LANDASAR, KEBIJAKAN, DAN ISU PENDIDIKAN KEJURUAN

78
1881

Dengan mengkaji tentang landasan Pendidikan kejuruan  dari referensi buku, jurnal, atau bahan bacaan lainnya, diskusikannlah dan buat kajian dengan cakupan sebagai berikut:

  1. Jelaskan konsep link and match Pendidikan kejuruan di Indonesia.
  2. Bagaimana penerapan konsep link and match di sekolah kejuruan?
  3. Ambil sebuah kasus di salah satu sekolah kejuruan yang terkait dengan link and match. Tulis kondisi idealnya dan tulis kondisi realnya.
  4. Uraikan penyebab-penyebab permasalahan seperti diuraikan pada soal no 3 (gunakan referensi juga sebagai pengaya uraian).
  5. Uraikan solusi-solusi dari penyebab permasalahan seperti diuraikan pada soal no 4 (gunakan referensi juga sebagai pengaya uraian).
  6. Uraikan setiap solusi yang ditawarkan tersebut yang mencakup rasionalnya, kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, dan sumber daya yang diperlukan.
  7. Tuliskan simpulan hasil kajian beberapa soal di atas.

Silakan diskusikan dengan teman-teman dan jawaban bisa ditulis di dalam kolom komentar. Perlu diperhatikan: 1) kajian hasil diskusi diawali dengan menuliskan NIM dan setiap mahasiswa membuat/merumuskan jawaban dengan versi masing-masing (tidak copy paste jawaban teman) meskipun hasil diskusi bersama, 2) Setiap kajian di atas, ditulis dalam satu kolom komen (tiap menjawab satu soal, langsung kirim/posting), soal nomor 2 dst ditulis dalam kolom komen yang terpisah (satu kolom komen hanya untuk menjawab satu soal saja), 3) setiap jawaban yang dituliskan harus berdasarkan referensi: buku, jurnal ilmiah, dll (bukan hasil pendapat pribadi) dan daftar referensi tersebut ditulis di bagian akhir dari jawaban tiap soal (minimal 10 referensi). Jawaban soal 1 dan 2 diposting sesuai jam kuliah dan soal 3 sampai 7 ditunggu sampai hari Senin, 23 September 2019 pukul 17.00. Selamat berdiskusi (DW).

78 COMMENTS

  1. 0501519007

    Jawaban Soal No. 01
    Konsep link and Match Pendidikan Kejuruan di Indonesia merupakan perubahan dari pola lama yang cenderung berbentuk pendidikan demi pendidikan ke suatu yang lebih terang, jelas dan konkrit menjadi pendidikan kejuruan sebagai progra pengembangan sumber daya manusia. konsep link and match, menunjukkan adanya perubahan dan pergeseran, rising demand (tuntutan yang berkembang) dari masyarakat terhadap jumlah, mutu, jenis, dan kualifikasi kegiatan penelitian dan pengembangan. Perubahan, pergeseran, dan pertambahan tuntutan merupakan akibat langsung dari perkembangan dan pemekaran pengalaman manusia, khususnya dalam era teknologi informasi modern. Kebutuhan hidup, permasalahan, dan dinamika masyarakat yang makin berkembang menyebabkan kebutuhan akan pelayanan kesejahteraan sosial juga berubah dan berkembang. Soemarso sebagai Ketua Dewan Pembina Politeknik dan dosen UI mengatakan bahwa konsep Link and Match antara lembaga pendidikan dan dunia kerja dianggap ideal dimana konsep ini menciptakan keterkaitan antara pemasok tenaga kerja dengan penggunanya (Eka, 2018).
    Kebijakan link and match yang berwawasan masa depan menurut Wardiman Djojonegoro (1998:60-61), menuntun SMK menganut prinsip sebagai berikut:
    (a) Program pendidikan pada SMK yang berproses selama tiga tahun, disiapkan untuk menghasilkan tamatan yang memiliki keahlian sesuai dengan kebutuhan tiga tahun mendatang, dan memiliki bekal dasar untuk pengembangan diri di masa depan,
    (b) Dunia kerja yang menjadi lapangan hidup tamatan SMK adalah dunia ekonomi, dunia yang mengandung fenomena persaingan dan kerjasama, sekaligus dunia yang cepat mengalami perubahan. Karena itu program pendidikan SMK harus mengandung muatan: (1) Kompetensi produktif, yang memungkinkan tamatan sesegera mungkin bekerja setelah tamat dari SMK, (2) Memiliki keunggulan sebagai faktor keunggulan kompetitif menghadapi persaingan, dan sebagai modal kuat untuk menjalin kerja sama, dan (3) Memiliki bekal dasar pengetahuan, keterampilan dan sikap, sebagai bekal dasar menguasai perkembangan ipteks, dan sebagai dasar penyesuaian diri.
    Konsep link and match diterapkan sebagai solusi untuk mengatasi pengangguran terdidik. Kebijakan link and match merupakan salah satu kebijakan terkini dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia.
    Secara filsafat, kebijakan link and match berwawasan: (1) sumber daya manusia; (2) masa depan; (3) mutu dan keunggulan; (4) profesionalisme; (5) nilai tambah; dan (6) efisiensi.
    link and match adalah perubahan dari pola lama yang cenderung berbentuk pendidikan demi pendidikan ke suatu yang lebih terang, jelas dan konkrit menjadi Pendidikan Kejuruan sebagai program pengembangan sumber daya manusia. Link and match di SMK belum berjalan secara efektif seperti yang dinyatakan Slamet PH (2013: 16) bahwa keselarasan antara dunia SMK dan dunia usaha/industri dalam dimensi kuantitas, kualitas, lokasi, dan waktu, belum terorganisasi secara formal. Meskipun telah diterbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, tetapi wadah formal yang menjembatani dunia SMK dan dunia kerja belum ada.

    Sumber :
    Edi Basuki / Wahyu Prasadja. 2010. Pengaruh Pendidikan Sistem Ganda ( PSG ) Terhadap
    Daya Adaptif Kerja Siswa SMK. Tersedia:

    Kebijakan vokasi, kebijakan pendidikan vokasi, Kompas (2016). 18 Oktober: 6.

    Slamet PH. (2011). Peran Pendidikan Vokasi dalam Pembangunan Ekonomi. Jurnal Cakrawala Pendidikan. Juni 2011. Th. XXX, No. 2.

    Usman, Husaini. 2016. Pendidikan Kejuruan Masa Depan. Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Hal. 49 -61

    Wardiman Djojonegoro. (1998). Pengembangan sumber daya manusia melalui sekolah menengah kejuruan (SMK). Jakarta: PT Jayakarta Agung Offset.

    http://www.SMKn10-mlg.sch.id/berita-137-pengaruh-pendidikan-sistem-ganda-terhadap-daya-kreatifkerja-siswa-SMK.htm

    Suherlan, Mumu. 2013. Link and Match Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial. Jurnal PKS Vol 12 No 2 Juni 2013; 117 – 124

    Suko Wijono. (2016). Pendidikan belum penuhi tuntutan dunia kerja. Suara Pembaruan. 9 Desember: 2.

    Prihatin, Eka. 2018. Link and Match Pendidikan Kejuruan. Jurnal Penelitian Pendidikan

    Tajuk rencana kebijakan pendidikan vokasi. Kompas, 18 Oktober 2016: 6.

    http://www.voaindonesia.com/a/kerjasama-pendidikan-dan-ekonomi-fokus-kunjungan-jokowi-ke-jerman/3291766.html

  2. 05015190001
    1. Konsep link and match Pendidikan Kejuruan di Indonesia
    Konsep keterkaitan dan kesepadanan (Link and Match) antara dunia pendidikan dan dunia kerja yang dicetuskan mantan Mendiknas Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, M.Sc. dimana konsep tersebut bisa menekan jumlah pengangguran. Link and match adalah penggalian kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja ke depan. Diharapkan paradigma orientasi pendidikan tidak lagi supply minded tapi lebih demand minded (kebutuhan pasar). Program link and match meliputi dua sasaran, yaitu pada tingkat sekolah menengah, dan pada tingkat perguruan tinggi.Konsep keterkaitan dan kesepadanan (Link and Match) antara dunia pendidikan dan Industri adalah ideal, ada hubungan timbal balik untuk dilakukan, akan ada keterkaitan antara pemasok tenaga kerja dengan penggunanya. Dengan adanya hubungan timbal balik membuat lembaga pendidikan kejuruan dapat menyusun kurikulum sesuai dengan kebutuhan kerja.
    Menjalankan link and match bukanlah hal yang sederhana, Karena itu idealnya ada tiga komponen yang harus bergerak simultan untuk menyukseskan program link and match yaitu SMK, dunia kerja (perusahaan) dan pemerintah. Dari ketiga komponen tersebut, peran SMK merupakan keharusan dan syarat terpenting. Kreativitas dan kecerdasan pengelola SMK menjadi faktor penentu bagi sukses tidaknya program tersebut. Ada beberapa langkah penting yang harus dilakukan SMK untuk menyukseskan program link and match. SMK harus mau melakukan riset ke dunia kerja. Tujuannya adalah untuk mengetahui kompentensi (keahlian) apa yang paling dibutuhkan dunia kerja dan kompetensi apa yang paling banyak dibutuhkan dunia kerja. Selain itu, SMK juga harus mampu memprediksi dan mengantisipasi keahlian (kompetensi) apa yang diperlukan dunia kerja dan teknologi sepuluh tahun ke depan. Jika program link and match berjalan baik, pemerintah juga diuntungkan dengan berkurangnya beban pengangguran (terdidik). Karena itu, seyogyanya pemerintah secara serius menjaga iklim keterkaitan dan mekanisme implementasi ilmu dari SMK ke dunia kerja sehingga diharapkan program link and match ini berjalan semakin baik dan semakin mampu membawa manfaat bagi semua pihak. Contoh nyata link and match ini adalah program kerjasama dengan Dunia Usaha/Industri, pengembangan kelas industri, pelaksanaan guru magang (OJT), Prakerin, dan Peran SMK sebagai hubungan industri bagi sekolah lain.
    Program link and match telah dicanangkan sejak tahun 1989, namun demikian berdasarkan data statistik yang menunjukkan masih tingginya angka pengangguran, tingginya lowongan kerja yang tidak terisi, dan rendahnya kualitas pekerja. Mismatch antara pendidikan dan pekerjaan mengakibatkan tingkat pendapatan yang lebih rendah, rendahnya kepuasan kerja, dan tingginya tingkat turnover pekerja, yang pada gilirannya mempengaruhi produktivitas pekerja (Bender & Heywood, 2006). Mismatch antara pendidikan dan pekerjaan mengakibatkan tingkat pendapatan yang lebih rendah, rendahnya kepuasan kerja, dan tingginya tingkat turnover pekerja, yang pada gilirannya mempengaruhi produktivitas pekerja (Bender & Heywood, 2006).
    Pendidikan formal maupun nonformal tentunya bertujuan untuk menciptakan output yang terbaik dan menghasilkan outcome yang dapat berdampak positif bagi kepentingan pendidikan dan organisasi tersebut. Salah satu tujuan pendidikan kejuruan adalah tempat untuk menyediakan tenaga kerja yang terampil, ahli, dan memiliki skill yang terbaik (Gaeta, Lavadera, & Pastore, 2017). Kewajiban para stakeholder adalah bagaimana memanajen sistem pendidikan sesuai dengan kebutuhan industri dan kebutuhan masyarakat demi mengurangi tingkat pengangguran dari lulusan pendidikan kejuruan yang telah dipaparkan sebelumnya (Russo, 2017). Sedangkan DUDI dunia usaha dan dunia industri berkembang pesat setiap waktu, selalu didesak untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga Antara pendidikan kejuruan yang menciptakan lulusan yang berkompeten memiliki keterkaitan dengan dunia industri yang memerlukan sumber daya manusia yang handal demi memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Sehingga kebijakan link and match ini memang sangat dibutuhkan.

    Sumber:

    Bender, Keith A. dan Heywood, John S. 2006. Educational Mismatch among Ph.D.s: Determinants and Consequences. Working Paper No. 12693. National Bureau of Economic Research (http://www. nber.org/papers/w12693, diakses 11 Februari 2009).
    Djojonegoro, Wardiman. 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia melalui Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas
    Endang S Soesilowati. 2009. Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Meningkatkan Daya Saing Tenaga Kerja dan Industri. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
    Gaeta, G. L., Lavadera, G. L., & Pastore, F. (2017). Much Ado about Nothing? The Wage Penalty of Holding a PhD Degree but Not a PhD Job Position. Research in Labor Economics, 10(1), 243–277.
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017.Strategi Implementasi Revitalisasi SMK (10 Langkah Revitalisasi SMK).Jakarta
    ———-. 2008. Pengembangan Program Prakerin. Jakarta
    ———-. 2016. Peta Jalan Pengembangan SMK 2017-2019. Jakarta
    ———-. 2016. Revitalisasi Pendidikan Vokasi. Jakarta
    ———-. 2016. Inpres No.9 tentang Revitalisasi SMK
    Russo, G. (2017). Job Design and Skill Development in the Workplace. Research in Labor Economics, 5(4), 409–445.

  3. 05015190001
    2. Penerapan konsep link and match di sekolah kejuruan
    Menurut Tilaar dalam Penelitian Listiana (2012: 12 – 13), langkah – langkah yang dapat dilakukan untuk melaksanakan prinsip link and match, sebagai berikut:
    1) Pengembangan Kurikulum Pendidikan
    Kurikulum pendidikan harus disusun dengan mempertimbangkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di masyarakat, artinya lembaga pendidikan dituntut untuk mendekatkan diri dengan dunia industri guna mengadakan pengembangan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
    2) Peningkatan Sarana dan Prasarana
    Sarana dan prasarana yang memadai sangat diperlukan untuk mendukung pelaksanaan penelitian di bidang industri dan praktik – praktik lainnya, dengan begitu upaya meningkatkan relevansi program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dapat terwujud sehingga dalam melaksanakan kebijakan link and match akan lebih mudah.
    3) Meningkatkan Kualitas Tenaga Pengajar
    Tenaga pengajar harus dapat bersaing dengan tenaga – tenaga yang ada di dunia kerja. Selain itu, perlu adanya fleksibilitas tenaga pengajar yang sewaktu-waktu dapat ditugaskan bekerja di bidang industri dan sebaliknya tenaga industri diberikan kesempatan untuk mengabdi di dunia pendidikan dalam waktu tertentu.
    4) Perbaikan Program Pendidikan
    Program yang dimaksudkan adalah program yang mengarah pada kebutuhan masyarakat dengan tujuan terciptanya relevansi antara program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan adanya relevansi program pendidikan diharapkan kebijakan link and match dapat dilaksanakan dengan baik.
    Efektivitas kerja sama menurut Yulianto & Sutrisno (2014: 23 – 24) dapat dilakukan dalam hal Praktik Kerja Industri, UKK, OJT Guru, Bantuan Peralatan Praktik dan Beasiswa dari Industri, Unit Produksi, dan Penyaluran dan Penempatan Lulusan. Kemudian, Ixtiarto & Sutrisno (2016: 67 – 68) menyimpulkan bahwa pelaksanaan kemitraan antara SMK dengan DU/DI dilakukan melalui MoU, dengan batasan kerjasama yang mencakup sinkronisasi kurikulum, kunjungan industri, Guru Tamu, Prakerin, UKK, OJT guru, Sertifikasi, Bantuan peralatan praktik, Pendanaan sekolah, Beasiswa dari industri, serta Recrutment/penempatan kerja bagi tamatan.
    Praktik Kerja Industri yang disingkat dengan “Prakerin” merupakan bagian dari program pembelajaran yang harus ditempuh oleh setiap peserta didik di dunia kerja. Hal ini sebagai wujud nyata dari pelaksanaan sistem pendidikan di SMK yaitu Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Program Prakerin disusun bersama antara sekolah dan Dunia Usaha/Industri dalam rangka memenuhi kebutuhan belajar peserta didik dan sebagai kontribusi Dunia Usaha/Industri terhadap pengembangan program pendidikan SMK. Peserta didik dapat menguasai sepenuhnya aspek-aspek kompetensi yang dituntut kurikulum serta mengenal lebih dini dunia kerja yang menjadi dunianya kelak setelah menamatkan pendidikannya. Keterlibatan industri pada Prakerin dalam mewujudkan kerjasama SMK dengan dunia usaha/industri antara lain menyediakan tempat praktik bagi peserta didik, penyediaan dana untuk pelaksanaan sistem ganda, merancang program pendidikan, dan implementasi program sampai pada evaluasi hasil belajar peserta didik di pendidikan kejuruan. Pengelolaan hubungan kerja dalam kegiatan praktik kerja industri diawali dengan perencanaan secara tepat oleh pihak sekolah dan pihak industri, agar dapat terselenggara dengan efektif dan efisien.
    Menyempurnakan dan menyelaraskan kurikulum SMK dengan kompetensi sesuai kebutuhan pengguna lulusan (Link and Match) adalah amanat inpres Revitasasli SMK dengan langkah awal mengundang dan bekerja sama dengan Industri dalam melaksanakan sinkronisasi kurikulum atau lebih jauh yaitu penyelarasan kurikulum untuk kelas Industri. Tujuan sinkronisasi kurikulum adalah agar sekolah dapat menyiapkan perangkat kurikulum pada kompetensi keahlian yang dibuka untuk divalidasi industri, sekolah dapat menyerap masukan Dunia Usaha/Industri untuk diterapkan dalam bentuk kurikulum implementatif /kurikulum industri.
    Kunjungan Industri (KI), dilakukan untuk memberikan wawasan mengenai dunia kerja yang akan dihadapi oleh peserta didik sebelum mengikuti program Prakerin. Guru Tamu, bertujuan untuk memberikan gambaran tentang profil perusahaan, membantu menerapkan proses pembelajaran di sekolah agar sesuai dengan kebutuhan industri dan memberikan materi pembelajaran langsung kepada peserta didik.
    Dalam Prakerin, hubungan kerjasama dimulai sejak persiapan baik dari segi administratif, teknis, mental psikologis, dan persiapan materi. Tahap persiapan biasanya dilakukan pembekalan baik pembekalan dalam proses pembelajaran maupun pembekalan etos kerja pada saat terjun di industri, hingga pelaksanaan evaluasi. Tujuan pengorganisasian Prakerin ini sebagai upaya untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada di sekolah dan di institusi mitra (Dunia Usaha/Dunia industri).
    Bentuk kerjasama dalam penyelenggaraan Praktik Kerja Industri dapat dilakukan sebagai berikut.
    a. Model pelaksanaan dapat dengan sistem blok 6 bulan sampai 1 tahun atau bertahap sesuai kesepakatan antara SMK dengan Dunia Usaha/Industri.
    b. Materi Praktik Kerja Industri berupa penguatan dan pemantapan. Materi yang diberikan adalah lanjutan dari yang sudah diajarkan di sekolah maupun yang belum diajarkan di sekolah, atau dapat juga berupa penguatan sebagaimana tuntutan standar profesi. Sebagai contoh untuk jurusan TKRO mempunyai 7 skema sesuai standar dalam Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Pelaksanaannya dapat dilakukan misalnya untuk skema 1-4 dilakukan di SMK sedangkan skema 5-7 dapat dilakukan di Industri. Pelaksanaan selanjutnya adalah apabila DUDI memiliki atau bekerja sama LSP-P3 maka Prakerin diakhiri dengan uji profesi oleh pihak LSP-P3.
    Uji Kompetensi Keahlian yang selanjutnya disebut UKK adalah penilaian terhadap pencapaian kualifikasi jenjang 2 (dua) atau 3 (tiga) pada KKNI dilaksanakan di akhir masa studi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi atau satuan pendidikan terakreditasi bersama mitra dunia usaha/industri dengan memperhatikan paspor keterampilan dan/atau portofolio. UKK adalah proses penilaian melalui pengumpulan bukti yang relevan untuk menentukan apakah seseorang kompeten atau belum kompeten pada suatu kualifikasi tertentu serta dikelola oleh satuan pendidikan terakreditasi.
    Adapun tujuan Pelaksanaan Uji Kompetensi Keahlian (UKK) antara lain untuk :
    1. Mengukur pencapaian kompetensi siswa SMK yang telah menyelesaikan proses pembelajaran sesuai kompetensi keahlian yang ditempuh;
    2. Memfasilitasi siswa SMK yang akan menyelesaikan pendidikannya untuk mendapatkan sertifikat kompetensi;
    3. Mengoptimalkan pelaksanaan sertifikasi kompetensi yang berorientasi pada capaian kompetensi lulusan SMK sesuai Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia;
    4. Memfasilitasi kerjasama SMK dengan dunia usaha/industri dalam rangka pelaksanaan Uji Kompetensi sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
    Seorang guru kejuruan dituntut memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan yang baik dan harus aktif dalam mencari pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan tersebut. Magang guru dapat membuat relevansi kompetensi keahlian guru, khususnya guru produktif dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada di duniakerja. Jika magang itu dilakukan di dunia kerja, maka magang bagi guru SMK dapat mengamati secara nyata, kompetensi seperti apa yang dibutuhkan oleh dunia kerja tersebut. Magang juga tak kalah pentingnya dapat meningkatkan kompetensi guru itu sendiri, sehingga dapat mengajarkan kepada peserta didiknya dengan lebih baik.
    Proses pelaksanaan guru magang diawali dengan kerjasama dengan pihak Dunia Usaha/Industri. Dalam kerjasama ini akan disepakati waktu dan materi yang akan didapat ketika guru melaksanakan magang. Dalam pelaksanaan magang, guru dapat terlibat langsung dalam proses mulai dari manajemen personalia, manajemen produksi, manajemen distribusi maupun manajemen marketing. Kompetensi tamatan yang dibutuhkan oleh Dunia Usaha/Industri di masa yang akan datang dapat diketahui SMK. Magang guru ini dapat meningkatkan relevansi kompetensi keahlian guru produktif dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada di Dunia Usaha/Industri. Magang di industri adalah cara terbaik untuk mempelajari sikap professional dan interpersonal skills. Kerjasama pemagangan ini dilakukan sebagai upaya pengembangan keterampilan guru SMK dalam bentuk kerja nyata industri yang dapat ditransfer pada peserta didiknya.

    Sumber:
    Djojonegoro, Wardiman. 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia melalui Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas
    Endang S Soesilowati. 2009. Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Meningkatkan Daya Saing Tenaga Kerja dan Industri. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
    Ixtiarto, B dan Sutrisno, B. 2016. Kemitraan Sekolah Menengah Kejuruan Dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri:Kajian aspek Penhgelolaan Pada SMK Muhammadiyah 2 Wuryantoro Kabupaten Wonogiri. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 26 (1). Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta: Surakarta.
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017.Strategi Implementasi Revitalisasi SMK (10 Langkah Revitalisasi SMK).Jakarta
    ———-. 2008. Pengembangan Program Prakerin. Jakarta
    ———-. 2016. Peta Jalan Pengembangan SMK 2017-2019. Jakarta
    ———-. 2016. Revitalisasi Pendidikan Vokasi. Jakarta
    ———-. 2016. Inpres No.9 tentang Revitalisasi SMK
    Listiana. 2012. Analisis Pelaksanaan Program Sistem Ganda (PSG) dalam Mempersiapkan Siswa Memasuki Dunia Kerja (Studi Kasus di SMK 5 Pancasila Wonogiri Program Keahlian Administrasi Perkantoran Tahun Diklat 2011/2012. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret: Surakarta.
    Soeprijanto. 2010. Daya Dukung Dunia Industri terhadap Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN). Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 16 (3), 275 – 284.
    Yulianto & Sutrisno, B. 2014. Pengelolaan Kerjasama Sekolah Dengan Dunia Usaha / Dunia Industri: Studi Situs Smk Negeri 2 Kendal. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 24 (1), 19 – 37.

  4. 0501519002
    Jawaban soal no.1
    Konsep link and match sebelumnya sudah dikenal konsep relevansi. Dalam dunia pendidikan dirasakan kurang ada relevansi antara layanan yang disediakan oleh pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Munculnya konsep link and match, menunjukkan adanya perubahan dan pergeseran, rising demand (tuntutan yang berkembang) dari masyarakat terhadap jumlah,mutu, jenis, dan kualifikasi kegiatan penelitian dan pengembangan. Kebijakan link and match dianggap sebagai penggalian kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja pada masa yang akan datang yang diharapkan paradigma orientasi pendidikan tidak lagi supply minded tapi menjadi lebih demand minded (kebutuhan pasar). Kebijakan link and match terbagi menjadi dua sasaran yaitu pada tingkat sekolah menengah dan pada tingkat perguruan tinggi. (Indar, 2014). Link & Match serta Dual System bukanlah hal yang asing di dunia pendidikan teknologi dan kejuruan di Indonesia. Link & Match meningkatkan relevansi antara kompetensi lulusan yang dihasilkan dengan kompetensi yang dibutuhkan pasar. Dual system menjadi salah satu upaya dalam mewujudkan Link & Match secara maksimal. Konsep Link & Match serta Dual System yang diterapkan di berbagai negara industri di dunia terbukti mampu memberikan dampak positif terhadap lulusan yang dihasilkan. Kendatipun demikian dua konsep tersebut belum mampu dilaksanakan seutuhnya di Indonesia. Gagasan yang penulis tawarkan berisi kebijakan-kebijakan strategis yang akan mengoptimalisasikan manfaat dari penerapan link & match pada dunia SMK. Hubungan kemitraan ini memerlukan UU ataupun Perpu untuk memastikan hubungan kemitraan tersebut dapat terwujud dengan semestinya
    Perubahan, pergeseran, dan pertambahan tuntutan merupakan akibat langsung dari perkembangan dan pemekaran pengalaman manusia, khususnya dalam era teknologi informasi modern. Kebutuhan hidup, permasalahan, dan dinamika masyarakat yang makin berkembang menyebabkan kebutuhan akan pelayanan kesejahteraan sosial juga berubah dan berkembang. Link and match juga dibutuhkan sebagai upaya menjembatani kebutuhan program layanan unit teknis pelaksana pelayanan dengan penyedia program layanan kesejahteraan sosial. Sinergitas di dalam lembaga penelitian dan pengembangan itu sendiri juga dibutuhkan terutama dalam rangka perencanaan kebutuhan model pelayanan kesejahteraan sosial yang factual dan actual serta penyediaan sumber daya manusia dalam mewujudkan hasil penelitian yang tepat sasaran dan bermanfaat.

