaan kongkret yang tengah terjadi. Eksistensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitas yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, kreatif, inovatif, menumbuhkan bakat, minat dan kemampuan peserta didik, dan bukan merampasnya. (Yunus, 2011). Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang menekankan tentang cara manusia berada di dunia yang berbeda dengan benda. (Yussafina, 2015). Sedangkan filosofi esensialisme merujuk kepada apa yang perlu dan sangat perlu tentang sesuatu suatu objek. Esensialisme menegaskan bahwa sekolah, instruksi, pengajaran dan pembelajaran perlu fokus pada dasar tentang apa yang benar-benar diperlukan sebagai seorang terdidik. Filosofi esensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengaitkan dirinya dengan sistem-sistem yang lain seperti ekonomi, politik, ketenagakerjaan, religi dan moral. Tujuan kaum esensialisme yaitu untuk meneruskan dan mempertahankan unsur penting dalam budaya manusia meliputi membaca, menulis, dan berhitung. Esensialisme diyakini sebagai dasar yang sangat diperlukan, maka sering juga disebut dengan pendidikan dasar. (Helaluddin & Wijaya, 2018). Pada penerapannya dalam pendidikan kejuruan, dua filosofi ini berjalan beriringan, dibuktikan dengan adanya guru normatif, guru adaptif, dan guru produktif. Komposisi ketiga kualifikasi guru tersebut pada tahun 2016 terdiri dari 78% guru normatif dan adaptif, serta 22% guru produktif. Hal ini menyebabkan kurangnya guru dan pendidik yang benar-benar memiliki kompentensi untuk mengajarkan bidang keahlian, dengan kata lain bahwa posisi filosofi esensialisme masih mendominasi pada guru pendidikan kejuruan. (Hadam, Rahayu, & Ariyadi, 2017). Padahal di dalam peraturan pemerintah (PP) No. 29 tahun 1990, dijelaskan bahwa pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu. (PP. Presiden RI. Nomor 29, 1990). Implementasi dari filosofi diatas menurut yaitu dengan program yang disiapkan oleh pendidikan kejuruan. Menurut Calhound (1982), pendidikan kejuruan adalah suatu program pendidikan yang menyiapkan individu peserta didik menjadi tenaga kerja profesional, juga siap untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. (Marfu’ah, 2016). Dalam penerapannya, lembaga pendidikan kejuruan mencetak tenaga kerja yang memiliki tingkat kemampuan, kompetensi, dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja. (Wayong, 2010). Pendidikan kejuruan dipandang dapat menyamakan hak dalam memperoleh pekerjaan dan mengembangkan kecakapan tertentu yang akan mendukung kehidupan karir dan kesuksesan. Agar lulusan pendidikan kejuruan diakui sesuai dengan kebutuhan industri, maka pelaksanaan uji kompetensi harus dilakukan yang melibatkan juga dunia usaha/dunia industri. Uji kompetensi keahlian bagi siswa SMK terdiri dari uji kompetensi keahlian teori dan uji kompetensi keahlian praktik, ujian ini dimaksudkan untuk mengetahui pencapaian siswa dalam level tertentu. (Yoto, 2014). Uji kompetensi dapat dilakukan oleh pihak SMK, tetapi hampir seluruh SMK saat ini hanya menyelenggaran fungsi tunggal yaitu menyiapkan lulusannya untuk bekerja, fungsi lainnya belum dilaksanakan secara maksimal. (Slamet, 2014). Padahal dengan adanya uji kompetensi ini dapat dilihat jika semakin baik prestasi kompetensi kejuruan yang dimiliki siswa maka minatnya terhadap bidang studi yang didalaminya juga semakin baik dan semakin baik pula minat kerjanya kelak jika selesai menempuh pendidikan di SMK. (Huda, 2019).

    Sumber :
    Hadam, S., Rahayu, N., & Ariyadi, A. N. (2017). Strategi implementasi revitalisasi SMK. Buku Serial Revitalisasi SMK, 214. https://doi.org/10.1300/J028v11n01_10
    Helaluddin, & Wijaya, H. (2018). Esensialisme , Pendidikan Dasar , Dan Standar-Standarnya (G.L. Gutek). Retrieved from https://www.researchgate.net/publication/323113878_Terjemahan_Esensialisme_Pendidikan_Dasar_Dan_Standar-Standarnya_G_L_Gutek
    Huda, F. A. (2019). Kontribusi Kondisi Sosial Ekonomi Orang Tua dan Kompetensi Kejuruan Terhadap Peningkatan Minat Bekerja pada Siswa SMK Keahlian TKJ di Kota Sintang. Vox Edukasi, 7(2), 177–189.
    Marfu’ah, S. (2016). Pendidikan kejuruan. In Pendidikan kejuruan. Yogyakarta.
    PP. Presiden RI. Nomor 29. (1990). Peraturan Pemerintah Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1990 Tentang Pendidikan Menengah. 1990, 56–79.
    Slamet, P. (2014). Kebijakan Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Universitas Negeri Yogyakarta, 108. Retrieved from http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/slamet-ph-mamedmlhr-dr-prof/2-kebijakanok.pdf
    Wayong, A. (2010). Relevansi Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada Sekolah Kejuruan dengan Kebutuhan Dunia Kerja. Prosiding APTEKINDO, 6(1), 379–384.
    Yoto. (2014). Partisipasi Masyarakat Industri Dalam Pelaksanaan Uji Kompetensi Di SMK. Jurnal Teknik Mesin, 22(1), 104–116.
    Yunus, F. M. (2011). KEBEBASAN DALAM FILSAFAT EKSISTENSIALISME JEAN PAUL SARTRE Firdaus M. Yunus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry, Banda Aceh. Jurnal Al-Ulum, (1), 267–282.
    Yussafina, D. M. (2015). Eksistensialisme Jean Paul Sartre Dan Relevansinya Dengan Moral Manusia.

    • NIM : 0501519003

      2. Landasan ekonomi Pendidikan kejuruan adalah efisiensi dan investasi. Buat kajian dan analisis landasan ekonomi efisiensi dan investasi dan implementasi landasan ekonomi tersebut dalam Pendidikan kejuruan. Referensi yang digunakan minimal 10 bahan bacaan (bukan blog atau Wikipedia) untuk membuat kajian tersebut.

      Pendidikan kejuruan sebagai education for work di era desentralisasi semakin dihadapkan pada masalah baru selain mutu dan relevansi yaitu pada masalah efisiensi. Pada hakikatnya, analisis ekonomi bersumber pada anggapan bahwa sumberdaya itu langka bila dikaitkan ddengan keinginan dan kebutuhan manusia yang terus berkembang, kelangkaan mengandung arti bahwa setiap penggunaan sumberdaya membutuhkan suatu pilihan yang cermat. Dalam tujuan positif, ekonomi pendidikan berusaha menjelaskan dan memprediksi gejala-gejala dalam dunia pendidikan. Dalam tujuan normatif pada hakikatnya merujuk pada standar, standar yang dimaksud adalah efisiensi. Efisiensi menjadi tujuan karena menjadi basis dalam mengevaluasi dan pengambilan keputusan dalam kegiatan pendidikan. Salah satu bahasan dalam ekonomi pendidikan adalah analisa biaya pendidikan karena hampir setiap bangsa mengalami kenaikan biaya pendidikan. Secara internal, efisinsi alokasi pendidikan juga dapat dilakukan agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah digariskan dengan cara seefisien mungkin. (Sudira, n.d.)
      Biaya pendidikan mencakup beberapa faktor, antara lain : besar kecilnya sebuah institusi pendidikan, jumlah siswa, tingkat gaji guru/dosen, rasio perbandingan siswa dengan guru, kualifikasi guru, tingkat pertumbuhan penduduk, dan perubahan kebijakan. Efisiensi dapat dihitung dari faktor input dan output dari pendidikan serta proses yang ada didalamnya, perhitungan ini dapat dihitung menggunakan teknik (cost analysis): productifity measurement atau analisa cost-effectiveness atau analisa cost-benefit. Hasil perhitungan biaya pendidikan dapat mengevaluasi apakah investasi tersebut menguntungkan atau tidak baik untuk individu tersebut ataupun untuk masyarakat luas. (Fattah, 2008)
      Salah satu karakteristik pendidikan kejuruan adalah memerlukan biaya investasi dan operasional yang lebih besar daripada pendidikan umum. (Wagiran, n.d.). Dari teori Prosser juga dijelaskan bahwa penyelenggaran pendidikan kejuruan memerlukan investasi/pembiayaan yang sangat besar. Karena input biaya yang besar, diharapkan juga lulusan pendidikan kejuruan juga memiliki output yang kompeten agar dapat bersaing dalam dunia kerja. Salah satu harapan pemerintah dari lulusan SMK adalah sebagai penggerak ekonomi lokal, SMK berkewajiban menyiapkan sumber daya manusia yang tangguh dan dapat bersaing. Harapan ke depan dengan adanya peran SMK sebagai penggerak ekonomi lokal adalah mengembangkan ekonomi kreatif, dan sebagai penggerak industri masyarakat, dapat meningkatkan kemampuan dan ketrampilan serta aksebilitas yang dapat memecahkan persoalan sehari-hari, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan. (Hadam, Rahayu, & Ariyadi, 2017). Sebagai penggerak ekonomi lokal yang mengembangkan ekonomi kreatif, pemerintah sudah seharusnya mewadahi penyaluran ekonomi kreatif sebagai sarana efisiensi output lulusan pendidikan kejuruan, salah satu peran pemerintah yaitu dengan pengembangan ekonomi kreatif itu sendiri, terbukti dari bangkitnya ekonomi kreatif yang mengalami pertumbuhan 5,7% selama tahun 2011-2014. (Viriya, Pangestu, & Ahmett, 2016).
      Setiap alokasi dana SMK harus dilihat sebagai investasi dan diukur dengan rate of return atau keuntungan balik hasil investasi. (Sudira, n.d.). Peran DUDI terhadap SMK memiliki peran penting, seperti pelaksanaan praktik kerja industri/magang. DUDI harus peduli dengan pendidikan kejuruan karena terkait dengan SDM dan kerjasama antara DUDI dan SMK adalah sebuah hubungan timbal balik yang positif. (Agustiono, 2017). Kerjasama antara DUDI dan SMK dimaksudkan untuk menjawab persoalan kesenjangan kompetensi lulusan di SMK yang menjadi salah satu sebab masih tingginya pengangguran dari lulusan SMK. (Widjajanti, 2018). Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro, kondisi pengangguran saat ini merupakan akibat dari manajemen SMK di Indonesia yang kurang baik. Selama ini Indonesia hanya berkutat di pendidikan vokasi berbasis jasa. (CNN, 2019). Pada peraturan pemerintah dituliskan bahwa sekolah menengah kejuruan perlu mempunyai sejumlah program yang memungkinkan tamatannya memasuki lapangan kerja yang tersedia, tetapi pada kenyataannya masih banyak pengangguran yang menjadi cermin belum berhasilnya program tersebut. (PP. Presiden RI. Nomor 29, 1990). Langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu revitalisasi SMK agar luaran sesuai dengan yang diharapkan, salah satunya dengan peningkatan kualitas SMK melalui uji kompetensi. (Yuana, 2019)

      Agustiono, S. (2017). Kepedulian DUDI Merupakan Pengembangan Daya Saing Siswa SMK. Retrieved September 8, 2019, from https://www.kompasiana.com/sagustiono/59c43f3136e8021f55156602/kepedulian-dudi-merupakan-pengembangan-daya-saing-siswa-smk
      CNN. (2019). Lulusan SMK Banyak Menganggur, Menteri Bambang Anggap Anomali. Retrieved from CNN Indonesia website: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190403134803-92-383168/lulusan-smk-banyak-menganggur-menteri-bambang-anggap-anomali
      Fattah, N. (2008). Pembiayaan Pendidikan: Landasan Teori dan Studi Empiris. Pendidikan Dasar, (April), 1–4.
      Hadam, S., Rahayu, N., & Ariyadi, A. N. (2017). Strategi implementasi revitalisasi SMK. Buku Serial Revitalisasi SMK, 214. https://doi.org/10.1300/J028v11n01_10
      PP. Presiden RI. Nomor 29. (1990). Peraturan Pemerintah Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1990 Tentang Pendidikan Menengah. 1990, 56–79.
      Sudira, P. (n.d.). Efisiensi Internal Pendidikan Kejuruan. Retrieved from http://staffnew.uny.ac.id/upload/132297916/pendidikan/materi+PENDIDIKAN+TEKNOLOGI+DAN+KEJURUAN.pdf
      Viriya, E., Pangestu, M. E., & Ahmett, I. (2016). Kebangkitan Ekonomi Kreatif. Retas, 1, 20.
      Wagiran. (n.d.). Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Retrieved from http://staffnew.uny.ac.id/upload/132297916/pendidikan/materi+PENDIDIKAN+TEKNOLOGI+DAN+KEJURUAN.pdf
      Widjajanti, C. (2018). Optimalisasi Kompetensi Lulusan SMK Dalam Industri / Teknologi Terapan (M. Herdyka, M. A. Majid, & Ari, Eds.). Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
      Yuana, C. (2019). Urgensi Lembaga Sertifikasi Profesi di SMK, Sebuah Renungan. Retrieved September 8, 2019, from Kompasiana website: https://www.kompasiana.com/pakcahya/5c44a1f5677ffb6883561238/urgensi-lembaga-sertifikasi-profesi-lsp-di-smk-sebuaeh-renungan?page=all

  2. 0501519003

    Landasan filosofi pendidikan kejuruan adalah eksistensialisme dan esensialisme. Filosofi eksistensialisme merupakan paham yang menempatkan manusia pada titik sentrum dari segala relasi kemanusiaan, dalam perkembangannya, eksistensialisme mengacu pada fenomena kemanusiaan kongkret yang tengah terjadi. Eksistensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitas yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, kreatif, inovatif, menumbuhkan bakat, minat dan kemampuan peserta didik, dan bukan merampasnya. (Yunus, 2011). Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang menekankan tentang cara manusia berada di dunia yang berbeda dengan benda. (Yussafina, 2015). Sedangkan filosofi esensialisme merujuk kepada apa yang perlu dan sangat perlu tentang sesuatu suatu objek. Esensialisme menegaskan bahwa sekolah, instruksi, pengajaran dan pembelajaran perlu fokus pada dasar tentang apa yang benar-benar diperlukan sebagai seorang terdidik. Filosofi esensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengaitkan dirinya dengan sistem-sistem yang lain seperti ekonomi, politik, ketenagakerjaan, religi dan moral. Tujuan kaum esensialisme yaitu untuk meneruskan dan mempertahankan unsur penting dalam budaya manusia meliputi membaca, menulis, dan berhitung. Esensialisme diyakini sebagai dasar yang sangat diperlukan, maka sering juga disebut dengan pendidikan dasar. (Helaluddin & Wijaya, 2018). Pada penerapannya dalam pendidikan kejuruan, dua filosofi ini berjalan beriringan, dibuktikan dengan adanya guru normatif, guru adaptif, dan guru produktif. Komposisi ketiga kualifikasi guru tersebut pada tahun 2016 terdiri dari 78% guru normatif dan adaptif, serta 22% guru produktif. Hal ini menyebabkan kurangnya guru dan pendidik yang benar-benar memiliki kompentensi untuk mengajarkan bidang keahlian, dengan kata lain bahwa posisi filosofi esensialisme masih mendominasi pada guru pendidikan kejuruan. (Hadam, Rahayu, & Ariyadi, 2017). Padahal di dalam peraturan pemerintah (PP) No. 29 tahun 1990, dijelaskan bahwa pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu. (PP. Presiden RI. Nomor 29, 1990). Implementasi dari filosofi diatas menurut yaitu dengan program yang disiapkan oleh pendidikan kejuruan. Menurut Calhound (1982), pendidikan kejuruan adalah suatu program pendidikan yang menyiapkan individu peserta didik menjadi tenaga kerja profesional, juga siap untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. (Marfu’ah, 2016). Dalam penerapannya, lembaga pendidikan kejuruan mencetak tenaga kerja yang memiliki tingkat kemampuan, kompetensi, dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja. (Wayong, 2010). Pendidikan kejuruan dipandang dapat menyamakan hak dalam memperoleh pekerjaan dan mengembangkan kecakapan tertentu yang akan mendukung kehidupan karir dan kesuksesan. Agar lulusan pendidikan kejuruan diakui sesuai dengan kebutuhan industri, maka pelaksanaan uji kompetensi harus dilakukan yang melibatkan juga dunia usaha/dunia industri. Uji kompetensi keahlian bagi siswa SMK terdiri dari uji kompetensi keahlian teori dan uji kompetensi keahlian praktik, ujian ini dimaksudkan untuk mengetahui pencapaian siswa dalam level tertentu. (Yoto, 2014). Uji kompetensi dapat dilakukan oleh pihak SMK, tetapi hampir seluruh SMK saat ini hanya menyelenggaran fungsi tunggal yaitu menyiapkan lulusannya untuk bekerja, fungsi lainnya belum dilaksanakan secara maksimal. (Slamet, 2014). Padahal dengan adanya uji kompetensi ini dapat dilihat jika semakin baik prestasi kompetensi kejuruan yang dimiliki siswa maka minatnya terhadap bidang studi yang didalaminya juga semakin baik dan semakin baik pula minat kerjanya kelak jika selesai menempuh pendidikan di SMK. (Huda, 2019).

    Sumber :
    Hadam, S., Rahayu, N., & Ariyadi, A. N. (2017). Strategi implementasi revitalisasi SMK. Buku Serial Revitalisasi SMK, 214. https://doi.org/10.1300/J028v11n01_10
    Helaluddin, & Wijaya, H. (2018). Esensialisme , Pendidikan Dasar , Dan Standar-Standarnya (G.L. Gutek). Retrieved from https://www.researchgate.net/publication/323113878_Terjemahan_Esensialisme_Pendidikan_Dasar_Dan_Standar-Standarnya_G_L_Gutek
    Huda, F. A. (2019). Kontribusi Kondisi Sosial Ekonomi Orang Tua dan Kompetensi Kejuruan Terhadap Peningkatan Minat Bekerja pada Siswa SMK Keahlian TKJ di Kota Sintang. Vox Edukasi, 7(2), 177–189.
    Marfu’ah, S. (2016). Pendidikan kejuruan. In Pendidikan kejuruan. Yogyakarta.
    PP. Presiden RI. Nomor 29. (1990). Peraturan Pemerintah Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1990 Tentang Pendidikan Menengah. 1990, 56–79.
    Slamet, P. (2014). Kebijakan Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Universitas Negeri Yogyakarta, 108. Retrieved from http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/slamet-ph-mamedmlhr-dr-prof/2-kebijakanok.pdf
    Wayong, A. (2010). Relevansi Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada Sekolah Kejuruan dengan Kebutuhan Dunia Kerja. Prosiding APTEKINDO, 6(1), 379–384.
    Yoto. (2014). Partisipasi Masyarakat Industri Dalam Pelaksanaan Uji Kompetensi Di SMK. Jurnal Teknik Mesin, 22(1), 104–116.
    Yunus, F. M. (2011). KEBEBASAN DALAM FILSAFAT EKSISTENSIALISME JEAN PAUL SARTRE Firdaus M. Yunus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry, Banda Aceh. Jurnal Al-Ulum, (1), 267–282.
    Yussafina, D. M. (2015). Eksistensialisme Jean Paul Sartre Dan Relevansinya Dengan Moral Manusia.