    Sumber :
    Indar. (2014). Perencanaan Pendidikan Strategi dan Implementasinya. Surabaya: Karya Aditama.

    Jubaedah, Y., Rohaeni, N., & Tati. (n.d.). Model Link and Match dengan Pendekatan Competency Based Training pada Pembelajaran Tata Graha di Sekolah Menengah Kejuruan.

    Soediyarto (1993). Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional yang Terkait (Link) dan Sepadan (match) dengan tuntutan perkembangan masyarakat

    Suyanto. (2008b). Peranan SMK kelompok teknologi terhadap pertumbuhan industri manufaktur. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktort Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

    https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjn6sGWw97kAhWXF3IKHTDkAv8QFjADegQIARAB&url=https%3A%2F%2Fwww.researchgate.net%2Fpublication%2F331889664_Konsep_Optimalisasi_Link_Match_sebagai_Upaya_Meningkatkan_Kompetensi_Lulusan_Sekolah_Menengah_Kejuruan_SMK_dalam_Menghadapi_Persaingan_Tenaga_Kerja_Masyarakat_Ekonomi_Asean_MEA&usg=AOvVaw1nznr1j26zi9GsnNeAibrg

    https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=5&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjn6sGWw97kAhWXF3IKHTDkAv8QFjAEegQIABAB&url=http%3A%2F%2Fkabar-pendidikan.blogspot.com%2F2011%2F04%2Fkonsep-link-and-match-dalam-pendidikan.html&usg=AOvVaw1hA88kzJdfaNiteU0PggSo

    Abdullah, Amin M. 1996. Perspektif “Link and Match” Lembaga Pendidikan Tinggi Tenaga Kependidikan Agama Islam (Rekonstruksi atas Tinjauan Metodologi Pembudayaan Nilai-nilai Keagamaan). JPI. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UII.

    Sukmadinata, N.S. (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

    Slamet PH. (2013). Pengembangan SMK model untuk masa depan. Cakrawala Pendidikan, Februari 2013: 14.

    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017.Strategi Implementasi Revitalisasi SMK (10 Langkah Revitalisasi SMK).Jakarta

  5. Jawaban No 1
    0501519008

    Konsep link and match Pendidikan kejuruan di Indonesia adalah link and match antara lembaga pendidikan dan dunia industri di anggap ideal, di mana konsep ini akan menciptakan keterkaitan antara pemasok tenaga kerja dengan penggunanya. Adanya hubungan timbal balik membuat perguruan tinggi dapat menyususn kurikulum sesuai dengan kebutuhan kerja. Model Link and Match ini akan berhasil apabila perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian hasil belajar mengacu pada standar industri dan melibatkan kedua belah pihak, yaitu pihak internal dan eksternal. Program pembelajaran dikembangkan oleh guru pengampu sebagai pihak internal dan praktisi dari industri sebagai pihak eksternal, sehingg pengalaman belajar peserta didik di SMK akan Link and Match dengan dunia kerja. Kebijakan “Link and Match” ini mengimplikasikan wawasan sumber daya manusia, wawasan masa depan, wawasan mutu dan wawasan keunggulan, wawasan profesionalisme, wawasan nilai tambah dan wawasan ekonomi dalam penyelenggaraan pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan. Pendidikan Sistem Ganda (PSG) merupakan program pendidikan yang dipilih untuk menjabarkan secara operasional kebijakan ―Link and Match‖ pada pendidikan menengnah kejuruan. Secara teoritis, PSG merupakan sistem
    pendidikan yang sangat ideal untuk meningkatkan relevansi dan efisiensi SMK. SMK menempatkan praktik industri siswa sebagai bagian yang paling penting dalam pelaksanaan PSG.

    Sumber:
    – Disas Prihatin Eka, (2018) Link And Match Sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan
    – Jubaedah Yoyoh, Rohaeni Neni, Tati, (2015) MODEL LINK AND MATCH DENGAN PENDEKATAN COMPETENCY BASED TRAINING PADA PEMBELAJARAN TATA GRAHA DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
    – Abdullah, Amin M. 1996. Perspektif “Link and Match” Lembaga Pendidikan Tinggi Tenaga Kependidikan Agama Islam (Rekonstruksi atas Tinjauan Metodologi Pembudayaan Nilai-nilai Keagamaan). JPI. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UII.
    – Suherlan Munu, (2013) Link and Match Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial
    – otiuna, S. (n.d.). Konsep Link and Match pada Lembaga Pendidikan Islam Menuju Masyarakat Industri Modern.
    – Depdiknas. 2002. Sejarah Pendidikan Teknik dan Kejuruan di Indoensia. Jakarta
    – REPUBLIKA, Rabu, 20 Mei 2009. Sinerji SMK dengan Industri
    – As’ari Djohar. (2007). Pendidikan teknologi dan kejuruan. Dalam ilmu dan aplikasi pendidikan. Bandung: Pedagogiana Press.
    – Wayong, A. (2010). Relevansi Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada Sekolah Kejuruan dengan Kebutuhan Dunia Kerja. Prosiding APTEKINDO, 6(1), 379–384.
    – Suherlan, M. (2017). Link and Match Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial. Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial, 12(2), 117–124. https://doi.org/10.31105/jpks.v12i2.647
    – Listiana. 2012. Analisis Pelaksanaan Program Sistem Ganda (PSG) dalam Mempersiapkan Siswa Memasuki Dunia Kerja (Studi Kasus di SMK 5 Pancasila Wonogiri Program Keahlian Administrasi Perkantoran Tahun Diklat 2011/2012. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret: Surakarta.
    – Wayong, A.D.Ch. 2010. Relevansi Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada Sekolah Kejuruan dengan Kebutuhan Dunia Kerja. Seminar Internasional, ISSN 1907-2066, Asosiasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Indonesia. Sulawesi Utara: UNIMA.

  6. Jawaban No 2
    0501519008

    Implementasi nyata dari kebijakan link and match adalah program magang. Perbaikan program magang, di maksudkan agar industri juga mendapatkan manfaat, karena selama ini kesan yang ada bahwa yang mendapatkan manfaat dari magang adalah perguruan tinggi dan mahasiswa, sedangkan industri kebagian repotnya. Berdasarkan keadaan tersebut, penjelasan sevara konseptual terhadap masalah-masalah pengangguran tenaga terdidik sangat di perlukan, penjelasan yang besifat konseptual di harapkan mampu mendudukkan permasalahan pada proporsi yang sebenarnya, khususunya tentang fungsi dan kedudukan sistem pendidikan dalam kaitannya dengan masalah ketanagakerjaan. Berangkat dari asumsi bahwa bertambahnya tingkat pengangguran di sebabkan karena kegagalan sistem pendidikan, maka di perlukan adanya pendekatan-pendekatan tertentu dalam pendidikan dan konsep link and match perlu di hidupkan kembali dalam sistem pendidikan, agar supaya terintegrasi hubungan yang sinergi antara dunia pendidikan dengan dunia industri di mana keberhasilan sistem pendidikan di indonesia mampu meningkatkan kualitas industri demikian pula sebaliknya industri ikut serta dalam pengembangan pendidikan kejuruan dan vokasi berbasi kompetensi, yang pada akhirnya akan memberikan manfaat bagi industri melelui tersedianya tenaga-tenaga kerja yang kompeten dan siap kerja, sehingga dapat mengurangi biaya dan resiko produksi, di sampng meningkatkan daya saing industri.
    Model kerja sama yang sudah dilaksanakan antara SMK dengan dunia kerja diantaranya penerapan pendekatan pelatihan berbasis kompetensi (Competency based Training) yang harus dioptimalkan dalam upaya menghilangkan jurang ketidak link and match-an antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Asumsi ini sejalan dengan pendapat Djojonegoro (Pakpahan, 2002:231), bahwa: “Kebijakan link and match berusaha menempatkan pendidikan menengah kejuruan sebagai sub sistem dari sistem pembangunan nasional dalam peran dan tugas pengembangan sumber daya manusia”.
    Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka perlu dilakukan penelitian berkaitan dengan Pengembangan Model Link and Match dengan pendekatan Competency based Training pada pembelajaran Tata Graha di SMK. Competency based Training adalah proses pembelajaran yang perencanaan, pelaksanaan dan penilaiannya mengacu kepada penguasaan kompetensi yang telah dirumuskan sebagai standar acuan pencapaian hasil belajar sesuai standar dunia kerja.

    Sumber:
    – Jubaedah Yoyoh, Rohaeni Neni, Tati, (2015) MODEL LINK AND MATCH DENGAN PENDEKATAN COMPETENCY BASED TRAINING PADA PEMBELAJARAN TATA GRAHA DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
    – Disas Prihatin Eka, (2018) Link And Match Sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan
    – Pakpahan, J. (2002). Perkembangan Pendidikan Menengah Kejuruan Pada Pelita VI. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
    – otiuna, S. (n.d.). Konsep Link and Match pada Lembaga Pendidikan Islam Menuju Masyarakat Industri Modern.
    – Sumarno. (1995). Peran Serta Masyarakat dalam Implementasi Kebijaksanaan Link and Match Pendidikan dan Pembangunan Nasional. Dinamika Pendidikan, 2.
    – Abdullah, Amin M. 1996. Perspektif “Link and Match” Lembaga Pendidikan Tinggi Tenaga Kependidikan Agama Islam (Rekonstruksi atas Tinjauan Metodologi Pembudayaan Nilai-nilai Keagamaan). JPI. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UII.
    – Suherlan Munu, (2013) Link and Match Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial
    – Djatmiko Wahju I., Siswanto Tri Budi, dkk. (2013) Pendidikan Teknologi Kejuruan, Fakultas Teknik, UNY

  7. 0501519005
    1. Link and Match merupakan salah satu kebijakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang pernah ada dan dikembangkan untuk meningkatkan relevansi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha dan dunia Industri kususnya. Menurut (willenbrock,dalam Husaini 2016), perusahaan tidak hanya sekedar tempat berlatih atau magang paa peserta didik tetapi juga menyisihkan sebagian keuntungannya untuk mengembangkan perguruan tinggi. Kebijakan link and match berwawasan: (1). Sumber daya manusia, (2) masa depan, (3) mutu dan keunggulan (4) profesionalisme (5) nilai tambah dan (6) efisiensi.
    Kebijakan link and match yang berwawasan masa depan menurut Wardiman Djojonegoro (1998:60-61) menuntun SMK menganut prinsip sebagai berikut:
    a). program pendidikan pada SMK yang berproses selama iga tahun, disiapkan untuk menghasilkan tamatan yang memiliki keahlian sesuai dengan kebutuhan tiga tahun mendatang, dan memiliki bekal dasar untuk pengembangan diri di masa depan
    b). dunia kerja yang menjadi lapangan hidup tamatan SMK adalah dunia ekonomi, dunia yang mengandung fenomena persaingan dan kerjasama, sekaligus dunia yang cepat mengalami perubahan. Karena itu program pendidikan SMK harus mengandung muatan : 1) kompetensi produktif, yang memungkinkan tamatan sesegera mungkin bekerja setelah tamat dari SMK, 2) memiliki keunggulan sebagai factor keunggulan kompetitif menghadapi persaingan, dan sebagai modal kuat untuk menjalin kerjasama, dan 3) memiliki bekal dasar pengetahuan, ketrampilan dan sikap, sebagai bekal dasar menguasai perkembangan ipteks, dan sebagai dasar penyesuaian diri.
    Dalam hal ini pendidikan tidak hanya menyediakan modal manusia secara umum, namun bidang studi tertentu memberikan ketrampilan spesifik pekerjaan untuk pasar kerja (Hersch, 2010;walters,2014)
    Sumber dari :
    Usman, H. (2012). Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
    Usman H. (2016). Pendidikan Kejuruan Masa Depan. Yogyakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
    Indar. (2014). Perencanaan Pendidikan Strategi dan Implementasinya. Surabaya: Karya Aditama
    Sukardi, T., & Hargiyanto, P. (n.d.). Peran Bursa Kerja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan SMK dalam Rangka Terwujudnya Link and Match antara Sekolah dengan Dunia Industri.
    Suherlan, M. (2017). Link and Match Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial. Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial, 12(2), 117–124. https://doi.org/10.31105/jpks.v12i2.647
    Endang S Soesilowati. 2009. Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Meningkatkan Daya Saing Tenaga Kerja dan Industri. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
    Djojonegoro, Wardiman. 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia melalui Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas.
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017.Strategi Implementasi Revitalisasi SMK (10 Langkah Revitalisasi SMK).Jakarta
    Subandi Sarjoko. (2016). Peningkatan kualitas pendidikan profesi guru melalui revitalisasi LPTK. Jakarta: Kementrian PPN/ Bapenas.
    Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan danPenyelenggaraan Pendidikan.

  8. Link anda match merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi pada dunia kerja yang melibatkan pelajar SMK untuk mempraktikkan ilmu yang didapatkan disekolah pada dunia kerja guna membekali keterampilan, menambah pengalaman belajar sehingga ketika lulus sekolah telah siap masuk pasar kerja. Link and match merupakan kebijakan DEPDIKNAS RI yang diperkenalkan oleh menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djoyonegoro pada tahun 1989-1998. Konsep tersebut mengacu pada link yang berarti keterkaitan dan match yang berarti kesesuaian. Ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan lapangan pekerjaan menjadi latar belakang kebijakan link anda match. Perspektif link menunjukkan proses, yang berarti bahwa proses pendidikan selayaknya sesuai dengan kebutuhan pembangunan,
    sehingga hasilnyapun cocok (match) dengan kebutuhan tersebut, baik dari segi jumlah, mutu, jenis, kualifikasi mau pun dari segi waktunya. Perspektif pen didikan sebagai wahana untuk menunjang pembangunan dalam berbagai sektor dan sub sektor ada beberapa faktor
    yang mem perkuat perlunya usaha kearah lebih menciptakan link and match antara pen didikan dan pembangunan, khususnya dengan dunia kerja. Kondisi rendahnya daya serap lulusan sekolah kejuruan merupakan masalah serius yang berdampak pada masalah sosial hal ini tidak sesuai dengan keinginan pemerintah dalam merencanakan lulusan sekolah kejuruan, harapan pemerintah tersebut adalah bahwa lulusan sekolah kejuruan itu mengisi Dunia Usaha/Dunia Industri (DU/DI) sebagai tenaga kerja menengah, mereka bisa mandiri dengan cara berwirausaha, membuka peluang kerja dan tujuan lain yang prinsispnya mereka itu dipersiapkan untuk bekerja. Hasil survey Badan Pusat Statistik per Agustus 2016, tingkat pengangguran paling besar adalah lulusan SMK sebesar 11,24%, lulusan SMA mencapai 9,55% disusul lulusan SMP 7,15%. Peserta didik menghadiri pendidikan di sekolah dan memilih bidang studi diharapkan berhasil dalam dunia kerja. Missmatch pendidikan terjadi secara vertical yaitu antara tingkat pendidikan dan kebutuhan kerja dan terjadi secara horizontal dimana terjadinya ketidakcocokan bidang studi yang diteliti dengan pekerjaan. Kebijakan link and match dianggap sebagai penggalian kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja pada masa yang akan dating yang diharapkan paradigm orientasi pendidikan tidak lagi supply minded tetapi menjadi lebih demand minded (kebutuhan pasar). Kebijakan link anda match terbagi ,emjadi dua saran yaitu pada tingkat sekolah menengah dan pada tingkat perguruan tinggi. Kebijakan link and match diharapkan dapat menekan jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi dan sekolah menengah yang dari hari ke hari semakin bertambah. Beberapa prinsip yang akan dipakai dalam strategi kebijakan link and match adalah model penyelenggaraan pendidikan system ganda (PSG).
    Sumber :
    Cahyati, S, D., M, Indriayu., dan Sudarno. 2018. Implementasi Program Link and Match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri pada Lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta. 4(1): 1-22
    Disas, E, P. 2018. Link and Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Jurnal Penenlitian Pendidikan. 231-242
    Soesilowati, E, S. 2009. Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Meningkatkat Daya Saing Tenaga Kerja. Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga ILmu Pengetahuan Indonesia. 1-165
    Tarmudji. Implementasi Kebijakan Pendidikan System Ganda Berbasis Teaching Factory Dalam Meningkatkan Daya Serap Siswa. 1-23
    Tarma. 2016. Corporate Vocational School: Strategi Antisipatif Menghadapi Pengangguran Lulusan Smk Dalam Perspektif Bonus Demografi. Jurnal Dinamika Manajemen Pendidikan. 1(1): 1-6
    Indar. 2014. Perencanaan Pendidikan Strategi dan Implementasinya. Surabaya : Karya Aditama
    Putranto, I. 2017. Pengembangan Model Kerjasama Link and Match Untuk Meningkatkan Kesiapan Kerja bagi Lulusan SMK Kompetensi Keahlian Akuntansi di Kota Semarang. Jurnal Mandiri: Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Tekhnologi. 1(1): 69-83
    OongKomar. 2017. Model Magang Berbasis Link and Match. Seminar Nasional Pendidikan Non-formal FKIP Unversitas Bengkulu. 1(1): 69-75
    Jubaedah, Y., Rohaeni, N., dan Tati. 2010. Model Link and Match dengan Pendekatan Competency Based Training pada Pembelajaran Tata Graha di Sekolah Menengah Kejuruan. ISSN 1412-565 X. 19-27.
    Hadam, S., Rahayu, N., dan Ariyadi, A. N. 2017. Strategi implementasi revitalisasi SMK. Jakarta: Direktorat pembinaan sekolah kejuruan

  9. 0501519009

    1. Konsep link and match pendidikan kejuruan di Indonesia adalah mengakomondasi kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia kerja sehingga ada keterkaitan antara penyelenggaraan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat terutama dunia usaha dan industri yang akan menjadi dunia kerja bagi para lulusan siswa smk. Lapangan kerja bagi lulusan SMK sebenarnya cukup banyak peluang yang dapat dimanfaatkan, apabila sekolah mampu mengakomodasi kompetensi-kompetensi yang dbutuhkan di dunia kerja. Tidak sedikit SMK yang masih belum link and match dalam dunia krja di dalam memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik, baik dari pemilohan bahan ajar, sumber belajar, kegiatan maupun peralatan praktikum yang digunakan. Konsep link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja diharapkan dapat menekan pengangguran lulusan Pendidikan kejuruan.

    Sumber:
    Sukardi, Th., dan Hargiyarto, P. Peran Bursa Krja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan SMK dalam Rangka Terwujudnya Link and Mattch antara Sekolah dengan Dunia Industri. Pendidikan Teknik Mesin FT UNY.

    Dikmenjr. (1995). Pedoman Binmbingan dan Penyuluhan Kejuruan. Jakarta: Depdikbud

    Woyong, A. (2010). Relevansi Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada Sekolah Kejuruan dengan Kebutuhan Dunia Kerja. Prosiding APTEKINDO

    Basuki, E. dan Prasadja, W. 2010. Pengaruh Pendidikan Sistem Ganda (PSG) terhadap Daya Adaptif Kerja Siswa SMK.

    Disas, E.P. 2018. Link and Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Jurnal Penelitian Pendidikan

    Soesilowati, E. S. (2009). Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Meningkatkan Daya Saing Tenaga Kerja dan Industri. Jakarta: LIPI Press, Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

    Sumarno. (1995). Peran Serta Masyarakat dalam Implementasi Kebijakan Link and Match Pendidikan dan Pembangunan Nasional. Dinamika Pendidikan No. 2 Tahun II.

    Soediyarto (1993). Strategi Pengembangan Pendidikan Nasionall yang Terkait (Link) dan Sepadan (Match) dengan Tuntutan Perkembangan Masyarakat.

    Jubaedah, Y., Rohaeni, N., dan Tati. Model Kink and Match dengan pendekatan Competency Based Training pada Pembelajaran Tata Graha ddi Sekolah Menengah Kejuruan.
    Cahyanti, S., dkk. 2018. Implementasi Program Link and Match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri Lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta. 2018. BISE: Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi.

  10. NIM : 0501519006

    1. Link anda match merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi pada dunia kerja yang melibatkan pelajar SMK untuk mempraktikkan ilmu yang didapatkan disekolah pada dunia kerja guna membekali keterampilan, menambah pengalaman belajar sehingga ketika lulus sekolah telah siap masuk pasar kerja. Link and match merupakan kebijakan DEPDIKNAS RI yang diperkenalkan oleh menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djoyonegoro pada tahun 1989-1998. Konsep tersebut mengacu pada link yang berarti keterkaitan dan match yang berarti kesesuaian. Ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan lapangan pekerjaan menjadi latar belakang kebijakan link anda match. Perspektif link menunjukkan proses, yang berarti bahwa proses pendidikan selayaknya sesuai dengan kebutuhan pembangunan,
    sehingga hasilnyapun cocok (match) dengan kebutuhan tersebut, baik dari segi jumlah, mutu, jenis, kualifikasi mau pun dari segi waktunya. Perspektif pen didikan sebagai wahana untuk menunjang pembangunan dalam berbagai sektor dan sub sektor ada beberapa faktor
    yang mem perkuat perlunya usaha kearah lebih menciptakan link and match antara pen didikan dan pembangunan, khususnya dengan dunia kerja. Kondisi rendahnya daya serap lulusan sekolah kejuruan merupakan masalah serius yang berdampak pada masalah sosial hal ini tidak sesuai dengan keinginan pemerintah dalam merencanakan lulusan sekolah kejuruan, harapan pemerintah tersebut adalah bahwa lulusan sekolah kejuruan itu mengisi Dunia Usaha/Dunia Industri (DU/DI) sebagai tenaga kerja menengah, mereka bisa mandiri dengan cara berwirausaha, membuka peluang kerja dan tujuan lain yang prinsispnya mereka itu dipersiapkan untuk bekerja. Hasil survey Badan Pusat Statistik per Agustus 2016, tingkat pengangguran paling besar adalah lulusan SMK sebesar 11,24%, lulusan SMA mencapai 9,55% disusul lulusan SMP 7,15%. Peserta didik menghadiri pendidikan di sekolah dan memilih bidang studi diharapkan berhasil dalam dunia kerja. Missmatch pendidikan terjadi secara vertical yaitu antara tingkat pendidikan dan kebutuhan kerja dan terjadi secara horizontal dimana terjadinya ketidakcocokan bidang studi yang diteliti dengan pekerjaan. Kebijakan link and match dianggap sebagai penggalian kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja pada masa yang akan dating yang diharapkan paradigm orientasi pendidikan tidak lagi supply minded tetapi menjadi lebih demand minded (kebutuhan pasar). Kebijakan link anda match terbagi ,emjadi dua saran yaitu pada tingkat sekolah menengah dan pada tingkat perguruan tinggi. Kebijakan link and match diharapkan dapat menekan jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi dan sekolah menengah yang dari hari ke hari semakin bertambah. Beberapa prinsip yang akan dipakai dalam strategi kebijakan link and match adalah model penyelenggaraan pendidikan system ganda (PSG).
    Sumber :
    Cahyati, S, D., M, Indriayu., dan Sudarno. 2018. Implementasi Program Link and Match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri pada Lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta. 4(1): 1-22
    Disas, E, P. 2018. Link and Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Jurnal Penenlitian Pendidikan. 231-242
    Soesilowati, E, S. 2009. Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Meningkatkat Daya Saing Tenaga Kerja. Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga ILmu Pengetahuan Indonesia. 1-165
    Tarmudji. Implementasi Kebijakan Pendidikan System Ganda Berbasis Teaching Factory Dalam Meningkatkan Daya Serap Siswa. 1-23
    Tarma. 2016. Corporate Vocational School: Strategi Antisipatif Menghadapi Pengangguran Lulusan Smk Dalam Perspektif Bonus Demografi. Jurnal Dinamika Manajemen Pendidikan. 1(1): 1-6
    Indar. 2014. Perencanaan Pendidikan Strategi dan Implementasinya. Surabaya : Karya Aditama
    Putranto, I. 2017. Pengembangan Model Kerjasama Link and Match Untuk Meningkatkan Kesiapan Kerja bagi Lulusan SMK Kompetensi Keahlian Akuntansi di Kota Semarang. Jurnal Mandiri: Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Tekhnologi. 1(1): 69-83
    OongKomar. 2017. Model Magang Berbasis Link and Match. Seminar Nasional Pendidikan Non-formal FKIP Unversitas Bengkulu. 1(1): 69-75
    Jubaedah, Y., Rohaeni, N., dan Tati. 2010. Model Link and Match dengan Pendekatan Competency Based Training pada Pembelajaran Tata Graha di Sekolah Menengah Kejuruan. ISSN 1412-565 X. 19-27.
    Hadam, S., Rahayu, N., dan Ariyadi, A. N. 2017. Strategi implementasi revitalisasi SMK. Jakarta: Direktorat pembinaan sekolah kejuruan

  11. 0501519010

    Jawaban no 1:
    Konsep link and match pendidikan kejuruan adalah kurangnya relevansi antara layanan yang disediakan oleh pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. SMK sebagai lembaga pendidikan yang mengembangkan bidang vokasional di Indonesia memegang peranan penting dalam meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Peningkatan SDM ini lebih diorientasikan pada pengalaman belajar peserta didik, yaitu melalui pendidikan dan pelatihan dengan cara memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik yang dapat diterapkan pada dunia kerja, sehingga mampu bersaing secara kompetitif dalam dunia kerja. Kenyataannya tidak sedikit lulusan SMK yang menjadi pengangguran, karena tidak memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Kesenjangan ini sejalan dengan pendapat yang diungkapkan Suparno (2008:1), bahwa: “Kompetensi para pencari kerja belum Link and Match dengan industri”. Tidak sedikit SMK yang masih belum link and match dengan dunia kerja di dalam memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik, baik dari pemilihan bahan ajar, sumber belajar, kegiatan maupun peralatan praktikum yang digunakan. Kebijakan link and match bagi SMK, telah memberikan penegasan terhadap perlunya keterkaitan yang nyata antara penyelenggaraan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat terutama dunia usaha dan industri yang akan menjadi dunia kerja para lulusan. Kebijakan tersebut pada dasarnya merupakan sarana untuk membangun kemitraan dengan industri dalam mengembangkan program pendidikan dan pelatihan bidang keahlian yang diselenggarakan pada satuan pendidikan SMK.
    Sumber :
    – Disas, E. P. (2018). Link and Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan Link and Match as a Vocational Education Policy. Indonesia, Universitas Pendidikan Barat, Jawa, 18(2), 231–242.
    – Hadam, Sampun, dkk. 2017. Strategi Implementasi Revitalisasi SMK (10 Langkah Revitalisasi SMK). Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
    – Hidayat, Dadang. 2011. Model Pembelajaran Teaching Factory untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa Dalam Mata Pelajaran Produktif. Jurnal Ilmu Pendidikan, Jilid 17, Nomor 4, hlm. 270-278. Universitas Pendidikan Indonesia
    http://ejournal.upi.edu/index.php/JER/article/viewFile/1281/895
    https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/APTEKINDO/article/viewFile/11/9
    https://media.neliti.com/media/publications/102946-ID-model-pembelajaran-teaching-factory-untu.pdf
    – Jubaedah, Yoyoh, dkk. Model Link And Match dengan Pendekatan Competency Based Training pada Pembelajaran Tata Graha di Sekolah Menengah Kejuruan. ISSN 1412-565 X. Universitas Pendidikan Indonesia.
    – Ratnata, I Wayan. Konsep Pemikiran Dalam Pengembangan Pendidikan Vokasi Untuk Menghadapi Tuntutan Dunia Kerja. Seminar Internasional, ISSN 1907-2066
    – Suherlan, Mumu. Link and Match Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial. Jurnal PKS Vol 12 No 2 Juni 2013; 117 – 124
    – Sukardi, T. Peran Bursa Kerja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan SMK dalam Rangka Terwujudnya Link and Match antara Sekolah dengan Dunia Industri.
    – Sumarno. (1995). Peran Serta Masyarakat dalam Implementasi Kebijaksanaan Link and Match Pendidikan dan Pembangunan Nasional. Dinamika Pendidikan, 2.
    – Suparno, Erman. (2008). Kompetensi, Jabatan Penghubung Dunia Pendidikan dan Industri. Terdapat di [On line] http://www.Edubenchmark.com/
    – Wayong, A. (2010). Relevansi Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada Sekolah Kejuruan dengan Kebutuhan Dunia Kerja. Prosiding APTEKINDO, 6(1), 379–384.

  12. 1.
    0501519004
    Masalah kesenjangan merupakan masalah lama yang masih belum terselesaikan secara tuntas. Kesenjangan (mismatch) adalah ketidaksesuaian/ketidakcocokan antara kualifikasi pendidikan dengan lapangan pekerjaan. Pholphirul (2017) mengatakan bahwa ketidaksesuaian semacam itu mencerminkan ketidakefisienan di institusi pendidikan kejuruan, termasuk sekolah kejuruan dan universitas. Pernyataan tersebut sejalan dengan hasil penelitian dari Hanafi (2012) dan Muhson, dkk (2012) bahwa hal yang menimbulkan mismatch adalah pendidikan kejuruan tidak cukup fleksibel dalam merespons permintaan dunia kerja dan industri, sehingga timbul ketidakmampuan lembaga pendidikan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kualifikasi sesuai dengan realitas tuntutan dunia industri yang sangat maju dengan pesatnya.
    Harbinson (1973) juga telah “memperkarakan” konsep link and match dalam pendekatan perencanaan pendidikan yang ia teorikan. Menurut salah satu model perencanaan pendidikan yang ia kemukakan dalam teorinya itu, ada salah satu pendekatan perencanaan pendidikan yang pada hakikatnya merupakan pencerminan dari konsep link and match. Konsep keterkaitan dan kesepadanan (Link and Match) antara dunia pendidikan dan Industri adalah ideal, ada hubungan timbal balik untuk dilakukan, akan ada keterkaitan antara pemasok tenaga kerja dengan penggunanya. Adanya hubungan timbal balik ini membuat SMK dapat menyusun kurikulum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. idealnya ada tiga komponen yang harus bergerak simultan untuk menyukseskan program link and match yaitu SMK, dunia kerja (perusahaan) dan pemerintah. Link and Match antara sekolah dengan dunia usaha/dunia industri, sebagai bentuk ideal sekolah kejuruan modern. Programlink and matchbertujuan untuk menjembatani kesesuaian kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan pasar kerja. Program link and match adalah penggalian kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja pada masa saat ini dan masa yang akan datang.

    Sumber :
    Cahyanti. Septiana Dewi, dkk. 2018. Implementasi Program Link and Match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri pada Lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta. Universitas Sebelas Maret. BISE: Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi p-ISSN 2548-8961 | e-ISSN 2548-7175 | Volume 4 Nomor 1 (2018)
    Depdikbud, 1993. Link and Match, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
    Disas. Eka Prihatin. 2018. Link and Match Sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Universitas Pendidikan Indonesia. ISSN 1412-556 X e-ISSN 2541-4135.
    Fariz. 2019. Link and Match : Jembatan Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YAPAN Surabaya.
    Hanafi, I. 2012. Re-organisasi Keterampilan Kerja Lulusan Pendidikan Kejuruan. Jurnal
    Pendidikan Vokasi, 2 (I), hlm 107 – 116.
    Juanto. Untung. 2019. Efektivitas Sistem Pendidikan Link & Match. Harian Ekonomi Neraca.
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017. (10 Langkah Revitalisasi SMK). Jakarta.
    Muhson, dkk. 2012. Analisis Relevansi Lulusan Perguruan Tinggi dengan Dunia Kerja. Jurnal Economia. 8 (1) hal 42 – 51
    Sukardi, dkk. 2007. Peran Bursa Kerja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan Smk Dalam Rangka Terwujudnya Link And Match Antara Sekolah Dengan Dunia Industri. Universitas Negeri Yogyakarta. JPTK, Vol. 16, No. 2, Oktober 2007
    Pardjono. 2011. Peran Industri dalam Pengembangan SMK. Makalah disampaikan dalam workshop Peran Industri dalam Pengambangan SMK , SMK Negeri 2 Kasihan, Bantul.

  13. 2.
    0501519004
    Penerapan nyata program Link and Match antara lain program kerjasama dengan Dunia Usaha/Industri, pengembangan kelas industri, pelaksanaan guru magang (OJT), Prakerin
    1. Program kerjasama dengan Dunia Usaha/Industri
    Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai salah satu lembaga pendidikan, mempunyai visi dan misi untuk menyiapkan tenaga kerja yang mampu mengisi lapangan kerja yang profesional. Tenaga kerja yang profesional diharapkan mampu menjadi keunggulan bagi Dunia Usaha dan Industri di Indonesia dalam menghadapi persaingan global. SMK dapat menghasilkan lulusan yang kompeten dan profesional maka agar proses pembelajaran peserta didik dilakukan disekolah dan di Dunia Industri. SMK dan Dunia Usaha dan Dunia Industri harus menjalin hubungan kerjasama yang sangat erat.
    Pelaksanaan kerjasama SMK dengan Dunia Usaha/Industri yang baik dan saling menguntungkan sangat penting untuk menunjang tercapainya program sekolah. Pengembangan sekolah akan lebih optimal bila kerjasama dengan Instansi terkait Dunia Usaha/Industri yang relevan dengan kompetensi keahlian tertuang dalam MOU/kesepahaman/naskah perjanjian kerjasama. Pelaksanaan kerjasama dengan DuniaUsaha/Industri antara lain dapat berupa :
    1) Validasi Isi, agar materi kegiatan pembelajaran yang tercakup dalam struktur
    kurikulum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Tujuannya sekolah dapat
    menyiapkan perangkat kurikulum pada kompetensi keahlian yang dibuka untuk
    divalidasi industri, sekolah dapat menyerap masukan Dunia Usaha/Industri untuk
    diterapkan dalam bentuk kurikulum implementatif /kurikulum industri.
    2) Kunjungan Industri (KI), dilakukan untuk memberikan wawasan mengenai dunia
    kerja yang akan dihadapi oleh peserta didik sebelum mengikuti program Prakerin.
    3) Guru Tamu, bertujuan untuk memberikan gambaran tentang profil perusahaan,
    membantu menerapkan proses pembelajaran di sekolah agar sesuai dengan
    kebutuhan industri dan memberikan materi pembelajaran langsung kepada
    peserta didik.

    2. pengembangan kelas industri
    Prosser (1950: 225) menyatakan ”Pembentukan belajar efektif apapun akan optimal jika pelatihan diberikan dalam konteks pekerjaan sebenarnya, dan bukan pada latihan atau pekerjaan palsu”. Sebagai sekolah yang memiliki tujuan untuk siap memasuki lapangan pekerjaan berarti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) harus memiliki program keahlian agar relevansi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI). Tetapi untuk menyesuaikan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI) sangat sulit, salah satunya dikarenakan kesenjangan yang terjadi antara industri meningkat, salah satu upaya yang dilakukan sekolah dan pihak industri adalah dengan membentuk kelas Industri. Dibentuknya kelas Industri ini diharapkan akan menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar yang dibutuhkan oleh industri yang bekerjasama dengan sekolah.
    Menurut Aji, Yoto dan Widiyati (2017) Kelas industri merupakan program kerja sama antara industri dengan satuan pendidikan kejuruan dalam menintegrasikan pembelajaran di sekolah dengan dunia industri. Kelas industri juga merupakan sebagai salah satu pola penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang memadukan antara sistem pendidikan sekolah dan sistem yang ada di Industri secara relevan sekolah dan industri. kesenjangan tersebut berupa kesenjangan teknologi, kurikulum sekolah yang belum sesuai dengan kebutuhan industri dan tenaga pendidik yang belum mampu mengimbangi yang terjadi di dunia indutri. Hal ini menyebabkan kesiapan lulusan sekolah menengah kejuruan menjadi kurang.

    3. Pelaksanaan guru magang (OJT)
    Magang bagi guru produktif SMK di DU/DItidak terlepas dari penetapan standar kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan, penyelenggaraan kegiatan, pembiayaan, serta monitoring dan evaluasi kegiatan magang. Hal tersebut selaras dengan hasil studi yang dilakukan Yuniarti,N. (2014) tentang model penyiapan guru pendidikan kejuruan,bahwa pengetahuan dan pengalaman nyata yang diperoleh dari hasil magang guru di DU/DI dapat memberikan wawasan kepada siswa dan mampu melaksanakan pembelajaran sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh DU/DI.
    Arti penting profesionalitas guru terutama guru produktif bagi SMK merupakan hal yang urgent untuk menjalankan kelangsungan hidup daya saing mengimbangi berbagai perubahan secara cepat dan tidak terprediksi melalui berbagai potensi yang dimilikinya. Pengalaman dan ilmu yang didapat guru magang di industri, ditransformasikan kepada peserta didik. Bentuknya harus disusun secara struktural mulai dari penyusunan RPP, metode pembelajaran yang akan digunakan, serta peralatan yang menunjang proses belajar mengajar. Apabila ini dapat dilaksanakan maka akan terbentuk budaya industri di sekolah. Terbentuknya budaya industri di sekolah menciptakan sekolah yang berkarakter industri. Implementasi budaya industri yang terintegrasi dengan budaya sekolah sangat diperlukan mengingat sekolah sebagai rumah pembentukan karakter peserta didik yang akan terjun ke Dunia Usaha/Industri. Dengan dikenalnya dan diimplementasikannya budaya industri di sekolah diharapkan peserta didik terbiasa dan kebiasaan ini dibawa sampai ke dunia kerja.
    4. Prakerin
    Pendidikan sistem ganda sebagai alternatif pola pembelajaran di SMK ditetapkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Nomor 323/U/1997, Pendidikan sistem ganda selanjutnya disebut PSG adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian kejuruan yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah menengah kejuruan dengan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui bekerja langsung pada pekerjaan sesungguhnya di institusi pasangan, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu (pasal 1; ayat 1)
    Salah satu program tahunan SMK yang mengacu pada penerapan pendidikan sistem ganda dalam meningkatkan dedikasi kerja lapangan siswa-siswanya adalah dengan praktik kerja industri (PRAKERIN). PRAKERIN merupakan salah satu program intrakurikuler pendidikan di SMK. Pelaksanaan PRAKERIN merupakan bagian dari pendidikan sistem ganda (PSG) yang merupakan inovasi pada program SMK dimana peserta didik melakukan praktik kerja (magang) di perusahaan atau industri yang merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan pelatihan di SMK. Pendidikan sistem ganda diilhami oleh program dua sistem (dual based program) yang dilakukan di Jerman. Mulai diberlakukan di Indonesia berdasarkan kurikulum SMK tahun 1994.

    Peningkatan kualitas SMK sebagai penghasil tenaga-tenaga kerja terampil di bidang industri dan perusahaan merupakan syarat mutlak agar dapat menunjang percepatan laju pembangunan.

    Sumber :
    Apriyadi. Catur, dkk. Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) Pada Jurusan Teknik Sepeda Motor SMKN 2 Pengasih. Jurnal Pendidikan Teknik Otomotif Edisi XVI, Nomor 1, Tahun 2016
    Cahyanti. Septiana Dewi, dkk. 2018. Implementasi Program Link and Match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri pada Lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta. Universitas Sebelas Maret. BISE: Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi p-ISSN 2548-8961 | e-ISSN 2548-7175 | Volume 4 Nomor 1 (2018)
    Depdikbud, 1993. Link and Match, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
    Disas. Eka Prihatin. 2018. Link and Match Sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Universitas Pendidikan Indonesia. ISSN 1412-556 X e-ISSN 2541-4135.
    Danutirta. Shinta Surya. 2018. Pengelolaan Kelas Industri Di SMK N 2 Klaten. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017. (10 Langkah Revitalisasi SMK). Jakarta.
    Muhammad Aji Slamet, Yoto dan Widiyanti. (2017). Studi Pengelolaan Kelas Honda pada Program keahlian Teknik Sepeda Motor Di SMK Negeri 9 Malang. Jurnal Pendidikan Profesional, Volume 6 No.2.
    Sukardi, dkk. 2007. Peran Bursa Kerja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan Smk Dalam Rangka Terwujudnya Link And Match Antara Sekolah Dengan Dunia Industri. Universitas Negeri Yogyakarta. JPTK, Vol. 16, No. 2, Oktober 2007
    Pardjono. 2011. Peran Industri dalam Pengembangan SMK. Makalah disampaikan dalam workshop Peran Industri dalam Pengambangan SMK , SMK Negeri 2 Kasihan, Bantul.
    Prosser, Charles. 1950. Vocational Education in a Democracy. Chicago American
    Technical Society
    Usep. Pengelolaan Magang Guru Produktif Smk Paket Keahlian Teknik Sepeda Motor Berbasis Kemitraan. STAIPI Garut . Jurnal Administrasi Pendidikan Vol.XXIV No.1 April 2017

  14. 0501519011
    2. Penerapan konsep link and match di sekolah kejuruan adalah :
    1. Program kerjasama dengan Dunia Usaha/ Industri. Pelaksanaan kerjasamanya antara lain berupa:
    a. Validasi Isi, agar materi kegiatan pembelajaran yang tercakup dalam struktur kurikulum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Tujuannya sekolah dapat menyiapkan perangkat kurikulum pada kompetensi keahlian yang dibuka untuk divalidasi industri, sekolah dapat menyerap masukan Dunia Usaha/Industri untuk diterapkan dalam bentuk kurikulum implementatif /kurikulum industri.
    b. Kunjungan Industri (KI), dilakukan untuk memberikan wawasan mengenai dunia kerja yang akan dihadapi oleh peserta didik sebelum mengikuti program prakerin.
    c. Guru Tamu, bertujuan untuk memberikan gambaran tentang profil perusahaan, membantu menerapkan proses pembelajaran di sekolah agar sesuai dengan kebutuhan industri dan memberikan materi pembelajaran langsung kepada peserta didik. Program magang guru, magang siswa atau prakerin, program pengembangan kelas industri.
    2. Pembentukan Kelas Industri
    Kelas industri merupakan bagian dari program pembelajaran alternatif yang merupakan pilihan bagi peserta didik untuk belajar sambil praktik langsung dengan Dunia Usaha/Industri yang relevan dengan minat studinya. Program kelas industri disusun bersama antara sekolah dan dunia kerja dalam rangka memenuhi kebutuhan peserta didik dan sebagai kontribusi dunia kerja terhadap pengembangan program pendidikan di SMK. Dengan kelas industri peserta didik dapat menguasai sepenuhnya aspek-aspek kompetensi yang dituntut kurikulum, disamping itu mengenal lebih dini dunia industri yang menjadi bidang keahlianya yang kelak dapat dijadikan bekal untuk bekerja setelah menamatkan pendidikannya.
    Adapun alur pembentukan kelas industri dimulai dari:
    a. Membangun kerjasama yang harmonis dengan DUDI
    b. Merencanakan model pendidikan kelas industri bersama industri mitra yang dituangkan dalam perjanjian kerjasama oleh kedua belah pihak
    c. Menyusun kurikulum bersama sesuai kebutuhan industri
    d. Menentukan kebutuhan guru/instruktur yang mengajar di sekolah maupun industri
    e. Menentukan sarana dan prasarana praktik, buku ajar dan sumber belajar yang harus disiapkan di sekolah oleh dua belah pihak
    f. Menentukan jadwal pembelajaran di sekolah dan di industri
    g. Menentukan pelaksanaan UN dan uji kompetensi
    3. Pelaksanaan guru magang
    Cara terbaik untuk mempelajari sikap profesional dan interpersonal skills. Kerjasama pemagangan ini dilakukan sebagai upaya pengembangan keterampilan guru SMK dalam bentuk kerja nyata industri yang dapat ditransfer kepada peserta didiknya. Program guru magang ini juga diharapkan dapat memberi keuntungan pada industri dengan memanfaatkan inovasi-inovasi yang dihasilkan oleh guru, sehingga terjadi transfer akademik dari sekolah ke dunia industri. Sebagai panduan pola kerjasama ini akan dilengkapi dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) yang lebih detail.
    4. Prakerin atau praktik kerja industri
    Merupakan program pembelajaran yang harus ditempuh oleh setiap peserta didik di dunia kerja. Hal ini sebagai wujud nyata dari pelaksanaan sistem pendidikan di SMK yaitu Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Program Prakerin disusun bersama antara sekolah dan Dunia Usaha/Industri dalam rangka memenuhi kebutuhan belajar peserta didik dan sebagai kontribusi Dunia Usaha/Industri terhadap pengembangan program pendidikan SMK.
    Bentuk kerjasama dalam penyelenggaraan Praktik Kerja Industri dapat dilakukan sebagai berikut:
    a. Model pelaksanaan dapat dengan sistem blok 6 bulan sampai 1 tahun atau bertahap sesuai kesepakatan antara SMK dengan Dunia Usaha/ Industri.
    b. Materi prakerin berupa penguatan dan pemantapan. Materi yang diberikan adalah lanjutan dari yang sudah diajarkan di sekolah maupun yang belum diajarkan di sekolah, atau dapat juga berupa penguatan sebagaimana tuntutan standar profesi.
    Sumber:
    Djojonegoro, Wardiman. 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia melalui Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas
    Endang S Soesilowati. 2009. Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Meningkatkan Daya Saing Tenaga Kerja dan Industri. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
    Ixtiarto, B dan Sutrisno, B. 2016. Kemitraan Sekolah Menengah Kejuruan Dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri:Kajian aspek Penhgelolaan Pada SMK Muhammadiyah 2
    J.E Thurman, A.E. Louzine, K.Kogi. 1993. Peningkatan Produktivitas Sekaligus Perbaikan Tempat Kerja. Jakarta: PT. Komunikajaya Pratama
    Jubaedah, Y., Rohaeni, N., & Tati. (n.d.). Model Link and Match dengan Pendekatan Competency Based Training pada Pembelajaran Tata Graha di Sekolah Menengah Kejuruan.
    Kementrian Pendidikan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2008. Pengembangan Program Prakerin. Jakarta.
    Kementrian Pendidikan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017. Strategi Implementasi Revitalisasi SMK (10 Langkah Revitalisasi SMK). Jakarta.
    Pakpahan, J. (2002). Perkembangan Pendidikan Menengah Kejuruan Pada Pelita VI. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

    Soesilowati, E.S (2009). Link And Match Dunia Pendidikan Dan Industri Dalam Meningkatkan Daya Tenaga Kerja Dan Industri. Jakarta: LIPI Press. Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

    Sukardi, T., & Hargiyanto, P. (n.d.). Peran Bursa Kerja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan SMK dalam Rangka Terwujudnya Link and Match antara Sekolah dengan Dunia Industri.

  15. 0501519007

    Jawaban Soal No. 02
    Penerapan konsep link and match di sekolah kejuruan
    Menurut Tilaar dalam Penelitian Listiana (2012: 12 – 13), langkah – langkah yang
    dapat dilakukan untuk melaksanakan prinsip link and match, sebagai berikut:
    1) Pengembangan Kurikulum Pendidikan
    Kurikulum pendidikan harus disusun dengan mempertimbangkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di masyarakat, artinya lembaga pendidikan dituntut untuk mendekatkan diri dengan dunia industri guna mengadakan pengembangan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
    2) Peningkatan Sarana dan Prasarana
    Sarana dan prasarana yang memadai sangat diperlukan untuk mendukung pelaksanaan penelitian di bidang industri dan praktik – praktik lainnya, dengan begitu upaya meningkatkan relevansi program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dapat terwujud sehingga dalam melaksanakan kebijakan link and match akan lebih mudah.
    3) Meningkatkan Kualitas Tenaga Pengajar
    Tenaga pengajar harus dapat bersaing dengan tenaga – tenaga yang ada di dunia kerja. Selain itu, perlu adanya fleksibilitas tenaga pengajar yang sewaktu-waktu dapat ditugaskan bekerja di bidang industri dan sebaliknya tenaga industri diberikan kesempatan untuk mengabdi di dunia pendidikan dalam waktu tertentu.
    4) Perbaikan Program Pendidikan
    Program yang dimaksudkan adalah program yang mengarah pada kebutuhan masyarakat dengan tujuan terciptanya relevansi antara program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan adanya relevansi program pendidikan diharapkan kebijakan link and match dapat dilaksanakan dengan baik.
    Untuk menciptakan SMK yang berkualitas, diperlukan implementasi link and match antara sekolah dengan industri secara bertahap dan berkesinambungan dalam bentuk kerja sama riset/ penelitian maupun permagangan. Ada beberapa pihak yang saling terkait untuk mewujudkan program link and match ini, antara lain pendidikan kejuruan, dunia industri, dan pemerintah ( Septiana, 2018).
    Link and match adalah kebijakan sejak zaman Orde Baru, yang dibuat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu Wardiman Djojonegoro. Salah satu upaya yang dilakukan SMK dalam kebijakan ini adalah penerapan Pendidikan Sistem Ganda (PSG). PSG dalam Kurikulun Pendidikan Berbasis Kompetensi siswa dapat beriteraksi baik di dalam maupun diluar, yaitu di dalam berarti di sekolah melalui praktek di bengkel dan di luar artinya belajar di perusahan atau dunia industri melalui magang atau praktek kerja industri (prakerin). Siswa diharapkan mengetahui lingkungan kerja berdasarkan bidang yang dia kuasai, selain itu juga akan mengerti tata cara kerja yang baik dan mengerti akan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja. Implementasi kebijakan “link and match” antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Bentuk penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda menekankan pada pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sitematik dan sinkron antara program pendidikan di sekolah dengan program keahlian yang diperoleh langsung di perusahaan.
    Ada beberapa perubahan paradigma dan dimensi pembaharuan yang diturunkan dari
    kebijakan link and match, (Sidi, 2001) yaitu :
    a. Perubahan dari pendekatan Supply Driven ke Demand Driven
    Dengan deman driven ini mengharapkan dunia usaha dan dunia industri atau dunia kerja lebih
    berperan di dalam menentukan, mendorong dan menggerakkan pendidikan kejuruan, karena
    mereka adalah pihak yang lebih berkepentingan dari sudut kebutuhan tenaga kerja. Dalam
    pelaksanaannya, dunia kerja ikut berperan serta karena proses pendidikan itu sendiri lebih
    dominan dalam menentukan kualitas tamatannya, serta dalam evaluasi hasil pendidikan itupun
    dunia kerja ikut menentukan supaya hasil pendidikan kejuruan itu terjamin dan terukur dengan
    ukuran dunia kerja.
    Sebagai salah satu bentuk penerapan prinsip demand driven, maka dalam pengembangan
    kurikulum SMK harus melakukan sinkronisasi kurikulum yng direalisasikan dalam program
    Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Dengan melakukan sinkronisasi kurikulum, penyelengaraan
    pembelajaran di SMK diupayakan sedekat mungkin dengan kebutuhan dan kondisi dunia
    kerja/industri, serta memiliki relevansi dan fleksibilitas tinggi dengan tuntutan lapangan. Melalui
    sinkronisasi kurikulum ini, diharapkan sekolah dapat membaca keahlian dan performansi apa yang
    dibutuhkan dunia usaha atau industri untuk dapat dimasuki oleh lulusan SMK.
    b. Perubahan dari pendidikan berbasis sekolah (School Based Program) ke sistem berbasis ganda
    (Dual Based Program)
    Perubahan dari pendidikan berbasis sekolah, ke pendidikan berbasis ganda sesuai dengan
    kebijakan link and match, mengharapkan supaya program pendidikan kejuruan itu dilaksanakan di
    dua tempat. Sebagian program pendidikan dilaksanakan di sekolah, yaitu teori dan praktek dasar
    kejuruan, dan sebagian lainnya dilaksanakan di dunia kerja, yaitu keterampilan produktif yang
    diperoleh melalui prinsip learning by doing. Pendidikan yang dilakukan melalui proses bekerja di
    dunia kerja akan memberikan pengetahuan keterampilan dan nilai-nilai dunia kerja yang tidak
    mungkin atau sulit didapat di sekolah, antara lain pembentukan wawasan mutu, wawasan
    keunggulan, wawasan pasar, wawasan nilai tambah, dan pembentukan etos kerja.
    c. Perubahan dari model pengajaran yang mengajarkan mata-mata pelajaran ke model pengajaran
    berbasis kompetensi Perubahan ke model pengajaran ke berbasis kompetensi, bermaksud menuntun proses
    pengajaran secara langsung berorientasi pada kompetensi atau satuan-satuan kemampuan.
    Pengajaran berbasis kompetensi ini sekaligus memerlukan perubahan kemasan kurikulum
    kejuruan ke dalam kemasan berbentuk paket-paket kompetensi.
    d. Perubahan dari program dasar yang sempit (Narrow Based) ke program dasar yang mendasar,
    kuat dan luas (Broad Based) Kebijakan link and match menuntut adanya pembaharuan, mengarah kepada pembentukan dasar yang mendasar, kuat dan lebih luas.