  3. NIM : 0501519003

    2. Pendidikan kejuruan sebagai education for work di era desentralisasi semakin dihadapkan pada masalah baru selain mutu dan relevansi yaitu pada masalah efisiensi. Pada hakikatnya, analisis ekonomi bersumber pada anggapan bahwa sumberdaya itu langka bila dikaitkan ddengan keinginan dan kebutuhan manusia yang terus berkembang, kelangkaan mengandung arti bahwa setiap penggunaan sumberdaya membutuhkan suatu pilihan yang cermat. Dalam tujuan positif, ekonomi pendidikan berusaha menjelaskan dan memprediksi gejala-gejala dalam dunia pendidikan. Dalam tujuan normatif pada hakikatnya merujuk pada standar, standar yang dimaksud adalah efisiensi. Efisiensi menjadi tujuan karena menjadi basis dalam mengevaluasi dan pengambilan keputusan dalam kegiatan pendidikan. Salah satu bahasan dalam ekonomi pendidikan adalah analisa biaya pendidikan karena hampir setiap bangsa mengalami kenaikan biaya pendidikan. Secara internal, efisinsi alokasi pendidikan juga dapat dilakukan agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah digariskan dengan cara seefisien mungkin. (Sudira, n.d.)
    Biaya pendidikan mencakup beberapa faktor, antara lain : besar kecilnya sebuah institusi pendidikan, jumlah siswa, tingkat gaji guru/dosen, rasio perbandingan siswa dengan guru, kualifikasi guru, tingkat pertumbuhan penduduk, dan perubahan kebijakan. Efisiensi dapat dihitung dari faktor input dan output dari pendidikan serta proses yang ada didalamnya, perhitungan ini dapat dihitung menggunakan teknik (cost analysis): productifity measurement atau analisa cost-effectiveness atau analisa cost-benefit. Hasil perhitungan biaya pendidikan dapat mengevaluasi apakah investasi tersebut menguntungkan atau tidak baik untuk individu tersebut ataupun untuk masyarakat luas. (Fattah, 2008)
    Salah satu karakteristik pendidikan kejuruan adalah memerlukan biaya investasi dan operasional yang lebih besar daripada pendidikan umum. (Wagiran, n.d.). Dari teori Prosser juga dijelaskan bahwa penyelenggaran pendidikan kejuruan memerlukan investasi/pembiayaan yang sangat besar. Karena input biaya yang besar, diharapkan juga lulusan pendidikan kejuruan juga memiliki output yang kompeten agar dapat bersaing dalam dunia kerja. Salah satu harapan pemerintah dari lulusan SMK adalah sebagai penggerak ekonomi lokal, SMK berkewajiban menyiapkan sumber daya manusia yang tangguh dan dapat bersaing. Harapan ke depan dengan adanya peran SMK sebagai penggerak ekonomi lokal adalah mengembangkan ekonomi kreatif, dan sebagai penggerak industri masyarakat, dapat meningkatkan kemampuan dan ketrampilan serta aksebilitas yang dapat memecahkan persoalan sehari-hari, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan. (Hadam, Rahayu, & Ariyadi, 2017). Sebagai penggerak ekonomi lokal yang mengembangkan ekonomi kreatif, pemerintah sudah seharusnya mewadahi penyaluran ekonomi kreatif sebagai sarana efisiensi output lulusan pendidikan kejuruan, salah satu peran pemerintah yaitu dengan pengembangan ekonomi kreatif itu sendiri, terbukti dari bangkitnya ekonomi kreatif yang mengalami pertumbuhan 5,7% selama tahun 2011-2014. (Viriya, Pangestu, & Ahmett, 2016).
    Setiap alokasi dana SMK harus dilihat sebagai investasi dan diukur dengan rate of return atau keuntungan balik hasil investasi. (Sudira, n.d.). Peran DUDI terhadap SMK memiliki peran penting, seperti pelaksanaan praktik kerja industri/magang. DUDI harus peduli dengan pendidikan kejuruan karena terkait dengan SDM dan kerjasama antara DUDI dan SMK adalah sebuah hubungan timbal balik yang positif. (Agustiono, 2017). Kerjasama antara DUDI dan SMK dimaksudkan untuk menjawab persoalan kesenjangan kompetensi lulusan di SMK yang menjadi salah satu sebab masih tingginya pengangguran dari lulusan SMK. (Widjajanti, 2018). Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro, kondisi pengangguran saat ini merupakan akibat dari manajemen SMK di Indonesia yang kurang baik. Selama ini Indonesia hanya berkutat di pendidikan vokasi berbasis jasa. (CNN, 2019). Pada peraturan pemerintah dituliskan bahwa sekolah menengah kejuruan perlu mempunyai sejumlah program yang memungkinkan tamatannya memasuki lapangan kerja yang tersedia, tetapi pada kenyataannya masih banyak pengangguran yang menjadi cermin belum berhasilnya program tersebut. (PP. Presiden RI. Nomor 29, 1990). Langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu revitalisasi SMK agar luaran sesuai dengan yang diharapkan, salah satunya dengan peningkatan kualitas SMK melalui uji kompetensi. (Yuana, 2019)

    Agustiono, S. (2017). Kepedulian DUDI Merupakan Pengembangan Daya Saing Siswa SMK. Retrieved September 8, 2019, from https://www.kompasiana.com/sagustiono/59c43f3136e8021f55156602/kepedulian-dudi-merupakan-pengembangan-daya-saing-siswa-smk
    CNN. (2019). Lulusan SMK Banyak Menganggur, Menteri Bambang Anggap Anomali. Retrieved from CNN Indonesia website: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190403134803-92-383168/lulusan-smk-banyak-menganggur-menteri-bambang-anggap-anomali
    Fattah, N. (2008). Pembiayaan Pendidikan: Landasan Teori dan Studi Empiris. Pendidikan Dasar, (April), 1–4.
    Hadam, S., Rahayu, N., & Ariyadi, A. N. (2017). Strategi implementasi revitalisasi SMK. Buku Serial Revitalisasi SMK, 214. https://doi.org/10.1300/J028v11n01_10
    PP. Presiden RI. Nomor 29. (1990). Peraturan Pemerintah Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1990 Tentang Pendidikan Menengah. 1990, 56–79.
    Sudira, P. (n.d.). Efisiensi Internal Pendidikan Kejuruan. Retrieved from http://staffnew.uny.ac.id/upload/132297916/pendidikan/materi+PENDIDIKAN+TEKNOLOGI+DAN+KEJURUAN.pdf
    Viriya, E., Pangestu, M. E., & Ahmett, I. (2016). Kebangkitan Ekonomi Kreatif. Retas, 1, 20.
    Wagiran. (n.d.). Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Retrieved from http://staffnew.uny.ac.id/upload/132297916/pendidikan/materi+PENDIDIKAN+TEKNOLOGI+DAN+KEJURUAN.pdf
    Widjajanti, C. (2018). Optimalisasi Kompetensi Lulusan SMK Dalam Industri / Teknologi Terapan (M. Herdyka, M. A. Majid, & Ari, Eds.). Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
    Yuana, C. (2019). Urgensi Lembaga Sertifikasi Profesi di SMK, Sebuah Renungan. Retrieved September 8, 2019, from Kompasiana website: https://www.kompasiana.com/pakcahya/5c44a1f5677ffb6883561238/urgensi-lembaga-sertifikasi-profesi-lsp-di-smk-sebuaeh-renungan?page=all

  4. NIM : 0501519003

    2. Pendidikan kejuruan sebagai education for work di era desentralisasi semakin dihadapkan pada masalah baru selain mutu dan relevansi yaitu pada masalah efisiensi. Pada hakikatnya, analisis ekonomi bersumber pada anggapan bahwa sumberdaya itu langka bila dikaitkan ddengan keinginan dan kebutuhan manusia yang terus berkembang, kelangkaan mengandung arti bahwa setiap penggunaan sumberdaya membutuhkan suatu pilihan yang cermat. Dalam tujuan positif, ekonomi pendidikan berusaha menjelaskan dan memprediksi gejala-gejala dalam dunia pendidikan. Dalam tujuan normatif pada hakikatnya merujuk pada standar, standar yang dimaksud adalah efisiensi. Efisiensi menjadi tujuan karena menjadi basis dalam mengevaluasi dan pengambilan keputusan dalam kegiatan pendidikan. Salah satu bahasan dalam ekonomi pendidikan adalah analisa biaya pendidikan karena hampir setiap bangsa mengalami kenaikan biaya pendidikan. Secara internal, efisinsi alokasi pendidikan juga dapat dilakukan agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah digariskan dengan cara seefisien mungkin. (Sudira, n.d.)
    Biaya pendidikan mencakup beberapa faktor, antara lain : besar kecilnya sebuah institusi pendidikan, jumlah siswa, tingkat gaji guru/dosen, rasio perbandingan siswa dengan guru, kualifikasi guru, tingkat pertumbuhan penduduk, dan perubahan kebijakan. Efisiensi dapat dihitung dari faktor input dan output dari pendidikan serta proses yang ada didalamnya, perhitungan ini dapat dihitung menggunakan teknik (cost analysis): productifity measurement atau analisa cost-effectiveness atau analisa cost-benefit. Hasil perhitungan biaya pendidikan dapat mengevaluasi apakah investasi tersebut menguntungkan atau tidak baik untuk individu tersebut ataupun untuk masyarakat luas. (Fattah, 2008)
    Salah satu karakteristik pendidikan kejuruan adalah memerlukan biaya investasi dan operasional yang lebih besar daripada pendidikan umum. (Wagiran, n.d.). Dari teori Prosser juga dijelaskan bahwa penyelenggaran pendidikan kejuruan memerlukan investasi/pembiayaan yang sangat besar. Karena input biaya yang besar, diharapkan juga lulusan pendidikan kejuruan juga memiliki output yang kompeten agar dapat bersaing dalam dunia kerja. Salah satu harapan pemerintah dari lulusan SMK adalah sebagai penggerak ekonomi lokal, SMK berkewajiban menyiapkan sumber daya manusia yang tangguh dan dapat bersaing. Harapan ke depan dengan adanya peran SMK sebagai penggerak ekonomi lokal adalah mengembangkan ekonomi kreatif, dan sebagai penggerak industri masyarakat, dapat meningkatkan kemampuan dan ketrampilan serta aksebilitas yang dapat memecahkan persoalan sehari-hari, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan. (Hadam, Rahayu, & Ariyadi, 2017). Sebagai penggerak ekonomi lokal yang mengembangkan ekonomi kreatif, pemerintah sudah seharusnya mewadahi penyaluran ekonomi kreatif sebagai sarana efisiensi output lulusan pendidikan kejuruan, salah satu peran pemerintah yaitu dengan pengembangan ekonomi kreatif itu sendiri, terbukti dari bangkitnya ekonomi kreatif yang mengalami pertumbuhan 5,7% selama tahun 2011-2014. (Viriya, Pangestu, & Ahmett, 2016).
    Setiap alokasi dana SMK harus dilihat sebagai investasi dan diukur dengan rate of return atau keuntungan balik hasil investasi. (Sudira, n.d.). Peran DUDI terhadap SMK memiliki peran penting, seperti pelaksanaan praktik kerja industri/magang. DUDI harus peduli dengan pendidikan kejuruan karena terkait dengan SDM dan kerjasama antara DUDI dan SMK adalah sebuah hubungan timbal balik yang positif. (Agustiono, 2017). Kerjasama antara DUDI dan SMK dimaksudkan untuk menjawab persoalan kesenjangan kompetensi lulusan di SMK yang menjadi salah satu sebab masih tingginya pengangguran dari lulusan SMK. (Widjajanti, 2018). Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro, kondisi pengangguran saat ini merupakan akibat dari manajemen SMK di Indonesia yang kurang baik. Selama ini Indonesia hanya berkutat di pendidikan vokasi berbasis jasa. (CNN, 2019). Pada peraturan pemerintah dituliskan bahwa sekolah menengah kejuruan perlu mempunyai sejumlah program yang memungkinkan tamatannya memasuki lapangan kerja yang tersedia, tetapi pada kenyataannya masih banyak pengangguran yang menjadi cermin belum berhasilnya program tersebut. (PP. Presiden RI. Nomor 29, 1990). Langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu revitalisasi SMK agar luaran sesuai dengan yang diharapkan, salah satunya dengan peningkatan kualitas SMK melalui uji kompetensi. (Yuana, 2019)

    Agustiono, S. (2017). Kepedulian DUDI Merupakan Pengembangan Daya Saing Siswa SMK. Retrieved September 8, 2019, from https://www.kompasiana.com/sagustiono/59c43f3136e8021f55156602/kepedulian-dudi-merupakan-pengembangan-daya-saing-siswa-smk
    CNN. (2019). Lulusan SMK Banyak Menganggur, Menteri Bambang Anggap Anomali. Retrieved from CNN Indonesia website: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190403134803-92-383168/lulusan-smk-banyak-menganggur-menteri-bambang-anggap-anomali
    Fattah, N. (2008). Pembiayaan Pendidikan: Landasan Teori dan Studi Empiris. Pendidikan Dasar, (April), 1–4.
    Hadam, S., Rahayu, N., & Ariyadi, A. N. (2017). Strategi implementasi revitalisasi SMK. Buku Serial Revitalisasi SMK, 214. https://doi.org/10.1300/J028v11n01_10
    PP. Presiden RI. Nomor 29. (1990). Peraturan Pemerintah Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1990 Tentang Pendidikan Menengah. 1990, 56–79.
    Sudira, P. (n.d.). Efisiensi Internal Pendidikan Kejuruan. Retrieved from http://staffnew.uny.ac.id/upload/132297916/pendidikan/materi+PENDIDIKAN+TEKNOLOGI+DAN+KEJURUAN.pdf
    Viriya, E., Pangestu, M. E., & Ahmett, I. (2016). Kebangkitan Ekonomi Kreatif. Retas, 1, 20.
    Wagiran. (n.d.). Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Retrieved from http://staffnew.uny.ac.id/upload/132297916/pendidikan/materi+PENDIDIKAN+TEKNOLOGI+DAN+KEJURUAN.pdf
    Widjajanti, C. (2018). Optimalisasi Kompetensi Lulusan SMK Dalam Industri / Teknologi Terapan (M. Herdyka, M. A. Majid, & Ari, Eds.). Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
    Yuana, C. (2019). Urgensi Lembaga Sertifikasi Profesi di SMK, Sebuah Renungan. Retrieved September 8, 2019, from Kompasiana website: https://www.kompasiana.com/pakcahya/5c44a1f5677ffb6883561238/urgensi-lembaga-sertifikasi-profesi-lsp-di-smk-sebuaeh-renungan?page=all

  5. 0501519003

    2. Pendidikan kejuruan sebagai education for work di era desentralisasi semakin dihadapkan pada masalah baru selain mutu dan relevansi yaitu pada masalah efisiensi. Pada hakikatnya, analisis ekonomi bersumber pada anggapan bahwa sumberdaya itu langka bila dikaitkan ddengan keinginan dan kebutuhan manusia yang terus berkembang, kelangkaan mengandung arti bahwa setiap penggunaan sumberdaya membutuhkan suatu pilihan yang cermat. Dalam tujuan positif, ekonomi pendidikan berusaha menjelaskan dan memprediksi gejala-gejala dalam dunia pendidikan. Dalam tujuan normatif pada hakikatnya merujuk pada standar, standar yang dimaksud adalah efisiensi. Efisiensi menjadi tujuan karena menjadi basis dalam mengevaluasi dan pengambilan keputusan dalam kegiatan pendidikan. Salah satu bahasan dalam ekonomi pendidikan adalah analisa biaya pendidikan karena hampir setiap bangsa mengalami kenaikan biaya pendidikan. Secara internal, efisinsi alokasi pendidikan juga dapat dilakukan agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah digariskan dengan cara seefisien mungkin. (Sudira, n.d.)
    Biaya pendidikan mencakup beberapa faktor, antara lain : besar kecilnya sebuah institusi pendidikan, jumlah siswa, tingkat gaji guru/dosen, rasio perbandingan siswa dengan guru, kualifikasi guru, tingkat pertumbuhan penduduk, dan perubahan kebijakan. Efisiensi dapat dihitung dari faktor input dan output dari pendidikan serta proses yang ada didalamnya, perhitungan ini dapat dihitung menggunakan teknik (cost analysis): productifity measurement atau analisa cost-effectiveness atau analisa cost-benefit. Hasil perhitungan biaya pendidikan dapat mengevaluasi apakah investasi tersebut menguntungkan atau tidak baik untuk individu tersebut ataupun untuk masyarakat luas. (Fattah, 2008)
    Salah satu karakteristik pendidikan kejuruan adalah memerlukan biaya investasi dan operasional yang lebih besar daripada pendidikan umum. (Wagiran, n.d.). Dari teori Prosser juga dijelaskan bahwa penyelenggaran pendidikan kejuruan memerlukan investasi/pembiayaan yang sangat besar. Karena input biaya yang besar, diharapkan juga lulusan pendidikan kejuruan juga memiliki output yang kompeten agar dapat bersaing dalam dunia kerja. Salah satu harapan pemerintah dari lulusan SMK adalah sebagai penggerak ekonomi lokal, SMK berkewajiban menyiapkan sumber daya manusia yang tangguh dan dapat bersaing. Harapan ke depan dengan adanya peran SMK sebagai penggerak ekonomi lokal adalah mengembangkan ekonomi kreatif, dan sebagai penggerak industri masyarakat, dapat meningkatkan kemampuan dan ketrampilan serta aksebilitas yang dapat memecahkan persoalan sehari-hari, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan. (Hadam, Rahayu, & Ariyadi, 2017). Sebagai penggerak ekonomi lokal yang mengembangkan ekonomi kreatif, pemerintah sudah seharusnya mewadahi penyaluran ekonomi kreatif sebagai sarana efisiensi output lulusan pendidikan kejuruan, salah satu peran pemerintah yaitu dengan pengembangan ekonomi kreatif itu sendiri, terbukti dari bangkitnya ekonomi kreatif yang mengalami pertumbuhan 5,7% selama tahun 2011-2014. (Viriya, Pangestu, & Ahmett, 2016).
    Setiap alokasi dana SMK harus dilihat sebagai investasi dan diukur dengan rate of return atau keuntungan balik hasil investasi. (Sudira, n.d.). Peran DUDI terhadap SMK memiliki peran penting, seperti pelaksanaan praktik kerja industri/magang. DUDI harus peduli dengan pendidikan kejuruan karena terkait dengan SDM dan kerjasama antara DUDI dan SMK adalah sebuah hubungan timbal balik yang positif. (Agustiono, 2017). Kerjasama antara DUDI dan SMK dimaksudkan untuk menjawab persoalan kesenjangan kompetensi lulusan di SMK yang menjadi salah satu sebab masih tingginya pengangguran dari lulusan SMK. (Widjajanti, 2018). Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro, kondisi pengangguran saat ini merupakan akibat dari manajemen SMK di Indonesia yang kurang baik. Selama ini Indonesia hanya berkutat di pendidikan vokasi berbasis jasa. (CNN, 2019). Pada peraturan pemerintah dituliskan bahwa sekolah menengah kejuruan perlu mempunyai sejumlah program yang memungkinkan tamatannya memasuki lapangan kerja yang tersedia, tetapi pada kenyataannya masih banyak pengangguran yang menjadi cermin belum berhasilnya program tersebut. (PP. Presiden RI. Nomor 29, 1990). Langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu revitalisasi SMK agar luaran sesuai dengan yang diharapkan, salah satunya dengan peningkatan kualitas SMK melalui uji kompetensi. (Yuana, 2019)

    Agustiono, S. (2017). Kepedulian DUDI Merupakan Pengembangan Daya Saing Siswa SMK. Retrieved September 8, 2019, from https://www.kompasiana.com/sagustiono/59c43f3136e8021f55156602/kepedulian-dudi-merupakan-pengembangan-daya-saing-siswa-smk
    CNN. (2019). Lulusan SMK Banyak Menganggur, Menteri Bambang Anggap Anomali. Retrieved from CNN Indonesia website: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190403134803-92-383168/lulusan-smk-banyak-menganggur-menteri-bambang-anggap-anomali
    Fattah, N. (2008). Pembiayaan Pendidikan: Landasan Teori dan Studi Empiris. Pendidikan Dasar, (April), 1–4.
    Hadam, S., Rahayu, N., & Ariyadi, A. N. (2017). Strategi implementasi revitalisasi SMK. Buku Serial Revitalisasi SMK, 214. https://doi.org/10.1300/J028v11n01_10
    PP. Presiden RI. Nomor 29. (1990). Peraturan Pemerintah Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1990 Tentang Pendidikan Menengah. 1990, 56–79.
    Sudira, P. (n.d.). Efisiensi Internal Pendidikan Kejuruan. Retrieved from http://staffnew.uny.ac.id/upload/132297916/pendidikan/materi+PENDIDIKAN+TEKNOLOGI+DAN+KEJURUAN.pdf
    Viriya, E., Pangestu, M. E., & Ahmett, I. (2016). Kebangkitan Ekonomi Kreatif. Retas, 1, 20.
    Wagiran. (n.d.). Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Retrieved from http://staffnew.uny.ac.id/upload/132297916/pendidikan/materi+PENDIDIKAN+TEKNOLOGI+DAN+KEJURUAN.pdf
    Widjajanti, C. (2018). Optimalisasi Kompetensi Lulusan SMK Dalam Industri / Teknologi Terapan (M. Herdyka, M. A. Majid, & Ari, Eds.). Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
    Yuana, C. (2019). Urgensi Lembaga Sertifikasi Profesi di SMK, Sebuah Renungan. Retrieved September 8, 2019, from Kompasiana website: https://www.kompasiana.com/pakcahya/5c44a1f5677ffb6883561238/urgensi-lembaga-sertifikasi-profesi-lsp-di-smk-sebuaeh-renungan?page=all

  6. 0501519010

    Jawaban soal No 1:
    Filosofi eksistensialisme berkeyakinan bahwa pendidikan harus menyu-burkan dan mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui proses pendidikan yang bermartabat, pro perubahan (kreatif, inovatif, dan eksperimen) menumbuhkan dan mengembangkan bakat, minat dan kemampuan peserta didik (Slamet P.H., 2013). Tujuan pendidikan dalam filsafat ini adalah bukan hanya
    penekanannya pada dialog semata, namun pada bentuk keberanian menciptakan gagasan, pikiran
    ataupun maksud dari keinginan dan ketertarikan masing-masing siswa. Dengan demikian filsafat
    eksistensialisme sangat meyakini bahwa pendidikan yang baik salah
    satunya adalah pendidikan yang menekankan pada individu. Sedangkan filosofi esensialisme (fungsionalisme) menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi relevan dengan kebutuhan, baik kebutuhan individu, keluarga maupun kebutuhan berbagai sektor dan sub sektornya, baik lokal, nasional maupun internasional (Slamet P.H., 2013). Esensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengaitkan dirinya dengan sistem-sistem yang lain seperti ekonomi, ketenagakerjaan, politik, sosial, religi dan moral. Esensialisme bertujuan untuk menanamkan hal penting kepada peserta didik dengan pengetahuan akademik, patriotisme, dan pengembangan karakter. Dalam mengimplementasikan kedua filosofi tersebut pendidikan kejuruan harus mampu mendidik peserta didik menjadi bernilai guna, bermakna bagi kehidupan, kompeten, menekankan peran dan fungsi pendidik atau pelatih dalam proses pembelajaran. Pendidiknya adalah ahli yang menguasai subyek materi dan skill, mampu mengembangkan skill peserta didik melalui berbagai pelatihan, pengulangan sampai diperolehnya ketrampilan tinggi, pengkondisian kerja menyerupai kondisi di tempat kerja, dan pengembangan kebiasaan perilaku kerja peserta didik, disiplin, berbasis target pekerjaan, waktu, kualitas kerja. Pembelajaran peserta didik dilakukan secara progresif dari skill yang kurang komplek ke skill yang
    lebih komplek (Sudira, 2012:18).