    Sumber:
    Dewi, Septiana. 2018. Implementasi Program Link and Match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri pada Lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta. BISE: Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi.
    Listiana. 2012. Analisis Pelaksanaan Program Sistem Ganda (PSG) dalam Mempersiapkan Siswa
    Memasuki Dunia Kerja (Studi Kasus di SMK 5 Pancasila Wonogiri Program Keahlian
    Administrasi Perkantoran Tahun Diklat 2011/2012. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu
    Pendidikan, Universitas Sebelas Maret: Surakarta.
    Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 323/U/1997 tentang
    Sistem Ganda pada Sekolah Menengah Kejuruan.
    Sidi, I. Djati. 2001. Menuju Masyarakat Belajar, Menggagas Paradigma Baru Pendidikan.
    Paramadina: Jakarta.
    Saefudin, Agus. 2015. SMK: SEKOLAH MENCETAK KULI DAN PENGANGGURAN
    (Sebuah Kritik dan Solusi Arah Kebijakan Sekolah Menengah Kejuruan). Makalah. Hal. 3
    Nurharjadmo, Wahyu. 2008. Evaluasi Implementasi Kebijakan Pendidikan Sistem Ganda di Sekolah Kejuruan. Spirit Publik. Volume 4, Nomor 2
    Sudira, Putu, MP. (2009). Pendidikan Vokasi Suatu Pilihan. [Online]. Tersedia:
    http://blog.uny.ac.id/putupanji/2009/03/17/pendidikan-vokasi-suatupilihan/.
    Sugiyono. (2003). Profesionalisasi Manajemen Pendidikan Kejuruan di Indonesia. Pidato Pengukuhan Guru Besar di Universitas Negeri Yogyakarta, 30 Agustus 2003. Yogyakarta: Tidak Diterbitkan.
    Listiana. 2012. Analisis Pelaksanaan Program Sistem Ganda (PSG) dalam Mempersiapkan Siswa
    Memasuki Dunia Kerja (Studi Kasus di SMK 5 Pancasila Wonogiri Program Keahlian
    Administrasi Perkantoran Tahun Diklat 2011/2012. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu
    Pendidikan, Universitas Sebelas Maret: Surakarta.
    Endang S Soesilowati. 2009. Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Meningkatkan Daya Saing Tenaga Kerja dan Industri. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

  16. 05015190011
    1. Konsep Link and Match (keterkaitan dan kesepadanan) merupakan konsep keterkaitan antara pendidikan kejuruan dengan dunia kerja, atau dengan kata lain link and match adalah keterkaitan antara pemasok tenaga kerja dengan penggunanya. Dengan adanya keterkaitan ini maka pendidikan sebaagi pemasok tenaga kerja dapat mengadakan hubungan-hubungan dengan dunia usaha/industri. Konsep link and match pendidikan kejuruan di Indonesia adalah ideal, ada hubungan timbal balik untuk dilakukan akan ada keterkaitan dengan dirasakannya kurang adanya relevansi antara layanan yang disediakan oleh pendidikan kejuruan dengan kebutuhan masyarakat atau Dunia Usaha/ Industri. Diharapkan dengan konsep link and match bisa menekan jumlah pengangguran pendidikan kejuruan yang dari hari ke hari semakin bertambah.
    Sumber :
    Djojonegoro, Wardiman. 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia melalui Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas
    Endang S Soesilowati. 2009. Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Meningkatkan Daya Saing Tenaga Kerja dan Industri. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
    Ixtiarto, B dan Sutrisno, B. 2016. Kemitraan Sekolah Menengah Kejuruan Dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri:Kajian aspek Penhgelolaan Pada SMK Muhammadiyah 2
    J.E Thurman, A.E. Louzine, K.Kogi. 1993. Peningkatan Produktivitas Sekaligus Perbaikan Tempat Kerja. Jakarta: PT. Komunikajaya Pratama
    Jubaedah, Y., Rohaeni, N., & Tati. (n.d.). Model Link and Match dengan Pendekatan Competency Based Training pada Pembelajaran Tata Graha di Sekolah Menengah Kejuruan.
    Kementrian Pendidikan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2008. Pengembangan Program Prakerin. Jakarta.
    Kementrian Pendidikan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017. Strategi Implementasi Revitalisasi SMK (10 Langkah Revitalisasi SMK). Jakarta.
    Pakpahan, J. (2002). Perkembangan Pendidikan Menengah Kejuruan Pada Pelita VI. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

    Soesilowati, E.S (2009). Link And Match Dunia Pendidikan Dan Industri Dalam Meningkatkan Daya Tenaga Kerja Dan Industri. Jakarta: LIPI Press. Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

    Sukardi, T., & Hargiyanto, P. (n.d.). Peran Bursa Kerja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan SMK dalam Rangka Terwujudnya Link and Match antara Sekolah dengan Dunia Industri.

  17. 0501519010

    Jawaban no 2:
    SMK sebagai satuan pendidikan belum optimal dalam menyiapkan peserta didik dan lulusannya untuk memiliki kompetensi sesuai tuntutan dunia kerja. Lapangan kerja bagi lulusan SMK sebenarnya cukup banyak peluang yang dapat dimanfaatkan, apabila sekolah mampu mengakomodasi kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja. Model kerja sama yang sudah dilaksanakan antara SMK dengan dunia kerja diantaranya penerapan pendekatan pelatihan berbasis kompetensi (Competency based Training) yang harus dioptimalkan dalam upaya menghilangkan jurang ketidak link and match-an antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Competency based Training adalah proses pembelajaran yang perencanaan, pelaksanaan dan penilaiannya mengacu kepada penguasaan kompetensi yang telah dirumuskan sebagai standar acuan pencapaian hasil belajar sesuai standar dunia kerja. Dengan menggunakan sarana fasilitas yang dimiliki, sekolah menciptakan suasana industri tanpa harus melibatkan industri secara langsung. Namun demikian, siswa merasakan suasana industri, terbina kecakapan hidup (life skill), dan tercapai kompetensi kerja dalam suasana industri di sekolah. Teaching factory juga sebagai suatu konsep pembelajaran dalam suasana sesungguhnya, sehingga dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan pengetahuan sekolah. Teknologi pembelajaran yang inovatif dan praktik produktif merupakan konsep metode pendidikan yang berorientasi pada manajemen pengelolaan siswa dalam pembelajaran agar selaras dengan kebutuhan dunia industri (Yudisman, 2008). Model pembelajaran teaching factory ini bertujuan untuk melatih siswa dalam mencapai ketepatan waktu, kualitas yang dituntut oleh industri, mempersiapkan siswa sesuai dengan kompetensi keahliannya, menanamkan mental kerja dengan beradaptasi secara langsung dengan kondisi dan situasi industri, dan menguasai kemampuan manajerial dan mampu menghasilkan produk jadi yang mempunyai standar mutu industri. Pendidikan Sistem Ganda yang diselenggarakan pada sekolah menengah kejuruan juga merupakan salah satu bentuk implementasi kebijakan “link and match” antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Bentuk penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda menekankan pada pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sitematik dan sinkron antara program pendidikan di sekolah dengan program keahlian yang diperoleh langsung di perusahaan. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan salah satu pendekatan dalam implementasi kurikulum yang memberikan pelayanan terhadap peserta didik agar kemampuan mereka berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimiliki. Yang perlu ditekankan dalam pembelajaran bukanlah apa yang harus peserta didik pelajari (learning what to be learned), melainkan belajar bagaimana belajar (learning how to learn). Ada dua hal penting yang tersirat dalam batasan kurikulum tersebut. Pertama, yang menjadi fokus utama dari kurikulum adalah peserta didik, dan kedua pengalaman dan kegiatan belajar.

    Sumber:
    – Disas, E. P. (2018). Link and Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan Link and Match as a Vocational Education Policy. Indonesia, Universitas Pendidikan Barat, Jawa, 18(2), 231–242.
    – Hadam, Sampun, dkk. 2017. Strategi Implementasi Revitalisasi SMK (10 Langkah Revitalisasi SMK). Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
    – Hidayat, Dadang. 2011. Model Pembelajaran Teaching Factory untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa Dalam Mata Pelajaran Produktif. Jurnal Ilmu Pendidikan, Jilid 17, Nomor 4, hlm. 270-278. Universitas Pendidikan Indonesia
    – Jubaedah, Yoyoh, dkk. Model Link And Match dengan Pendekatan Competency Based Training pada Pembelajaran Tata Graha di Sekolah Menengah Kejuruan. ISSN 1412-565 X. Universitas Pendidikan Indonesia.
    – Soediyarto. (1993). Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional yang Terkait (Link) dan Sepadan (Match) dengan Tuntutan Perkembangan Masyarakat.
    – Soesilowati, E. S. (2009). Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri Dalam Meningkatkan Daya Saing Tenaga Kerja dan Industri. Jakarta: LIPI Press
    – Sumarno. (1995). Peran Serta Masyarakat dalam Implementasi Kebijaksanaan Link and Match Pendidikan dan Pembangunan Nasional. Dinamika Pendidikan, 2.
    – Suparno, Erman. (2008). Kompetensi, Jabatan Penghubung Dunia Pendidikan dan Industri. Terdapat di [On line] http://www.Edubenchmark.com/
    – Tarmudji. Implementasi Kebijakan Pendidikan System Ganda Berbasis Teaching Factory Dalam Meningkatkan Daya Serap Siswa. 1-23
    – Wayong, A. (2010). Relevansi Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada Sekolah Kejuruan dengan Kebutuhan Dunia Kerja. Prosiding APTEKINDO, 6(1), 379–384.

  18. 0501519002
    Jawaban soal nomor 1
    Konsep link and match sebelumnya sudah dikenal konsep relevansi. Dalam dunia pendidikan dirasakan kurang ada relevansi antara layanan yang disediakan oleh pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Munculnya konsep link and match, menunjukkan adanya perubahan dan pergeseran, rising demand (tuntutan yang berkembang) dari masyarakat terhadap jumlah,mutu, jenis, dan kualifikasi kegiatan penelitian dan pengembangan. Kebijakan link and match dianggap sebagai penggalian kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja pada masa yang akan datang yang diharapkan paradigma orientasi pendidikan tidak lagi supply minded tapi menjadi lebih demand minded (kebutuhan pasar). Kebijakan link and match terbagi menjadi dua sasaran yaitu pada tingkat sekolah menengah dan pada tingkat perguruan tinggi. (Indar, 2014). Link & Match serta Dual System bukanlah hal yang asing di dunia pendidikan teknologi dan kejuruan di Indonesia. Link & Match meningkatkan relevansi antara kompetensi lulusan yang dihasilkan dengan kompetensi yang dibutuhkan pasar. Dual system menjadi salah satu upaya dalam mewujudkan Link & Match secara maksimal. Konsep Link & Match serta Dual System yang diterapkan di berbagai negara industri di dunia terbukti mampu memberikan dampak positif terhadap lulusan yang dihasilkan. Kendatipun demikian dua konsep tersebut belum mampu dilaksanakan seutuhnya di Indonesia. Gagasan yang penulis tawarkan berisi kebijakan-kebijakan strategis yang akan mengoptimalisasikan manfaat dari penerapan link & match pada dunia SMK. Hubungan kemitraan ini memerlukan UU ataupun Perpu untuk memastikan hubungan kemitraan tersebut dapat terwujud dengan semestinya
    Perubahan, pergeseran, dan pertambahan tuntutan merupakan akibat langsung dari perkembangan dan pemekaran pengalaman manusia, khususnya dalam era teknologi informasi modern. Kebutuhan hidup, permasalahan, dan dinamika masyarakat yang makin berkembang menyebabkan kebutuhan akan pelayanan kesejahteraan sosial juga berubah dan berkembang. Link and match juga dibutuhkan sebagai upaya menjembatani kebutuhan program layanan unit teknis pelaksana pelayanan dengan penyedia program layanan kesejahteraan sosial. Sinergitas di dalam lembaga penelitian dan pengembangan itu sendiri juga dibutuhkan terutama dalam rangka perencanaan kebutuhan model pelayanan kesejahteraan sosial yang factual dan actual serta penyediaan sumber daya manusia dalam mewujudkan hasil penelitian yang tepat sasaran dan bermanfaat.

    Sumber :
    Indar. (2014). Perencanaan Pendidikan Strategi dan Implementasinya. Surabaya: Karya Aditama.

    Jubaedah, Y., Rohaeni, N., & Tati. (n.d.). Model Link and Match dengan Pendekatan Competency Based Training pada Pembelajaran Tata Graha di Sekolah Menengah Kejuruan.

    Soediyarto (1993). Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional yang Terkait (Link) dan Sepadan (match) dengan tuntutan perkembangan masyarakat

    Suyanto. (2008b). Peranan SMK kelompok teknologi terhadap pertumbuhan industri manufaktur. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktort Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

    https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjn6sGWw97kAhWXF3IKHTDkAv8QFjADegQIARAB&url=https%3A%2F%2Fwww.researchgate.net%2Fpublication%2F331889664_Konsep_Optimalisasi_Link_Match_sebagai_Upaya_Meningkatkan_Kompetensi_Lulusan_Sekolah_Menengah_Kejuruan_SMK_dalam_Menghadapi_Persaingan_Tenaga_Kerja_Masyarakat_Ekonomi_Asean_MEA&usg=AOvVaw1nznr1j26zi9GsnNeAibrg

    https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=5&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjn6sGWw97kAhWXF3IKHTDkAv8QFjAEegQIABAB&url=http%3A%2F%2Fkabar-pendidikan.blogspot.com%2F2011%2F04%2Fkonsep-link-and-match-dalam-pendidikan.html&usg=AOvVaw1hA88kzJdfaNiteU0PggSo

    Abdullah, Amin M. 1996. Perspektif “Link and Match” Lembaga Pendidikan Tinggi Tenaga Kependidikan Agama Islam (Rekonstruksi atas Tinjauan Metodologi Pembudayaan Nilai-nilai Keagamaan). JPI. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UII.

    Sukmadinata, N.S. (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

    Slamet PH. (2013). Pengembangan SMK model untuk masa depan. Cakrawala Pendidikan, Februari 2013: 14.

    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017.Strategi Implementasi Revitalisasi SMK (10 Langkah Revitalisasi SMK).Jakarta

  19. 0501519009
    2. Alasan terkait pengangguran terbanyak didominasi oleh lulusan SMK karena keahlian lulusan SMK belum tentu match dengan kebutuhan perusahaan sehingga lulusan terpaksa menunggu lama, akibatnya semakin banyak pengangguran
    Penerapan konsep link and match di sekolah kejuruan yang sudah terlaksana adalah
    1. Penerapan program praktik kerja industri. Praktik kerja industri memberi manfaat kepada siswa agar mengetahui kondisi dunia kerja , siswa dapat langsung praktik ke dunia kerja mengenai pelajaran yang sudah diberikan di sekolah
    2. Teaching factory. Teaching factory merupakan model pembelajaran di SMK berbasis produksi/jasa yang mengacu pada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri. Pelaksanaan Teaching Factory menuntut keterlibatan mutlak pihak industri sebagai pihak yang relevan menilai kualitas hasil pendidikan di SMK.
    3. Kurikulum berbasis kompetensi. dalah suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan kompetensi tugas-tugas dengan standar performasi tertentu sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tersebut. Dengan demikian penerapan kurikulum dapat menumbuhkan tanggung jawab, dan partisipasi peserta didik untuk belajar menilai dan mempengaruhi kebijakan umum, serta memberanikan diri berperan dalam berbagai kegiatan di sekolah maupun masyarakat.
    Pada kenyataannya pengangguran masih banyak dihasilkan oleh lulusan siswa SMK, jadi perlu adanya evaluasi terhadap penerapan konsep link and match yang telah dilakukan

    Sumber:
    Sukardi, Th., dan Hargiyarto, P. Peran Bursa Krja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan SMK dalam Rangka Terwujudnya Link and Mattch antara Sekolah dengan Dunia Industri. Pendidikan Teknik Mesin FT UNY.

    Suparno, Erman. (2008). Kompetensi, Jabatan Penghubung Dunia Pendidikan dan Industri. Terdapat di [On line] http://www.Edubenchmark.com/

    Woyong, A. (2010). Relevansi Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada Sekolah Kejuruan dengan Kebutuhan Dunia Kerja. Prosiding APTEKINDO

    Basuki, E. dan Prasadja, W. 2010. Pengaruh Pendidikan Sistem Ganda (PSG) terhadap Daya Adaptif Kerja Siswa SMK.

    Disas, E.P. 2018. Link and Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Jurnal Penelitian Pendidikan

    Soesilowati, E. S. (2009). Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Meningkatkan Daya Saing Tenaga Kerja dan Industri. Jakarta: LIPI Press, Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

    Sumarno. (1995). Peran Serta Masyarakat dalam Implementasi Kebijakan Link and Match Pendidikan dan Pembangunan Nasional. Dinamika Pendidikan No. 2 Tahun II.

    Soediyarto (1993). Strategi Pengembangan Pendidikan Nasionall yang Terkait (Link) dan Sepadan (Match) dengan Tuntutan Perkembangan Masyarakat.

    Jubaedah, Y., Rohaeni, N., dan Tati. Model Kink and Match dengan pendekatan Competency Based Training pada Pembelajaran Tata Graha ddi Sekolah Menengah Kejuruan.

    Hadam, Sampun, dkk. 2017. Strategi Implementasi Revitalisasi SMK (10 Langkah Revitalisasi SMK). Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

  20. 0501519002
    Jawaban soal no.2
    Wardiman Djojonegoro (1998: 61-62) menyatakan bahwa prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam penerapan wawasan mutu sesuai dengan kebijakan link and match, antara lain adalah:
    (a) Ukuran yang dipakai untuk mengukur tingkat kemampuan tamatan SMK, adalah ukuran dunia kerja. Dalam proses evaluasi hasil belajar SMK perlu dilengkapi dengan hasil uji kompetensi, yaitu proses pengujian oleh pihak dunia kerja dengan memakai ukuran dunia kerja,
    (b) Tingkat produktivitas dan kualitas hasil kerja seseorang, sangat kuat dipengaruhi oleh cara kerja, teknologi yang digunakan dan sikap kerja pekerja tersebut. Karena itu, SMK dituntut mentransfer cara kerja yang benar, melatihkan penguasaan iptek, serta membentuk sikap melalui proses pembiasaan kerja yang benar,
    (c) Guna mendapatkan standar mutu hasil yang sesuai dengan ukuran dunia kerja, diperlukan proses yang sesuai dengan cara kerja industri. Sehingga untuk mendapatkan mutu tamatan SMK yang baik, diperlukan keikutsertaan dan kerjasama dengan dunia kerja, mulai dari penyusunan program, pelaksanaan, dan evaluasi hasilnya.
    Implementasi program pendidikan dan pelatihan harus berfokus pada pendayagunaan potensi sumber daya lokal, sambil mengoptimalkan kerjasama secara intensif dengan institusi pasangan

    Ada beberapa perubahan paradigma dan dimensi pembaharuan yang diturunkan dari kebijakan link and match, (Sidi, 2001) yaitu :
    a. Perubahan dari pendekatan Supply Driven ke Demand Driven
    Dengan deman driven ini mengharapkan dunia usaha dan dunia industri atau dunia kerja lebih
    berperan di dalam menentukan, mendorong dan menggerakkan pendidikan kejuruan, karena
    mereka adalah pihak yang lebih berkepentingan dari sudut kebutuhan tenaga kerja. Dalam
    pelaksanaannya, dunia kerja ikut berperan serta karena proses pendidikan itu sendiri lebih dominan dalam menentukan kualitas tamatannya, serta dalam evaluasi hasil pendidikan itupun dunia kerja ikut menentukan supaya hasil pendidikan kejuruan itu terjamin dan terukur dengan ukuran dunia kerja. Sebagai salah satu bentuk penerapan prinsip demand driven, maka dalam pengembangan
    kurikulum SMK harus melakukan sinkronisasi kurikulum yng direalisasikan dalam program Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Dengan melakukan sinkronisasi kurikulum, penyelengaraan
    pembelajaran di SMK diupayakan sedekat mungkin dengan kebutuhan dan kondisi dunia
    kerja/industri, serta memiliki relevansi dan fleksibilitas tinggi dengan tuntutan lapangan. Melalui
    sinkronisasi kurikulum ini, diharapkan sekolah dapat membaca keahlian dan performansi apa yang
    dibutuhkan dunia usaha atau industri untuk dapat dimasuki oleh lulusan SMK.
    b. Perubahan dari pendidikan berbasis sekolah (School Based Program) ke sistem berbasis ganda
    (Dual Based Program)
    Perubahan dari pendidikan berbasis sekolah, ke pendidikan berbasis ganda sesuai dengan
    kebijakan link and match, mengharapkan supaya program pendidikan kejuruan itu dilaksanakan di
    dua tempat. Sebagian program pendidikan dilaksanakan di sekolah, yaitu teori dan praktek dasar
    kejuruan, dan sebagian lainnya dilaksanakan di dunia kerja, yaitu keterampilan produktif yang
    diperoleh melalui prinsip learning by doing. Pendidikan yang dilakukan melalui proses bekerja di
    dunia kerja akan memberikan pengetahuan keterampilan dan nilai-nilai dunia kerja yang tidak
    mungkin atau sulit didapat di sekolah, antara lain pembentukan wawasan mutu, wawasan
    keunggulan, wawasan pasar, wawasan nilai tambah, dan pembentukan etos kerja.
    c. Perubahan dari model pengajaran yang mengajarkan mata-mata pelajaran ke model pengajaran
    berbasis kompetensi. Perubahan ke model pengajaran ke berbasis kompetensi, bermaksud menuntun proses pengajaran secara langsung berorientasi pada kompetensi atau satuan-satuan kemampuan.
    Pengajaran berbasis kompetensi ini sekaligus memerlukan perubahan kemasan kurikulum kejuruan ke dalam kemasan berbentuk paket-paket kompetensi.
    d. Perubahan dari program dasar yang sempit (Narrow Based) ke program dasar yang mendasar,
    kuat dan luas (Broad Based) Kebijakan link and match menuntut adanya pembaharuan, mengarah kepada pembentukan dasar yang mendasar, kuat dan lebih luas.
    e. Perubahan dari sistem pendidikan formal yang kaku, ke sistem yang luwes dan menganut prinsip
    multy entry, multy exit. Dengan adanya perubahan dari supply driven ke demand driven, dari schools based program ke dual based program, dari model pengajaran mata pelajaran ke program berbasis kompetensi; diperlukan adanya keluwesan yang memungkinkan pelaksanaan praktek kerja industri dan pelaksanaan prinsip multy entry multy exit. Prinsip ini memungkinkan peserta didik SMK yang telah memiliki sejumlah satuan kemampuan tertentu (karena program pengajarannya berbasis
    kompetensi), mendapatkan kesempatan kerja di dunia kerja, maka peserta didik tersebut
    dimungkinkan meninggalkan sekolah. Dan kalau peserta didik tersebut ingin masuk sekolah
    kembali menyelesaikan program SMK nya, maka sekolah harus membuka diri menerimanya, dan
    bahkan menghargai dan mengakui keahlian yang diperoleh peserta didik yang bersangkutan dari
    pengalaman kerjanya.
    f. Perubahan dari sistem yang tidak mengakui keahlian yang telah diperoleh sebelumnya, ke sistem
    yang mengakui keahlian yang diperoleh dari mana dan dengan cara apapun kompetensi itu
    diperoleh (Recognition of prior learning)
    Sistem baru pendidikan kejuruan harus mampu memberikan pengakuan dan penghargaan
    terhadap kompetensi yang dimiliki oleh seseorang. Sistem ini akan memotivasi banyak orang yang
    sudah memiliki kompetensi tertentu, misalnya dari pengalaman kerja, berusaha mendapatkan
    pengakuan sebagai bekal untuk pendidikan dan pelatihan berkelanjutan. Untuk ini SMK perlu
    menyiapkan diri sehingga memiliki instrument dan kemampuan menguji kompetensi seseorang
    darimana dan dengan cara apapun kompetensi itu didapatkan.
    g. Perubahan dari pemisahan antara pendidikan dengan pelatihan kejuruan, ke sistem baru yang
    mengintegrasikan pendidikan dan pelatihan kejuruan secara terpadu.
    h. Perubahan dari sistem terminal ke sistem berkelanjutan. Sistem baru tetap mengharapkan dan mengutamakan tamatan SMK langsung bekerja, agar segera menjadi tenaga produktif, dapat memberi return atas investasi SMK. Sistem baru juga mengakui banyak tamatan SMK yang potensial, dan potensi keahlian kejuruannya akan lebih berkembang lagi setelah bekerja. Terhadap mereka ini diberi peluang untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (misalnya program Diploma), melalui suatu proses artikulasi yang mengakui dan menghargai kompetensi yang diperoleh dari SMK dan dari pengalaman kerja sebelumnya.
    i. Perubahan dari manajemen terpusat ke pola manajemen mandiri (prinsip desentralisasi).
    Pola baru manajemen mandiri dimaksudkan memberi peluang kepada propinsi dan bahkan
    sekolah untuk menentukan kebijakan operasional, asal tetap mengacu kepada kebijakan nasional.
    Kebijakan nasioanl dibatasi pada hal-hal yang bersifat strategis, supaya memberi peluang bagi
    para pelaksana di lapangan berimprovisasi dan melakukan inovasi.
    j. Perubahan dari ketergantungan sepenuhnya dari pembiayaan pemerintah pusat, ke swadana
    dengan subsidi pemerintah pusat. Sejalan dengan prinsip demand driven, dual based program, pendewasaan manajemen sekolah, dan pengembangan unit produksi sekolah, sistem baru diharapkan dapat mendorong pertumbuhan swadana pada SMK, dan posisi lokasi dana dari pemerintah pusat bersifat membantu atau subsidi. Sistem ini juga diharapkan mampu mendorong SMK berpikir dan berperilaku ekonomis.