    Sumber:
    – Windiyati, Hestina. 2017. Filosofi, Teori, dan Praksis Strategi Pembelajaran Kejuruan Agrobisnis Abad 21. Universitas Negeri Yogyakarta.
    – Sudira, Putu. 2014. Pengembangan Model “Lis-5cs” pada Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. LAPORAN PENELITIAN DANA DIPA PNBP PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA TAHUN ANGGARAN 2014.
    – Murtaufiq, Sudarto. Telaah Kritis Aliran-aliran Filsafat Pendidikan. AKADEMIKA, Volume 8, Nomor 2, Desember 2014.
    – Ekawati, Dian. 2015. EKSISTENSIALISME. Tarbawiyah, Vol. 12, No. 01
    – Nasir, M., & Hasanah. 2015. EVALUASI PRAKTIK KERJA INDUSTRI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN. Jurnal Penelitian Pendidikan INSANI, Volume 18, Nomor 2, hlm. 82—91
    – Dardiri, Ahmad. 2012. Membangun Citra Pendidikan Kejuruan: Manfaat Dan Implikasinya Bagi Perbaikan Kualitas Output Dan Outcome. INVOTEC, Volume VIII, No.1
    – Wahju, Istanto., dkk. 2013. Modul Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Fakultas Teknik: Universitas Negeri Yogyakarta.
    – Usman, Husaini. 2016. PENDIDIKAN KEJURUAN MASA DEPAN. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
    – Yasdin,.dkk. 2015. Pendekatan Kultural Pendidikan Kejuruan. Prosiding Internasional. Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar
    – Slamet, P. 2014. Kebijakan Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Universitas Negeri Yogyakarta

  7. 0501519002
    Jawaban soal nomer 1 :
    Banyak istilah terkait dengan pendidikan kejuruan antara lain, vocational education, technical education, professional education, dan occupational education. Huges sebagaimana dikutip oleh Soeharto (1988:1) mengemukakan vocational education (pendidikan kejuruan) adalah pendidikan khusus yang program-programnya atau materi pelajarannya dipilih untuk siapapun yang tertarik untuk mempersiapkan diri bekerja sendiri, atau untuk bekerja sebagai bagian dari suatu grup kerja.
    Djohar (2007:1285) mengemukakan pendidikan kejuruan adalah suatu program pendidikan yang menyiapkan individu peserta didik menjadi tenaga kerja yang profesional.
    Pendidikan kejuruan akan dilaksanakan secara mantap, jelas arah tujuannya, relevan isi kurikulumnya, serta efektif dan efisien metode atau cara-cara pelaksanaanya jika pelaksanaannya mengacu pada satu landasan yang kokoh (Suyitno, 2009:2)
    Sedangkan filsafat dapat diartikan sebagai berpikir menurut tata tertib dengan bebas dan dengan sedalam-dalamnya, sehingga sampai ke dasar suatu persoalan.Yakni berpikir yang mempunyai ciri-ciri khusus, seperti analitis, pemahaman, deskriptif, evaluatif, intepretatif dan spekulatif (The Liang Gie, 1991:19). Berfilsafat merupakan kegiatan berpikir yang khas, yaitu radikal, sistematis dan universal untuk mencari kearifan, kebenaran yang sesungguhnya dari segala sesuatu. Berfilsafat berarti berpikir merangkum tentang pokok-pokok atau dasar-dasar dari hal yang ditelaahnya (Rukiyati & Andriyani Purwastuti. 2015: 4). Filsafat memberikan asumsi-asumsi dasar bagi setiap cabang ilmu pengetahuan.
    Soeharto (1988:5) menjelaskan falsafah mempelajari prinsip-prinsip yang mendasari aksi dan tingkah laku manusia. Dengan demikian kedudukan philosophy adalah sebagai landasan pemikiran, perkataan dan perbuatan seseorang. Falsafah akan memberikan arah yang diperlukan untuk pelayanan pendidikan dan pengajaran selain kerangka kerja dimana tujuan-tujuan, maksud dan kegunaan tersebut dibangun. Demikian pula halnya dengan pendidikan. Ketika filsafat membahas tentang ilmu alam, maka diperoleh filsafat ilmu alam. Ketika filsafat mempertanyakan konsep dasar dari hukum, maka terciptalah filsafat hukum, dan ketika filsafat mengkaji masalah-masalah dasar pendidikan, maka terciptalah cabang filsafat yang bernama filsafat pendidikan. Jadi, setiap bidang ilmu mempunyai landasan-landasan filsafat masing-masing.
    Filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat yang berusaha untuk memahami pendidikan secara lebih mendalam, menafsirkannya dengan menggunakan konsep-konsep umum yang dapat menjadi petunjuk atau arah bagi tujuan-tujuan dan kebijakan pendidikan. Sebagai cabang filsafat, pemikiran filsafati terhadap pendidikan juga mempunyai ciri spekulatif, preskritif, dan analitik. Filsafat dan pendidikan tidak dapat dipisahkan karena filsafat mengandung hal-hal yang seharusnya dilaksanakan di dalam praktik pendidikan. Demikian pula praktik pendidikan dapat menjadi bahan pemikiran reflektif mengenai pendidikan. Manfaat belajar filsafat pendidikan lebih bersifat manfaat teoretis, bukan praktis-teknis, yaitu agar para peserta didik (mahasiswa) terbiasa untuk memahami persoalan hakiki pendidikan secara kritis, terbuka, dan reflektif (Suyitno, 2009:2)
    Wowo Sunaryo Kuswana (2013: 27) dalam Hestina Windiyani (2017, 3) menyatakan bahwa filsafat pendidikan merupakan bidang filsafat terapan, dan merupakan transformasi filsafat tradisional (ontologi, etika, epistemologi), serta pendekatan kelembagaan (filsafat spekulatif, perspektif dan atau analitik). Filsafat pendidikan merupakan studi filosofis mengenai tujuan dan proses dalam mencapai cita-cita pendidikan. Mencakup hal yang sangat mendasar, seperti pola pengasuhan dalam mendidik, nilai-nilai dan norma melalui proses pendidikan, batas-batas dan legitimasi pendidikan sebagai disiplin akademis sertahubungan antara teori dengan praktik pendidikan.
    Landasan filosofis pendidikan kejuruan adalah asumsi filosofis yang dijadikan titik tolak dalam rangka studi dan praktek pendidikan kejuruan. Melalui studi pendidikan kejuruan, dapat diperoleh pemahaman tentang landasan pendidikan kejuruan yang akan dijadikan titik tolak praktek pendidikan kejuruan dan landasan filosofis pendidikan kejuruan sebagai hasil studi pendidikan kejuruan tersebut, dapat dijadikan titik tolak dalam rangka studi pendidikan kejuruan yang bersifat filsafiah, yaitu pendekatan yang lebih komprehensif, spekulatif, dan normatif (Redja Mudyahardjo, 1995).

    Landasan filosofi pendidikan kejuruan adalah eksistensialisme dan essensialisme (Sudarto Martaufiq, 2014:97). Filosofi eksistensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitas yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, kreatif, inovatif, menumbuhkan bakat, minat dan kemampuan peserta didik, dan bukan merampasnya. Sedangkan filosofi esensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengaitkan dirinya dengan sistem-sistem yang lain seperti ekonomi, politik, ketenagakerjaan, politik, religi dan moral. Esensialisme juga menekankan bahwa pendidikan harus relevan dengan kebutuhan, baik kebutuhan individu, keluarga maupun kebutuhan berbagai sektor dan sub sektornya, baik lokal, nasional maupun internasional. Husaini Usman & Darmono (2016 : 46) menyatakan contoh implementasi landasan filosofi eksistensialisme dalam pendidikan kejuruan :
    1. Pendidikan Kejuruan Mempersiapkan siswa untuk bekerja secara lebih efisien
    2. Pengalaman belajar yang disajikan melalui pendidikan kejuruan mencakup domain afektif, kognitif, dan psikomotorik yang diaplikasikan baik pada situasi kerja yang tersimulasi lewat proses belajar mengajar, maupun situasi kerja yang sebenarnya.
    3. Keberhasilan pendidikan kejuruan diukur dari dua kriteria, yaitu keberhasilan siswa di sekolah (in-school success), dan keberhasilan siswa di luar sekolah (out-of school success). Kriteria pertama meliputi keberhasilan siswa dalam memenuhi persyaratan kurikuler, sedangkan kriteria kedua diindikasikan oleh keberhasilan atau penampilan lulusan setelah berada di dunia kerja yang sebenarnya.
    4. Kompetensi lulusan pendidikan kejuruan masa depan, harus diarahkan untuk dapat bekerja dan menciptakan lapangan pekerjaan. harus memiliki Softskill Kewirausahaan yang meliputi: leadership, digital literacy, communications, information and media literacy, emotional intelligence, entrepreneurship creativity and innovation, critical thinking and problem solving, collaboration teamworking, cross-cultural understanding,
    Sedangkan berikut ini merupakan implementasi landasan filosofi esensialisme dalam pendidikan kejuruan :
    1) pengembangan SMK masa depan; sebab pendidikan kejuruan akan efektif jika peserta didik diajar dengan materi, alat, mesin, dan tugas-tugas yang sama atau tiruan di mana peserta didik akan bekerja. Lebih efektif dan efesien lagi apabila disediakan lingkungan belajar yang sesuai dengan aslinya, misalnya replika dari lingkungan dimana mereka kelak akan bekerja (Slamet, 2011:2)
    2) peningkatan kompetensi lulusan SMK masa depan; dengan adanya program teaching factory. Teaching factory adalah model pembelajaran yang membawa suasana industri ke sekolah sehingga sekolah bisa menghasilkan produk berkualitas industri. Konsep pembelajaran teaching factory sejatinya menggabungkan teori dengan praktik kerja yang dapat menghasilkan suatu produk atau jasa berdasarkan pesanan nyata konsumen.
    3) peningkatan link and match SMK dengan dunia usaha/industri (Wardiman Djojonegoro, 1998:59) Kebijakan link and match dilaksanakan oleh SMK dengan berbagai ragam bentuk dan model. Model “Pendidikan Kelas Industri” adalah salahsatu bentuk perwujudan dari kebijakan link and match, yai tu suatu model pelaksanaan pendidikan kejuruan yang diatur dan disepakati oleh sekolah dan industri. Peserta didik menerima pendidikan di sekolah berupa mata pelajaran normatif, adaptif dan dasar kejuruan. Sedangkan di industri peserta didik bekerja langsung di lapangan sesuai pekerjaan yang ada. Sistem pendidikan diatur secara berlapis dengan sistem blok, direncanakan, dilaksanakan dan disupervisi oleh sekolah dan industri secara terpisah atau bersama-sama. Model ini memadukan antara pembelajaran yang berorientasi pada latihan kerja di sekolah dan pengalaman belajar dengan bekerja di industri. Pengalaman belajar dan bekerja yang diberikan kepada peserta didik harus sesuai dengan program studi dan tujuan karir peserta didik. Keterpaduan pengalaman latihan kerja di sekolah dan bekerja di industri akan membentuk karakter peserta didik untuk bertanggung jawab, disiplin dan menyenangi pekerjaan sehingga model “Pendidikan Kelas Industri” mampu meningkatkan mutu lulusanSMK.
    4) peningkatan kompetensi guru SMK masa depan; dengan adanya program PPGJ untuk guru yang sudah mengajar di sekolah menegah kejuruan dan yang memenuhi persyaratan.
    5) peningkatan kepemimpinan dan peranan Kepala SMK

    Sumber :
    Djohar, A. (2007). Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: Pedagogiana Press. Hal. 1285-1300.

    Gie, The Liang, Pengantar Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty, 1991).

    Hestina Windiyati. (2017). Filosofi, Teori dan Praksis Strategi Pembelajaran Kejuruan Agrobisnis Abad 21. Jurnal Cakrawala Pendidikan. 11 Januari 2017

    Husaini Usman & Darmono. (2016). Pendidikan Kejuruan Masa Depan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

    Mudyahardjo, R. (1995), Filsafat Pendidikan (Sebuah Studi Akademik) Bagian I Orientasi Umum: Landasan Filosofis Pendidikan dan Filsafat Pendidikan sebagai Suatu teori Pendidikan, Jurusan Filsafat Dan sosiologi Pendidikan, FIP, IKIP Bandung.

    Rukiyati & Andriyani Purwastuti. (2015). Draft Buku Mengenal Filsafat Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta

    Slamet PH. (2011). Peran Pendidikan Vokasi dalam Pembangunan Ekonomi. Jurnal Cakrawala Pendidikan. Juni 2011. Th. XXX, No. 2.

    Soeharto. (1988). Desain Instruksional sebuah Pendekatan Praktis untuk Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Jakarta: Departemen Pendidkan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidkan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

    Sudarto Murtaufiq. (2014). Telaah Kritis Aliran- Aliran Filsafat Pendidikan. Akademika. Volume 8, No. 02, Desember 2014

    Suyitno. (2009). Landasan Filosofis Pendidikan. Fakultas Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia

    Wardiman Djojonegoro. (1998). Pengembangan sumber daya manusia melalui sekolah menengah kejuruan (SMK). Jakarta: PT Jayakarta Agung Offset.

  8. 0501519007

    Jawaban soal nomor 1 :
    Eksistensi dan esensi, sesuatu yang selalu menjadi perbincangan menarik para filsuf terutama pada bidang pendidikan kejuruan. Eksistensi berarti keadaan yang aktual, yang terjadi dalam ruang dan waktu; dan bereksistensi yaitu menciptakan dirinya secara aktif, berbuat menjadi dan merencanakan. Sedangkan esensi merupakan sesuatu yang membedakan antara suatu benda dan corak-corak benda lainnya. Esensi adalah yang menjadikan benda itu seperti apa adanya, atau suatu yang dimiliki secara umum oleh bermacam-macam benda. Yang pertama adalah esensi baru kemudian muncul eksistensi (Firdaus, 2011). Kaum esensialis mengakui bahwa minat adalah kekuatan memotivasi yang kuat dalam belajar. Sedangkan kaum eksistensialis percaya bahwa manusia adalah pencipta esensinya sendiri; ia menciptakan nilai-nilainya sendiri melalui kebebasan memilih atau preferensi individual. Jenis pengetahuan yang paling penting adalah tentang realitas kehidupan manusia dan pilihan yang setiap orang harus ambil (Sudarto, 2014). Aliran filsafat yang dianut Jean Paul Sartre termasuk dalam kelompok Eksistensialisme atau aliran filsafat yang bertitik tolak dari eksistensi manusia. Etimologi dari ‘Ekstensialisme’ terdiri dari kata ex (keluar ), sistere (ada) dan me (aliran). Dalam Kamus Bahasa Indonesia, makna dari pada eksistensi, adalah “paham (nya) berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar (Sazza, 2014). Filsafat eksistensialisme yang menekankan bahwa setiap individu memiliki martabat dan potensi yang unik yang harus dikembangkan melalui pendidikan. Masyarakat memiliki tanggung jawab memberikan pendidikan dan peluang untuk mengembangkan potensinya secara maksimal (Ahmad, 2012). Tujuan pendidikan vokasi ditinjau dari esensialismen adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja ditandai dengan kurikulum yang diselenggarakan berurutan, instruktur perlu memiliki pengalaman yang berhubungan dengan industri yang luas (Husaini, 2016). Esesensialisme, diawali dengan Empirisme Aristoteles dan Idealisme Plato, hanya mempermasalahkan essensi antara empiri dan rasio pada bidang epistemologi dan materi atau idea pada bidang ontologi (Sihol, 2016). Filsafat eksistensialisme sebagai yang diterapkan oleh Alexander A Neil dalam aplikasinya adalah dengan meminimalisir peraturan-peraturan, ikatan, disiplin, arahan. Sehingga dalam pendidikan dikatakan bahwa filsafat eksistensialisme adalah filsafat yang dikenal dengan alternative education (Dian, 2015). Kaum eksistensialis secara umum tidak menaruh perhatian khusus terhadap kebijakan sosial pendidikan atau sekolah. Filsafat mereka bertumpu pada kebebasan individual daripada aspek – aspek sosial eksistensi manusia (Knight, 1982: 76-77). Menurut Rukiyati (2009) Eksistensialisme tidak harus dipandang sebagai sebuah aliran filsafat dalam arti yang sama sebagaimana tradisi filsafat sebelumnya. Eksistensialisme mumpunyai ciri:
    a. Penolakan untuk dimasukkan dalam aliran filsafat tertentu
    b. Tidak mengakui adekuasi sistem filsafat dan ajaran keyakinan (agama)
    c. Sangat tidak puas dengan sistem filsafat tradisional yang bersifat dangkal, akademis dan jauh dari kehidupan.
    Individualisme adalah pilar sentral dari eksistensialisme. Kaum eksistensialisme tidak mengakui sesuatu itu sebagai bagian dari tujuan alam raya ini. Hanya manusia, yang individual yang mempunyai tujuan. Sedangkan Essentialists bertujuan untuk menanamkan hal penting kepada peserta didik dengan pengetahuan akademik, patriotisme, dan pengembangan karakter. Pendekatan tradisional ini dimaksudkan untuk melatih pikiran, mempromosikan penalaran, dan budaya. (Hestina, 2017).

    Sumber:
    Dardiri, Ahmad. 2012. Membangun Citra Pendidikan Kejuruan: Manfaat dan Implikasinya bagi Perbaikan

    Kualitas Output dan Outcome. INVOTEC. Hal. 3

    Ekawati, Dian. 2015. Eksistensialisme. Jurnal Tarwabiyah. Hal 150

    Farida, Sihol. 2016. Kebebasan Individu Manusia Abad Dua Puluh: Filsafat Eksistensialisme Sartre. Jurnal Masyarakat dan budaya. Hal. 221.

    Knight, George. R, 1982. Issues and Alternatives in Educational Philosophy. Michigan: Andrews University Press

    Murtaufiq, Sudarto. 2014. Telaah Kritis Aliran- Aliran Filsafat Pendidikan. AKADEMIKA. Hal. 199-203.

    Rukiyati. 2009. Pemikiran Pendidikan Menurut Eksistensialisme. Jurnal. Fondasia. Hal. 93

    Sazza, Rezania. (2014). Konflik Eksistensial Manusia Menurut Jean Paul Sartre. http://rezania-sazza-fpsi12.web.unair.ac.id/artikel_detail-100645-Umum

    Usman, Husaini. 2016. Pendidikan Kejuruan Masa Depan. Pusat Kurikulum dan Perbukuan.

    Windiyati, Hestina. 2017. Filosofi, Teori, dan Praksis Strategi Pembelajaran Kejuaran Agrobisnis Abad 21. Jurnal. Hal. 7

    Yunus, Firdaus. 2011. Kebebasan dalam Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre. Jurnal Al-Ulum. Hal. 270

  9. 0501519002
    Jawaban soal nomer 2 :

    Menurut djojonegoro (1998:41-3) pendidikan kejuruan disenggelarakan berdasarkan atas landasan keilmuan yang kuat. Beberapa disiplin yang digunakan sebagai landasan diantaranya adalah ekonomi, psikologi, dan sosiologi.
    Dari landasan ekonomi yang utama menekankan pada efisiensi dan investasi, merupakan dasar penyelenggaraan pendidikan kejuruan.
    Dalam proses produksi, efisiensi didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana sesuatu produk diharapkan mencapai tingkat maksimal atas dasar suatu biaya (input) tertentu atau dimana biaya (input) ditekan seminimal mungkin dalam rangka menghasilkan suatu produk yang ditetapkan.
    Pengertian efisiensi pendidikan diangkat dari konsep baru tersebut. Dengan konsep ini pendidikan telah dilihat sebagai suatu proses produksi sebagaimana digambarkan dalam analisis sistem pendidikan . Sebagai proses produksi, proses pendidikan digambarkan sebagai suatu proses untuk menghasilkan suatu produk pendidikan tertentu. Menurut konsep efisiensi pendidikan baru ini, maka efisiensi dalam proses pendidikan akan dicapai apabila produk pendidikan yang telah ditetapkan itu dapat dicapai dengan biaya (input) yang minimal, atau produk pendidikan yang diperoleh secara maksimal diperoleh dengan biaya (input) yang telah ditetapkan.

    Pendidikan kejuruan/vokasi harus dievaluasi berdasarkan efisiensi ekonomis. Pendidikan vokasi secara ekonomis efisien jika menyiapkan siswa untuk pekerjaan spesifik dalam masyarakat berdasarkan kebutuhan tenaga kerja. Pendidikan vokasi adalah baik jika menyiapkan siswa untuk pekerjaan nyata yang eksis dimasyarakat dan mereka menginginkan. Pendidikan vokasi efisien jika menjamin penyediaan tenaga kerja untuk satu bidang pekerjaan. Pendidikan vokasi efektif jika terkait dengan pasar kerja. Pendidikan vokasi harus direncanakan berdasarkan prediksi pasar kerja. Pendidikan vokasi efisien jika siswa mendapatkan pekerjaan pada bidang yang sesuai dengan program keahlian yang mereka ikuti.
    Pendidikan kejuruan adalah suatu jenis dan tingkat pendidikan yang memerlukan biaya relatif tinggi, baik untuk investasi pengadaan sumberdaya pendidikan, maupun biaya operasional pendidikan.
    Wawasan efisiensi sesuai dengan kebijakan link and match :
    1. SMK menghasilkan tamatan dengan bidang keahlian, jumlah, dan mutu yang
    sesuai dengan kebutuhan pembangunan dengan pendekatan demand driven.
    2. Setiap alokasi pembangunan dana SMK, harus dilihat sebagai investasi.
    Keberhasilan diukur dengan rate of return/ tingkat keuntungan balik hasil
    investasi.
    Desentralisasi pendidikan bertujuan untuk meningkatkan mutu layanan dan kinerja pendidikan untuk pemerataan, kualitas, relevansi, dan efisiensi pendidikan. Selain itu desentralisasi pendidikan juga ditujukan untuk mengurangi beban pemerintah pusat yang berlebihan, mengurangi kemacetan-kemacetan jalur-jalur komunikasi, meningkatkan (kemandirian, demokrasi, daya tanggap, akuntabilitas, kreativitas, inovasi, prakarsa), dan meningkatkan pemberdayaan dalam pengelolaan dan kepemimpinan pendidikan (Slamet PH, 2008).
    Dalam konteks dan perspektif Indonesia, pembangunan pendidikan mendapat tempat strategis, dengan munculnya Link and Match, kebijaksan ini mengharapkan dunia pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga kerja yang sesuai dengan pasaran kerja, mencakup mutu, dan jumlah serta jenisnya dengan dukungan ekonomi yang memadai.
    Vaizey (1962) menyatakan ukuran yang paling populer dalam melihat peranan ekonomi dalam pendidikan adalah mempertautkan antara ekonomi dan pendidikan itu sendiri. Pemikiran Vaizey ini didasarkan pada asumsi bahwa pendidikan merupakan human capital. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masyarakat modern.
    Argumen ini memiliki dua aspek, yaitu:
    1. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern.
    2. Pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata.
    Peran ekonomi dalam pendidikan menunjang kelancaran proses pendidikan, dan sebagai bahan pengajaran ekonomi yang membentuk manusia ekonomi yaitu manusia yang dalam kehidupan sehari-harinya memiliki kemampuan dan kebiasaan memiliki etos kerja, tidak bekerja setengah-setengah, produktif, dan hidup efesien.

    Konsep pendidikan sebagai sebuah investasi yang digambarkan sebagai intervensi kekuatan ekonomi (education as investement) telah berkembang secara pesat dan semakin diyakini oleh setiap negara bahwa pembangunan sektor pendidikan merupakan prasyarat kunci bagi pertumbuhan sektor-sektor pembangunan lainnya. Konsep tentang investasi sumber daya manusia (human capital investment) yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi (economic growth) harus pula dibangun dan dikembangkan dari sebuah struktur dan sistem ekonomi yang mendukung munculnya pendidikan berkualitas.

    Sumber :

    AR, Murniati.,dan Usman Nasir. 2009. Implementasi Manajemen Stratejik Dalam Pemberdayaan Sekolah Menengah Kejuruan. Bandung: Ciptapustaka Media Perintis.

    Djojonegoro, Wardiman. 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia : Melalui
    Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) . Jakarta: PT. Jayakarta Agung.

    Sudira, Putu. 2008. Efisiensi Internal Pendidikan Kejuruan dalam Studi Kasus di SMK N 1 Trucuk Klaten : Paper Mata Kuliah S3 Ekonomi Pendidikan dan Ketenagakerjaan. Yogyakarta : PTK S3 PPS-UNY

    Slamet PH. 2008. Handout Desentralisasi Pendidikan Di Indonesia, Jakarta :
    Departemen Pendidikan Nasional
    Hestina Windiyati. 2017. Filosofi, Teori dan Praksis Strategi Pembelajaran Kejuruan Agrobisnis Abad 21. Jurnal Cakrawala Pendidikan. 11 Januari 2017

    Widiansyah , Apriyanti. 2017. Peran Ekonomi dalam Pendidikan dan Pendidikan dalam Pembangunan Ekonomi : Jurnal Cakrawala Pendidikan Vol. XVII, No. 2, September 2017 (hal 208-211)

    Vaizey, John. 1962. Education for All: status and Trend. Pads. UNESCO

    https://books.google.co.id/books?id=oYP1AkYPWsAC&pg=PA14&lpg=PA14&dq=implementasi+landasan+ekonomi+terhadap+pendidikan+kejuruan&source=bl&ots=PIB4auYKmJ&sig=ACfU3U2qkiuyPusRHXrOjR0uN64D_f-owQ&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwi3zKLd98HkAhUR63MBHXt_DdE4ChDoATACegQICRAB

    https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwiOj_25isLkAhWUSH0KHTcXArsQFjABegQIBxAB&url=https%3A%2F%2Fwww.academia.edu%2F11476770%2FHUBUNGAN_PENDIDIKAN_DAN_EKONOMI_Perspektif_Teori_dan_Empiris&usg=AOvVaw1a9teUJLwjI1H4sfTGHnox

    Tim Pengembang Pendidikan.2007.Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian 2 Ilmu Pendidikan Praktis. Bandung : PT Imperial Bhakti Utama

  10. 0501519002
    Jawaban soal nomor 2 :

    Menurut djojonegoro (1998:41-3) pendidikan kejuruan disenggelarakan berdasarkan atas landasan keilmuan yang kuat. Beberapa disiplin yang digunakan sebagai landasan diantaranya adalah ekonomi, psikologi, dan sosiologi.
    Dari landasan ekonomi yang utama menekankan pada efisiensi dan investasi, merupakan dasar penyelenggaraan pendidikan kejuruan.
    Dalam proses produksi, efisiensi didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana sesuatu produk diharapkan mencapai tingkat maksimal atas dasar suatu biaya (input) tertentu atau dimana biaya (input) ditekan seminimal mungkin dalam rangka menghasilkan suatu produk yang ditetapkan.
    Pengertian efisiensi pendidikan diangkat dari konsep baru tersebut. Dengan konsep ini pendidikan telah dilihat sebagai suatu proses produksi sebagaimana digambarkan dalam analisis sistem pendidikan . Sebagai proses produksi, proses pendidikan digambarkan sebagai suatu proses untuk menghasilkan suatu produk pendidikan tertentu. Menurut konsep efisiensi pendidikan baru ini, maka efisiensi dalam proses pendidikan akan dicapai apabila produk pendidikan yang telah ditetapkan itu dapat dicapai dengan biaya (input) yang minimal, atau produk pendidikan yang diperoleh secara maksimal diperoleh dengan biaya (input) yang telah ditetapkan.

    Pendidikan kejuruan/vokasi harus dievaluasi berdasarkan efisiensi ekonomis. Pendidikan vokasi secara ekonomis efisien jika menyiapkan siswa untuk pekerjaan spesifik dalam masyarakat berdasarkan kebutuhan tenaga kerja. Pendidikan vokasi adalah baik jika menyiapkan siswa untuk pekerjaan nyata yang eksis dimasyarakat dan mereka menginginkan. Pendidikan vokasi efisien jika menjamin penyediaan tenaga kerja untuk satu bidang pekerjaan. Pendidikan vokasi efektif jika terkait dengan pasar kerja. Pendidikan vokasi harus direncanakan berdasarkan prediksi pasar kerja. Pendidikan vokasi efisien jika siswa mendapatkan pekerjaan pada bidang yang sesuai dengan program keahlian yang mereka ikuti.
    Pendidikan kejuruan adalah suatu jenis dan tingkat pendidikan yang memerlukan biaya relatif tinggi, baik untuk investasi pengadaan sumberdaya pendidikan, maupun biaya operasional pendidikan.
    Wawasan efisiensi sesuai dengan kebijakan link and match :
    1. SMK menghasilkan tamatan dengan bidang keahlian, jumlah, dan mutu yang
    sesuai dengan kebutuhan pembangunan dengan pendekatan demand driven.
    2. Setiap alokasi pembangunan dana SMK, harus dilihat sebagai investasi.
    Keberhasilan diukur dengan rate of return/ tingkat keuntungan balik hasil
    investasi.
    Desentralisasi pendidikan bertujuan untuk meningkatkan mutu layanan dan kinerja pendidikan untuk pemerataan, kualitas, relevansi, dan efisiensi pendidikan. Selain itu desentralisasi pendidikan juga ditujukan untuk mengurangi beban pemerintah pusat yang berlebihan, mengurangi kemacetan-kemacetan jalur-jalur komunikasi, meningkatkan (kemandirian, demokrasi, daya tanggap, akuntabilitas, kreativitas, inovasi, prakarsa), dan meningkatkan pemberdayaan dalam pengelolaan dan kepemimpinan pendidikan (Slamet PH, 2008).
    Dalam konteks dan perspektif Indonesia, pembangunan pendidikan mendapat tempat strategis, dengan munculnya Link and Match, kebijaksan ini mengharapkan dunia pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga kerja yang sesuai dengan pasaran kerja, mencakup mutu, dan jumlah serta jenisnya dengan dukungan ekonomi yang memadai.
    Vaizey (1962) menyatakan ukuran yang paling populer dalam melihat peranan ekonomi dalam pendidikan adalah mempertautkan antara ekonomi dan pendidikan itu sendiri. Pemikiran Vaizey ini didasarkan pada asumsi bahwa pendidikan merupakan human capital. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masyarakat modern.
    Argumen ini memiliki dua aspek, yaitu:
    1. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern.
    2. Pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata.
    Peran ekonomi dalam pendidikan menunjang kelancaran proses pendidikan, dan sebagai bahan pengajaran ekonomi yang membentuk manusia ekonomi yaitu manusia yang dalam kehidupan sehari-harinya memiliki kemampuan dan kebiasaan memiliki etos kerja, tidak bekerja setengah-setengah, produktif, dan hidup efesien.

    Konsep pendidikan sebagai sebuah investasi yang digambarkan sebagai intervensi kekuatan ekonomi (education as investement) telah berkembang secara pesat dan semakin diyakini oleh setiap negara bahwa pembangunan sektor pendidikan merupakan prasyarat kunci bagi pertumbuhan sektor-sektor pembangunan lainnya. Konsep tentang investasi sumber daya manusia (human capital investment) yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi (economic growth) harus pula dibangun dan dikembangkan dari sebuah struktur dan sistem ekonomi yang mendukung munculnya pendidikan berkualitas.

    Sumber :

    AR, Murniati.,dan Usman Nasir. 2009. Implementasi Manajemen Stratejik Dalam Pemberdayaan Sekolah Menengah Kejuruan. Bandung: Ciptapustaka Media Perintis.

    Djojonegoro, Wardiman. 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia : Melalui
    Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) . Jakarta: PT. Jayakarta Agung.

    Sudira, Putu. 2008. Efisiensi Internal Pendidikan Kejuruan dalam Studi Kasus di SMK N 1 Trucuk Klaten : Paper Mata Kuliah S3 Ekonomi Pendidikan dan Ketenagakerjaan. Yogyakarta : PTK S3 PPS-UNY

    Slamet PH. 2008. Handout Desentralisasi Pendidikan Di Indonesia, Jakarta :
    Departemen Pendidikan Nasional
    Hestina Windiyati. 2017. Filosofi, Teori dan Praksis Strategi Pembelajaran Kejuruan Agrobisnis Abad 21. Jurnal Cakrawala Pendidikan. 11 Januari 2017

    Widiansyah , Apriyanti. 2017. Peran Ekonomi dalam Pendidikan dan Pendidikan dalam Pembangunan Ekonomi : Jurnal Cakrawala Pendidikan Vol. XVII, No. 2, September 2017 (hal 208-211)

    Vaizey, John. 1962. Education for All: status and Trend. Pads. UNESCO

    https://books.google.co.id/books?id=oYP1AkYPWsAC&pg=PA14&lpg=PA14&dq=implementasi+landasan+ekonomi+terhadap+pendidikan+kejuruan&source=bl&ots=PIB4auYKmJ&sig=ACfU3U2qkiuyPusRHXrOjR0uN64D_f-owQ&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwi3zKLd98HkAhUR63MBHXt_DdE4ChDoATACegQICRAB

    https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwiOj_25isLkAhWUSH0KHTcXArsQFjABegQIBxAB&url=https%3A%2F%2Fwww.academia.edu%2F11476770%2FHUBUNGAN_PENDIDIKAN_DAN_EKONOMI_Perspektif_Teori_dan_Empiris&usg=AOvVaw1a9teUJLwjI1H4sfTGHnox

    Tim Pengembang Pendidikan.2007.Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian 2 Ilmu Pendidikan Praktis. Bandung : PT Imperial Bhakti Utama

  11. 1501519009

    1. 1. Eksistensialisme adalah pengakuan keberadaan manusia, bahwa manusia itu ada dan bebas melakukan apa saja atas kemauannya tetapi juga didasari pertanggungjawaban atas perbuatannya, karena kebebasan sangat berkaitan dengan tanggung jawab dan tidak bias dipisahkan antara satu sama lain.
    Esensialisme berbanding terbalik dengan eksistensialisme yang mengutamakan eksisensi (keberadaan sesuatu atau seseorang). Esistensialisme mengandung makna bahwa individu tidak bebas menentukan arti atau kualitas dirinya (esensi) melainkan semua peristiwa hasil dari beberapa hal yang tidak terlepas darinya.
    Eksistensialisme diterapkan dalam pendidikan kejuruan, yaitu dalam pembelajaran pada pendidikan kejuruan siswa diberi kebebasan dalam berkreatifitas, tenaga pendidik wajib untuk mengasah ketrerampilan dan kekreatifitasan peseerrta didik. Pada dasarnya pendidikan kejuruan lebih menitik beratkan pada ketrampilan dan kekreatifitasan peserta didik karena salah satu karakteristik pendidikan kejuruan adalah mempersiapkan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja.
    Esensialisme diterapkan dalam Pendidikan kejuruan, yaitu adanya penetapan dalam berbagai mata pelajaran yang disajikan pada kurikulum pendidikan kejuruan. Pembagian mata pelajaran tersebut akan memudahkan siswa untuk memahami tahap demi tahap yang pada akhirnya menyeluruh, karena semua mata pelajaran diperuntukkan siswa dalam menjalani kehidupannya sebagai makluk sosial yang tidak dapat dipisahkan keterkaitannya dengan hal ekonomi, ketanagakerjaan, politik, religi dan moral.

    Sumber:
    Yunus, M Firdaus. 2011. Kebebasan Dalam Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre. 11 (2)
    Tambunan, S.F. 2016. Kebebasan Individu Manudia Abad Dua Puluh : Filsafat Eksistensialisme Sartre. 18 (2)
    Roswantoro, Alim. Eksistensialisme Teistik Muhammad Iqbal.
    Helaluddin. 2018. Restrukturisasi Pendidikan Berbasis Budaya: Penetapan Teori Esensialisme di Indonesia. Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran. 6 (2)
    Junaidin, Komalasari. 2019. Konstribusi Esensialisme dalam Implementasi Kurikulum 2013. Jurnal Managemen dan Supervisi Pendidikan. 3 (3)
    Rahmawati, Deffi, dkk. 2012. Kurikulum Pendidikan dalam Perspektif Perenialisme, Esensialisme, dan Progresivisme.
    https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/11/07/filsafat-esensialisme-dalam-pendidikan/
    https://bukunnq.wordpress.com/2011/04/23/aliran-filsafat-esensialisme/
    https://www.slideshare.net/MTsNurulHudaKarangta/makalah-aliran-esensialisme
    https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-eksistensialisme/116316

  12. 1501519009

    2.Efisiensi adalah usaha untuk menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan dalam tujuan. Efisiensi mengandung unsur hubungan antara efektifitas (output/produk) dan unsur (input/sumber daya). Sesuatu dikatakan efisien jika pencapaian target diperoleh dengan pengorbanan atau biaya yang kecil.
    Investasi (human capital) adalah suatu prinsip yang memaknai pengetahuan, keahlian, kemampuan, dan keterampilan manusia sebagai modal atau aset yang bisa dijadikan modal untuk masa depan. Semakin tinggi Pendidikan seseorang akan meningkatkan harga diri, status sosial, dan akan berpengaruh pada pendapatan seseorang.
    Efisiensi diimplementasikan dalam Pendidikan kejuruan, yaitu dapat berupa penyelenggaraan pelatihan yang diberikan oleh sekelompok siswa yang memerlukan sehingga memperoleh keberhasilan, dalam metode pembelajaran pendidkan kejuruan memperhatikan karakteristik siswa, administrasi pendidikan kejuruan dilaksanakan dengan flesksibel; dinamis; dan terstandar.
    Investasi diimplementasikan dalam pendidikan kejuruan, yaitu siswa dididik untuk siap memasuki dunia usaha/industri dengan segala pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan yang dimiliki. Pendidikan kejuruan harus mengetahui apa yang dibutuhkan dalam dunia usaha/industri agar dapat mempersiapkan lulusan yang mempunyai hard skill maupun soft skill yang baik. Semakin baik kemampuan siswa harapanannya dapat menjadi investasi masa depan untuk memperoleh pendapatan sesuai dengan yang diinginkan.

    Sumber:
    Hidayati, Arina. Perencanaan Karir Sebagai Bentuk Investasi Pendidikan Siswa SMK (Studi Kasus di SMK Negeri 1 Batang). 2015. 25 (2)
    Atmati, Hastarini Dwi. Investasi Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan
    Widarto. Model Pendidikan Vokasi yang Efektif dan Efisien.
    https://www.jurnal-doc.com/jurnal/jurnal-tentang-landasan-pendidikan-teknologi-kejuruan-pdf/
    http://staffnew.uny.ac.id/upload/130681037/pendidikan/PTK-Mg%201.pdf
    https://karyatulisilmiah.com/pendidikan-dan-investasi-sdm-suatu-perspektif/
    http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/197108171998021-SARDIN/pertemuan_12.pdf
    http://staffnew.uny.ac.id/upload/131808327/penelitian/Model+Pendidikan+Vokasi.pdf
    https://rahmawatiindahlestari.wordpress.com/semester-1/lkpp/landasan-ekonomi-pendidikan/comment-page-1/
    https://www.academia.edu/4894270/Landasan_ekonomi
    https://www.academia.edu/12737875/PENDIDIKAN_SEBAGAI_INVESTASI

  13. 0501519006

    1.Landasan filosofi pendidikan kejuruan adalah eksistensialisme dan esensialisme. Landasan filosofi eksistensialisme adalah filosofi pendidikan kejuruan yang menyatakan bahwa setiap individu dari manusia dapat menciptakan arti hidup dari diri mereka sendiri. Eksistensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus menggambangkan eksistensi manusia, bukan merampasnya (Wahju, 2013:37). Landasan filosofi eksistensialisme menganggap manusia sangat ditentukan oleh tindakan dan pengalamannya sangat berkaitan dengan pendidikan tekhnologi dan kejuruan. Aliran eksistensialisme memberikan sumbangsih pada pendidikan tekhnologi kejuruan berupa penguatan essensi (Octo. 2012:1). Landasan filosofi esensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengaitkan dirinya dengan system-sistem lain seperti ekonomi, ketenagakerjaan, politik, social, religi, dan moral (Wahju, 2013:37). Filosofi esensialisme menekankan bahwa pendidikan kejuruan dan vokasional harus berfungsi dan relevan dengan berbagai kebutuhan, baik kebutuhan peserta didik, kebutuhan keluarga, maupun kebutuhan berbagai sector dan sub-sub sector pembangunan nasional. Implementasi dari landasan filosofi adalah adanya pemisahan diantara pendidikan kejuruan dan vokasional dengan pendidikan akademik (Sudira, 2015:11). Kurikulum pendidikan kejuruan dikembangkan berdasarkan kebutuhan bisnis dunia usaha dan industry (Windiyati, 2017:9). Keselarasan hubungan link and match antara pendidikan kejuruan harus erat hubungannya dengan pembangunan (Slamet P.H, 2013). Menjalankan link and match bukanlah hal yang sederhana, kreativitas dan kecerdasan pengelola pendidikan kejuruan menjadi factor penentu sukses tidaknya program tersebut. Kurikulum pendidikan kejuruan diorganisasikan secara sekuensial, instruktur membutuhkan pengalaman yang ekstensif di dunia kerja dan terkait erat dengan industry (Rojewsky, 2009:22). Esensi pokok dari pendidikan kejuruan dalam perspektif filosofi eksistensialisme dan esensialisme adalah mendidik manusia bernilai guna, bermakna bagi kehidupan, kompeten, menekankan peran dan fungsi pendidikan, pendidiknya adalah ahli yang menguasai subyek materi dan skill, mampu mengembangkan skill peserta didik melalui berbagai pelatihan, pengulangan sampai perolehannya keterampilan tinggi (Sudira, 2015:11).
    Sumber :
    Istanto. W. Djatmiko, Pendidikan Vokasi Dalam Perspektif Philosopher Tradisional. Fakultas teknik. Universitas negeri yogyakarta
    Implementasi Kurikulum SMK (Suatu Tinjauan Komprehensif tentang Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi Kurikulum SMK)
    Wahju. D. I. 2013. Modul Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Fakultas teknik. Universitas negeri Yogyakarta
    Sudira, P. 2012. Filosofi Dan Teori Pendidikan Vokasional Kejuruan. Yogyakarta:UNY press
    Sudira, P. 2015. Pengembangan Model LIS-5C pada Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Cakrawala Pendidikan. 1:1-11.
    Slamet, P. H. 2013. Laporan Penelitian Kajian Pengembangan SMK Rujukan.
    Windiyati, H. Filosofi Teori, Dan Praksis Strategi Pembelajaran Kejuruan Agrobisnis Abad 21
    Aliran filsafat pendidikan kejuruan. 2014. (dokumen.tips/documents/filsafat-pendidikan-kejuruan-568105d17b0fb.html)
    Malikah, N. 2014. Pragmatisasi Pendidikan dalam Dunia Kerja. Jurnal Pendidikan Islam. 8(1): 155-170.
    Hadam, S., Rahayu, N., dan Ariyadi, A. N. 2017. Strategi implementasi revitalisasi SMK. Jakarta: Direktorat pembinaan sekolah kejuruan

  14. 0501519008

    Jawaban Nomor 1
    Landasan filofosi Pendidikan kejuruan adalah eksistensialisme dan esensialisme. Pengertian dari Eksistensialisme adalah salah satu pendatang baru dalam dunia filsafat. Eksistensialisme hampir sepenuhnya merupakan produk abad XX. Dalam banyak hal eksistensialisme lebih dekat dengan sastra dan seni daripada filsafat normal. Tidak di ragukan lagi bahwa eksistensialisme memusatkan perhatian pada emosi manusia daripada pikiran. Eksistensialisme mengedepankan otonomi manusia dalam berhadapan dengan perkembangan sains dan teknologi. Secara epsitemologis, ada hal yang menarik dari eksistensialisme, bahwa manusia hendaknya menjadi manusia yang autentik, jujur dan memutuskan apa yang baik bagi dirinya secara bertanggungjawab dengan rasionalitas dan perasaannya, tidak mencari justifikasi dan legitiminasi dari sesuatu yang seakan-akan berada di luar dirinya, tetapi sebenarnya adalah kehendak diri yang di balut norma sosial atau norma agama (Rukiyati, 2009).
    Filosofi esensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengaitkan dirinya dengan sistem-sistem yang lain seperti ekonomi, politik, ketenagakerjaan, politik, religi dan moral. Esensialisme juga menekankan bahwa pendidikan harus relevan dengan kebutuhan, baik kebutuhan individu, keluarga maupun kebutuhan berbagai sektor dan sub sektornya, baik lokal, nasional maupun internasional. Filsafat eksistensialisme bersifat individualistis sebagai paham yang mendorong manusia untuk berbuat dan berbuat terus memperbarui dirinya dengan bertitik tolak dari individu masing-masing apapun keadaannya. Eksistensialisme memberikan modal kekuatan dan keberanian dengan tidak perlu mencemaskan kelemahannya sebagai manusia. (Mahmudah,2009). Hafid (2015) menyatakan bahwa Essensialisme menghendaki agar landasan pendidikan berakar dari nilai-nilai yang esensial, yaitu yang telah teruji oleh waktu, bersifat menuntun dan telah turuntemurun dari zaman ke zaman, dengan mengambil zaman renaisance sebagai permulaan. Esensialisme muncul sebagai reaksi tentangan terhadap berbagai permasalahan pendidikan yang bersifat fleksibel.
    Menurut para esensialis, kurikulum pendidikan yang mudah berubah-ubah akan menjadi mudah goyah dan dan tidak konsisten. Teori ini beranggapan bahwa hal terbaik yang harus dijadikan landasan dalam pendidikan adalah kembali ke budaya lama yang sudah teruji keberadaannya. Ada beberapa kelebihan dalam teori esensialisme, yaitu: (1) membantu untuk mengembalikan subject matter ke dalam proses pendidikan dan (2) perubahan merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat diubah dalam kehidupan sosial (Helaludin, 2018). Kaum esensialis menganggap tujuan pendidikan harus mengarahkan manusia pada terbentuknya lembaga pendidikan baik swasta maupun negeri yang adil, terampil dan murah hati. Pembelajaran informal membantu, tapi ini seharusnya hanya pelengkap dan sekunder. Kaum esentialis percaya bahwa keterampilan, pengetahuan dan sikap yang dibutuhkan oleh individu yang bersesuaian dengan realitas kehidupan harus direncanakan secara sistematis. Mereka menekankan otoritas guru dan nilai kurikulum materi pelajaran Peran guru Guru eksistensialisme bukanlah sosok yang mempunyai jawaban-jawaban benar tak terbantahkan. Ia lebih sebagai seseorang yang berkemauan membantu para subjek didik mengeksplorasi jawaban-jawaban yang mungkin. Di dalam kelas guru berperan sebagai fasilitator untuk membiarkan siswa berkembang menjadi dirinya dengan memberikan berbagai bentuk pajanan (exposure) dan jalan untuk dilalui.
    pendidikan kejuruan atau SMK sebenarnya baik dalam rangka membina bakat dan kreatifitas peserta didik sehingga ketika keluar dari dunia pendidikan formal dan berhadapan dengan kehidupan masyarakat, mereka tidak akan kewalahan menciptakan lapangan kerja sendiri. Berkaitan dengan itu pula, SMK akan mampu menjawab tantangan persaingan dunia kerja karena bakat dan kreatifitas yang dikembangkan berbeda-beda bidangnya. Hal ini bertolak belakang dengan sistem pendidikan di SMA yang diseragamkan dari Sabang sampai Merauke, walaupun karakteristik budaya dan daerahnya berbeda-beda.