    Menurut Tilaar dalam Penelitian Listiana (2012: 12 – 13), langkah – langkah yang
    dapat dilakukan untuk melaksanakan prinsip link and match, sebagai berikut:
    1) Pengembangan Kurikulum Pendidikan
    Kurikulum pendidikan harus disusun dengan mempertimbangkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di masyarakat, artinya lembaga pendidikan dituntut untuk mendekatkan diri dengan dunia industri guna mengadakan pengembangan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
    2) Peningkatan Sarana dan Prasarana
    Sarana dan prasarana yang memadai sangat diperlukan untuk mendukung pelaksanaan penelitian di bidang industri dan praktik – praktik lainnya, dengan begitu upaya meningkatkan relevansi program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dapat terwujud sehingga dalam melaksanakan kebijakan link and match akan lebih mudah.
    3) Meningkatkan Kualitas Tenaga Pengajar
    Tenaga pengajar harus dapat bersaing dengan tenaga – tenaga yang ada di dunia kerja. Selain itu, perlu adanya fleksibilitas tenaga pengajar yang sewaktu-waktu dapat ditugaskan bekerja di bidang industri dan sebaliknya tenaga industri diberikan kesempatan untuk mengabdi di dunia pendidikan dalam waktu tertentu.
    4) Perbaikan Program Pendidikan
    Program yang dimaksudkan adalah program yang mengarah pada kebutuhan masyarakat dengan tujuan terciptanya relevansi antara program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan adanya relevansi program pendidikan diharapkan kebijakan link and match dapat dilaksanakan dengan baik.

    Sumber :
    Edi Basuki / Wahyu Prasadja. 2010. Pengaruh Pendidikan Sistem Ganda ( PSG ) Terhadap
    Daya Adaptif Kerja Siswa SMK.

    Sidi, I. Djati. 2001. Menuju Masyarakat Belajar, Menggagas Paradigma Baru Pendidikan.
    Paramadina: Jakarta.

    Husaini Usman & Nuryadin Eko Raharjo. 2013. “Strategi kepemimpinan pembelajaran menyongsong implementasi kurikulum 2013. Cakrawala Pendidikan. Februari 2013, Th. XXXII, No. 1, 1-15.

    Listiana. 2012. Analisis Pelaksanaan Program Sistem Ganda (PSG) dalam Mempersiapkan Siswa

    Wardiman Djojonegoro. (1998). Pengembangan sumber daya manusia melalui sekolah menengah kejuruan (SMK). Jakarta: PT Jayakarta Agung Offset.

    Sampoerna Foundation. Link-Match Pendidikan dan Kebutuhan Sektor Bisnis : 1st Public-Private Partnership Discussion Series. (http://www.sampoernafoundation.org/content/ view/ 882/342/lang,id/, diakses 30 Januari 2009).

    https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=9&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjn6sGWw97kAhWXF3IKHTDkAv8QFjAIegQICBAB&url=https%3A%2F%2Fid.scribd.com%2Fdoc%2F61749186%2FLink-and-Match&usg=AOvVaw08ObaFdrN2OQ3aC5vRfmtr

    Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional. 1996. Konsep Pendidikan Sistem Ganda Pada Sekolah
    Menengah Kejuruan di Indonesia. Jakarta : Depdikbud

    https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwic0ZaB297kAhXp7XMBHXB_AK8QFjAAegQIABAC&url=http%3A%2F%2Fejournal.upi.edu%2Findex.php%2FJER%2Farticle%2Fdownload%2F12965%2F7676&usg=AOvVaw3LWlVsUmc9LTQ5-LcW-ICQ

    https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwic0ZaB297kAhXp7XMBHXB_AK8QFjABegQIBBAC&url=http%3A%2F%2Fjurnal.fkip.uns.ac.id%2Findex.php%2Fptn%2Farticle%2Fdownload%2F12143%2F8653&usg=AOvVaw2SgrdPC5zSOH4QfljFRnv5

  21. NIM : 0501519006

    2. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menerapkan link and match menurut Tilaar diantaranya 1) pengembangan kurikulum pendidikan; 2) peningkatan sarana dan prasaran; 3) meningkatkan kualitas tenaga pengajar; dan 4) perbaikan program pendidikan. Untuk menciptakan SMK yang berkualitas, diperlukan implementasi link and match antara sekolah dengan industry secara bertahap dan berkesinambungan dalam bentuk kerjasama riset atau penelitian maupun pemagangan. Beberapa pihak yang terkait untuk mewujudkan program link and match antara lain pendidikan kejuruan, dunia industry, dan pemerintah. Dalam rangka meningkatkan relevansi antara kurikulum di sekolah dan kebutuhan dunia kerja, maka pemerintah menetapkan kebijakan link and match melalui penyelenggaraan pendidikan system ganda (PSG). Konsep Link and Match serta Dual System yang diterapkan di berbagai negara industri di dunia terbukti mampu memberikan dampak positif terhadap lulusan yang dihasilkan. Kendatipun demikian dua konsep tersebut belum mampu dilaksanakan seutuhnya di Indonesia. Hubungan kemitraan ini memerlukan UU atau pun Perpu untuk memastikan hubungan kemitraan tersebut dapat terwujud dengan semestinya. Penerapan link and match diantaranya program kerja sama dengan Dunia Usaha/Industri, pengembangan kelas industri, pelaksanaan guru magang (OJT), dan prakerin..
    1. Kerjasama dengan dunia usaha/ industry
    Pelaksanaan kerjasama SMK dengan dunia usaha/industri yang baik dan saling menguntungkan sangat penting untuk menunjang tercapainya program sekolah. Pengembangan sekolah akan lebih optimal bila kerjasama dengan instansi terkait dunia usaha/industri yang relevan dengan kompetensi keahlian tertuang dalam kesepahaman perjanjian kerjasama. Pelaksanaan kerjasama dengan dunia usaha/industri antara lain dapat berupa: 1) Validasi isi, agar materi kegiatan pembelajaran yang tercakup dalam struktur dalam kurikulum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja; 2) Kunjungan industri (KI), dilakukan untuk memberikan wawasan mengenai dunia kerja yang akan dihadapi oleh peserta didik sebelum mengikuti program prakerin; dan 3) Guru tamu, bertujuan untuk memberikan gambaran tentang profil perusahaan, membantu menerapkan proses pembelajaran di sekolah agar sesuai dengan kebutuhan industri dan memberikan materi pembelajaran langsung kepada peserta didik.
    2. Pengembangan kelas industry
    Dengan kelas industri peserta didik dapat menguasai sepenuhnya aspek-aspek kompetensi yang dituntut kurikulum, disamping itu mengenal lebih dini dunia industri yang menjadi bidang keahliannya yang kelak dapat dijadikan bekal untuk bekerja setelah menamatkan pendidikannya. Peserta didik melalui kelas industri mendapatkan pengalaman kerja untuk masa peralihan dari sekolah ke lingkungan kerja, memahami dunia kerja dan memilih pekerjaan yang tepat.
    3. Pelaksanaan guru magang
    Pelaksanaan guru magang menjadi salah satu jalan bagi guru untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Guru lain yang memiliki keahlian memberi pengetahuannya kepada rekan sesame guru, sehingga proses pelaksanaan guru magang dapat terjadi seiring dengan proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah.
    4. Prakerin
    Praktek kerja industri yang disingkat dengan “prakerin” merupakan bagian dari program pembelajaran yang harus ditempuh oleh setiap peserta didik di dunia kerja. Peserta didik dapat menguasai sepenuhnya aspek-aspek kompetensi yang dituntut kurikulum serta mengenal lebih dini dunia kerja yang menjadi dunianya kelak setelah menamatkan pendidikannya. Dalam Prakerin, hubungan kerjasama dimulai sejak persiapan baik dari segi administratif, teknis, mental psikologis, dan persiapan materi. Tahap persiapan biasanya dilakukan pembekalan baik pembekalan dalam proses pembelajaran maupun pembekalan etos kerja pada saat terjun di industri, hingga pelaksanaan evaluasi. Tujuan pengorganisasian Prakerin ini sebagai upaya untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada di sekolah dan di institusi mitra (Dunia Usaha/Dunia industri).
    Sumber :
    Tarmudji. Implementasi Kebijakan Pendidikan System Ganda Berbasis Teaching Factory Dalam Meningkatkan Daya Serap Siswa. 1-23
    Cahyati, S, D., M, Indriayu., dan Sudarno. 2018. Implementasi Program Link and Match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri pada Lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta. 4(1): 1-22
    Al Hakim, V, G. 2016. Konsep Optimalisasi Link & Match sebagai Upaya Meningkatkan Kompetensi Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam Menghadapi Persaingan Tenaga Kerja Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
    Hadam, S., Rahayu, N., dan Ariyadi, A. N. 2017. Strategi implementasi revitalisasi SMK. Jakarta: Direktorat pembinaan sekolah kejuruan
    Darmono., H, Usman., dan B, Sugestiyadi. 2014. Model Implementasi Praktik Kerja Industri Siswa Smk Program Keahlian Teknik Bangunan di Jawa Tengah Dan D.I. Yogyakarta. Universitas Negeri Yogyakarta. 1-19
    Endang S Soesilowati. 2009. Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Meningkatkan Daya Saing Tenaga Kerja dan Industri. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
    Jubaedah, Y., Rohaeni, N., & Tati. (n.d.). Model Link and Match dengan Pendekatan Competency Based Training pada Pembelajaran Tata Graha di Sekolah Menengah Kejuruan
    Kementrian Pendidikan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2008. Pengembangan Program Prakerin. Jakarta.
    Sukardi, T., & Hargiyanto, P. (n.d.). Peran Bursa Kerja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan SMK dalam Rangka Terwujudnya Link and Match antara Sekolah dengan Dunia Industri.
    Putranto, I. 2017. Pengembangan Model Kerjasama Link and Match Untuk Meningkatkan Kesiapan Kerja bagi Lulusan SMK Kompetensi Keahlian Akuntansi di Kota Semarang. Jurnal Mandiri: Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Tekhnologi. 1(1): 69-83

  22. 0501519005
    2. Penerapan konsep link and match di sekolah kejuruan . kebijakan link and match dianggap sebagai penggalian kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja pada masa yang akan datang yang diharapkan paradigm orientasi pendidikan tidak lagi supply minded tapi menjadi lebih demand minded (kebutuhan pasar). Kebijakan link and match diharapkan dapat menekan jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi dan sekolah menengah yang dari ke hari makin bertambah.. dalam implementasinyatahun 2016 kementrian Perindustrian berkomitmen membangun kompetensi sumber daya manusia (SDM). Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini sekaligus untuk mendorong pertumbuhan industry nasional yang berkeanjutan. Wujud komitmen ini ditunjukkan melalui penandatangan bersama Nota Kesepahaman (MoU) limamenteri tentang pengembangan pendidikan kejuruan dan vokasi berbasis Kompetensi yang Link and Match dengan Industri. Selain itu juga implementasi arahan Presiden Joko Widodo pada rapat terbatas tentang pendidikan dan pelatiahan vokasi. Dalam menghadapi era indutri 4.0 yang melibatkan unsur digital dalam setiap rantai nilai proses manufakturnya, para lulusan nantinya akan bekerja dituntun untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Oleh karena itu menurut Airlangga industry juga diharapkan perannya untuk memberikan masukan terhadap kurikulum pendidikan sesuai dengan perkembangan teknologi serta menyedikan fasilitas praktik dan pemagangan bagi siswa/ mahasiswa dan guru/dosen sehingga baik bagi pendidik dan peserta didik.

    Sumber dari :
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017.Strategi Implementasi Revitalisasi SMK (10 Langkah Revitalisasi SMK).Jakarta
    Indar. (2014). Perencanaan Pendidikan Strategi dan Implementasinya. Surabaya: Karya Aditama
    Suherlan, M. (2017). Link and Match Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial. Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial, 12(2), 117–124. https://doi.org/10.31105/jpks.v12i2.647
    Endang S Soesilowati. 2009. Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Meningkatkan Daya Saing Tenaga Kerja dan Industri. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
    Soeprijanto. 2010. Daya Dukung Dunia Industri terhadap Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN). Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 16 (3), 275 – 284.
    Djojonegoro, Wardiman. 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia melalui Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas.
    Sukardi, T., & Hargiyanto, P. (n.d.). Peran Bursa Kerja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan SMK dalam Rangka Terwujudnya Link and Match antara Sekolah dengan Dunia Industri.
    Abdullah, Amin M. 1996. Perspektif “Link and Match” Lembaga Pendidikan Tinggi Tenaga Kependidikan Agama Islam (Rekonstruksi atas Tinjauan Metodologi Pembudayaan Nilai-nilai Keagamaan). JPI. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UII.
    Pakpahan, J. (2002). Perkembangan Pendidikan Menengah Kejuruan Pada Pelita VI. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
    Prosser, Charles. 1950. Vocational Education in a Democracy. Chicago American
    Technical Society

  23. 0501519007

    Jawaban Soal No. 03
    “Masalah yang dihadapi sekolah kejuruan terkait dengan link and match, salah satunya kurikulum pendidikan yang digunakan belum mengakomodir kebutuhan kompetensi di industri dan masih bersifat broadbased, sementara industri membutuhkan kompetensi yang lebih spesialis,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto. Dalam lingkup link and match telah dilokalisir beberapa masalah, yaitu kurang/tidak adanya kerjasama yang efektif diantara dunia pendidikan tinggi, pemerintah, dan industri menyangkut bebrapa aspek terutama penyusunan kurikulum termasuk magang, pemberdayaan dunia pendidikan tinggi, (infrastruktur. SDM. Dan riset) tidak adanya road map informasi peta tenaga kerja industri (Eka, 2018:239)
    Kondisi Ideal Sekolah Pendidikan Kejuruan dapat diperhatikan melalui PP. RI No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (sekarang telah diganti dengan PP. No. 32 tahun 2013). Dan peraturan-peraturan Menteri Pendidikan Nasional yang menjabarkan PP. No. 19 tersebut /PP. No. 32 tahun 2013 antara lain;
    1) Permendiknas no. 67/68/69/70 tahun 2013 tentang Standar Isi
    2) Permendiknas no. 65 tahun 2013 tentang Standar Proses
    3) Permendiknas no. 54 tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan
    4) Permendiknas no. 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan
    5) Permendiknas no. 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan
    6) Permendiknas no. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru
    7) Permendiknas no. 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana Prasarana
    8) Permendiknas no. 7 tahun 2006 tentang honorarium Guru Bantu
    Kondisi kelas bisa dikatakan ideal apabila tampilan dan kegiatan yang ada di dalamnya bisa memenuhi standar sebagaimana yang terumuskan dalam PP dan Permendiknas tersebut, setidaknya mendekati dalam implementasi peraturan-peraturan tersebut.

    Ada delapan standar yang harus di penuhi suatu kelas/sekolah untuk mencapai kondisi ideal sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku. Guru memiliki peran yang dominan dan strategis dalam menciptakan kondisi ideal tersebut, setidaknya guru memiliki 8 standar yaitu:
    1. Standar Isi
    2. Standar Proses
    3. Standar Pengelolaan
    4. Standar Kompetensi Lulusan
    5. Standar Tenaga Pendidik
    6. Standar Evaluasi
    7. Standar Sarana Prasarana
    8. Standar Biaya
    Guru berperan, ikut mengatur, memanfaatkan dan mengendalikan pemenuhan standar no. 1 s.d 7. Untuk standar ke 8 (Standar Biaya) lazimnya diatur oleh pimpinan bersama Komite Sekolah dan Dinas terkait. Sekolah Menengah Kejuruan sebaiknya selalu dinamis dalam mengembangkan program pendidikan, hal ini sebagai upaya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dengan mengikuti perkembangan IPTEK. Sekolah Menengah Kejuruan harus memiliki sarana dan prasana yang mendukung tujuan tersebut dengan menyiapkan laboratorium, bengkel atau tempat praktek sesuai program pendidikan masing-masing secara nyata sehingga siswa dapat berlatih secara teori dan praktek hal ini merupakan pengalaman berharga sebelum memasuki dunia kerja serta akan meningkatkan mutu output dari institusi pendidikan kejuruan.
    Kondisi nyata di SMK Tidak sedikit lulusan SMK yang menjadi pengangguran, karena tidak memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Kesenjangan ini sejalan dengan pendapat yang diungkapkan Suparno (2008:1), bahwa: “Kompetensi para pencari kerja belum Link and Match dengan industri”. Lapangan kerja bagi lulusan SMK sebenarnya cukup banyak peluang yang dapat dimanfaatkan, apabila sekolah mampu mengakomodasi kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja. Tidak sedikit SMK yang masih belum link and match dengan dunia kerja di dalam memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik, baik dari pemilihan bahan ajar, sumber belajar, kegiatan maupun peralatan praktikum yang digunakan. Sarana dan prasarana pendidikan di Indonesia belum memadai, fasilitas belajar dan peralatan laboratorium banyak yang rusak/tidak layak dan tidak sesuai lagi dengan peralatan yang ada di dunia kerja. Kompetensi dan profesionalisme guru yang kurang memadai, sehingga pembelajaran tidak bisa berjalan secara efektif.

    Sumber :
    Prihatin, Eka. 2018. Link and Match Pendidikan Kejuruan. Universitas Pendidikan Indonesia. Jurnal Penelitian Pendidikan. Hal. 239
    Suparno, Erman. (2008). Kompetensi, Jabatan Penghubung Dunia Pendidikan dan Industri. Terdapat di [On line] h t t p : / /www.Ed u b e n c hma r k . c om/
    Usman, Husaini. 2016. Pendidikan Kejuruan Masa Depan. Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Hal. 49 -61
    Wardiman Djojonegoro. (1998). Pengembangan sumber daya manusia melalui sekolah menengah kejuruan (SMK). Jakarta: PT Jayakarta Agung Offset.
    http://www.SMKn10-mlg.sch.id/berita-137-pengaruh-pendidikan-sistem-ganda-terhadap-daya-kreatifkerja-siswa-SMK.htm
    Prosser, Charles. 1950. Vocational Education in a Democracy. Chicago American Technical Society
    Suherlan, Mumu. 2013. Link and Match Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial. Jurnal PKS Vol 12 No 2 Juni 2013; 117 – 124
    Suko Wijono. (2016). Pendidikan belum penuhi tuntutan dunia kerja. Suara Pembaruan. 9 Desember: 2.
    Prihatin, Eka. 2018. Link and Match Pendidikan Kejuruan. Jurnal Penelitian Pendidikan
    Tajuk rencana kebijakan pendidikan vokasi. Kompas, 18 Oktober 2016: 6.
    http://www.voaindonesia.com/a/kerjasama-pendidikan-dan-ekonomi-fokus-kunjungan-jokowi-ke-jerman/3291766.html

  24. 05015190001
    3. Studi kasus Link and Match di SMK Negeri 2 Kudus
    a. Kondisi Ideal pelaksanaan Link and Match
    1) Pengembangan Kurikulum Pendidikan
    Kurikulum pendidikan harus disusun dengan mempertimbangkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di masyarakat, artinya lembaga pendidikan dituntut untuk mendekatkan diri dengan dunia industri guna mengadakan pengembangan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
    2) Peningkatan Sarana dan Prasarana
    Sarana dan prasarana yang memadai sangat diperlukan untuk mendukung pelaksanaan penelitian di bidang industri dan praktik – praktik lainnya, dengan begitu upaya meningkatkan relevansi program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dapat terwujud sehingga dalam melaksanakan kebijakan link and match akan lebih mudah.
    3) Meningkatkan Kualitas Tenaga Pengajar
    Tenaga pengajar harus dapat bersaing dengan tenaga – tenaga yang ada di dunia kerja. Selain itu, perlu adanya fleksibilitas tenaga pengajar yang sewaktu-waktu dapat ditugaskan bekerja di bidang industri dan sebaliknya tenaga industri diberikan kesempatan untuk mengabdi di dunia pendidikan dalam waktu tertentu.
    4) Perbaikan Program Pendidikan
    Program yang dimaksudkan adalah program yang mengarah pada kebutuhan masyarakat dengan tujuan terciptanya relevansi antara program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan adanya relevansi program pendidikan diharapkan kebijakan link and match dapat dilaksanakan dengan baik.
    5) Skema Link and Match
    Untuk menciptakan SMK yang berkualitas, diperlukan implementasi link and match antara sekolah dengan industri secara bertahap dan berkesinambungan dalam bentuk kerjasama riset/ penelitian maupun permagangan. Ada beberapa pihak yang saling terkait untuk mewujudkan program link and match ini, antara lain pendidikan kejuruan, dunia industri,dan pemerintah.
    6) Program kerja
    Program kerja yang seharusnya dilakukan oleh sekolah dan industry adalah sinkronisasi kurikulum, kunjungan industri, Guru Tamu, Prakerin, UKK, OJT guru, Sertifikasi, Bantuan peralatan praktik, Pendanaan sekolah, Beasiswa dari industri, serta Recrutment/penempatan kerja bagi tamatan.

    b. Kondisi Real pelaksaanaan Link and Match di SMK N 2 Kudus
    1) Pengembangan Kurikulum
    Pengembangan Kurikulum di SMK Negeri 2 Kudus dilaksanakan dengan berbagai kegiatan yaitu Workshop pengembangan kurikulum dan Sinkronisasi kurikulum. Workshop pengembangan kurikulum dilakukan untuk melaksanakan kegiatan review kurikulum tahun sebelumnya, penyusunan dan pengembangan perangkat pembelajaran. Sinkronisasi kurikulum dilakukan antara pihak sekolah yang terdiri dari unsur Kepala Sekolah, Waka Kurikulum, Ketua kompetensi Keahlian, dan Guru Produktif beserta unsur dari Dunia Industri (PT. Sun Star Motor, PT. Telkom dan CV. Profotex) melaksanakan bedah KIKD dan Struktur Kurikulum.
    2) Peningkatan Sarana dan Prasarana
    Peningkatan Sarana dan Prasarana dilaksanakan secara bertahap dengan alokasi sumber dana dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan partisipasi masyarakat. Peningkatan sarana dan prasarana berupa pengadaan alat praktik, ruang praktik dan ruang belajar.
    3) Peningkatan Kualitas Tenaga Pendidik
    Peningkatan kualitas tenaga pendidik dilakukan dengan cara mengirimkan guru untuk mengikuti bimbingan teknis, pelatihan, workshop dan seminar. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara mandiri maupun penugasan dari pemerintah. Pelatihan dilaksanakan di P4TK, MGMP, balai pelatihan maupun industry.
    4) Pelaksanaan Prakerin
    Pelaksanaan prakerin dlaksanakan selama 3 bulan di berbagai dunia usaha dan dunia industry. DUDI yang terlibat terdiri dari DUDI Lokal dan DUDI nasional dengan jumlah 41 DUDI.
    5) Pelaksanaan Magang Guru
    Magang dilaksanakan selama 2 minggu sampai dengan 4 minggu dengan DUDI berskala nasional. Magang guru sudah diikuti oleh semua kompetensi keahlian dengan jumlah peserta 12 guru.
    6) Kunjungan Industri
    Kunjungan industry dilaksanakan setiap tahun pada saat siswa kelas XII. Kunjungan industry dilaksanakan di industry skala nasional sesuai dengan kompetensi keahlian terkait.
    7) Guru Tamu
    Guru tamu didatangkan dari dunia industry untuk menambah wawasan baik guru maupun siswa. Guru tamu hadir satu kali dalam satu tahun pelajaran.
    8) Sertifikasi Kompetensi
    Sertifikasi kompetensi dilaksanakan baik untuk guru maupun siswa. Guru melaksanakan uji sertifikasi kompetensi melalui LSP P2 atau LSP P3, sedangkan siswa diuji sertifikasi melalui LSP P1 SMK Negeri 2 Kudus. Jumlah siswa yang sudah tersertifikasi pada 3 tahun terakhir sejumlah 800 siswa terdiri dari 3 skema uji.
    9) Rekruitmen
    Rekruitmen tenaga kerja dari DUDI dilaksankan melalui BKK (Bursa Kerja Khusus) baik melalui BKK SMK N 2 Kudus maupun BKK sekolah lain. Rekruitmen dilaksanakan mulai bulan Januari sampai bulan Agustus baik untuk siswa kelas XII maupun alumni.

    Sumber:
    Djojonegoro, Wardiman. 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia melalui Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas
    Endang S Soesilowati. 2009. Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Meningkatkan Daya Saing Tenaga Kerja dan Industri. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
    Ixtiarto, B dan Sutrisno, B. 2016. Kemitraan Sekolah Menengah Kejuruan Dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri:Kajian aspek Penhgelolaan Pada SMK Muhammadiyah 2 Wuryantoro Kabupaten Wonogiri. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 26 (1). Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta: Surakarta.
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017.Strategi Implementasi Revitalisasi SMK (10 Langkah Revitalisasi SMK).Jakarta
    ———-. 2008. Pengembangan Program Prakerin. Jakarta
    ———-. 2016. Peta Jalan Pengembangan SMK 2017-2019. Jakarta
    ———-. 2016. Revitalisasi Pendidikan Vokasi. Jakarta
    ———-. 2016. Inpres No.9 tentang Revitalisasi SMK
    Septiana Dewi Cahyanti. 2018. Implementasi Program Link and Match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri pada Lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta. Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi, Universitas Sebelas Maret: Surakarta.
    Soeprijanto. 2010. Daya Dukung Dunia Industri terhadap Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN). Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 16 (3), 275 – 284.
    Yulianto & Sutrisno, B. 2014. Pengelolaan Kerjasama Sekolah Dengan Dunia Usaha / Dunia Industri: Studi Situs Smk Negeri 2 Kendal. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 24 (1), 19 – 37.

  25. 0301519005
    3. Study kasus link and match kondisi real lulusan SMK keahlian Tata Boga dapat bersaing dengan lulusan lain karena materi yang didapatkan selama di bangku sekolah sangat mendukung dalam dunia kerja. Dalam dunia industry keahlian mereka sangat dibutuhkan baik dalam hotel, perusahaan, pabrik maupun wirausaha catering.
    Kondisi real: lulusan keahlian Tata Boga mendapat prioritas memasuki bidang – bidang pekerjaan yang sesuai dengan keahlian masing- masing. Lulusan smk tata boga juga dibekali dengan sertifikat kompetensi sesuai dengan kebutuhan industry

  26. 0501519010

    Jawaban no.3:
    Sekolah Menengah Kejuruan memiliki tujuan mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Namun banyak SMK yang dibangun sebagai upaya pengurangan angka pengangguran , justru menjadi penyumbang angka pengangguran tertinggi. Lulusan dari SMK belum bisa terserap sepenuhnya di dunia kerja. Relevansi kompetensi lulusan SMK dengan kebutuhan DUDI juga masih dirasakan kurang. Missmatch pendidikan terjadi secara vertikal yaitu antara tingkat pendidikan dan kebutuhan pekerjaan dan terjadi secara horisontal dimana terjadinya ketidakcocokan bidang studi yang dipelajari dengan pekerjaan. Contohnya Siswa SMK dari jurusan akuntansi lebih banyak bekerja di bagian Pemasaran sebagai Sales Promotion Girl dibanding bagian keuangan. Memperhatikan bidang studi yang dipelajari penting karena memungkinkan untuk menganalisis berbagai jenis keterampilan, pendidikan tidak hanya menyediakan modal manusia secara umum, namun bidang studi tertentu memberikan keterampilan spesifik pekerjaan untuk pasar kerja (Hersch, 2012; Walters, 2014). Penting untuk mengidentifikasi dampak lulusan yang tidak sesuai dengan pendidikan, bahkan banyaknya missmatch dalam pendidikan menjadikan pengangguran semakin meningkat. Ini menjadi tantangan besar yang dihadapi pemerintah Indonesia dalam upaya menciptakan tenaga kerja terampil sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja, dalam hal ini adalah DUDI yang relevansinya menyangkut dua dimensi, yaitu sekolah dan dunia kerja atau masyarakat.

  27. 0501519010

    Jawaban no.4:
    Penyebab permasalahan yang diuraikan pada jawaban nomor 3 adalah disebabkan oleh manajemen pendidikan yang kurang baik atau lulusannya yang tidak memiliki kompetensi, hal ini yang memunculkan dampak kekurangan tenaga kerja. Hal ini juga dikarenakan perusahaan menetapkan nilai standar yang cukup tinggi dalam rekrutmen pegawai. Meskipun kompetensi yang dibutuhkan perusahaan dengan kompetensi yang dimiliki siswa SMK hampir seluruhnya sama namun letak perbedaannya adalah pada standar nilai yang ditetapkan perusahaan. Kualifikasi kompetensi yang dibutuhkan oleh DUDI lebih tinggi daripada yang mampu disediakan oleh dunia pendidikan. Hal ini diakibatkan oleh perubahan dan perkembangan industri yang jauh lebih cepat dan berkembang, sementara orientasi pendidikan tidak mudah melakukan penyesuaian. Keterbatasan fasilitas praktikum yang tersedia di laboratorium, pembangunan infrastruktur penunjang aplikasi dan proses belajar yang belum mencukupi terutama dikarenakan adanya kendala dana. Kurangnya interaksi antara dunia pendidikan dan industri mengakibatkan kebutuhan perusahaan tidak dapat diakomodir oleh dinas pendidikan pada saat penyusunan kurikulum dilakukan. Kurikulum yang ada relatif kurang mengimbangi perkembangan maupun kebutuhan dunia kerja, akibatnya tenaga kerja yang dihasilkan tidak siap pakai. Lulusan SMK masih banyak yang bekerja di luar bidangnya akibat keterbatasan lahan kerja yang sesuai dengan bidangnya dan keengganan mereka untuk diberikan pekerjaan yang sama dengan lulusan SMA sebagai operator.

    Referensi :
    – Arisandi, Avida. Pengaruh Praktik Kerja Industri (Prakerin) Terhadap Kompetensi Siswa SMKN 1 Sidoarjo. https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-kajian-ptb/article/viewFile/22078/20231
    – Wachid, Nuur. POLA PEMBIMBINGAN DI TEMPAT KERJA: STUDI KASUS PELAKSANAAN PROGRAM PRAKTIK INDUSTRI DI PT JMI. Universitas Alma Ata: Jurnal Taman Vokasi Volume 3 No 2 Des 2015
    – Yoto, dkk. PARTISIPASI MASYARAKAT INDUSTRI DALAM PENYUSUNAN SINKRONISASI KURIKULUM DI SMK. Jurnal Teknik Mesin, Tahun 21, No. 1, April 2013
    – Disas, E. P. (2018). Link and Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan Link and Match as a Vocational Education Policy. Indonesia, Universitas Pendidikan Barat, Jawa, 18(2), 231–242. http://ejournal.upi.edu/index.php/JER/article/viewFile/12965/7676
    – Hidayati, Arina. Perencanaan Karir Sebagai Bentuk Investasi Pendidikan Siswa SMK (Studi Kasus Di SMK Negeri 1 Batang). Universitas Sebelas Maret: Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Vol 25, No.2, Desember 2015, ISSN: 1412-3835. http://journals.ums.ac.id/index.php/jpis/article/viewFile/1531/1073

    • 0501519010

      Jawaban no.4:
      Penyebab permasalahan yang diuraikan pada jawaban nomor 3 adalah disebabkan oleh manajemen pendidikan yang kurang baik atau lulusannya yang tidak memiliki kompetensi, hal ini yang memunculkan dampak kekurangan tenaga kerja. Hal ini juga dikarenakan perusahaan menetapkan nilai standar yang cukup tinggi dalam rekrutmen pegawai. Meskipun kompetensi yang dibutuhkan perusahaan dengan kompetensi yang dimiliki siswa SMK hampir seluruhnya sama namun letak perbedaannya adalah pada standar nilai yang ditetapkan perusahaan. Kualifikasi kompetensi yang dibutuhkan oleh DUDI lebih tinggi daripada yang mampu disediakan oleh dunia pendidikan. Hal ini diakibatkan oleh perubahan dan perkembangan industri yang jauh lebih cepat dan berkembang, sementara orientasi pendidikan tidak mudah melakukan penyesuaian. Keterbatasan fasilitas praktikum yang tersedia di laboratorium, pembangunan infrastruktur penunjang aplikasi dan proses belajar yang belum mencukupi terutama dikarenakan adanya kendala dana. Kurangnya interaksi antara dunia pendidikan dan industri mengakibatkan kebutuhan perusahaan tidak dapat diakomodir oleh dinas pendidikan pada saat penyusunan kurikulum dilakukan. Kurikulum yang ada relatif kurang mengimbangi perkembangan maupun kebutuhan dunia kerja, akibatnya tenaga kerja yang dihasilkan tidak siap pakai. Lulusan SMK masih banyak yang bekerja di luar bidangnya akibat keterbatasan lahan kerja yang sesuai dengan bidangnya dan keengganan mereka untuk diberikan pekerjaan yang sama dengan lulusan SMA sebagai operator.

      Referensi :
      – Arisandi, Avida. Pengaruh Praktik Kerja Industri (Prakerin) Terhadap Kompetensi Siswa SMKN 1 Sidoarjo. https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-kajian-ptb/article/viewFile/22078/20231
      – Wachid, Nuur. POLA PEMBIMBINGAN DI TEMPAT KERJA: STUDI KASUS PELAKSANAAN PROGRAM PRAKTIK INDUSTRI DI PT JMI. Universitas Alma Ata: Jurnal Taman Vokasi Volume 3 No 2 Des 2015
      – Yoto, dkk. PARTISIPASI MASYARAKAT INDUSTRI DALAM PENYUSUNAN SINKRONISASI KURIKULUM DI SMK. Jurnal Teknik Mesin, Tahun 21, No. 1, April 2013
      – Disas, E. P. (2018). Link and Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan Link and Match as a Vocational Education Policy. Indonesia, Universitas Pendidikan Barat, Jawa, 18(2), 231–242. http://ejournal.upi.edu/index.php/JER/article/viewFile/12965/7676
      – Hidayati, Arina. Perencanaan Karir Sebagai Bentuk Investasi Pendidikan Siswa SMK (Studi Kasus Di SMK Negeri 1 Batang). Universitas Sebelas Maret: Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Vol 25, No.2, Desember 2015, ISSN: 1412-3835. http://journals.ums.ac.id/index.php/jpis/article/viewFile/1531/1073

  28. 0501519010

    Jawaban no 5:
    Diperlukan adanya pendekatan-pendekatan tertentu dalam pendidikan dan konsep Link and Match perlu dihidupkan kembali dalam sistem pendidikan, agar terintegrasi hubungan yang sinergi antara dunia pendidikan dengan DUDI dimana keberhasilan sistem pendidikan di Indonesia mampu meningkatkan kualitas industri demikian pula sebaliknya industri ikut serta dalam pengembangan pendidikan kejuruan, yang pada akhirnya akan memberikan manfaat bagi industri melalui tersedianya tenaga-tenaga kerja yang kompeten dan siap kerja, sehingga dapat meningkatkan daya saing industri. Sejumlah perubahan yang telah dilakukan antara lain: (1) Pengenalan Pendidikan Sistem Ganda (PSG), (2) Pembentukan Majelis Pendidikan Kejuruan di tingkat pusat, wilayah, dan sekolah, (3) Pengenalan uji kompetensi, (4) Pengenalan Lomba Keterampilan Peserta didik (LKS), (5) Pengenalan sistem rekruitmen dan seleksi serta pengembangan Kepala Sekolah dan sejumlah perubahan lainnya. Diperlukan pengelolaan Sekolah Menengah Kejuruan yang penuh kehati-hatian, berpengalaman dan profesional. Keberhasilan pengelolaan Sekolah Menengah Kejuruan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor peserta didik, guru, sarana-prasarana belajar, lingkungan, dan manajemen sekolah. Kebijakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui pendekatan pendidikan dengan sistem ganda sebagai pola utama penyelenggaraan kurikulum SMK merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas kemampuan tamatan agar lebih sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan pembangunan nasional pada umumnya dan kebutuhan tenaga kerja pada khususnya. Kebijakan tersebut sebagai bagian tak terpisahkan dari kebijakan link and match yang berlaku pada semua jenis dan jenjang pendidikan.

    Referensi :
    – Arisandi, Avida. Pengaruh Praktik Kerja Industri (Prakerin) Terhadap Kompetensi Siswa SMKN 1 Sidoarjo. https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-kajian-ptb/article/viewFile/22078/20231
    – Wachid, Nuur. POLA PEMBIMBINGAN DI TEMPAT KERJA: STUDI KASUS PELAKSANAAN PROGRAM PRAKTIK INDUSTRI DI PT JMI. Universitas Alma Ata: Jurnal Taman Vokasi Volume 3 No 2 Des 2015
    – Yoto, dkk. PARTISIPASI MASYARAKAT INDUSTRI DALAM PENYUSUNAN SINKRONISASI KURIKULUM DI SMK. Jurnal Teknik Mesin, Tahun 21, No. 1, April 2013
    – Disas, E. P. (2018). Link and Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan Link and Match as a Vocational Education Policy. Indonesia, Universitas Pendidikan Barat, Jawa, 18(2), 231–242. http://ejournal.upi.edu/index.php/JER/article/viewFile/12965/7676
    – Hidayati, Arina. Perencanaan Karir Sebagai Bentuk Investasi Pendidikan Siswa SMK (Studi Kasus Di SMK Negeri 1 Batang). Universitas Sebelas Maret: Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Vol 25, No.2, Desember 2015, ISSN: 1412-3835. http://journals.ums.ac.id/index.php/jpis/article/viewFile/1531/1073

  29. 0501519010

    Jawaban no 6:
    Beberapa kebijakan lokal dalam mengimplementasikan program Link and Match dari sisi pendidikan dapat dikelompokkan menjadi 4 aspek yaitu, pengembangan kurikulum, pengembangan kapasitas institusi, pengembangan pengetahuan (knowledge), dan pengembangan skill SDM. Penyusunan kurikulum menurut Sanjaya (2008) ada 4 hal penting yang harus diperhatikan, yaitu: (1) desain kurikulum mengacu pada disiplin ilmu, (2) desain kurikulum berorientasi pada masyarakat, (3) desain kurikulum berorientasi kepada peserta didik, dan (4) desain kurikulum berorientasi pada teknologi. Pertama, desain kurikulum yang mengacu pada disiplin ilmu menurut Longstreet (1993) desain kurikulum ini merupakan desain kurikulum yang berpusat kepada pengetahuan (the knowledge centered design) yang dirancang berdasarkan struktur disiplin ilmu, oleh karena itu model desain ini dinamakan juga model kurikulum subjek akademis yang penekanannya diarahkan untuk pengembangan intelektual peserta didik. Para ahli memandang desain kurikulum ini berfungsi untuk mengembangkan proses kognitif atau pengembangan kemampuan berpikir peserta didik melalui latihan menggunakan gagasan dan melakukan proses penelitian ilmiah (McNeil, 1990). Kedua, asumsi yang mendasari bentuk desain kurikulum berorientasi pada masyarakat adalah, bahwa tujuan dari sekolah untuk melayani kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, kebutuhan masyarakat harus dijadikan dasar dalam menentukan isi kurikulum. Masyarakat dalam pendidikan di SMK ditekankan kepada masyarakat industri sebagai pengguna tamatan. Ketiga, asumsi yang mendasari desain kurikulum berorientasi kepada peserta didik adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk membantu anak didik. Oleh karenanya, pendidikan tidak boleh terlepas dari kehidupan anak didik. Kurikulum yang berorientasi pada peserta didik menekankan kepada peserta didik sebagai sumber isi kurikulum. Segala seuatu yang menjadi isi kurikulum tidak boleh terlepas dari kehidupan peserta didik sebagai peserta didik. Keempat, desain kurikulum berorientasi pada teknologi. Menurut McNeil (1990), tujuan kurikulum teknologis ditekankan kepada pencapaian perubahan tingkah laku yang dapat diukur. Oleh karena itu tujuan umum dijabarkan ke dalam tujuan-tujuan khusus. Model desain kurikulum teknologi difokuskan kepada efektivitas program, metode, dan bahan-bahan yang dianggap dapat mencapai tujuan. Perspektive teknologi telah banyak dimanfaatkan pada berbagai konteks, misalnya pada program pelatihan di lapangan industri dan pembelajaran pada pendidikan teknologi dan kejuruan. Kurikulum berorientasi teknologi perlu memperhatikan kondisi dan dampak yang terjadi dari peserta didik. Pendidikan kejuruan merupakan salah satu bentuk investasi yang hingga saat ini masih belum disadari masyarakat. Kesadaran investasi pendidikan dapat dilakukan salah satunya dengan cara memberikan program perencanaan karir bagi siswa. Dengan demikian siswa akan mengetahui kemampuan yang dimiliki, sehingga siswa yang memiliki kesiapan yang kecil untuk memasuki dunia usaha akan memutuskan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Selain itu perencanaan karir dapat membuka wawasan siswa mengenai dunia kerja, hal ini akan menyadarkan siswa bahwa dalam dunia kerja terdapat jenjang karir yang harus di lewati, apabila seseorang ingin meningkatkan kesejahteraan hidup. Melalui perencanaan karir, siswa akan lebih matang dalam menentukan pekerjaan yang akan dituju. Diharapkan tenaga kerja dari lulusan SMK tidak lagi keluar masuk perusahaan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap investasi pendidikan, antara lain (1) mengubah paradigma pendidikan gratis dengan pendidikan murah dan berkualitas; (2) perencanaan karir sejak dini; dan (3) investasi pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Sutrisno (2013:10) memaparkan hasil penelitiannya, bahwa jenis aspek perencanaan karir yang perlu difokuskan dalam pendidikan kejuruan adalah aspek kemampuan mengidentifikasi tujuan-tujuan yang berkaitan dengan tuntutan dunia kerja, kemampuan menyusun program kerja pendidikan, termasuk materi kejuruan yang sesuai dengan kompetensi DUDI. Optimalisasi perencanaan karir siswa SMK dapat berjalan apabila; pertama penguasaan materi yang diberikan pada siswa tidak hanya berorientasi pada kompetensi aspek hard skill melainkan memperhatikan soft skill; kedua kompetensi yang diajarkan sekolah dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri, sehingga lulusan SMK dapat langsung diterima oleh DUDI; ketiga model perencanaan karir yang digunakan harus sesuai dengan norma-norma masyarakat; keempat lebih mengorientasikan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi, sesuai dengan karier yang ingin dikembangkan. Prakerin adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional, yang memadukan secara sistematik dan sinkron antara program pendidikan di sekolah dan program pendidikan di dunia usaha/industri yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional. Pada saat Prakerin siswa dihadapkan pada suatu pekerjaan yang sebenarnya dan siswa diharuskan mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan pekerjaan nyata tersebut, seperti perhitungan anggaran biaya dan menggambarkan suatu detail bangunan sesuai dengan rencana. Dengan demikian siswa akan menerapkan teori yang telah didapatkan di sekolah untuk mengerjakan pekerjaan yang diberikan pada saat Prakerin. Dalam praktiknya secara langsung, siswa juga akan mendapatkan pengetahuan baru yang belum didapatkan dari sekolah melalui tempat Prakerin tersebut. Dari pengetahuan baru yang didapatkan siswa, diharapkan kompetensi siswa dapat mengalami peningkatan saat siswa kembali belajar di sekolah karena para siswa telah mendapatkan teori dari sekolah dan tambahan teori dari dunia industri secara langsung.

  30. 0501519010

    Jawaban no 7:
    Keterkaitan antara SMK dengan industri merupakan hal yang sangat penting karena tujuan akhir dari lulusan SMK adalah kemampuan kerja sesuai bidang keahlian di industri. Menciptakan lulusan yang berkualitas dan mengurangi angka pengangguran harus didukung dengan kerjasama antara kedua belah pihak. SMK memanfaatkan DUDI sebagai tempat praktik dan difungsikan sebagai menambah wawasan tentang DUDI kepada siswa. Melalui program kerjasama tersebut, maka permasalahan SMK dapat diminimalisir. Keterlibatan DUDI sangatlah diperlukan dalam meningkatkan kualitas lulusan dan dapat menjembatani kesenjangan antara kompetensi yang dihasilkan sekolah dengan tuntutan DUDI. Upaya peningkatan kualitas lulusan SMK merupakan tanggung jawab bersama antara SMK, industri (DUDI), dan masyarakat. Prakerin merupakan bagian dari program sistem ganda (PSG) di SMK. Prakerin merupakan komponen wajib yang harus dipenuhi oleh siswa SMK agar mendapatkan kompetensi yang sesuai. Dengan demikian, melalui Prakerin tersebut siswa mengalami peningkatan kompetensi yang signifikan.

  31. 05015190001
    4. Penyebab permasalahan Link and Match
    a. Pengembangan kurikulum
    1) Kegiatan review kurikulum mengundang cukup banyak DUDI namun yang hadir sangat sedikit, hal ini disebabkan DUDI kurang memahami maksud dan tujuan review kurikulum, DUDI kurang memahami isi dari struktur dan KIKD pada kurikulum.
    2) Banyak DUDI yang kurang memahami skema sertifikasi kompetensi.
    3) Kurang intensifnya DUDI dalam melihat draf kurikulum yang diberikan oleh sekolah.
    4) DUDI belum sepenuhnya memahami SKKNI.
    b. Peningkatan Sarana dan Prasarana
    1) Anggaran yang terbatas, walaupun mendapatkan sumber dana dari BOS, BOP dan PSM tetapi sumber dana tersebut dalam penggunaannya terkendala pada regulasi. Regulasi tersebut memaksa sekolah tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi yang ada di industry.
    2) Harga alat praktikum yang relatif mahal sehingga tidak terjangkau oleh sekolah.
    3) Ruang praktik yang sesuai dengan kondisi industry sulit tercipta karena keterbatasan lahan dan anggaran.
    c. Peningkatan Kualitas Tenaga Pendidik
    1) Anggaran yang tersedia untuk peningkatan sumber daya manusia hanya 5% dari dana BOP dan BOS.
    2) Lembaga penyelenggara semakin sedikit mengadakan diklat karena rasionalisasi fungsi lembaga tersebut. Sebagai contoh P4TK Malang (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan) sebagai lembaga yang bertugas mengembangkan tenaga pendidikan vokasi bidang otomotif dan elektronika dalam 1 tahun anggaran hanya melaksanakan 2 kelompok pelatihan.
    d. Pelaksanaan prakerin
    1) Prakerin dilaksanakan sebagian besar di industry skala kecil sehingga industry tersebut kurang sesuai dengan keinginan pemerintah tentang kualifikasi kerja.
    2) Kurangnya program prakerin yang disusun secara bersama antara sekolah dengan industry
    3) DUDI tempat prakerin yang sebagian besar berskala kecil memiliki peralatan yang lebih buruk dari sekolah. Sedangkan DUDI yang memiliki standar peralatan baik jumlahnya hanya sedikit dan menerima siswa prakerin dalam jumlah yang sedikit.
    e. Pelaksanaan Magang Guru
    1) Anggaran yang terbatas untuk pelaksanaan magang guru
    2) Banyak DUDI yang belum mau melaksanakan kerjasama untuk kegiatan magang guru
    3) Banyak guru yang masih berada pada zona nyaman sehingga tidak mau melaksanakan pengembangan diri
    f. Kunjungan Industri
    1) Kunjungan industry yang dilaksanakan kurang membantu wawasan siswa karena industry yang dikunjungi seringkali tidak sesuai dengan kompetensinya.
    2) Biaya kunjungan industry yang tinggi
    3) Belum adanya kerjasama dengan industry skala nasional sebagai tempat melaksanakan kunjungan industri
    g. Guru Tamu
    1) Belum adanya Mou dengan industry terkait guru tamu sehingga tidak semua kompetensi keahlian mampu menghadirkan guru tamu
    h. Sertifikasi kompetensi
    1) Lembaga sertifikasi untuk menguji kompetensi guru terbatas karena harus dari LSP P2/P3.
    2) Biaya uji relatif mahal dan tidak sepenuhnya dibiayai oleh sekolah
    3) Banyak guru yang merasa takut untuk mengikuti uji kompetensi
    4) Siswa untuk uji kompetensi melalui LSP P1 menggunakan dana mandiri sehingga jumlah peserta sedikit
    5) Program PSS/PSKK dari BNSP dan Kemendikbud belum mampu mencakup seluruh siswa
    6) Belum terakomodirnya persyaratan sertifikasi pada proses rekruitmen
    i. Rekruitmen
    1) Masih sedikitnya jumlah DUDI yang mau melaksanakan MoU terkait rekruitmen pegawai

    Sumber:
    Djojonegoro, Wardiman. 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia melalui Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas
    Endang S Soesilowati. 2009. Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Meningkatkan Daya Saing Tenaga Kerja dan Industri. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
    Eka Prihatin Disas. 2018. Link and Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung
    Ixtiarto, B dan Sutrisno, B. 2016. Kemitraan Sekolah Menengah Kejuruan Dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri:Kajian aspek Penhgelolaan Pada SMK Muhammadiyah 2 Wuryantoro Kabupaten Wonogiri. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 26 (1). Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta: Surakarta.
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017.Strategi Implementasi Revitalisasi SMK (10 Langkah Revitalisasi SMK).Jakarta
    ———-. 2008. Pengembangan Program Prakerin. Jakarta
    ———-. 2016. Peta Jalan Pengembangan SMK 2017-2019. Jakarta
    ———-. 2016. Revitalisasi Pendidikan Vokasi. Jakarta
    ———-. 2016. Inpres No.9 tentang Revitalisasi SMK
    Septiana Dewi Cahyanti. 2018. Implementasi Program Link and Match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri pada Lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta. Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi, Universitas Sebelas Maret: Surakarta.
    Soeprijanto. 2010. Daya Dukung Dunia Industri terhadap Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN). Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 16 (3), 275 – 284.
    Yulianto & Sutrisno, B. 2014. Pengelolaan Kerjasama Sekolah Dengan Dunia Usaha / Dunia Industri: Studi Situs Smk Negeri 2 Kendal. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 24 (1), 19 – 37.