    Sumber:
    – Rukiyati. (2009) Pemikiran Pendidikan Menurut Eksistensialisme
    – Mahmudah (2009) Filsafat Eksistensialisme: Telaah Ajaran dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan di Indonesia
    – Helaludin. (2018) RESTRUKTURISASI PENDIDIKAN BERBASIS BUDAYA: PENERAPAN TEORI ESENSIALISME DI INDONESIA
    – Sudarto Murtaufiq (2014). TELAAH KRITIS ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN
    – Husnaini Usman, Darmono, (2016). Pendidikan Kejuruan Masa Depan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
    – Ricardo F. Nanuru, (2013) Progresivisme Pendidikan dan Relevansinya di Indonesia
    – Wulandari Dewi Murfiah, (2018) PROGRESIVISME DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA
    – Djatmiko Wahyu Istanto, Siswanto Tri Budi, Sudira Putu, dkk (2013) Pendidikan Teknologi Kejuruan, Universitas Negeri Yogyakarta
    http://kptk.weebly.com/indonesia.html
    – Hilmi, (2013) AKTIVITAS PENGAJARAN MELALUI PENDEKATAN EKSISTENSIALISME

  15. 0501519002
    Jawaban soal nomor 2 :
    Menurut djojonegoro (1998:41-3) pendidikan kejuruan disenggelarakan berdasarkan atas landasan keilmuan yang kuat. Beberapa disiplin yang digunakan sebagai landasan diantaranya adalah ekonomi, psikologi, dan sosiologi.
    Dari landasan ekonomi yang utama menekankan pada efisiensi dan investasi, merupakan dasar penyelenggaraan pendidikan kejuruan.
    Dalam proses produksi, efisiensi didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana sesuatu produk diharapkan mencapai tingkat maksimal atas dasar suatu biaya (input) tertentu atau dimana biaya (input) ditekan seminimal mungkin dalam rangka menghasilkan suatu produk yang ditetapkan.
    Pengertian efisiensi pendidikan diangkat dari konsep baru tersebut. Dengan konsep ini pendidikan telah dilihat sebagai suatu proses produksi sebagaimana digambarkan dalam analisis sistem pendidikan . Sebagai proses produksi, proses pendidikan digambarkan sebagai suatu proses untuk menghasilkan suatu produk pendidikan tertentu. Menurut konsep efisiensi pendidikan baru ini, maka efisiensi dalam proses pendidikan akan dicapai apabila produk pendidikan yang telah ditetapkan itu dapat dicapai dengan biaya (input) yang minimal, atau produk pendidikan yang diperoleh secara maksimal diperoleh dengan biaya (input) yang telah ditetapkan.
    Pendidikan kejuruan/vokasi harus dievaluasi berdasarkan efisiensi ekonomis. Pendidikan vokasi secara ekonomis efisien jika menyiapkan siswa untuk pekerjaan spesifik dalam masyarakat berdasarkan kebutuhan tenaga kerja. Pendidikan vokasi adalah baik jika menyiapkan siswa untuk pekerjaan nyata yang eksis dimasyarakat dan mereka menginginkan. Pendidikan vokasi efisien jika menjamin penyediaan tenaga kerja untuk satu bidang pekerjaan. Pendidikan vokasi efektif jika terkait dengan pasar kerja. Pendidikan vokasi harus direncanakan berdasarkan prediksi pasar kerja. Pendidikan vokasi efisien jika siswa mendapatkan pekerjaan pada bidang yang sesuai dengan program keahlian yang mereka ikuti.
    Pendidikan kejuruan adalah suatu jenis dan tingkat pendidikan yang memerlukan biaya relatif tinggi, baik untuk investasi pengadaan sumberdaya pendidikan, maupun biaya operasional pendidikan.
    Wawasan efisiensi sesuai dengan kebijakan link and match :
    1. SMK menghasilkan tamatan dengan bidang keahlian, jumlah, dan mutu yang
    sesuai dengan kebutuhan pembangunan dengan pendekatan demand driven.
    2. Setiap alokasi pembangunan dana SMK, harus dilihat sebagai investasi.
    Keberhasilan diukur dengan rate of return/ tingkat keuntungan balik hasil
    investasi.
    Desentralisasi pendidikan bertujuan untuk meningkatkan mutu layanan dan kinerja pendidikan untuk pemerataan, kualitas, relevansi, dan efisiensi pendidikan. Selain itu desentralisasi pendidikan juga ditujukan untuk mengurangi beban pemerintah pusat yang berlebihan, mengurangi kemacetan-kemacetan jalur-jalur komunikasi, meningkatkan (kemandirian, demokrasi, daya tanggap, akuntabilitas, kreativitas, inovasi, prakarsa), dan meningkatkan pemberdayaan dalam pengelolaan dan kepemimpinan pendidikan (Slamet PH, 2008).
    Dalam konteks dan perspektif Indonesia, pembangunan pendidikan mendapat tempat strategis, dengan munculnya Link and Match, kebijaksan ini mengharapkan dunia pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga kerja yang sesuai dengan pasaran kerja, mencakup mutu, dan jumlah serta jenisnya dengan dukungan ekonomi yang memadai.
    Vaizey (1962) menyatakan ukuran yang paling populer dalam melihat peranan ekonomi dalam pendidikan adalah mempertautkan antara ekonomi dan pendidikan itu sendiri. Pemikiran Vaizey ini didasarkan pada asumsi bahwa pendidikan merupakan human capital. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masyarakat modern.
    Argumen ini memiliki dua aspek, yaitu:
    1. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern.
    2. Pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata.
    Peran ekonomi dalam pendidikan menunjang kelancaran proses pendidikan, dan sebagai bahan pengajaran ekonomi yang membentuk manusia ekonomi yaitu manusia yang dalam kehidupan sehari-harinya memiliki kemampuan dan kebiasaan memiliki etos kerja, tidak bekerja setengah-setengah, produktif, dan hidup efesien.
    Konsep pendidikan sebagai sebuah investasi yang digambarkan sebagai intervensi kekuatan ekonomi (education as investement) telah berkembang secara pesat dan semakin diyakini oleh setiap negara bahwa pembangunan sektor pendidikan merupakan prasyarat kunci bagi pertumbuhan sektor-sektor pembangunan lainnya. Konsep tentang investasi sumber daya manusia (human capital investment) yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi (economic growth) harus pula dibangun dan dikembangkan dari sebuah struktur dan sistem ekonomi yang mendukung munculnya pendidikan berkualitas.

    Sumber :
    AR, Murniati.,dan Usman Nasir. 2009. Implementasi Manajemen Stratejik Dalam Pemberdayaan Sekolah Menengah Kejuruan. Bandung: Ciptapustaka Media Perintis.
    Djojonegoro, Wardiman. 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia : Melalui
    Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) . Jakarta: PT. Jayakarta Agung.
    Sudira, Putu. 2008. Efisiensi Internal Pendidikan Kejuruan dalam Studi Kasus di SMK N 1 Trucuk Klaten : Paper Mata Kuliah S3 Ekonomi Pendidikan dan Ketenagakerjaan. Yogyakarta : PTK S3 PPS-UNY
    Slamet PH. 2008. Handout Desentralisasi Pendidikan Di Indonesia, Jakarta :
    Departemen Pendidikan Nasional
    Hestina Windiyati. 2017. Filosofi, Teori dan Praksis Strategi Pembelajaran Kejuruan Agrobisnis Abad 21. Jurnal Cakrawala Pendidikan. 11 Januari 2017
    Widiansyah , Apriyanti. 2017. Peran Ekonomi dalam Pendidikan dan Pendidikan dalam Pembangunan Ekonomi : Jurnal Cakrawala Pendidikan Vol. XVII, No. 2, September 2017 (hal 208-211)
    Vaizey, John. 1962. Education for All: status and Trend. Pads. UNESCO
    https://books.google.co.id/books?id=oYP1AkYPWsAC&pg=PA14&lpg=PA14&dq=implementasi+landasan+ekonomi+terhadap+pendidikan+kejuruan&source=bl&ots=PIB4auYKmJ&sig=ACfU3U2qkiuyPusRHXrOjR0uN64D_f-owQ&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwi3zKLd98HkAhUR63MBHXt_DdE4ChDoATACegQICRAB
    https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwiOj_25isLkAhWUSH0KHTcXArsQFjABegQIBxAB&url=https%3A%2F%2Fwww.academia.edu%2F11476770%2FHUBUNGAN_PENDIDIKAN_DAN_EKONOMI_Perspektif_Teori_dan_Empiris&usg=AOvVaw1a9teUJLwjI1H4sfTGHnox
    Tim Pengembang Pendidikan.2007.Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian 2 Ilmu Pendidikan Praktis. Bandung : PT Imperial Bhakti Utama

  16. 0501519006

    2. Landasan ekonomi pendidikan kejuruan adalah efisiensi dan investasi. Landasan ekonomi efisiensi adalah pelaksanaan proses pendidikan akan efisien apabila pendayagunaan sumber daya seperti waktu, tenaga, dan biaya tepat sasaran, dengan lulusan dan produktifitas pendidikan yang optimal. Pendidikan kejuruan menekankan pandangan pada manusia sebagai economic, bukan sebagai kultural (Malikah, 2014:164). Pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh investasi modal, tetapi juga tenaga kerja yang memiliki fleksibilitas dalam menguasai keterampilan baru untuk melaksanakan pekerjaan baru, sejalan dengan perubahan struktur ekonomi dan lapangan kerja (The World Bank, 1991). Landasan ekonomi investasi atau human capital artinya semakin tinggi pendidikan dan pelatihan seseorang, semestinya orang tersebut semakin produktif sehingga akan mendapatkan upah yang lebih besar (Armiati, 2011:147). Dengan demikian human capital bukanlah memposisikan manusia seolah-olah mesin, namun manusia sebagai aset yang mampu meningkatkan suatu perusahaan. Sebagai proses produksi, produk pendidikan dapat dilihat dari dua sisi yaitu output dan outcome. Produk pendidikan sebagai barang konsumsi menghasilkan output berupa prestasi akademik, prestasi non-akademik, angka mengulang, dan angka putus sekolah. Sebagai investasi menghasilkan outcome berupa kesempatan pendidikan, kesempatan kerja, dan pengembangan diri. Pendidikan kejuruan secara ekonimi efisiensi menyiapkan siswa untuk pekerjaan spesifik dan bekerja pada bidang yang sesuai dengan program keahlian yang mereka ikuti. Landasan ekonomi efisiensi sesuai dengan kebijakan link and match. Link and match merupakan konsep keterkaitan dan kesepadanan antara dunia pendidikan dengan dunia industri (Hadam, 2017:73). Kebijakan tersebut pada dasarnya merupakan sarana untuk membangun kemitraan dengan industry dalam mengembangkan program pendidikan dan pelatihan pendidikan pada bidang keahlian yang diselenggarakan oleh pendidikan kejuruan (Jubaedah, 2010:20). Kesesuaian landasan ekonomi efisiensi dengan link and match: 1) SMK menghasilkan tamatan dengan bidang keahlian, jumlah, dan mutu yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan dengan pendekatan demand driven; dan 2) setiap alokasi dan pembangunan SMK harus dilihat sebagai investasi. Untuk meningkatkan efisiensi pendidikan ada dua pendekatan yang dapat dilakukan yaitu 1) pendekatan manajemen, dipakai dengan meningkatkan tingkat efisiensi melalui manipulasi manajerial (dari sisi teksnis pada unit produksi terkecil); 2) pendekatan ekonomik, menggunakan asumsi dasar bahwa setiap proses produksi selalu ada fix input dalam proses produksi dapat dilakukan berbagai kombinasi dan relokasi terhadap input untuk menghasilkan suatu produk. Efisiensi ekonomi dalam dunia pendidikan dapat dibedakan menjadi dua macam efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Efisiensi internal adalah tingkat efisiensi dalam sisitem internal pendidikan dalam mengalokasikan input pendidikan untuk menghasilkan output yang tinggi (Mc Mahon, Boediono, Adams, 1992: ( Nurhadi, 2004)). Efisiensi eksternal adalah tingkat efisiensi dalam system eksternal pendidikan dalam mengalokasikan kombinasi input untuk menghasilkan outcome yang tinggi.

    Sumber :
    Armiati. 2011. Strategi mewujudkan sekolah kejuruan berbasis kewirausahaan dalam peningkatan kemandirian dan kreatifitas siswa melalui koperasi sekolah. Tingkap. 7(2): 147-160.
    Malikah, N. 2014. Pragmatisasi Pendidikan dalam Dunia Kerja. Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam. 8(1): 155-170.
    Implementasi Kurikulum SMK (Suatu Tinjauan Komprehensif tentang Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi Kurikulum SMK)
    Kuntjojo. 2009. Masalah Efisiensi, Efektivitas, dan Relevansi Pendidikan dalam Perspektif Manajemen Pendidikan. https://ebekunt.wordpress.com/2009/04/14/masalah-efisiensi-efektifitas-dan-relevansi-pendidikan-dalam-perspektif-manajemen-pendidikan/amp/
    Sudira, P. Efisiensi Internal Pendidikan Kejuruan “Studi Kasus di SMK N 1 Trucuk Klaten”. Paper mata kuliah ekonomi pendidikan dan ketenagakerjaan.
    Hadam, S., Rahayu, N., dan Ariyadi, A. N. 2017. Strategi implementasi revitalisasi SMK. Jakarta: Direktorat pembinaan sekolah kejuruan
    Jubaedah, Y., Rohaeni, N., dan Tati. 2010. Model Link and Match dengan Pendekatan Competency Based Training pada Pembelajaran Tata Graha di Sekolah Menengah Kejuruan. ISSN 1412-565 X. 19-27.
    Nurkholis, A. Teori Pembangunan Sumberdaya Manusia: Human Capital Theory, Human Investment Theory, Human Develophment Theory, Sustainable Develophment Theory, People Centered Develophment Theory. 1-16.
    Sukoco, I., dan Prameswari, D. 2017. Pendekatan Human Capital untuk Pengelolaan Sumber Daya Manusia yang Lebih Produktif. Jurnal AdBispreneur. 2(1): 93-104.
    Ermidawati. Perkembangan Pendidikan Kejuruan di Kota Medan. Peran LPTK dalam Pengembangan Pendidikan Vokasi di Indonesia. Seminar Internal, ISSN 1907-2066.

  17. 05015190001
    1. Eksistensialisme merupakan filosofi yang menyatakan bahwa setiap individu dari manusia dapat menciptakan arti hidup dari diri mereka sendiri. Sartre (Jean paul Sartre, 1905-1980) adalah salah satu philosopher dengan pemikiran eksistensialisme ini. Sartre berpendapat bahwa manusia tidak akan bermakna jika mereka tidak menetapkan sendiri kehidupannya sebagai bentuk tanggangan hidup di dunia. Menurut Sartre, bekerja tidak hanya secara teoritis tetapi bekerja dan memiliki gagasan.
    Eksistensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengembangkan eksistensi manusia untuk bertahan hidup, bukan merampasnya. Filosofi eksistensialisme berkeyakinan bahwa pendidikan kejuruan harus menyuburkan dan mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitasi yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, pro perubahan (kreatif, inovatif dan eksperimentatif), menumbuhkan dan mengembangkan bakat, minat, dan kemampuan peserta didik. Secara filosofis, di dalam memandang pendidikan kejuruan, terdapat dua pertanyaan yang menyangkut dasar pengembangan program pendidikan kejuruan yaitu: apa yang harus diajarkan, dan bagaimana harus mengajarkannya (Calhoun dan Finch, 1982). Selannjutnya Calhoun dan Finch menyatakan bahwa, asumsi dan prinsip-prinsip fundamental cenderung menyatukan dan mengarahkan perencanaan pendidikan kejuruan. Kemudian ditegaskan juga bahwa sumber prinsip-prinsip fundamental pendidikan kejuruan adalah individu dan perannya dalam suatu masyarakat yang demokratis, serta peran pendidikan dalam transmisi standar sosial. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, tujuan puncak system pendidikan kejuruan adalah memaksimalkan kesempatan individu untuk belajar sepanjang hayatnya serta untuk mencapai “kehidupan yang baik”.
    Aliran eksistensialisme yang menganggap manusia sangat ditentukan oleh tindakan dan pengalamannya sangat berkaitan dengan pendidikan teknologi dan kejuruan. Aliran eksistensialisme memberikan sumbangsih pemikiran pada pendidikan teknologi dan kejuruan terutama dalam penguatan esensi. Pemberian pengalaman berupa praktek dalam pendidikan teknologi dan kejuruan sangat ditekankan karena akan menjadi bekal bagi peserta didik sebelum terjun ke dunia kerja. Eksistensialisme menjadikan praktek dalam pendidikan teknologi dan kejuruan sebagai tindakan real yang menentukan nasib peserta didik di dunia kerja.
    Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda. Aliran esensialisme memiliki keterkaitan dengan pendidikan teknologi dan kejuruan terutama dalam menciptakan budaya kerja bagi peserta didik. Aliran esensialisme yang menginginkan pengetahuan kembali pada kebudayaan lama yang ada di masyarakat seperti budaya disiplin sangat menunjang pelaksanaan pendidikan teknologi dan kejuruan khususnya dalam hal praktek, dengan budaya disiplin peserta didik diharapkan mampu menyerap banyak hal karena aliran pragmatisme menganggap manusia sebagai kaum transendental yang mampu berbuat sendiri dan melakukan kreatifitas sendiri dekat dengan situasi sebenarnya.
    Implementasi dalam pendidikan kejuruan:
    a. Menyempurnakan dan menyelaraskan kurikulum SMK dengan kompetensi sesuai kebutuhan pengguna lulusan (link and match) dengan melaksanakan sinkronisasi kurikulum dengan DUDI, pelaksanaan teaching factory dan technopark;
    b. Meningkatkan jumlah dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dengan pelaksanaan magang guru dan uji sertifikasi kompetensi guru;
    c. Meningkatkan kerja sama dengan Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, dan dunia usaha/industry dengan pelaksanaaan Prakerin, Kelas Industri;
    d. Meningkatkan akses sertifikasi lulusan SMK dengan pembentukan LSP P1 sebagai wadah pelaksanaan uji sertifikasi.

    Sumber:
    Djohar, A. (2007). Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: Pedagogiana Press.
    Ekawati, Dian. 2015. Eksistensialisme. Tarbawiyah, Vol. 12, No. 01
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017. Strategi Implementasi Revitalisasi SMK (10 Langkah Revitalisasi SMK). Jakarta
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2016. Grand Design Pengembangan Teaching Factory dan Technopark di SMK. Jakarta
    https://ismailmajid.wordpress.com/2012/10/08/landasan-filosofi-dan-yuridis-pendidikan-teknologi-kejuruan/
    Suyitno. 2009. Landasan Filosofis Pendidikan. Fakultas Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia
    Usman, Husaini. 2016. Pendidikan Kejuruan Masa Depan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta
    Wahju, Istanto., dkk. 2013. Modul Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Fakultas Teknik: Universitas Negeri Yogyakarta
    Windiyati, Hestina. 2017. Filosofi, Teori, dan Praksis Strategi Pembelajaran Kejuruan Agrobisnis Abad 21. Universitas Negeri Yogyakarta.
    Yunus, Firdaus. 2011. Kebebasan dalam Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre. Jurnal Al-Ulum.