  32. 05015190011
    3. Sesuai dengan PERMENPERIN NO. 03/M-IND/PER/1/2017 dalam rangka penyiapan tenaga kerja industri yang terampil dan kompeten, diperlukan pendidikan kejuruan berbasis kompetensi yang link and match dengan industri, untuk mewujudkan hal tersebut perlu peran industri dalam penyelenggaraan pendidikan kejuruan agar dapat menghasilkan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri, maka perlu ditetapkan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan Berbasis Kompetensi yang link dan match dengan industri. Dalam peraturan menteri ini diatur tentang pedoman pembinaan dan pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan berbasis kompetensi yang link dan match dengan industri, dengan menetapkan batasan istilah yang digunakan dalam pengaturanya. Peraturan Menteri ini sebagai pedoman bagi SMK dalam membangun dan menyelenggarakan pendidikan kejuruan yang berbasis kompetensi yang link and match dengan industri dan untuk pembinaan dan pengembangannya difalisitasi oleh perusahaan industri atau perusahaan kawasan industri. Program keahlian pada SMK disesuaikan dengan kebutuhan industri. Kurikulum pendidikan pada setiap keahlian disusun berbasis kompetensi mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang industri yang penyusunannya dilakukan dengan melibatkan asosiasi industri, perusahaan industri atau perusahaan kawasan industri. SMK harus memiliki guru bidang studi produktif sesuai dengan kebutuhan program keahlian. Untuk menunjang praktikum pembelajaran berbasis kompetensi, SMK dilengkapi dengan teaching factory, workshop, dan laboratorium serta harus dilengkapi pula dengan insfrastruktur kompetensi berupa SKKNI, LSP, TUK dan asesor kompetensi yang difasilitasi oleh Kementerian. SMK menyelenggarakan sertifikasi melalui uji kompetensi yang dilaksanakan oleh LSP di TUK yang dimilliki oleh SMK atau perusahaan industri dan perusahaan kawasan industri. Praktek kerja industri untuk siswa dan pemagangan industri untuk guru bidang studi produktif difasilitasi oleh perusahaan industri dan/atau perusahaan kawasan industri serta memberikan sertifikat kepada siswa dan guru yang telah menyelesaikan praktek kerja industri dan/atau pemagangan industri. Perusahaan industri atau perusahaan pawasan industri yang melakukan pembinaan dan pengembangan SMK sebagaimana dimaksud dalam peraturan menteri ini dapat diberikan insentif sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
    SMK Penda 2 Karanganyar adalah salah satu sekolah kejuruan swasta tingkat menengah yang berada di kabupaten Karanganyar. Memiliki visi dan misi untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan Dunia Usaha/ Industri dengan jalan menjalin kerjasama dalam bentuk pelaksanaan pendidikan sistem ganda, prakerin, magang guru dan penyaluran lulusan. Ini sebagai bukti dan betuk kesungguhan sekolah dalam program link and match dengan Dunia Usaha/ Industri. Tetapi ada beberapa kendala yang terjadi dalam program link and match tersebut, antara lain:
    Kondisi Real :
    a. Sarana prasana sekolah kurang memadai
    b. DUDI kadang tidak dapat hadir saat jadwal mengajar di Sekolah
    c. Jam praktik siswa masih beberapa hari saja yang menggunakan sistem block.
    d. Workshop hanya dimiliki oleh 1 jurusan tata busana
    e. Prakerin 3 bulan dibagi menjadi 2 tahap
    f. Belum memiliki LSP P1
    g. Kurikulum masih belum sesuai dengan DUDI
    Kondisi Ideal :
    a. Sarana prasarana sekolah disesuaikan dengan keadaan di Dunia Usaha/ Industri
    b. DUDI setiap kesepakatan jam mengajar di sekolah harus selalu hadir.
    c. Jam praktik siswa semuanya menggunakan sistem block
    d. Semua jurusan harusnya memiliki workshop
    e. Prakerin 6 bulan dibagi menjadi 2 tahap
    f. Memiliki LSP P1
    g. Kurikulum sesuai dengan DUDI

  33. 05015190011
    4. Penyebab-penyebab permasalahan yang ada di SMK Penda 2 Karanganyar adalah:
    a. Dana untuk pengadaan sarana prasarana sekolah masih terbatas
    b. Jadwal mengajar di sekolah terbentur dengan jadwal kerja DUDI di perusahan
    c. Masih terbentur dengan jadwal pelajaran adaptif dan normatif
    d. Hanya 1 jurusan yang memperoleh bantuan oleh Pemerintah
    e. Masih kesulitan memperoleh DUDI yang dapat menerima prakerin 6 bulan.
    f. Guru yang memiliki sertifikat kompetensi dan metodologi belum memenuhi jumlah standar untuk LSP P1
    g. DUDI tidak dapat datang saat penyelarasan kurikulum

  34. 0501519009

    3. Berdasarkan pengalaman pada saat PPL di SMK N 2 Pati, kasus yang tidak sesuai dengan konsep link and match pada pendidian kejuruan adalah siswa SMK N 2 Pati khususnya kelas XII jurusan DPIB masih sangat belum mempunyai kompetensi dalam pengoperasian software-software yang pada dunia usaha/ndustri sangat dibutuhkan, yaitu Microsoft excel. Software ini digunakan untuk membuat RAB (rencana anggaran biaya) proyek, akan tetapi pada saat saya mengajar RAB di kelas XII jurusan DPIB, masih banyak siswa yang kesulitan menggunakan software tersebut sehingga materi RAB tidak tersampaikan secara maksimal karena harus melatih siswa untuk mendalami software terlebih dahulu sebelum menerapkannya pada mata pelajaran RAB. Idealnya lulusan siswa jurusan DPIB bisa kompeten dalam pengerjaan RAB karena RAB sangat diperlukan saat mereka masuk dunia kerja, akan tetapi kondisi realnya, untuk software pendukung RAB saja mereka masih belum menguasai, apalagi perhitungan RAB nya.

  35. 0501519009

    4. Penyebab permasalaham pada nomor 3 adalah mata pelajaran RAB sebenarnya tidak ada pada kurukulum, akan tetapi guru SMK N 2 Pati menyisipkan materi RAB pada mata pelajaran Menggambar Konstruksi Bangunan, dan dalam 1 minggu siswa mendapatkan materi RAB hanya 1 jam pelajaran. Dan juga, seharusnya siswa setidaknya bisa mengoperasikan software excel dikarenakan mereka mendapat mata pelajaran simulasi digital pada kelas X, pada mata pelajaran simulasi digital mengajarkan tentang software-sofware seperti ms.word, ms.excel, ms.power point dll. Jika dalam kenyataannya para siswa belum dapat mengoperasikan software tersebut dengan baik, dimungkinkan mata pelajaran simulasi digital belum berhassil mencapai tujuannya.

  36. 0501519009
    5. Solusi dari penyebab permasalahan pada nomor 4 adalah
    a. Meningkatkan kemampuan siswa dalam pengoperasian ms.excel, dengan cara mengoptimalkan pada saat pelajaran simulasi digital yang didapatkan pada kelas X
    b. Jika sudah dirasa masih kurang, diadakannya ekstra kurikuler yang mendalami tentang pengoperasian sowfware komputer yang diperlukan di dunia kerja, dan seluruh siswa dijawibkan mengikuti rkstra tersebut
    c. Penambahan jam pada mata pelajaran RAB, karena 1 minggu hanya mendapat jatah 1 jam dirasa sangat kurang, sedangkan penguasaan RAB sangat dibutuhkan siswa untuk bekal terjun kedunia kerja

  37. 05015190011
    5. Solusi-solusi dari penyebab permasalahan yang ada di SMK Penda 2 Karanganyar adalah:
    a. Proses penambahan sarana dan prasarana secara berkala dan bertahap
    b. Mengatur jadwal ulang antara sekolah dan jadwal DUDI
    c. Mengatur jadwal ulang pelajaran produktif, adaptif dan normatif
    d. Mengajukan proposal untuk memperoleh bantuan 2 jurusan yang lain.
    e. Berusaha mencari DUDI yang dapat menerima prakerin selama 6 bulan
    f. Mendorong guru untuk mengikuti sertifikasi kompetensi dan metodologi
    g. Mencari dan mengundang DUDI yang memiliki komitmen untuk menyelaraskan kurikulum

  38. 4. 0501519005
    Permasalahan dalam Sekolah Menengah Kejuruan bidang keahlian Tata Boga yakni lulusan di didik untuk nantinya bekerja dan bukan kuliah, kelemahan lulusan SMK untuk mengikuti tes semacam SNMPTN dan tes PTN lainnya. Siswa SMK dan siswa SMA diberi pelajaran yang sebenarnya sama namun tingkatannya berbeda SMA untuk menghadapi tes masuk PTN dan otomatis kuliah kalau SMK untuk menghadapi dunia kerja. Nantinya prodi yang akan mereka ambil bukan prodi yang mereka lanjutkan dari SMK malah prodi lain yang sama sekali tidak relevan dengan prodi mereka dulu. Dikarenakan persaingan diantara orang-orang lulusan SMA yang sudah mempersiapkan materi mereka untuk tes.
    Berdasarkan Undang-undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 yang dimaksud dengan guru yang berkualitas adalah guru yang profesional. Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dari para personilnya, artinya, pekerjaan itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan tersebut. Keahlian diperoleh melalui apa yang disebut profesionalisasi, yang dilakukan baik sebelum seseorang menjalani profesi itu (pendidikan atau latihan pra-jabatan) maupun setelah menjalani profesi (in-service-training).
    Berdasarkan pengertaian tersebut maka agar mutu lulusan, baik itu di SMK atau di perguruan tinggi teknik berkualitas maka mutu guru atau dosen yang mengajar di harus berkualitas, professional dan memiliki kompetensi yang bagus, khususnya untuk dosen yang mengajar mata kuliah kejuruan profesi (MKKP) atau guru bidang produktif perlu pegalaman praktik di industri. Menurut Kunandar (2007: 55), kompetensi guru adalah seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif. Kompetensi guru yang dimaksud di sini yaitu kompetensi yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang tercantum dalam Pasal 28 ayat (3), meliputi:
    1. a)Kompetensi pedagogik;
    2. b)Kompetensi kepribadian;
    3. c)Kompetensi profesional dan;
    4. d)Kompetensi sosial.
    Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru dan dijelaskan secara rinci dalam Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Dengan pengalaman di industri seorang pengajar dapat mendiseminasi pengetahuannya tentang dunia kerja atau dunia industri kepada mahasiswanya.

  39. 0501519006

    3. SMK merupakan pendidikan menengah yang memiliki tujuan khusus yaitu menyiapkan peserta didik dengan pengetahuan, kompetensi, tekhnologi dan seni agar menjadi manusia produktif, maupun bekerja mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha atau industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah sesuai dengan kompetensi. Namun, meskipun pendidikan kejuruan lulusannya diorientasikan untuk siap bekerja, faktanya banyak ketidak terserapannya lulusan pendidikan kejuruan konpetensi keahlian tata busana secara maksimal pada dunia usaha/industri. Kondisi real dari sekolah kejuruan, lulusan SMK kompetensi keahlian tata busana kurang mampu bersaing untuk memperoleh pekerjaan dibandingkan lulusan lain. Kondisi ideal dari sekolah kejuruan, lulusan SMK kompetensi tata busana harusnya memiliki ketrampilan dan kompetensi yang lebih baik dibandingkan lulusan lain sehingga mempermudah untuk memasuki dunia industri.

  40. 0501519006

    4. Penyebab permasalahannya adalah kurikulum yang digunakan di sekolah kurang singkron dengan kurikulum yang digunakan pada industri. Kemampuan dalam menjahit bisa dipelajari hanya melalui kursur maupun secara otodidak, sehingga sangat mudah sekali untuk memasuki dunia industri tanpa harus mengecam pendidikan di SMK. Hal tersebut menjadi salah satu faktor penyebab lulusan SMK kompetensi tata busana kurang terserap pada dunia industri. Pada proses praktik kerja lapangan siswa ditempatkan diindustri garmen, dan siswa hanya ditempatkan pada sub bagian termudah yaitu bagian helper saja karena industri belum bisa sepenuhnya percaya pada kemampuan siswa SMK. Pembelajaran yang diberikan di sekolah kurang bisa diterapkan dengan baik pada saat prakerin, sehingga siswa harus belajar dari awal lagi. Kemudian faktor dari diri siswa sendiripun juga berpengaruh karena kebanyakan siswa kurang memiliki komitmen untuk bekerja, tetapi orang yang memilih untuk belajar secara kursus maupun otodidak memiliki kemauan kerja yang lebih tinggi.
    Daftar pustaka:
    Putranto, I. 2017. Pengembangan Model Kerjasama Link and Match Untuk Meningkatkan Kesiapan Kerja bagi Lulusan SMK Kompetensi Keahlian Akuntansi di Kota Semarang. Jurnal Mandiri: Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Tekhnologi. 1(1): 69-83
    Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan/ Madrasah Aliyah Kejuruan 2018
    Cahyati, S, D., M, Indriayu., dan Sudarno. 2018. Implementasi Program Link and Match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri pada Lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta. 4(1): 1-22
    Susanto. F. 2014. Hubungan Antara Pelaksaan System Ganda dan Informasi Pekerjaan dan Kesiapan Dengan Kesiapan Mental Kerja Siswa Kelas XII SMK 1 Sumenep Tahun Ajaran 2014/2015. Artikel. 1-14

  41. 05015190001
    5. Solusi permasalahan Link and Match
    a. Pengembangan kurikulum
    1) Sinkronisasi Kurikulum berarti kegiatan pengaturan jalannya proses pembelajaran di sekolah dan proses kerja di institusi pasangan/pengguna lululusan yang dikondisikan secara bersama antara pihak sekolah dengan DUDI. Tujuan utama sinkronisasi kurikulum SMK adalah meningkatkan relevansi pencapaian kompetensi-kompetensi oleh siswa di sekolah dengan kompetensi-kompetensi yang diperlukan di institusi pasangan atau pengguna lulusan. Langkah sinkronisasi kurikulum:
    a) Tim pengembang kurikulum sekolah menyusun draft dokumen kurikulum
    b) DUDI menyiapkan SKKNI atau standar kompetensi yang berlaku di DUDI
    c) Draft dokumen kurikulum diserahkan kepada DUDI untuk dipelajari
    d) Review dokumen kurikulum secara bersama antara tim pengembang kurikulum sekolah dengan DUDI
    e) Rekomendasi dan revisi dokumen kurikulum
    f) Sekolah menyusun dokumen kurikulum hasil rekomendasi dan revisi dari DUDI
    b. Peningkatan Sarana dan Prasarana
    1) Adanya program bantuan dari pemerintah melalui tambahan dana BOS Afirmasi dan Kinerja agar sekolah menuju digitalisasi.
    2) Program bantuan pemerintah pusat melalui DitPSMK berupa RPS (ruang praktik siswa) beserta peralatannya, program teaching factory, kelas industry dan program lainnya.
    3) Bantuan peralatan praktik dari pemerintah provinsi melalui dinas pendidikan dan kebudayaan
    4) Harga alat praktikum yang relatif mahal dibantu oleh pemerintah.
    5) Program CSR industry untuk membantu sekolah memenuhi kebutuhan ruang dan alat yang sesuai dengan industri.
    c. Peningkatan Kualitas Tenaga Pendidik
    1) Pemanfaatan Dana DIPA dari kementrian dan lembaga lainnya untuk peningkatan kualitas tenaga pendidik.
    2) Lembaga penyelenggara pengembangan tenaga pendidik lebih diberikan peran.
    3) Guru dituntut untuk mengikuti program Guru Pembelajar agar kompetensinya selalu meningkat. Selain siswa belajar, guru juga belajar.
    d. Pelaksanaan prakerin
    Banyak satuan pendidikan vokasi yang tidak memiliki peralatan dan mesin yang memadai untuk melaksanakan praktik agar lulusan mencapai standar kompetensi yang disyaratkan. Akibatnya, industri harus mengadakan pelatihan tambahan untuk menyiapkan tenaga kerjanya. Dengan demikian, pihak industri harus mengalokasikan biaya ekstra di luar biaya produksi. Disparitas yang sangat terlihat jelas antara kemampuan yang diharapkan dunia kerja dan lulusan yang dihasilkan satuan pendidikan vokasi menjadi pusat perhatian bersama antara sekolah dan industri. Sebenarnya pihak sekolah dan pihak industri memiliki keterbatasan masing-masing dalam membentuk dan mendapatkan tenaga kerja yang siap pakai. Pihak sekolah memiliki keterbatasan dalam pembiayaan dan penyediaan fasilitas pendukung praktikum, sedangkan industri memiliki keterbatasan sumber daya pendidikan untuk membentuk tenaga kerja yang dibutuhkan. Pihak DUDI skala nasional untuk dapat menerima lebih banyak siswa dalam kegiatan prakerin. Perlu dukungan regulasi dari pemerintah agar program revitalisasi SMK seperti prakerin menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, sekolah DUDI.
    e. Pelaksanaan Magang Guru
    1) Peningkatan anggaran untuk pelaksanaan magang guru
    2) Perlu regulasi dari pemerintah agar DUDI mau melaksanakan kerjasama untuk kegiatan magang guru dengan pihak sekolah
    3) Perlu regulasi dari pemerintah agar guru yang masih berada pada zona nyaman mau melaksanakan kegiatan pengembangan diri berupa magang di industri
    f. Kunjungan Industri
    Perlu kunjungan industry dengan pola yang lebih baik agar ada manfaat dari kegiatan kunjungan industry. Perlu penguatan regulasi agar DUDI membuka diri terhadap kunjungan industry dari pihak sekolah.
    g. Guru Tamu
    Perlu adanya Mou dengan industry terkait guru tamu sehingga semua kompetensi keahlian mampu menghadirkan guru tamu
    h. Sertifikasi kompetensi
    Sertifikasi adalah standarisasi secara professional bagi mereka yang kompeten di bidang pekerjaan masingmasing yang dikelola dan dibina oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sertifikasi kompetensi guru SMK Produktif adalah proses pemberian sertifikat kepada guru yang telah memenuhi standar uji kompetensi sesuai dengan paket keahlian masing-masing yang diampu sesuai dengan perundang-undangan. Program uji sertifikasi dari pemerintah tidak hanya diperuntukkan bagi siswa tapi juga guru. Tujuannya agar guru juga memiliki kompetensi teknis sesuai dengan kompetensi yang ada di industry.
    Perlu pelaksanaan uji kompetensi dengan standar yang sesuai dengan SKKNI dan harapan DUDI.
    i. Rekruitmen
    Adanya regulasi persyaratan penerimaan pegawai harus memiliki sertifikat kompetensi.

    Sumber:
    Djojonegoro, Wardiman. 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia melalui Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas
    Endang S Soesilowati. 2009. Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Meningkatkan Daya Saing Tenaga Kerja dan Industri. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
    Eka Prihatin Disas. 2018. Link and Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung
    Husaini Usman dan Darmono. 2016. Pendidikan Kejuruan Masa Depan. Puskurbuk Kemendikbud: Jakarta.
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017.Strategi Implementasi Revitalisasi SMK (10 Langkah Revitalisasi SMK).Jakarta
    ———-. 2008. Pengembangan Program Prakerin. Jakarta
    ———-. 2016. Peta Jalan Pengembangan SMK 2017-2019. Jakarta
    ———-. 2016. Revitalisasi Pendidikan Vokasi. Jakarta
    ———-. 2016. Inpres No.9 tentang Revitalisasi SMK
    Septiana Dewi Cahyanti. 2018. Implementasi Program Link and Match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri pada Lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta. Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi, Universitas Sebelas Maret: Surakarta.
    Soeprijanto. 2010. Daya Dukung Dunia Industri terhadap Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN). Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 16 (3), 275 – 284.
    Yulianto & Sutrisno, B. 2014. Pengelolaan Kerjasama Sekolah Dengan Dunia Usaha / Dunia Industri: Studi Situs Smk Negeri 2 Kendal. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 24 (1), 19 – 37.

  42. 0501519005
    5. Pendidikan SMA yang selama ini mendapat prioritas perhatian, tidak menerapkan kurikulum yang mengarahkan lulusannya untuk bekerja, tetapi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Padahal kenyataannya sebagian besar lulusan SMA tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, justru mencari pekerjaan. Akibatnya terjadi pertambahan angka pengangguran terdidik, karena lulusan SMA yang mencari pekerjaan tidak dibekali oleh keterampilan khusus yang diperlukan dunia kerja. Lulusan pendidikan yang seharusnya menjadi modal dan motor penggerak pembangunan, ternyata sebaliknya menjadi beban pembangunan.
    Salah satu cara yang sering digunakan melihat potensi wilayah adalah melalui struktur PDRB dan lapangan kerja. Struktur PDRB menggambarkan kontribusi setiap sektor/lapangan usaha terhadap pembentukan PDRB keseluruhan. Perubahan struktur ekonomi mengakibatkan terjadinya perubahan struktur penyerapan tenaga kerja (elastisitas penyerapan tenaga kerja) (Sumarsono, 2006). Hal ini seharusnya menjadi dasar acuan pengembangan program keahlian di SMK. Sesuai dengan tujuan pendidikan SMK, yaitu membekali peserta didik dengan keterampilan tertentu untuk memasuki dunia kerja/dunia usaha, maka pengembangan SMK harus selalu mengacu pada kebutuhan pasar kerja. Namun pengembangan SMK bukan sekedar pada memperbesar jumlah unit SMK dan jumlah siswa, tetapi bagaimana keberadaan SMK jika dikaitkan dengan potensi wilayah daerah. Sudah menjadi masalah klasik bagi dunia pendidikan SMK di Indonesia pada umumnya, bahwa link and match antara output pendidikan SMK dengan dunia usaha/dunia industri (DU/DI) sebagai pengguna output pendidikan SMK belum tercapai. Diantara kebutuhan tersebut, kebutuhan atau tuntutan dunia kerja/usaha/industri, dirasakan amat mendesak, maka prioritas “link and match” diberikan pada pemenuhan kebutuhan dunia kerja (Wardiman J., 1994:15-16). Salah satu masalahnya terletak pada kualitas lulusan SMK yang belum sesuai dengan standar kompetensi yang dibutuhkan pasar tenaga kerja.
    Penerapan PSG (Pendidikan Sistem Ganda) di SMK sejak tahun ajaran 1993/1994 merupakan bagian dan implementasi konsep link and match. Dengan PSG yang perancangan kurikulum, proses pembelajaran, dan penyelenggaraan evaluasinya didesain dan dilaksanakan bersama-sama antara pihak sekolah dan industry, diharapkan dapat dihasilkan lulusan SMK yang mumpuni. Siswa-siswa tidak hanya dibekali pengetahuan-pengetahuan dasar tentang dunia industry, tetapi langsung bersentuhan dengan pengalaman kemampuan praktik di dunia kerja nyata.
    PSG ini diilhami model 2 sistem yang diberlakukan di Jerman, yang merupakan bench dan mark bagi Negara yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan. System ini merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan keahlian kejuruan yang menetukan secara sistematik dan sinkron antiprogram pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahliaan yang diperoleh melalui praktek langsung dan dunia kerja.
    Melalui PSG, siswa belajar di 2 tempat, sekolah dan industry. Jadi, pemberlakuan PSG menuntut tanggung jawab bersama antara pihak sekolah dan industrinya.
    Empat tujuan PSG, ialah :
    1) Mampu menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian professional
    2) Meningkatkan dan memperkukuh keterkaitan dan kesepadanan lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan dengan dunia kerja
    3) Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja berkualitas professional
    4) Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan
    Di bidang pendidikan kejuruan, untuk mengimplementasikan gagasan Dr. Wardiman Djojonegoro, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud), pada awal tahun 1995 dibentuklah satuan Tugas Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan di Indonesia. Tim ini beranggotakan tokoh-tokoh penting dari kalangan pejabat di Depdiknas, akademisi, sejumlah pengusahan top, maupun pejabat dan lembaga pemerintah yang lain. Tim yang beranggotakan puluhan orang ini memang bersifat lintas sektoral dan multidisiplin.
    Hasil kerja tim itu kemudian didokumentasikan dalam bentuk buku berjudul Ketrampilan Menjelang 2020, yang diterbitkan tahun 1997. Buku ini berisi rekomendasi sekaligus menguraikan sejumlah konsep dasar dan strategis dalam rangka pembaruan pendidikan kejuruan di Indonesia untuk mengahadapi era perdagangan bebas APECpath tahun 2020. “Merupakan pemikiran besar untuk pembangunan pendidikan kejuruan,” menurut Dr. Gatot Priowirjanto, Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

  43. 0501519006

    5. Berlatar belakang dari asumsi bahwa bertambahnya tingkat pengangguran disebabkan oleh kegagalan sistem pendidikan, maka diperlukan adanya pendekatan-pendekatan tertentu dalam pendidikan dan konsep link and match perlu diberlakukan kembali. Pembenahan kurikulum sangat diperlukan, kurikulum yang diterapkan pada SMK harusnya memiliki tingkat kompetensi yang lebih tinggi dan disinkronkan dengan industri. Tenaga pendidik harus lebih upgrade mengenai perkembangan kebutuhan industri, karena pada dasarnya setiap siswa mau masuk dan belajar di SMK dengan tujuan ingin mempermudah dalam mencari pekerjaan. Pengarahan pada siswa juga diperlukan dalam hal ini agar mereka tidak salah dalam memilih jurusan, pemberian motivasi sangat diperlukan dengan memberikan informasi tentang persaingan dunia kerja.

  44. 0501519005
    6. 6. Upaya peningkatan yang seharusnya dilakukan agar lulusan SMK terserap di bidang industry ialah :
    1.) Perluasan akses SMK
    Pembangunan Sekolah baru dengan jurusan yang baru atau menyesuaikan dengan kondisi masyarakat. Pembangunan unit gedung yang baru pula. Sehingga SMK menjadi besar dan berkembang
    2.) Pemerataan akses SMK
    Pembangunan SMK di daerah tertinggal dan terpencil serta adanya asrama di SMK tersebut. Sehingga anak-anak di daerah terpencil bisa merasakan sekolah. Adanya asrama diperuntukkan bagi siswa yang rumahnya jauh.
    3.) Peningkatan mutu SMK
    Pengadaan sarana dan prasana,serta buku pelajaran, rehabilitasi gedung SMK. Agar siswa bisa lebih nyaman dalam belajar. Adanya kompetisi-kompetisi yang bisa membuat siswa lebih menonjol dalam kemampuannya. Sertifikasi bahasa Inggris TOEFL dan TOEIC, agar siswa lebih bisa dalam menguasai bahasa Inggris. Pengembangan SMK bertaraf internasional sehingga mutu nya bisa lebih meningkat. Adanya besiswa prestasi bagi siswa siswa berprestasi yang kurang mampu.
    4.) Peningkatan Relevansi SMK
    Pengembangan unit usaha yang ada di SMK tersebut, bakat dan minat siswa berkembang. Bantuan modal kerja terhadap SMK, serta perlunya kerjasama dengan industry agar lulusan SMK tersebut tidak kesulitan dalam mencari pekerjaan.
    5.) Pencitraan SMK
    Pencitraan SMK bisa melalui media-media yang elektronik maupun cetak. SMK mempunyai website berisi informasi tentang SMK tersebut, dan iformasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Adanya pencitraan di media masa, suatu SMK bisa dikenal di masyarakat.
    6.) Pengembangan kualitas layanan SMK
    7.) Inovasi pendidikan
    8.) Pengembangan kurikulum
    Penyiapan bahan kurikulum program keahlian baru serta pemenuhan modul agar saat KBM materi yang disampaikan bisa dipahami oleh murid. Dan agar murid dituntut aktif dalam pembelajaran, dalam prakteknya bisa lebih baik.