  18. 1.
    0501519004
    Eksistensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengembangkan eksistensi manusia untuk bertahan hidup, bukan merampasnya. Filosofi eksistensialisme berkeyakinan bahwa pendidikan kejuruan harus menyuburkan dan mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitasi yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, pro perubahan (kreatif, inovatif dan eksperimentatif), menumbuhkan dan mengembangkan bakat, minat, dan kemampuan peserta didik. aliran eksistensialisme ini berkeyakinan bahwa segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, kenyakinan yang tumbuh dari dirinya dan kemampuan serta keluasaan jalan untuk mencapai keinginan hidupnya. Titik sentralnya manusia itu sendiri. Kurikulum Mata pelajaran hanyalah alat bagi realisasi subjektivitas. Belajar tidak ditemukan dalam struktur pengetahuan maupun dalam disiplin yang terorganisir, tetapi dalam kesediaan siswa untuk memilih dan memberi makna terhadap subjek/mata pelajaran.
    Implementasi aliran eksistensialisme tehadap pendidikan antara lain sebagai berikut:
    1) Aliran ini mengutamakan perorangan/ individu.
    2) Memandang individu dalam keadaan tunggal selama hidupnya.
    3) Aliran filsafat ini percaya akan kemampuan ilmu untuk memecahkan semua persoalannya.
    4) Aliran ini memabatasi murid-murinya dengan buku-buku yang ditetapkan saja.
    Aliran ini tidak menghendaki adanya aturan-aturan pendidikan dalam segala bentuk.
    Pendidik : Pendidik dalam aliran eksistensialisme memiliki kepedulian pada pengetahuan yang bermakna bagi pengalaman individual setiap murid.
    Peserta Didik: peserta didik dalam aliran eksistensialisme berperan positif dalam membentuk sekolah.

    Sedangkan esensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengaitkan dirinya dengan sistem-sistem yang lain seperti ekonomi, politik, sosial, ketenaga kerjaan serta religi dan moral. Filosofi esensialisme menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi dan relevan dengan kebutuhan, baik kebutuhan individu, keluarga, maupun kebutuhan kebutuhan berbagai sektor dan sub-sub sektornya, baik local, nasional, maupun internasional. Dalam menaktualisasikan kedua filosofi tersebut, empat pilar pendidikan yaitu learn to know, learning to do, learning to live together, and learning to be merupakan patokan berharga bagi penyelenggara praktek-praktek penyelenggaraan pendidikan kejuruan mulai dari kurikulum, tenaga pendidik (guru), proses belajar mengajar, sarana dan prasarana, hingga penilaian
    Kelebihan dari aliran essensialisme ialah :
    1. Bahan pelajaran dapat disampaikan secra logis, sistematis, dan berkesinambungan karena menggunakan sistem subject matter, namun tidak mendukung perenialisme bahwa subject matter yang benar adalah realitas abadi yang disajikan dalam buku-buku besar dari peradaban berat.
    2. Essensialisme berpendapat bahwa perubahan merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat diubah dalam kehidupan sosial. Mereka mengakui evolusi manusia dalam sejarah, namun evolusi itu harus terjadi sebagai hasil desakan masyarakat secara terus-menerus. Perubahan terjadi sebagai kemampuan intelegensi manusia yang mampu mengenal kebutuhan untuk mengadakan amandemen caracara bertindak, organisasi, dan fungsi sosial.
    Adapun kekurangan dari aliran Essensialisme ialah
    1. Menurutnya, sekolah tidak boleh memengaruhi atau menetapkan kebijakan-kebijakan sosial. Hal ini mengakibatkan adanya orientasi yang terikat tradisi pada pendidikan sekolah yang akan mengindoktrinasi siswa dan mengenyampingkan kemungkinan perubahan.
    2. Para pemikir essensialisme pada umumnya tidak memiliki kesatuan garis, karena mereka berpedoman pada filsafat yang berbeda. Beberapa pemikir essensialisme bahkan memandang seni dan ilmu sastra sebagai embel-embel dan merasa bahwa pelajaran IPA dan teknik serta kejuruan yang sukar adalah hal-hal yang benar-benar penting yang diperlukan siswa agar dapat memberi kontribusi pada masyarakat.
    3. Peran guru sangat dominan sebagai seorang yang menguasai lapangan dan merupakan model yang sangat baik untuk ditiru. Guru merupakan orang yang menguasai pengetahuan dan kelas di bawah pengaruh dan pengawasan guru. Sehingga inisiatif dalam pendidikan ditekankan pada guru, bukan pada siswa.
    Praksis pendidikan kejuruan di Indonesia cenderung dipengaruhi oleh mazab Prosser. Sistem pendidikan di Indonesia membagi pendidikan kejuruan secara terpisah dengan pendidikan akademik. Pendidikan kejuruan di tingkat menengah diselenggarakan di SMK dan MAK sedangkan pendidikan akademik diselenggarakan di SMA dan MA. Pemisahan pendidikan kejuruan dan pendidikan akademik merupakan ciri pokok dari pendidikan dengan aliran filosofi esensialisme. Pemikiran Prosser cenderung masuk dalam aliran filosofi esensialisme.

    Sumber :
    ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN. (https://www.academia.edu/38069324/ALIRAN_FILSAFAT_PENDIDIKAN.pdf )
    FILSAFAT PENDIDIKAN KEJURUAN (https://dokumen.tips/download/link/filsafat-pendidikan-kejuruan-568105d17b0fb)
    Ahmad Riyadh Maulidi. 2017. (https://www.academia.edu/37587793/ALIRAN_ESSENSIALISME_DALAM_PENDIDIKAN.pdf)
    Jalaluddin dan Abdullah Idi. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997.
    Muhammad Ichsan Thaib, “Essensialisme dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam”, Jurnal Mudarrisuna, Vol. 4, No. 2, Juli-Desember 2015.
    Saida A. H, “Pemikiran Essensialisme, Eksistensialisme, Perenialisme, dan Pragmatisme dalam Perspektif Pendidikan Islam”, dalam Jurnal al-Asas,Vol. 3, No. 1
    Sudira. Putu. Praksis pendidikan kejuruan indonesia Diantara mazab John Dewey dan Charles Prosser. Makalah Seminar Pendidikan Vokasi sebagai Disiplin Keilmuan-FT UNY- 2013
    Murtaufiq. Sudarto. Telaah Kritis Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan, dalam Akademika, Volume 8, Nomor 2, Desember 2014
    Nursikin. (2016). Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan dan Implementasinya Dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam. Attarbiyah.Vol I No 2.
    Ismawati. Filsafat Pendidikan Aliran Eksistensialisme Martin Buber. Program Studi Magister Sains Psikologi Universitas Airlangga Surabaya.
    Hasan, B. 2012. Pendidikan Kejuruan di Indonesia. (Online),
    (http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._TEKNIK_ELEKTRO/195512041981031BACHTIAR_HASAN/PENDIDIKAN_KEJURUAN_DI_INDONESIA.pdf),

  19. 0501519010

    Jawaban soal No2:
    Landasan ekonomi yang menekankan pada efisiensi dan investasi, merupakan dasar penyelenggaraan pendidikan kejuruan. Artinya pendidikan kejuruan dijalankan atas dasar prinsip-prinsip efisiensi, baik internal maupun eksternal. Efisiensi internal menunjukkan perbandingan antara prestasi belajar (ukuran non-moneter hasil pendidikan) dengan masukan biaya pendidikan yang ditanggung, sedangkan efisiensi eksternal yaitu rasio antara keuntungan finansial pendidikan (biasanya diukur dari penghasilan lulusan) dengan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pendidikannya (Mulyasa, 2011). Hal ini juga diungkapkan oleh Loxley (2011) bahwa efisiensi internal berkaitan dengan pendekatan efektivitas biaya terhadap layanan pendidikan, sedangkan efisensi eksternal berkaitan dengan keterampilan yang dibutuhkan pasar, upah/gaji, dan pelatihan kerja. Pendidikan kejuruan juga dijalankan atas dasar prinsip investasi (human capital). Artinya, kita berpedoman bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semestinya orang yang bersangkutan semakin produktif, dan dengan demikian orang yang lebih produktif akan mendapat upah yang lebih besar. Inilah esensi human capital theory yang menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan kejuruan. Peningkatan produktivitas bersumber dari ,1) Spesialisasi justru akan meningkatkan keterampilan setiap tenaga kerja dalam melakukan pekerjaannya. 2) Melalui sistem pembagian kerja akan menghemat waktu, saat pekerja beralih dari jenis pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain. 3) Ditemukannya mesin-mesin berteknologi semakin baik, yang mempermudah dan mempercepat proses pekerjaan. Pendidikan kejuruan diharapkan dapat menghasilkan balikan yang cukup baik, baik secara individual maupun sosial. Tentu saja untuk aspek ini efektivitas dan efisiensi program pendidikan kejuruan harus benar-benar dapat dibuktikan. Pendidikan kejuruan harus mampu bersaing dengan lembaga lainnya. Pendidikan tidak lagi harus dipahami sebagai kegiatan layanan sosial (public services) semata saja, tetapi juga harus dipahami sebagai suatu bentuk layanan jasa, sebagaimana restoran, telekomunikasi, jasa konsultan, dan sebagainya. Alhumami (2004), menyatakan pendidikan bukan hanya melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas, memiliki pengetahuan dan keterampilan, serta menguasai teknologi, melainkan juga dapat menumbuhkan iklim bisnis yang sehat dan kondusif bagi pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut mendorong setiap warga negara untuk mandiri berwirausaha secara adil dan sehat. Dengan kata lain, turut serta memberikan kontribusi aktif dalam pembangunan, melalui produktivitasnya dapat meningkatkan pendapatan serta akhirnya mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

    Sumber:

    – Armiati. 2011. Strategi Mewujudkan Sekolah Kejuruan Berbasis Kewirausahaan dalam Peningkatan Kemandirian dan Kreatifitas Siswa Melalui Koperasi Sekolah. TINGKAP Vol. VII No. 2
    – Diat, Lantip P.,dkk. 2017. Manajemen Strategi Human Capital dalam Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press
    – Dudung, Agus. 2008. Pendidikan Berkelanjutan Dalam Bidang Vokasional. Jurnalnet.com, Makassar
    – Ermidawati. Perkembangan Pendidikan Kejuruan Di Kota Medan. Universitas Negeri Medan. APTEKINDO
    https://docplayer.info/amp/55412206-Efisiensi-sekolah-menengah-kejuruan-smk-di-kota-pekanbaru.html
    – Lisnawati,Cucu.2007. ASPEK EKONOMI DALAM PENDIDIKAN. Educare Vol 4, No.2 http://jurnal.fkip.unla.ac.id/index.php/educare/article/viewFile/50/50
    – Murniati, AR,& Usman Nasir. 2009. Implementasi Manajemen Stratejik Dalam Pemberdayaan Sekolah Menengah Kejurua. Bandung: Citapustaka Media Perintis.
    – Subroto, Gatot. 2014. Hubungan Pendidikan dan Ekonomi: Perspektif Teori dan Empiris. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 20, Nomor 3
    – Suripto. 2010. Pendidikan Berorientasi Profesi dalam Ekonomi Global. Econosains- Volume VIII, Nomor 2
    – Yusran. 2016. Masyarakat Ekonomi Asean (Mea) Antara Harapan dan Tantangan dari Sudut Pandang Pendidikan. Prosiding Seminar Nasional Biotik

  20. 0501519004
    Pendidikan kejuruan dijalankan atas dasar prinsip investasi (human capital). Artinya, kita berpedoman bahwa semakin tinggi pendidikan dan pelatihan seseorang, semestinya orang yang bersangkutan semakin produktif, dan dengan demikian orang yang lebih produktif akan mendapatkan upah yang lebih besar. Sumber daya manusia sebagai salah satu faktor produksi selain sumber daya alam, modal, entrepreneur untuk menghasilkan output. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan dapat menjamin perbaikan yang terus berlangsung dalam tingkat teknologi yang digunakan masyarakat.
    Inti dari masalah ekonomi yang dihadapi manusia adalah kenyataan bahwa kebutuhan manusia jumlahnya tidak terbatas, sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia jumlahnya terbatas. Pendidikan kejuruan memiliki kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, yakni melalui kemampuan untuk menghasilkan SDM atau tenaga kerja yang terampil dan produktif sesuai tuntutan era globalisasi. Pendidikan kejuruan dapat diartikan sebagai pendidikan keduniakerjaan. Dunia kerja dan pekerjaan berubah dan berkembang akibat kemajuan teknologi.
    Pendidikan mempunyai fungsi sebagai human resources yaitu mengembangkan kemampuannya memasuki era kehidupan baru seperti kompetitif dan employability (H. A. R. Tilaar, 2000). Dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran di sekolah kejuruan, siswa dibekali dengan berbagai macam kompetensi yang nantinya dapat mereka gunakan setelah menamatkan pendidikan. Kompetensi tersebut tercantum dalam mata pelajaran yang disebut dengan materi pendidikan dan pelatihan atau yang disebut dengan program diklat. Penyelenggaraan program diklat disesuaikan dengan jenis-jenis lapangan kerja. Program-program tersebut diharapkan senantiasa disesuaikan dengan perkembangan lapangan kerja. adanya kerjasama antara industri dan sekolah sebagai upaya untuk melakukan link and match pendidikan terhadap kompetensi yang paling sesuai dengan kebutuhan abad ke-21. Untuk memenuhi komitmen global tersebut, pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan pemerataan pendidikan. maka investasi modal manusia melalui pendidikan di negara berkembang sangat diperlukan walaupun investasi di bidang pendidikan merupakan investasi jangka panjang secara makro, manfaat dari investasi ini baru dapat dirasakan setelah puluhan tahun.

    Sumber :

    Nik Abdul Rakib bin Nik Hassan. Pendidikan dan ekonomi dalam Mewujudkan keamanan Dan kesejahteraan umat melayu umat islam. Nusantara Studies Center, Thailand.
    Nanang Fattah. 2008. Pembiayaan Pendidikan: Landasan Teori dan Studi Empiris. JURNAL, Pendidikan Dasar Nomor: 9
    Dicky Djatnika Ustama. 2009. Peranan Pendidikan Dalam Pengentasan Kemiskinan. Dialouge JIAKP, Vol. 6, No. 1
    Atmanti. Hastarini Dwi. 2005. Investasi Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan. Dinamika Pembangunan vol. 2 No.1
    Armiati. 2011.Strategi Mewujudkan Sekolah Kejuruan Berbasis Kewirausahaan dalam Peningkatan Kemandirian dan Kreatifitas Siswa Melalui Koperasi Sekolah. TINGKAP Vol. VII No. 2
    Wijaya. Etistika Yuni. 2016. Transformasi Pendidikan Abad 21 Sebagai Tuntutan Pengembangan Sumber Daya Manusia Di Era Global. ISSN 2528-259X volume 1
    Johan. Arif Bintoro. Peran Pendidikan Kejuruan dalam Menghadapi Masyarakat
    Ekonomi ASEAN (MEA). FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
    Agus Iman Solihin. 1995. Investasi Modal Manusia Melalui Pendidikan : Pentingnya
    Peran Pemerintah. Mini Economica 23
    H. A. R Tilaar. 2000. Pendidikan Abad ke-21 Menunjang Knowlegde-Based Economy.
    Analisis CSIS. Tahun XXIX/2000, No.3
    Warsito Jati. 2002. Indonesia Krisis Sumber Daya Manusia. EDENTS No. 6/XXVI/
    • 2002

  21. 0501519010

    Jawaban soal No2:
    Landasan ekonomi yang menekankan pada efisiensi dan investasi, merupakan dasar penyelenggaraan pendidikan kejuruan. Artinya pendidikan kejuruan dijalankan atas dasar prinsip-prinsip efisiensi, baik internal maupun eksternal. Efisiensi internal menunjukkan perbandingan antara prestasi belajar (ukuran non-moneter hasil pendidikan) dengan masukan biaya pendidikan yang ditanggung, sedangkan efisiensi eksternal yaitu rasio antara keuntungan finansial pendidikan (biasanya diukur dari penghasilan lulusan) dengan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pendidikannya (Mulyasa, 2011). Hal ini juga diungkapkan oleh Loxley (2011) bahwa efisiensi internal berkaitan dengan pendekatan efektivitas biaya terhadap layanan pendidikan, sedangkan efisensi eksternal berkaitan dengan keterampilan yang dibutuhkan pasar, upah/gaji, dan pelatihan kerja. Pendidikan kejuruan juga dijalankan atas dasar prinsip investasi (human capital). Artinya, kita berpedoman bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semestinya orang yang bersangkutan semakin produktif, dan dengan demikian orang yang lebih produktif akan mendapat upah yang lebih besar. Inilah esensi human capital theory yang menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan kejuruan. Peningkatan produktivitas bersumber dari ,1) Spesialisasi justru akan meningkatkan keterampilan setiap tenaga kerja dalam melakukan pekerjaannya. 2) Melalui sistem pembagian kerja akan menghemat waktu, saat pekerja beralih dari jenis pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain. 3) Ditemukannya mesin-mesin berteknologi semakin baik, yang mempermudah dan mempercepat proses pekerjaan. Pendidikan kejuruan diharapkan dapat menghasilkan balikan yang cukup baik, baik secara individual maupun sosial. Tentu saja untuk aspek ini efektivitas dan efisiensi program pendidikan kejuruan harus benar-benar dapat dibuktikan. Pendidikan kejuruan harus mampu bersaing dengan lembaga lainnya. Pendidikan tidak lagi harus dipahami sebagai kegiatan layanan sosial (public services) semata saja, tetapi juga harus dipahami sebagai suatu bentuk layanan jasa, sebagaimana restoran, telekomunikasi, jasa konsultan, dan sebagainya. Alhumami (2004), menyatakan pendidikan bukan hanya melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas, memiliki pengetahuan dan keterampilan, serta menguasai teknologi, melainkan juga dapat menumbuhkan iklim bisnis yang sehat dan kondusif bagi pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut mendorong setiap warga negara untuk mandiri berwirausaha secara adil dan sehat. Dengan kata lain, turut serta memberikan kontribusi aktif dalam pembangunan, melalui produktivitasnya dapat meningkatkan pendapatan serta akhirnya mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

    Sumber:

    – Armiati. 2011. Strategi Mewujudkan Sekolah Kejuruan Berbasis Kewirausahaan dalam Peningkatan Kemandirian dan Kreatifitas Siswa Melalui Koperasi Sekolah. TINGKAP Vol. VII No. 2
    – Diat, Lantip P.,dkk. 2017. Manajemen Strategi Human Capital dalam Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press
    – Dudung, Agus. 2008. Pendidikan Berkelanjutan Dalam Bidang Vokasional. Jurnalnet.com, Makassar
    – Ermidawati. Perkembangan Pendidikan Kejuruan Di Kota Medan. Universitas Negeri Medan. APTEKINDO
    https://docplayer.info/amp/55412206-Efisiensi-sekolah-menengah-kejuruan-smk-di-kota-pekanbaru.html
    – Lisnawati,Cucu.2007. ASPEK EKONOMI DALAM PENDIDIKAN. Educare Vol 4, No.2 http://jurnal.fkip.unla.ac.id/index.php/educare/article/viewFile/50/50
    – Murniati, AR,& Usman Nasir. 2009. Implementasi Manajemen Stratejik Dalam Pemberdayaan Sekolah Menengah Kejurua. Bandung: Citapustaka Media Perintis.
    – Subroto, Gatot. 2014. Hubungan Pendidikan dan Ekonomi: Perspektif Teori dan Empiris. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 20, Nomor 3
    – Suripto. 2010. Pendidikan Berorientasi Profesi dalam Ekonomi Global. Econosains- Volume VIII, Nomor 2
    – Yusran. 2016. Masyarakat Ekonomi Asean (Mea) Antara Harapan dan Tantangan dari Sudut Pandang Pendidikan. Prosiding Seminar Nasional Biotik

  22. 0501519008
    Jawaban Nomor 2
    Landasan ekonomi Pendidikan kejuruan adalah efisiensi dan investasi. Menurut Windham, dalam Ace Suryadi[2] bahwa efiesiensi adalah sebagai suatu keadaan yang menunjukkan bahwa tingkat keluaran secara optimal dapat dihasilkan dengan menggunakan komposisi masukan yang minimal atau memelihara suatu tingkat keluaran tertentu dengan tingkat masukan yang tidak berubah atau yang lebih rendah.
    Sedangkan menurut Nanang Fattah[3] efisiensi adalah menggambarkan hubungan antara input dan output. Suatu sistem yang efisien ditunjukkan oleh keluaran yang lebih untuk sumber masukan. Efisensi juga dapat diberi makna sebagai proses kegiatan yang mampu melahirkan suasana : kondusif, menyenangkan, merangsang kreativitas, mendorong prestasi dan iklim yang sehat.
    Konsep efisiensi sangat relevan bagi ilmu ekonomi pendidikan. Sejak munculnya pengakuan ini, sebagian besar penelitian dalam bidang ekonomi pendidikan banyak berfokus pada pertanyaan bagaimana sumber-sumber masyarakat harus dialokasikan pada investasi pendidikan dan bentuk-bentuk lain investasi. Efisiensi usaha ekonomi pun relatif, misalnya sangat mungkin masih bisa menabung jika anak-anaknya disekolahkan di dalam negeri. Sebaliknya hanya sampai pada titik impas atau mungkin defisit, ketika anak-anaknya disekolahkan diluar negeri. Keputusan masyarakat atau keluarga untuk melakukan investasi dalam bentuk dan jenis apa sangat ditentukan oleh nilai-nilai yang dikandung keluarga atau masayrakat. Disamping stimulan yang didapat dari lingkungan. Menurut Nanang Fattah[6] efisiensi pendidikan memiliki kaitan antara pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang terbatas sehingga mencapai optimalisasi yang tinggi.
    Contoh dalam pendidikan misal mengkombinasikan antara penataran guru, penggunaan buku pelajaran, dan komputer atau audio-visual aid untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Sedangkan “efisiensi teknis” berkenaan dengan upaya memaksimalkan proses produksi dengan menggunakan teknik dan atau teknologi tertentu. Penggunaan penggunaan white-board, OHP, LCD dan in-focus merupakan contoh-contoh bentuk efisiensi teknis dalam pendidikan.
    Efisiensi juga dapat dilihat dari segi lingkup institusi atau sistem pendidikan, yang mencakup efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Woodhall mengemukakan bahwa efisiensi internal berkenaan dengan hubungan antara input dan output institusi pendidikan (sekolah atau madrasah), atau dalam sistem pendidikan secara keseluruhan. Konsep hubungan ini disebut dengan “efisiensi internal”.19 untuk membedakan dengan konsep “efisiensi eksternal” yang terkait dengan alokasi berbagai sumberdaya untuk kepentingan lain di dalam masyarakat. Sementara itu Depdiknas dalam UU No : 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa: “Maksud efisiensi adalah agar sasaran di bidang pendidikan dapat dicapai secara efisien atau berdayaguna dalam arti dapat memberikan hasil yang baik dengan tidak menghamburkan sumberdaya yang ada seperti uang, waktu, tenaga, dan sebagainya”
    Sebagai sebuah investasi dalam bentuk modal SDM, pendidikan dan pelatihan memerlukan pembiayaan yang besar dan pengelolaannya secara efektif dan efisien. Istilah efektif merujuk pada sasaran atau hasil yang ingin dicapai untuk setiap penggunaan mata anggaran, sedangkan istilah efisien merujuk pada proses pengalokasian dan penggunaan anggaran itu.
    Bentuk perdagangan bebas di era global ini dampaknya adalah Indonesia harus mempersiapkan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompetensi dan standarisasinya mengikuti kualifikasi dunia. Penerapan teknologi baru dalam industri mengandung konsekuensi peningkatan permintaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi guna mendukung peningkatan produktivitas. Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai pendidikan vokasional tingkat menengah, memiliki peran besar dalam merencanakan dan menciptakan SDM yang profesional dan produktif. Pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam rangka menyiapkan mereka sebagai tenaga kerja tingkat menengah
    Secara konseptual efisiensi pendidikan meliputi efisiensi atau disebut juga keefektifan biaya (cost effectiveness), dan efisiensi eksternal atau disebut manfaat biaya (cost benefit). Cost benefit dikaitkan dengan analisis keuntungan atas investasi pendidikan dari pembentukan kemampuan, sikap dan keterampilan. Dalam perhitungan investasi terdapat dua hal penting yaitu :
    1. Investasi hendaknya menghasilkan kemampuan yang memiliki nilai ekonomi di luar nilai instrinsiknya.
    2. Nilai guna dari kemampuan. Analisis biaya manfaat (cost benefit analysis) merupakan metodologi yang banyak digunakan dalam melakukan analisis investasi pendidikan.
    Tolak ukur yang dipergunakan untuk menghitung efisiensi adalah biaya persatuan unit produk/layanan, atau sebaliknya dengan menghitung sejumlah produk/layanan per satuan biaya. Jadi menurut tolok ukur ini, suatu program yang menghasilkan sejumlah produk tertentu yang telah ditetapkan dalam tujuan dengan biaya yang paling kecil, adalah yang paling efisien.

    Sumber:
    – Anwar Kasful (2015) INVESTASI PENDIDIKAN (Suatu Fungsi untuk Pendidikan yang Bermutu)
    http://fip.um.ac.id/wp-content/uploads/2015/12/5_Landasan-Ekonomi.pdf
    https://www.academia.edu/9044753/LANDASAN_EKONOMI_PENDIDIKAN
    – Arwani agus (2017) Rancang Bangun Ekonomi Pendidikan Dalam Investasi Pendidikan Islam
    – Sugestiyadi Bambang (2011) PENDIDIKAN VOKASIONAL SEBAGAI INVESTASI
    – Ermidawati (2011) PERKEMBANGAN PENDIDIKAN KEJURUAN DI KOTA MEDAN
    https://www.kompasiana.com/zainaltahir/5ae93f7b16835f17884a1022/investasi-pendidikan?page=all
    – Roseno Irsan (2016) Efisiensi Eksternal Pendidikan Kejuruan Di Kota Yogyakarta
    – Sugiyono (2016) MANAJEMEN PENDIDIKAN KEJURUAN, Universitas Negeri Yogyakarta
    – Dardiri Ahmad (2013) Membangun Citra Pendidikan Kejuruan: Manfaat Dan Implikasinya Bagi Perbaikan Kualitas Output Dan Outcome

  23. 05015190001
    2. Calhoun dan Finch (1982) mendefinisikan pendidikan kejuruan sebagai program pendidikan terorganisasi yang secara langsung berkaitan dengan penyiapan individu memasuki dunia kerja. Sehubungan dengan dunia kerja ini Calhoun dan Finch menyatakan bahwa dalam menyelenggarakan program pendidikan kejuruan, yang harus diperhatikan adalah perubahan teknologi yang dapat mempengaruhi budaya dan cara hidup manusia; mobilitas yang begitu cepat dimana pendidikan memiliki peranan membantu peserta didik dalam menaiki tangga sosial dan ekonomi.
    Pendidikan kejuruan diselenggarakan dengan asumsi bahwa dua macam kebutuhan harus dipertemukan, yaitu kebutuhan masyarakat dan kebutuhan individual. Kebutuhan masyarakat adalah mengisi posisi yang dipersyaratkan sehingga sistem ekonomi berjalan secara efisien. Sementara itu, kebutuhan individual adalah untuk mendapatkan posisi yang memuaskan dalam struktur lapangan kerja (Calhoun dan Finch, 1982). Tuntutan dasar masyarakat adalah bahwa posisi penting harus diisi oleh individu-invidu yang memiliki kompetensi, agar posisi tersebut dapat dipertahankan eksistensinya. Menurut Calhoun dan Finch (1982), masyarakat harus menggunakan individu-individu yang memiliki bakat dan keterampilan.
    Dua aspek penting dari ekonomi pada pendidikan kejuruan adalah pendidikan kejuruan sebagai penyokong tendensi ekonomi masyarakat dan ekonomi ekonomi untuk pendidikan kejuruan itu sendiri. Dua faktor kunci dalam pertumbuhan ekonomi menurut Sonhadji (2012: 160) adalah tenaga kerja dan modal. Boediono dan McMahon (2001) menyimpulkan bahwa investasi di bidang pendidikan berkontribusi besar terhadap pembangunan ekonomi di Indonesia. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (2008) melakukan penelitian yang kesimpulannya menyatakan “terdapat hubungan positif antara rasio siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) dan produk domestic regional bruto (PDRB). Apabila Propinsi memiliki rasio siswa SMK rendah, cenderung memiliki nilai PDRB yang rendah.
    Nolker dan Shoenfeldt (1983) menyatakan bahwa dalam memilih substansi pembelajaran, pendidikan kejuruan harus selalu mengikuti perkembangan IPTEK, kebutuhan masyarakat, kebutuhan individu, dan lapangan kerja. Pendidikan dipandang sebagai salah satu bentuk investasi pertama kali dikemukakan Theodore W Schultz adalah proses pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata-mata, akan tetapi merupakan suatu investasi. Pendidikan kejuruan menurut Sudira (2009) memiliki tiga manfaat utama yaitu: (1) bagi peserta didik sebagai peningkatan kualitas diri, peningkatan peluang mendapatkan pekerjaan, peningkatan peluang berwirausaha, peningkatan penghasilan, penyiapan bekal pendidikan lebih lanjut, penyiapan diri bermasyarakat, berbangsa, bernegara, penyesuaian diri terhadap perubahan dan lingkungan; (2) bagi dunia kerja dapat memperoleh tenaga kerja berkualitas tinggi, meringankan biaya usaha, membantu memajukan dan mengembangkan usaha; (3) bagi masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan produktivitas nasional, meningkatkan penghasilan negara, dan mengurangi pengangguran.
    Implementasi landasan ekonomi menurut Pidarta (2007) perkembangan ekonomi secara makro yang berpengaruh dalam bidang pendidikan, antara lain:1. Banyaknya orang kaya yang mau secara sukarela menjadi orang tua asuh/bapak angkat (dorongan hati atau himbauan pemerintah) untuk mensukseskan wajib belajar 9 tahun; 2.Terlaksananya sistem ganda dalam pendidikan yaitu kerja sama antara sekolah dengan pihak usahawan dalam proses belajar mengajar para siswa, dalam rangka mengembangkan keterampilan siswa; 3.Munculnya sekolah-sekolah unggul yang memiliki sarana dan prasarana, penggajian guru, program yang beragam, proses belajar lebih baik.

    Sumber :
    Anonim. 2008. Peran SMK dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Daerah. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
    Boediono & McMahon. 2001. Pembangunan Pendidikan untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi.Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
    Calhoun, C., & Finch, A. V. 1982. Vocational Education: Concepts and Operations (2nd ed.). Belmont, California: Wadworth Publishing Company.
    Helmut Nolker, Eberhard Schoenfeldt. 1983. Pendidikan Kejuruan : Pengajaran, Kurikulum, Perencanaan. Gramedia. Jakarta
    Pidarta, Made. 2007. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineke Cipta.
    Schultz, Theodore W. 1971. Investment in Human Capital: The Role of Education and of Research, New York: Free Press
    Slamet PH. 2016. Kontribusi Kebijakan Peningkatan Jumlah Siswa SMK Terhadap Pembangunan Ekonomi Indonesia. Cakrawala Pendidikan. Th. XXXV. Vol. 3
    ———-. 2011. Peran Pendidikan Vokasi dalam Pembangunan Ekonomi. Cakrawala Pendidikan. Th. XXX. Vol. 2
    Sonhadji, A. 2013. Manusia, Teknologi, dan Pendidikan. Malang. IKIP Malang.
    Sudira, Putu, MP. (2009). Pendidikan Vokasi Suatu Pilihan. UNY

  24. 1.
    0501519004
    Eksistensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengembangkan eksistensi manusia untuk bertahan hidup, bukan merampasnya. Filosofi eksistensialisme berkeyakinan bahwa pendidikan kejuruan harus menyuburkan dan mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitasi yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, pro perubahan (kreatif, inovatif dan eksperimentatif), menumbuhkan dan mengembangkan bakat, minat, dan kemampuan peserta didik. aliran eksistensialisme ini berkeyakinan bahwa segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, kenyakinan yang tumbuh dari dirinya dan kemampuan serta keluasaan jalan untuk mencapai keinginan hidupnya. Titik sentralnya manusia itu sendiri. Kedirian adalah merupakah proses ‘menjadi’ yang tidak akan pernah berhenti sepanjang kehidupan masih berjalan (Sartre,1948) Kurikulum mata pelajaran hanyalah alat bagi realisasi subjektivitas. Belajar tidak ditemukan dalam struktur pengetahuan maupun dalam disiplin yang terorganisir, tetapi dalam kesediaan siswa untuk memilih dan memberi makna terhadap subjek/mata pelajaran.
    Implementasi aliran eksistensialisme tehadap pendidikan antara lain sebagai berikut:
    1) Aliran ini mengutamakan perorangan/ individu.
    2) Memandang individu dalam keadaan tunggal selama hidupnya.
    3) Aliran filsafat ini percaya akan kemampuan ilmu untuk memecahkan semua persoalannya.
    4) Aliran ini memabatasi murid-murinya dengan buku-buku yang ditetapkan saja.
    Aliran ini tidak menghendaki adanya aturan-aturan pendidikan dalam segala bentuk.
    Pendidik : Pendidik dalam aliran eksistensialisme memiliki kepedulian pada pengetahuan yang bermakna bagi pengalaman individual setiap murid.
    Peserta Didik: peserta didik dalam aliran eksistensialisme berperan positif dalam membentuk sekolah.
    Fokus eksistensialisme lebih diletakkan pada bagaimana bertindak secara tepat daripada berteori tentang bagaimana bertindak secara tepat.

    Tujuan pendidikan berdasar teori esensialisme adalah internalisasi nilai-nilai budaya ke jiwa anak didik. Esensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengaitkan dirinya dengan sistem-sistem yang lain seperti ekonomi, politik, sosial, ketenaga kerjaan serta religi dan moral. Filosofi esensialisme menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi dan relevan dengan kebutuhan, baik kebutuhan individu, keluarga, maupun kebutuhan kebutuhan berbagai sektor dan sub-sub sektornya, baik local, nasional, maupun internasional. Dalam menaktualisasikan kedua filosofi tersebut, empat pilar pendidikan yaitu learn to know, learning to do, learning to live together, and learning to be merupakan patokan berharga bagi penyelenggara praktek-praktek penyelenggaraan pendidikan kejuruan mulai dari kurikulum, tenaga pendidik (guru), proses belajar mengajar, sarana dan prasarana, hingga penilaian
    Kelebihan dari aliran essensialisme ialah :
    1. Bahan pelajaran dapat disampaikan secra logis, sistematis, dan berkesinambungan karena menggunakan sistem subject matter, namun tidak mendukung perenialisme bahwa subject matter yang benar adalah realitas abadi yang disajikan dalam buku-buku besar dari peradaban berat.
    2. Essensialisme berpendapat bahwa perubahan merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat diubah dalam kehidupan sosial. Mereka mengakui evolusi manusia dalam sejarah, namun evolusi itu harus terjadi sebagai hasil desakan masyarakat secara terus-menerus. Perubahan terjadi sebagai kemampuan intelegensi manusia yang mampu mengenal kebutuhan untuk mengadakan amandemen caracara bertindak, organisasi, dan fungsi sosial.
    Adapun kekurangan dari aliran Essensialisme ialah
    1. Menurutnya, sekolah tidak boleh memengaruhi atau menetapkan kebijakan-kebijakan sosial. Hal ini mengakibatkan adanya orientasi yang terikat tradisi pada pendidikan sekolah yang akan mengindoktrinasi siswa dan mengenyampingkan kemungkinan perubahan.
    2. Para pemikir essensialisme pada umumnya tidak memiliki kesatuan garis, karena mereka berpedoman pada filsafat yang berbeda. Beberapa pemikir essensialisme bahkan memandang seni dan ilmu sastra sebagai embel-embel dan merasa bahwa pelajaran IPA dan teknik serta kejuruan yang sukar adalah hal-hal yang benar-benar penting yang diperlukan siswa agar dapat memberi kontribusi pada masyarakat.
    3. Peran guru sangat dominan sebagai seorang yang menguasai lapangan dan merupakan model yang sangat baik untuk ditiru. Guru merupakan orang yang menguasai pengetahuan dan kelas di bawah pengaruh dan pengawasan guru. Sehingga inisiatif dalam pendidikan ditekankan pada guru, bukan pada siswa.
    Praksis pendidikan kejuruan di Indonesia cenderung dipengaruhi oleh mazab Prosser. Sistem pendidikan di Indonesia membagi pendidikan kejuruan secara terpisah dengan pendidikan akademik. Pendidikan kejuruan di tingkat menengah diselenggarakan di SMK dan MAK sedangkan pendidikan akademik diselenggarakan di SMA dan MA. Pemisahan pendidikan kejuruan dan pendidikan akademik merupakan ciri pokok dari pendidikan dengan aliran filosofi esensialisme. Pemikiran Prosser cenderung masuk dalam aliran filosofi esensialisme.

    Sumber :
    Amka. H. Filsafat Pendidikan. Sidoarjo: Nizamia Learning Center, 2019
    Intan Dewi Savitri, Siti Khusnul Khotimah. 2019. Eksistensialisme dalam bentuk experiential learning Pada kegiatan pembelajaran bahasa asing. Jurnal Ilmiah Edukasi & Sosial, Volume 10, Nomor 1
    Ismawati. Filsafat Pendidikan Aliran Eksistensialisme Martin Buber. Program Studi Magister Sains Psikologi Universitas Airlangga Surabaya.
    Jalaluddin dan Abdullah Idi. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997.
    Muhammad Ichsan Thaib. 2015 “Essensialisme dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam”, Jurnal Mudarrisuna, Vol. 4, No. 2.
    Murtaufiq. Sudarto. Telaah Kritis Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan, dalam Akademika, Volume 8, Nomor 2, Desember 2014
    Nursikin. 2016. Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan dan Implementasinya Dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam. Attarbiyah.Vol I No 2.
    Saida A. H, “Pemikiran Essensialisme, Eksistensialisme, Perenialisme, dan Pragmatisme dalam Perspektif Pendidikan Islam”, dalam Jurnal al-Asas,Vol. 3, No. 1
    Sartre, J.-P. 1948. Existentialism and humanism. London: Eyre Methuen
    Sudira. Putu. Praksis pendidikan kejuruan indonesia Diantara mazab John Dewey dan Charles Prosser. Makalah Seminar Pendidikan Vokasi sebagai Disiplin Keilmuan-FT UNY- 2013

  25. 0501519007

    Jawaban soal no. 2
    Efisiensi merupakan tujuan normatif dari ekonomi pendidikan karena menjadi basis dalam mengevaluasi dan mengambil keputusan dalam kegiatan pendidikan. Dalam ekonomi pendidikan efisiensi yang digunakan sebagai pedoman adalah efisiensi ekonomik efisiensi ekonomik efisiensi ekonomik atau efisiensi alokatif efisiensi alokatif efisiensi alokatif (allocative/economic efficiency), yaitu upaya meningkatkan efisiensi dengan cara mengalokasikan kembali sumber daya yang ada. Hal ini berbeda dengan efisiensi teknis (technical efficiency) yang dapat dilakukan melalui perbaikan sistem manajemen. Pendidikan kejuruan adalah suatu jenis dan tingkat pendidikan yang memerlukan biaya relatif tinggi, baik untuk investasi pengadaan sumberdaya pendidikan, maupun biaya operasional pendidikan. Wawasan efisiensi sesuai dengan kebijakan link and match : • SMK menghasilkan tamatan dengan bidang keahlian, jumlah, dan mutu yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan dengan pendekatan demand driven. • Setiap alokasi pembangunan dana SMK, harus dilihat sebagai investasi. Keberhasilan diukur dengan rate of return/ tingkat keuntungan balik hasil investasi (Putu, 209). Landasan ekonomi investasi atau human capital artinya semakin tinggi pendidikan dan pelatihan seseorang, semestinya orang tersebut semakin produktif sehingga akan mendapatkan upah yang lebih besar (Armiati, 2011). Menurut Poerwadarminta (1984), kata efektifitas berasal dari kata efektif yang berarti ada efeknya (akibatnya, kesannya), manjur, mujarab, mempan, sehingga efektifitasnya dapat dipahami sebagai akibat dari sesuatu yang ditekuni atau dipalajari untuk mendapatkan suatu hasil atau tujuan yang maksimal dan memuaskan. Pendidikan kejuruan memegang prinsip bahwa setiap individu memiliki sikap dan minat tertentu yang harus dipertimbangkan jika pelatihan mereka ingin berhasil secara efektif. Harus disadari bahwa individu berbeda dalam hal kecerdasan intrinsik, berbeda dalam minat dan berbeda dalam sikapnya. Efisiensi dalam pelatihan akan berhasil bila sekolah memberikan jenis pelatihan kepada siswa yang sejalan dengan minat dan sikapnya sehingga memungkinkan siswa untuk mendapatkan manfaat dari kemampuan dan kecerdasan intrinsiknya. Dengan demikian pendidikan kejuruan akan efektif bila memungkinkan setiap siswa untuk mendapatkan manfaat dari minat, sikap, dan kecerdasan intrinsiknya setinggi mungkin. Kesesuaian landasan ekonomi efisiensi dengan link and match: 1) SMK menghasilkan tamatan dengan bidang keahlian, jumlah, dan mutu yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan dengan pendekatan demand driven; dan 2) setiap alokasi dan pembangunan SMK harus dilihat sebagai investasi. Untuk meningkatkan efisiensi pendidikan ada dua pendekatan yang dapat dilakukan yaitu 1) pendekatan manajemen, dipakai dengan meningkatkan tingkat efisiensi melalui manipulasi manajerial (dari sisi teksnis pada unit produksi terkecil); 2) pendekatan ekonomik, menggunakan asumsi dasar bahwa setiap proses produksi selalu ada fix input dalam proses produksi dapat dilakukan berbagai kombinasi dan relokasi terhadap input untuk menghasilkan suatu produk. Efisiensi ekonomi dalam dunia pendidikan dapat dibedakan menjadi dua macam efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Efisiensi internal adalah tingkat efisiensi dalam sisitem internal pendidikan dalam mengalokasikan input pendidikan untuk menghasilkan output yang tinggi.

    Sumber :
    Armiati. 2011. Strategi mewujudkan sekolah kejuruan berbasis kewirausahaan dalam peningkatan kemandirian dan kreatifitas siswa melalui koperasi sekolah. Hal. 150.
    Sudira, Putu, MP. (2009). Pendidikan Vokasi Suatu Pilihan. [Online]. Tersedia: http://blog.uny.ac.id/putupanji/2009/03/17/pendidikan-vokasi-suatupilihan/.
    Poerwadarminta, W.J.S.,1984, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Bandung.
    Seddon. T . (2004). Social partnerships in vocational education Building community capacity. Australian: NCVER. Diakses tanggal 10 Januari 2017 pada laman https://www.ncver.edu.au/__data/assets/file/0014/5180/nr2002.pdf Tauhid Bashori. Pragmatisme Pendidikan (Telaah atas Pemikiran John Dewey), http://www.geocities.com Thompson, J. F, 1973. Foundation of vocational education social and philosophical concepts. New Jersey: Prentice-Hall. Trilling, B. dan Fadel, C. (2009). 21 st Century Skills Learning for Life in Our Time. San Fransisco: Jossey Bass. Wardiman Djojonegoro.(1998). Pengembangan sumber daya manusia melalui Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Jayakarta Agung Offset. Wina Sanjaya (2010). Kurikulum dan pembelajaran: Teori dan praktik pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Prenada Media Group. http://www.philosophypages.com

  26. 0501519011
    1.Dalam pendidikan kejuruan ada dua aliran filsafat yang sesuai dengan keberadaanya, yaitu eksistensialisme dan esensialisme. Eksistensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengembangkan eksistensi manusia untuk bertahan hidup, bukan merampasnya. Eksistensialisme merupakan filsafat yang secara khusus mendeskripsikan eksistensi dan pengalaman manusia dengan metedologi fenomenologi, atau cara manusia berada. Eksistensialisme adalah suatu reaksi terhadap materialisme dan idealisme. Pendapat materialisme bahwa manusia adalah benda dunia, manusia itu adalah materi , manusia adalah sesuatu yang ada tanpa menjadi subjek. Pandangan manusia menurut idealisme adalah manusia hanya sebagai subjek atau hanya sebagai suatu kesadaran. Eksistensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitas yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, kreatif, inovatif, menumbuhkan bakat, minat dan kemampuan peserta didik, dan bukan merampasnya. (Yunus, 2011).Tujuan pendidikan menurut aliran eksistensialisme adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Memberikan bekal pengalaman yang luas dan komprehensif kepada para siswa dalam semua bentuk kehidupan.
    Sedangkan esensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengaitkan dirinya dengan sistem-sistem yang lain seperti ekonomi, politik, sosial, ketenaga kerjaan serta religi dan moral. Filsafat esensialisme menjelaskan setiap wujud jenis (kebendaan), memiliki kumpulan karakteristik tertentu atau setiap entitas semacam itu sudah pasti memilikinya. Oleh karena itu, segala sesuatu dapat tepat didefinisikan atau dijelaskan. Secara sederhana, esensialisme adalah generalisasi yang menyatakan bahwa sifat-sifat tertentu yang dimiliki oleh suatu kelompok orang bersifat universal, dan tidak tergantung pada konteks. Misalnya, pernyataan esensialis ‘semua manusia fana’. Menurut esensialisme, anggota kelompok tertentu mungkin memiliki karakteristik lain yang tidak diperlukan untuk membuat keanggotaannya tidak menghalangi keanggotaan yang lainnya, tetapi esensi tidak hanya mencerminkan cara, pengelompokan objek, menghasilkan sifat dari objek. Filsafat pendidikan esensialisme merupakan suatu filsafat pendidikan yang pengikutnya percaya bahwa anak-anak harus belajar mata pelajaran dasar tradisional, harus dipelajari secara menyeluruh dan disiplin. Program esensialisme biasanya mengajar anak-anak secara progresif, dari keterampilan kurang kompleks sampai lebih kompleks. Esentialisme bertujuan untuk menanamkan hal penting kepada peserta didik dengan pengetahuan akademik, patriotisme, dan pengembangan karakter. Pendekatan tradisional ini dimaksudkan untuk melatih pikiran, mempromosikan penalaran, dan budaya. Implementasi dari filosofi diatas menurut yaitu dengan program yang disiapkan oleh pendidikan kejuruan. Menurut Calhound (1982), pendidikan kejuruan adalah suatu program pendidikan yang menyiapkan individu peserta didik menjadi tenaga kerja profesional, juga siap untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. (Marfu’ah, 2016). Dalam penerapannya, lembaga pendidikan kejuruan mencetak tenaga kerja yang memiliki tingkat kemampuan, kompetensi, dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja. (Wayong, 2010).

    Sumber:
    – Amri, Amsal. 2009. Studi Filsafat Pendidikan. Banda aceh : PeNA.
    – Edi, Setiawan.2015. Filosofi dan Perspektif Pendidikan Teknologi Kejuruan.
    – Gandhi HW, TW. 2011. Filsafat pendidikan mazhab-mazhab Filsafat pendidikan. Jojakarta. Ar-ruzzmedia.
    – Jumali, M.dkk, 2004, Landasan Pendidikan, Surakarta : Muhammadiyah University Press
    – Marfu’ah, S. (2016). Pendidikan kejuruan. In Pendidikan kejuruan. Yogyakarta.
    – Rukiyati. (2009) Pemikiran Pendidikan Menurut Eksistensialisme
    – Sadulloh, Uyoh. 2010. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung : cv ALVABETA.
    – Sudira, P. 2012. Filosofi dan teori pendidikan vokasi dan kejuruan. Yogyakarta: UNY Press.
    – Sudarto Murtaufiq. (2014). Telaah Kritis Aliran- Aliran Filsafat Pendidikan. Akademika. Volume 8, No. 02, Desember 2014
    – Wayong, A. (2010). Relevansi Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada Sekolah Kejuruan dengan Kebutuhan Dunia Kerja. Prosiding APTEKINDO, 6(1), 379–384.
    – Yunus, F. M. (2011). Kebebasan Dalam Filsafat Eksistensialisme Jean Paul.

  27. 0501519005
    1. Landasan filosofi pendidikan kejuruan adalah eksistensialisme dan esensialisme. Ekstensialisme merupakan filsafat yang bersifat antropologis, karena memusatkan perhatiannya pada otonomi dan kebebasan manusia. Filosofi eksistensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitas yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, kreatif, inovatif, menumbuhkan bakat, minat dan kemampuan peserta didik, dan bukan merampasnya (Rukiyati,2009). Menurut jean – paul sarte (1905-1980) eksistensialisme lebih menekankan pada kebebasan (freedom) manusia menekankan pada a fresh in each situation, menjadi bebas adalah suatu keharusan dan pilihan. Sedangkan filosofi esensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengaitkan dirinya dengan system system yang lain seperti ekonomi, politik, religi dan moral. Esensialisme juga menekankan bahwa pendidikan harus relevan dengan kebutuhan, baik kebutuhan individu, keluarga maupun kebutuhan berbagai sector dan sub sektornya, baik local, nasional maupun internasional. Esensialisme dapat digambarkan sebagai filsafat pendidikan yang berakar pada pengajaran mata pelajaran pendidikan dasar yang bertujuan menciptakan masyarakat Amerika yang memberi kontribusi kepada masyarakat terhadap budaya demokratis (Link 2008). Esensialisme diyakini sebagai dasar yang sangat diperlukan, maka sering juga disebut dengan pendidikan dasar. (Helaluddin & Wijaya, 2018). Implementasi dalam model pembelajaran behavioristic yang menekankan pada reward dan punishment. Tidak ada metode pendidikan yang baku dalam pendidikan menurut eksistensialisme. Fokusnya hanyalah membimbing peserta didik menemukan potensi, mengasah dan menggunakan bakat minatyang dimiliki(Agustini dewi,2016).

    Sumber dari:
    – Ekawati Dian, Eksistensial.Tarbiah STAIN Metro. Lampung.2015
    – Rabiatul Adawiah, Aliran Eksistensialisme Dalam Pandangan Filsafat Pendidikan Islam.IAIN.Banjarmasin.2015
    – Ozman, Howard. A & Craver, Samuel m. (1990): Philosophical Foundations of Education. Pretice-Hall: New Jersey.
    – Hadam, S., Rahayu, N., & Ariyadi, A. N. (2017). Strategi implementasi revitalisasi SMK. Buku Serial Revitalisasi SMK, 214. https://doi.org/10.1300/J028v11n01_10
    – Huda, F. A. (2019). Kontribusi Kondisi Sosial Ekonomi Orang Tua dan Kompetensi Kejuruan Terhadap Peningkatan Minat Bekerja pada Siswa SMK Keahlian TKJ di Kota Sintang. Vox Edukasi, 7(2), 177–189.
    Marfu’ah, S. (2016). Pendidikan kejuruan. In Pendidikan kejuruan. Yogyakarta.
    – Sudarto Murtaufiq. (2014). Telaah Kritis Aliran- Aliran Filsafat Pendidikan. Akademika. Volume 8, No. 02, Desember 2014
    – Wulandari Dewi Murfiah, (2018) PROGRESIVISME DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA.
    – Djatmiko Wahyu Istanto, Siswanto Tri Budi, Sudira Putu, dkk (2013) Pendidikan Teknologi Kejuruan, Universitas Negeri Yogyakarta
    – H. A. R Tilaar. 2000. Pendidikan Abad ke-21 Menunjang Knowlegde-Based Economy.
    – Murtaufiq. Sudarto. Telaah Kritis Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan, dalam Akademika, Volume 8, Nomor 2, Desember 2014.

  28. 0501519005
    1. Landasan filosofi pendidikan kejuruan adalah eksistensialisme dan esensialisme. Ekstensialisme merupakan filsafat yang bersifat antropologis, karena memusatkan perhatiannya pada otonomi dan kebebasan manusia. Filosofi eksistensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitas yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, kreatif, inovatif, menumbuhkan bakat, minat dan kemampuan peserta didik, dan bukan merampasnya (Rukiyati,2009). Menurut jean – paul sarte (1905-1980) eksistensialisme lebih menekankan pada kebebasan (freedom) manusia menekankan pada a fresh in each situation, menjadi bebas adalah suatu keharusan dan pilihan. Sedangkan filosofi esensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengaitkan dirinya dengan system system yang lain seperti ekonomi, politik, religi dan moral. Esensialisme juga menekankan bahwa pendidikan harus relevan dengan kebutuhan, baik kebutuhan individu, keluarga maupun kebutuhan berbagai sector dan sub sektornya, baik local, nasional maupun internasional. Esensialisme dapat digambarkan sebagai filsafat pendidikan yang berakar pada pengajaran mata pelajaran pendidikan dasar yang bertujuan menciptakan masyarakat Amerika yang memberi kontribusi kepada masyarakat terhadap budaya demokratis (Link 2008). Esensialisme diyakini sebagai dasar yang sangat diperlukan, maka sering juga disebut dengan pendidikan dasar. (Helaluddin & Wijaya, 2018). Implementasi dalam model pembelajaran behavioristic yang menekankan pada reward dan punishment. Tidak ada metode pendidikan yang baku dalam pendidikan menurut eksistensialisme. Fokusnya hanyalah membimbing peserta didik menemukan potensi, mengasah dan menggunakan bakat minatyang dimiliki(Agustini dewi,2016).

    Sumber dari:
    – Ekawati Dian, Eksistensial.Tarbiah STAIN Metro. Lampung.2015
    – Rabiatul Adawiah, Aliran Eksistensialisme Dalam Pandangan Filsafat Pendidikan Islam.IAIN.Banjarmasin.2015
    – Ozman, Howard. A & Craver, Samuel m. (1990): Philosophical Foundations of Education. Pretice-Hall: New Jersey.
    – Hadam, S., Rahayu, N., & Ariyadi, A. N. (2017). Strategi implementasi revitalisasi SMK. Buku Serial Revitalisasi SMK, 214. https://doi.org/10.1300/J028v11n01_10
    – Sintang. Vox Edukasi, 7(2), 177–189.
    Marfu’ah, S. Pendidikan kejuruan. In Pendidikan kejuruan. Yogyakarta.2016
    – Sudarto Murtaufiq. . Telaah Kritis Aliran- Aliran Filsafat Pendidikan. Akademika. Volume 8, No. 02, Desember 2014
    – Wulandari Dewi Murfiah, PROGRESIVISME DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA. 2018.
    – Murtaufiq. Sudarto. Telaah Kritis Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan, dalam Akademika, Volume 8, Nomor 2, Desember 2014.
    – Wagiran. Implikasinya dalam Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Kejuruan. Fakultas Teknik. UNY. 2007
    – Y.suyitno. Landasan Filosofis Pendidikan. Departemen Pendidikan Nasional. Universitas Pendidikan Indonesia. 2009

  29. 0501519011
    2. Landasan ekonomi pendidikan kejuruan adalah efisiensi dan investasi. Efisiensi dalam pendidikan kejuruan terdapat pada proses produksi. Efisiensi didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana sesuatu produk diharapkan mencapai tingkat maksimal atas dasar suatu biaya (input) tertentu atau dimana biaya (input) ditekan seminimal mungkin dalam rangka menghasilkan suatu produk yang ditetapkan. Jika dilihat dari sisi produk pendidikan dapat dilihat dari dua sisi yaitu output dan outcome. Produk pendidikan sebagai barang konsumsi menghasilkan output berupa prestasi akademik, prestasi non akademik, angka mengulang dan angka putus sekolah. Sebagai investasi menghasilkan outcome berupa kesempatan pendidikan, kesempatan kerja, dan pengembangan diri. Dalam hubungannya antara biaya dan manfaat, pendidikan dipandang sebagai salah satu bentuk investasi pertama kali, dikemukakan Theodore W Schultz pada tahun 1960 yang berjudul investment in human capital dalam forum American Economic Assosiation. Pesan yang disampaikan adalah “proses pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata-mata, akan tetapi merupakan suatu investasi”. Konsep investasi sumber daya manusia menganggap penting kaitannya antara pendidikan, produktivitas kerja dan pertumbuhan ekonomi. Dalam teori human capital tenaga kerja merupakan pemegang kapital yang tercermin dalam pengetahuan, keterampilan, dan produktivitas kerjanya. Ekonomi pendidikan adalah suatu studi tentang bagaimana manusia, baik secara perorangan maupun didalam kelompok masyarakatnya membuat keputusan dalam rangka mendayagunakan sumber-sumber daya yang terbatas agar dapat menghasilkan berbagai bentuk pendidikan dan pelatihan, pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan, pendapat, sikap khususnya melalui pendidikan formal, serta bagaimana mendistribusikannya secara merata dan adil diantara berbagai kelompok masyarakat. Cohn, 1979 (dalam Fatah, 2002) menyatakan ekonomi pendidikan adalah studi tentang bagaimana manusia baik secara individu maupun kelompok masyarakat membuat keputusan dalam rangka mendayagunakan sumber daya yang langka/terbatas agar dapat menghasilkan berbagai bentuk pendidikan dan latihan, pengembangan ilmu pengetahuan dan ketrampilan, pendapat, sikap, dan nilai-nilai khususnya melalui pendidikan formal, serta mendiskusikannya secara merata dan adil diantara berbagai kelompok masyarakat. Mutrofin, 1996 (dalam Pidarta, 2007) menyatakan bahwa negara-negara maju hubungannya antara pendidikan dengan pembangunan ekonomi sangatlah jelas, di mana sistem pendidikan diorientasikan kepada kebutuhan ekonomi yang didasari pada teknologi tinggi, fleksibelitas dan mobilitas angkatan kerja. Dalam masa pembangunan dinegara kita sekarang ini pengembangan ekonomi mendapat tempat strategis, dengan munculnya link and match, kebijaksanaan ini meminta dunia pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga kerja yang sesuai dengan pasaran kerja, mencakup mutu, dan jumlah serta jenisnya. Menurut Pidarta (2007) konsep-konsep pendidikan yang mungkin dikembangkan dari pembahasan mengenai landasan ekonomi ini adalah berkaitan dengan hal-hal berikut:
    1. Dalam dunia pendidikan, faktor ekonomi bukanlah sebagai pemegang peran yang utama, melainkan sebagai pemeran yang cukup menentukan keberhasilan pendidikan. Sebab dengan ekonomi yang memadai, maka:
    (a) Prasarana, sarana, media, alat belajar, dan sebagainya bisa dipenuhi.
    (b) Proses belajar mengajar bisa dilaksanakan secara lebih intensif, sebab para pendidik lebih dapat memusatkan perhatiannya, mereka tidak mencari sambilan di luar.
    (c) Motivasi dan kegairahan kerja personalia pendidikan meningkat, mereka siap pula untuk meningkatkan profesi.
    2. Faktor yang paling menentukan kehidupan dan kemajuan pendidikan adalah dedikasi, keahlian, dan keterampilan pengelola dan guru-guru atau dosen-dosen lembaga pendidikan itu.
    3. Fungsi ekonomi pendidikan adalah:
    (a) Menunjang kelancaran proses pendidikan.
    (b) Bahan pelajaran untuk membentuk manusia ekonomi.
    4. Manusia ekonomi yang dimaksud adalah manusia yang dalam kehidupan sehari-hari memiliki kemampuan dan kebiasaan seperti:
    (a) Memiliki etos kerja;
    (b) Biasa bekerja dengan sempurna, tidak setengah-setengah.
    (c) Bersifat produktif.
    (d) Biasa hidup hemat, tidak bermewah-mewah.
    (e) Biasa hidup efisien.
    5. Dalam upaya membentuk SDM yang produktif, maka:
    (a) Sistem pendidikan, struktur, kurikulum, dan jumlah serta jenis penelitian diatur kembali.
    (b) Biaya pendidikan ditingkatkan.
    (c) Diorientasikan kepada kebutuhan pengembangan ekonomi yang didasarkan pada teknologi tinggi, fleksibilitas, dan mobilitas angkatan kerja.
    6. Tiap-tiap lembaga pendidikan diupayakan agar mampu menghidupi diri sendiri, dengan mencari sumber-sumber dana tambahan sebanyak mungkin, disamping menerima dana dari pemerintah atau yayasan.
    7. Dana pendidikan perlu dikelola secara profesional, pada umumnya direncanakan dengan SP4, pelaksanaannya diawasi secara ketat, dan dipertanggungjawabkan dengan bukti-bukti yang sah.
    8. Semua penggunaan dana pada setiap kegiatan perlu dilaksanakan secara efektif dan efisien.
    9. Pengembangan konsep fungsi produksi dalam pendidikan adalah untuk memudahkan menentukan efisiensi pendidikan. Namun sampai saat ini baru fungsi produksi administrator yang bisa dilaksanakan.
    10. Faktor-faktor utama yang diperhatikan dalam menentukan tingkat efisiensi pendidikan adalah:
    (a) Penggunaan uang
    (b) Proses kegiatan
    (c) Hasil kegiatan.
    Pendidikan kejuruan adalah suatu jenis dan tingkat pendidikan yang memerlukan biaya relatif tinggi, baik untuk investasi pengadaan sumberdaya pendidikan, maupun biaya operasional pendidikan. Wawasan efisiensi sesuai dengan kebijakan link and match :
    • SMK menghasilkan tamatan dengan bidang keahlian, jumlah, dan mutu yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan dengan pendekatan demand driven.
    • Setiap alokasi pembangunan dana SMK, harus dilihat sebagai investasi. Keberhasilan diukur dengan rate of return/ tingkat keuntungan balik hasil investasi.

    Sumber:
    – Boediono &McMahon. 2001.Pembangunan Pendidikan untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
    – Fattah, N. 2002. Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya. Kemdikbud. 2014.
    – Nurhadi, M.A. (1990). Perencanaan Pendidikan dalam Menyiapkan Tenaga Kerja Produktif dan Permasalahannya, Pidato Dies Natalis XXVI: Jogjakarrta : Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yogyakarta
    – Nurhadi, M.A. (2004). Pengantar Ekonomi Pendidikan Suatu Perkenalan Singkat : Jogjakarrta : Universitas Negeri Yogyakarta
    – Ornstein, A. C., Levine, D. U., & Gutek, G. L. 2011. Foundations of Education. Boston: Houghton Mifflin Company.
    – Pidarta, Made. 2007. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineke Cipta.
    – Sudira, Putu. (2018). Efisiensi Internal Pendidikan Kejuruan. Pascasarjana, Universitas Negeri Yogyakarta.
    – Slamet PH. (2008). Handout Desentralisasi Pendidikan Di Indonesia, jakarta : Departemen Pendidikan Nasional
    – Wahyu Nanda Eka Saputra. (2014). Landasan Ekonomi Pendidikan. Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.
    – Wardiman Djojonegoro. 1998. Pengembangan Sumberdaya Manusia melalui SMK. Jakarta : PT. Jayakarta Agung Offset.

  30. 0501519005
    landasan ekonomi Pendidikan Kejuruan adalah efisiensi dan investasi. Dalam terminology ilmu ekonomi, pengertian efisiensi dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) macam yaitu: efisiensi teknis, efisiensi alokatif (efisiensi harga) dan efisiensi ekonomi. Kaitannya dalam pendidikan keuruan yakni efisiensi ekonomi adalah besaran yang menunjukkan perbandingan antara keuntungan sebenarnya dengan keuntungan maksimum (Soekartawi,2003). Dalam perkembangannya terakhir, ruang lingkup analisis ekonomi pendidikan meyangkut hal – hal: 1. Keuntungan dari investasi dibidang pendidikan (2).peran pendidik dalam menyiapkan tenaga kerja. (3). Tuntutan kebutuhan akan pendidikan (4) biaya pendidikan (5) pembiayaan pendidikan (woodhall,1985:dikutip, Mulyani(2011). Efisiensi merupakan tujuan normative dari ekonomi pendidikan Karen menjadi basis dalam mengevaluasi dan mengambil keputusan dalam kegiatan pendidikan. Pendidikan kejuruan/vokasi harus dievaluasi berdasarkan efisiensi ekonomi, efisiensi jika menjamin penyediaan tenaga kerja untuk satu bidang pekerjaan. Pendidikan vokasiefektif jika terkait dengan pasar kerja. Pendidikan vokasi harus direncanakan berdasarkan prediksi pasar kerja. Pendidikan vokasi efisien jika siswa mendapatkan pekerjaan pada bidang yang sesuai dengan program keahlian yang mereka ikuti.Mulyani(2011). Sedangkan investasi sumber daya manusia menjadi asset

    Sumber dari :
    – Soekartawi, 2003. Teori Ekonomi Produksi Dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglass. Pt. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
    – Nurhadi, M.A(2004). Pengantar Ekonomi Pendidikan Suatu Perkenalan Singkat: Jogjakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
    – Wardiman Djojonegoro. 1998. Pengembangan Sumberdaya Manusia melalui SMK. Jakarta: Pt, Jayakarta Agung Offset.
    – Husaini Usman. (2000). Paradigma baru peran administrasi pendidikan dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia menuju indonesia baru. Pidato Pengukuhan Guru Besar UNY, 22 Juli 2000. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here