  45. 0501519009

    6. Agar solusi pada nomer 5 dapat terealisasikan maka yang harus dilakukan adalah
    a. Pada mata pelajaran simulasi digital siswa diwajibkan membawa laptop atau bisa meminjam di jurusan agar secara langsung dapat mempraktekkan apa yang dipelajari, bukan hanya mendengarkan teori saja
    b. Guru-guru berdiskusi bagaimana caranya agar materi RAB dapat disampaikan secara maksial dengan jamm pelajaran yang mencukupi, bukan hanya 1 jam pelajaran dalam 1 minggu.
    c. Sebaiknya mata pelajaran RAB berdiri sendiri, tidak disisipkan dalam mata pelajaran menggambar konstruksi bangunan agar siswa lebih mendalami materi.

  46. 0501519009

    7. Pendidikan kejuruan pada dasarnya harus tau apa yang dibutuhkan DUDI, maka dari itu Pendidikan kejuruan dan DUDI harus menjalin komunikasi yang baik agar keduanya berjalan dengan lancer. Pendidikan kejuruan harus mepersiapakan siswa yang berkompeten sesuai dengan apa yang dibutuhkan di DUDI setelah siswa tamat dari Pendidikan kejuruan tersebut. Pada kenyataannya pengangguran masih banyak disebabkan oleh lulusan SMK, karena dirasa kurang berkompeten dalam bidang yang dipelajari saat masih duduk di SMK. Pihak SMK harus mengetahui apa yang menyebabkan masalah itu terjadi, dan harus bisa mencari solusi untuk permasalahan tersebut. Konsep link and match bisa mengatasi permasalahan tersebut. Akan tetapi pada pelaksanaannya ternyata gerakan ini masih belum bisa terealisasikan dengan baik sehingga diberbagai SMK masih terdapat permasalahan permasalahan kesenjangan antara kondisi ideal dan kondisi real terkait konsep link and match. Pemerintah, pihak sekolah dan DUDI harus melakukan evaluasi tentang kesenjangan kesenjangan ini agar mendapatkan hasil yang lebih baik.

    Sumber:
    Woyong, A. (2010). Relevansi Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada Sekolah Kejuruan dengan Kebutuhan Dunia Kerja. Prosiding APTEKINDO
    Basuki, E. dan Prasadja, W. 2010. Pengaruh Pendidikan Sistem Ganda (PSG) terhadap Daya Adaptif Kerja Siswa SMK.
    Disas, E.P. 2018. Link and Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Jurnal Penelitian Pendidikan

  47. 0501519005
    7. kesimpulannya sesuai dengan kebijakan link and match adalah perubahan dari pola lama yang cenderung berbentuk pendidikan demi pendidikan ke suatu yang lebih terang, jelas dan konkrit manjadi pendidikan kejuruan sebagai program pengembangan sumberdaya manusia. Berbagai dimensi pembaruan yang diturunkan dari kebijakan link and match
    penyelenggara pendidikan kejuruan, mulai dari kegiatan perencanaan, penyusunan program pendidikan (kurikulum), pelaksanaan dan evaluasinya.
    Di sisi lain ,masyarakat juga termasuk masyarakat dunia usaha dan industri memiliki sikap yang sama, bahwa pendidikan kejuruan itu adalah tanggungjawab Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Mereka hanya mengeluh apabila mutu tamatan SMK tidak sesuai dengan kebutuhan mereka, tetapi tidak ada konstribusinya kerena menganggap hal tersebut bukan urusan mereka. Dengan kebijakan link and match, terjadi perubahan dari pendekatan supply driven ke pendekatan demand driven.
    Pengertian demand driven, mengharapkan justru dunia usaha, dunia industri, dunia kerja yang seharusnya lebih berperan menentukan, mendorong dan menggerakan pendidikan kejuruan, karena mereka adalah pihak yang lebih berkepentingan dari sudut kebutuhan tenaga kerja.
    Dalam perencanaan pembangunan pendidikan kejuruan, pihak dunia kerja ikut menentukan, di mana SMK harus dibangun, dan jurusan atau program studi apa yang diperlukan. Dalam penyusunan program pendidikan (kurikulum), dunia kerja ikut
    menentukan standard kompetensi yang harus dicapai setiap tamatan SMK, karena mereka yang lebih tahu kebutuhan didunia kerja.
    Dalam pelaksanaan, dunia kerja juga ikut berperan serta, kerena proses pendidikan itu sendiri lebih dominan dalam menentukan kualitas tamatannya, serta dalam evaluasi hasil pendidikan itupun dunia kerja ikut menentukan supaya hasil pendidikan kejuruan itu terjamin dan terukur dengan ukuran dunia kerja.

  48. 05015190011
    7. Kesilmpulan dari hasil kajian peermasalahan yang ada di SMK Penda 2 Karanganyar adalah : perlunya keseriusan pihak sekolah, DUDI, dan pemerintah dalam menyelaraskan kurikulum, berperan aktif dalam link and match sekolah.

  49. 0501519006

    6. Uraian solusi dari penyebab permasalahan:
    a. Sinkronasi kurikulum
    Sinkronasi kurikulum merupakan suatu kegiatan bersama antara sekolah dan dunia usaha/industri dalam penyusunan kurikulum. Dalam pelaksanaan kurikulum SMK perlu dilakukan identifikasi dan pemilihan materi pengajaran yang relevan dengan dunia kerja. Pada jurusan tata busana seharusnya kurikulum perlu di sinkonkan dengan kompetensi yang di butuhkan oleh industri sehingga ketika lulus du/di sudah tidak meragukan lagi kemampuan yang dimiliki oleh lulusan SMK tata busana.
    b. Praktik kerja lapangan
    Praktik kerja lapangan merupakan bagian dari program pembelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik di dunia kerja. Apabila praktik kerja industri dilaksanakan dengan baik keterampilan siswa akan meningkat dan self efficacy (kepercayaan diri) siswa tinggi, maka kesiapan siswa memasuki dunia kerja akan meningkat.
    c. Tenaga pengajar
    Tenaga pengajar sangat berpengaruh pada proses pembelajaran, sehingga tenaga pengajar harus selalu upgrade agar tujuan pemerintah tercapai. Peningkatan kemampuan tenaga pengajar dapat dilakukan dengan mengikuti seminar, pelatihan dan workshop. Apabila kurikulum benar-benar dapat tercapai secara maksimal, siswa akan memiliki ketrampilan yang lebih.
    d. Sarana dan prasarana
    Sarana dan prasarana yang digunakan oleh SMK masih terbatas, perlu ditambahkan lagi dan tempat bekerja juga perlu disesuaikan dengan kondisi yang sebenarnya.

  50. 3.
    0501519004
    Contoh kasus yang diambil terkait link and match yaitu : program kerjasama dengan Dunia Usaha/Industri
    Kondisi Ideal :
    a. Penempatan lulusan dan alumni;
    Pendidikan kejuruan dikatakan berhasil dalam menciptakan lulusan dengan indikator keberhasilan sebagai berikut :
     Lulusan bekerja sesuai dengan bidangnya
     Tenggang waktu lulusan maksimal satu tahun setelah lulus
     Keterserapan lulusan minimal 75%
     Jumlah lulusan yang menciptakan lapangan kerja 5%
    b. Pelatihan/magang guru;
    Hasil studi Budi Tri Siswanto (2015) menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan tempat kerja (DU/DI) untuk menstrukturkan pengalaman-pengalaman yang didapat di tempat kerja melalui on the job training dan pola magang (apprenticeship) berkontribusi pada sosial, akademik, dan pengembangan karir pembelajar dan menjadi suplemen dalam kegiatan pembelajaran. Demikian pula sebagaimana diungkapkan Evans & Edwin (1978), SMK merupakan perkembangan dari latihan dalam pekerjaan (on the job training) dan pola magang (apprenticeship). Hal senada diungkapkan Lucas, Bill & Spencer. Ellen (2015) magang menggabungkan pengalaman on the job dengan pelatihan kelas teknis. Kemudian inti dari magang sebagaimana diungkapkan Richard, (2012) yaitu adanya interaksi antara pekerjaan dan pendidikan. Transfer pengetahuan pada kegiatan magang sebagai upaya untuk meningkatkan profesionalitas guru produktif SMK. Pencapaian keberhasilan kegiatan magang guru produktif SMK, para guru pemagang dibimbing,diarahkan, dan dibina, serta adanya transfer pengetahuan untuk peningkatan profesionalitasnya oleh instruktur yang juga dipantau atau dimonitoring keberhasilan program atau kegiatan magang yang dilakukan

    c. Validasi kurikulum;
    Agar materi kegiatan pembelajaran yang tercakup dalam struktur kurikulum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Tujuannya sekolah dapat menyiapkan perangkat kurikulum pada kompetensi keahlian yang dibuka untuk divalidasi industri, sekolah dapat menyerap masukan Dunia Usaha/Industri untuk diterapkan dalam bentuk kurikulum implementatif /kurikulum industri.
    d. Trans¬fer Knowledge (guru tamu kompetensi).
    bertujuan untuk memberikan gambaran tentang profil perusahaan, membantu menerapkan proses pembelajaran di sekolah agar sesuai dengan kebutuhan industri dan memberikan materi pembelajaran langsung kepada peserta didik.
    e. Kunjungan Industri (KI)
    Menurut Yulianto & Sutrisno (2014), Ixtiarto & Sutrisno (2016), dan Wibowo (2016:49), menyatakan bahwa kunjungan industri merupakan bentuk kegiatan nyata yang dapat dilihat oleh siswa adalah kegiatan kunjungan industri, dimana siswa secara langsung berkunjung ke industri untuk melihat proses produksi yang dilakukan mulai dari persiapan produksi sampai dengan pasca produksi.

    Kondisi real :
    a. Penempatan lulusan dan alumni;
     Lulusan banyak yang memilih bekerja diluar jurusan/bidangnya karena lahan kerja yang masih kurang sesuai jurusan/bidangnya.
     Untuk keterserapan belum memenuhi batas minimal karena ada siswa yang tidak teridentifikasi pekerjaannya cukup banyak.
     Keinginan siswa untuk berwirausaha yang masih rendah dan lebih memilih bekerja diperusahaan
    b. Pelatihan/magang guru;
    Model peningkatan profesionalitas guru produktif SMK selama ini masih dalam bentuk training yang bersifat kognitif di DU/DI. Sedangkan siswa SMK selama ini sudah melakukan magang praktek (prakerin) di DU/DI, padahal guru merupakan input instrumental yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan mutu pendidikan yang berkualitas baik secara kognitif maupun secara praktis. Maka dari itu perlu adanya pengembangan model magang guru produktif yang didukung oleh sebuah kebijakan dari pemerintah atau kementerian terkait.
    c. Validasi kurikulum;
    Proses menyinkronkan kurikulum yang ada di Dinas Pendidikan dengan kebutuhan yang ada di industri pada awal tahun ajaran dengan melibatkan DU/DI ke sekolah untuk mendiskusikan mengenai program yang akan dilaksanakan. Namun selama ini keberjalannya masih belum maksimal. Hal ini dikarenakan sekolah kesulitan untuk menyesuaikan KI/KD dengan tuntutan industri dan Permen No. 61 tahun 2014.
    d. Trans¬fer Knowledge (guru tamu kompetensi)
    Untuk sekolah yang mendatangkan guru tamu dari industri masih minim karena perlu menyinkronkan antara pihak sekolah dan pihak industri, terkadang pihak industri belum memperbolehkan perwalikannya untuk datang ke sekolah.
    e. Kunjungan Industri (KI)
    Untuk pelaksanaan kunjungan industri di SMK sudah dilakukan disetiap SMK karena untuk memberi informasi dan motivasi kepada siswa selama belajar di SMK.

    Sumber :
    Cahyanti. Septiana Dewi, dkk. 2018. Implementasi Program Link and Match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri pada Lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta. Universitas Sebelas Maret. BISE: Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi p-ISSN 2548-8961 | e-ISSN 2548-7175 | Volume 4 Nomor 1 (2018)
    Depdikbud, 1993. Link and Match, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
    Disas. Eka Prihatin. 2018. Link and Match Sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Universitas Pendidikan Indonesia. ISSN 1412-556 X e-ISSN 2541-4135.
    Danutirta. Shinta Surya. 2018. Pengelolaan Kelas Industri Di SMK N 2 Klaten. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017. (10 Langkah Revitalisasi SMK). Jakarta.
    Muhammad Aji Slamet, Yoto dan Widiyanti. (2017). Studi Pengelolaan Kelas Honda pada Program keahlian Teknik Sepeda Motor Di SMK Negeri 9 Malang. Jurnal Pendidikan Profesional, Volume 6 No.2.
    Sukardi, dkk. 2007. Peran Bursa Kerja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan Smk Dalam Rangka Terwujudnya Link And Match Antara Sekolah Dengan Dunia Industri. Universitas Negeri Yogyakarta. JPTK, Vol. 16, No. 2, Oktober 2007
    Pardjono. 2011. Peran Industri dalam Pengembangan SMK. Makalah disampaikan dalam workshop Peran Industri dalam Pengambangan SMK , SMK Negeri 2 Kasihan, Bantul.
    Prosser, Charles. 1950. Vocational Education in a Democracy. Chicago American
    Technical Society
    Pusat Kajian Pengembangan Peternakan Nasional UGM & Direktur Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (DPSMK). 2018. LARETA SMK Pertanian –MendukungnKemandirian dan Ketangguhan Pangan.

  51. 4.
    0501519004
    Penyebab-penyebab dalam permasalahan :
    a. Belum adanya pemetaan yang jelas dan pasti, berapa dan seperti apa tenaga kerja yang dibutuhkan industri
    b. Terbatasnya lowongan kerja untuk lulusan SMU, sehingga banyak yang bekerja sebagai operator di industri, padahal mereka tidak mempunyai keahlian yang sesuai dengan latar belakng pendidikan nya
    c. Masih banyak lulusan SMK yang bekerja diluar jurusan/bidangnya akibat keterbatasan lahan kerja yang sesuai dengan bidangnya
    d. Kengganan lulusan SMK untuk bekerja seperti lulusan SMU sebagai operator
    e. Kurangnya koordinasi dengan stakeholder terkait
    f. Kurikulum kurang sesuai dengan kondisi daerah maupun keinginan industri
    g. Keterbatasan infrastruktur belajar mengajar karena terkendala dana
    h. Kurangnya SDM yang kompeten

    Sumber :
    Depdikbud, 1993. Link and Match, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
    Disas. Eka Prihatin. 2018. Link and Match Sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Universitas Pendidikan Indonesia. ISSN 1412-556 X e-ISSN 2541-4135.
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017. (10 Langkah Revitalisasi SMK). Jakarta
    Sukardi, dkk. 2007. Peran Bursa Kerja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan Smk Dalam Rangka Terwujudnya Link And Match Antara Sekolah Dengan Dunia Industri
    _______________. 2018. Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Nomor 34 Tentang Standar nasional pendidikan sekolah menengah Kejuruan/madrasah aliyah kejuruan
    _______________. 2016. Inpres No.9 tentang Revitalisasi SMK
    _______________. 1992. Undang-undang Nomor 23 tentang Kesehatan
    _______________. 2003. Undang-undang Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2007. Depdikbud tentangStandar Keahlian Sertifikasi
    _______________. 2008. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Pasal 17 Tentang Guru
    _______________. 2013. Permendikbud Nomor 68 BAB I Pasal I tentang Kurikulum

  52. 5.
    0501519004
    Solusi dari penyebab tersebut :
    a. Pemerintah, industri dan sekolah perlu mengkaji tentang kebutuhan jurusan/bidang dan jumlah ternaga kerja serta kompetensi yang diperlukan.
    b. Membuat acuan penerimaan siswa, pemasaran dan penelusuran lulusan. Melalui hasil pengamatan ditemukan bahwa hampir seluruh program studi memiliki rencana penerimaan siswa baru. Baru sebagian kecil program studi yang telah memiliki rencana pemasaran dan penelusuran lulusan. Sedangkan dari hasil diskusi pengembangan butir-butir kendali mutu, hampir seluruh unsur pimpinan dan pelaksana pendidikan, setuju tentang perlunya penyusunan rencana penerimaan siswa, pemasaran dan penelusuran lulusan
    c. secara sistematis (tertulis), komprehensif dan rinci disertai jadwal yang jelas.sekolah harus berusaha dan berupaya berinteraksi dengan dunia usaha dan dunia industri agar ke dua belah pihak (sekolah dan DUDI) terjalin komunikasi yang memadai, yaitu sebagai mediator bertemunya kepentingan lulusan sebagai calon tenaga kerja dan DUDI sebagai calon pengguna tenaga kerja dengan berbagai kriteria dan kualifikasi yang dipersyaratkan
    d. Membuat model pengembangan sarana, prasarana dan fasilitas pendidikan. Melalui pengamatan ditemukan bahwa seluruh program studi yang diteliti telah memiliki rencana pengembangan sarana, prasarana dan fasilitas pendidikan. Rencana tersebut umumnya bersatu dalam rencana sekolah. Sebagian dari rencana tersebut telah disusun secara sistematis, lengkap dan rinci tetapi, namun masih ada yang belum sistematis dan lengkap, sehingga dalam pelaksanaan memerlukan revisi. Sedangkan melalui wawancara pengembangan butir-butir kendali mutu seluruh unsur pimpinan dan pelaksana pendidikan, sepakat diperlakukannya rencana pengembangan sarana.
    e. Menyusun rencana anggaran keuangan. Melalui pengamatan ditemukan seluruh program studi yang diteliti, telah memiliki rencana anggaran keuangan. Rencana ini umumnya bersatu dalam rencana keuangan sekolah, tidak ada alokasi khusus untuk setiap program studi, walaupun ada butir-butir tertentu yang
    f. Melakukan Pembinaan dan pengembangan personil. Bahwa sebagian besar program studi telah mempunyai program pembinaan dan pengembangan personil. Namun sebagian besar program studi belum menyusun rencana tersebut secara sistematis dan rinci, baru berupa butir-butir atau dalam jadwal saja. Sebagian lainnya malah belum tertulis baru disampaikan pimpinan dalam rapat-rapat atau pertemuan. Rencana tersebut meliputi pembinaan dan pengembangan unsur pimpinan, guru dan staf administrasi. Melalui diskusi pengembangan butir-butir kendali mutu, seluruh unsur pimpinan dan pelaksanan pendidikan sepakat diperlakukannya rencana tertulis yang lengkap tentang pembinaan dan pengembangan personil, baik unsur pimpinan, guru maupun staf administrasi.

    Sumber :
    Depdikbud, 1993. Link and Match, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
    Disas. Eka Prihatin. 2018. Link and Match Sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Universitas Pendidikan Indonesia. ISSN 1412-556 X e-ISSN 2541-4135.
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017. (10 Langkah Revitalisasi SMK). Jakarta
    Ratnata. I Wayan. Konsep Pemikiran Dalam Pengembangan Pendidikan Vokasi Untuk Menghadapi Tuntutan Dunia Kerja. ISSN 1907-2066
    Sukardi, dkk. 2007. Peran Bursa Kerja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan Smk Dalam Rangka Terwujudnya Link And Match Antara Sekolah Dengan Dunia Industri
    _______________. 2018. Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Nomor 34 Tentang Standar nasional pendidikan sekolah menengah Kejuruan/madrasah aliyah kejuruan
    _______________. 2016. Inpres No.9 tentang Revitalisasi SMK
    _______________. 1992. Undang-undang Nomor 23 tentang Kesehatan
    _______________. 2003. Undang-undang Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2007. Depdikbud tentangStandar Keahlian Sertifikasi
    _______________. 2008. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Pasal 17 Tentang Guru
    _______________. 2013. Permendikbud Nomor 68 BAB I Pasal I tentang Kurikulum

  53. 6.
    0501519004
    Rasional pendidikan kejuruan :
    1. Standar kompetensi lulusan merupakan kemampuan yang harus dipenuhi oleh peserta didik, dan dikembangkan berdasarkan kriteria:
    a. kemampuan yang diperlukan untuk menunjang sebuah pekerjaan;
    b. deskripsi jenjang KKNI;
    c. karakteristik bidang/program; dan
    d. pengelompokan Kompetensi.
    Efisiensi internal yang mengacu kepada pencapaian tujuan pembelajaran berdasarkan kurikulum dan silabus, sementara itu efisiensi eksternal mengacu kepada kemampuan lulusan untuk menembus pasar kerja, dengan tolok ukur seberapa besar lulusan dapat diserap dan diterima di dunia usaha dan dunia industri sebagai tenaga kerja yang produktif. Untuk memperpendek jarak dua kutub efisiensi internal dan efisiensi eksternal ditempuh dua pendekatan yaitu pendekatan kurikuler melalui bimbingan karir dan pendekatan penempatan lulusan melalui bursa kerja khusus.
    2. Standar isi merupakan ruang lingkup dari materi yang diajarkan yang mengacu kepada pencapaian tujuan pembelajaran berdasarkan kurikulum dan silabus. Standar Isi menjadi acuan pengembangan kurikulum SMK/MAK yang bersifat lebih operasional dan terperinci tentang cakupan materi pembelajaran dan aspek penting terkait
    3. Standar proses pembelajaran SMK/MAK bertujuan untuk meningkatkan efektifitas proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru/instruktur sehingga dapat mengembangkan potensi, prakarsa, dan kemandirian peserta didik sesuai dengan minat, bakat, dan perkembangan psikologis peserta didik.
    4. Penilaian merupakan subsistem penting dalam suatu sistem pendidikan. Penilaian pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan dilaksanakan berdasarkan penilaian berbasis kompetensi, yang merupakan penilaian berbasis standar dan kreteria yang mampu telusur, dan bersifat partisipatif dari peserta didik.
    5. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMK/MAK ini disusun sebagai penyiapan dan pengembangan karir guru, instruktur, dan tenaga kependidikan dalam mencapai Standar Kompetensi Lulusan dan mengelola proses pembelajaran.
    6. Standar Sarana dan Prasarana SMK/MAK ini disusun sebagai acuan penentuan jenis, jumlah, spesifikasi, kriteria, dan persyaratan teknis sarana dan prasarana dengan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta tuntutan kebutuhan dunia usaha/industri sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung efektif dan efisien.
    7. Standar Biaya Operasi digunakan sebagai acuan bagi satuan pendidikan kejuruan, penyelenggara pendidikan kejuruan, Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat dalam penganggaran dan pengendalian biaya investasi dan Biaya Operasi.

    Sumber :
    Depdikbud, 1993. Link and Match, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
    Disas. Eka Prihatin. 2018. Link and Match Sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Universitas Pendidikan Indonesia. ISSN 1412-556 X e-ISSN 2541-4135.
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017. (10 Langkah Revitalisasi SMK). Jakarta
    Ratnata. I Wayan. Konsep Pemikiran Dalam Pengembangan Pendidikan Vokasi Untuk Menghadapi Tuntutan Dunia Kerja. ISSN 1907-2066
    Sukardi, dkk. 2007. Peran Bursa Kerja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan Smk Dalam Rangka Terwujudnya Link And Match Antara Sekolah Dengan Dunia Industri
    _______________. 2018. Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Nomor 34 Tentang Standar nasional pendidikan sekolah menengah Kejuruan/madrasah aliyah kejuruan
    _______________. 2016. Inpres No.9 tentang Revitalisasi SMK
    _______________. 2003. Undang-undang Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2007. Depdikbud tentangStandar Keahlian Sertifikasi
    _______________. 2008. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Pasal 17 Tentang Guru
    _______________. 2013. Permendikbud Nomor 68 BAB I Pasal I tentang Kurikulum

  54. 7.
    0501519004
    Simpulan tentang kajian diatas :
    1. Implementasi program link and match dengan dunia usaha dan dunia industri pada lulusan SMK dicapai melalui proses belajar mengajar di sekolah dan jalinan kerjasama dengan industri. Selain mengupayakan pembelajaran di sekolah, SMK juga mengupayakan adanya pembelajaran yang melibatkan industri. Hal itu juga masih berkaitan dengan salah satu prinsip link and match, yaitu perbaikan program pendidikan. SMK bersama – sama dengan DU/DI untuk mewujudkan program kerjasama yang mencakup Sinkronisasi Kurikulum, Praktik Kerja Lapangan, Kunjungan Industri, Unit Produksi, dan Uji Kompetensi Keahlian.
    2. Faktor pendukung terjadinya link and match secara umumnya, yaitu:
    a. Kerjasama antara sekolah dengan DU/DI, baik dari Sinkronisasi Kurikulum, PKL, Kunjungan Industri, Unit Produksi, dan Uji Kompetensi Keahlian.
    b. Tanggapan positif dari siswa, orang tua siswa, DU/DI, dan pemerintah.
    3. Pengorganisasian, koordinasi dan kerja¬sama antara sekolah menengah kejuru¬an dengan industri untuk melaksanakan pembelajaran dalam bentuk teori dengan menyisipkan pendidikan karakter, praktek di sekolah, dan praktek kerja industri. Pada prinsipnya dalam struktur organisasi terda¬pat pembagian kerja merupakan pemeca¬han suatu tugas kerja yang sinergi.
    4. Perencanaan SDM, kurikulum, dan sarana prasarana melibatkan pihak industri dan sekolah dalam penyusunannya. Keterlibatan industri dan sekolah adalah dalam bentuk singkronisasi kurikulum yang berasal dari kurikulum sekolah dan kebutuhan industri.

  55. 0501519006

    7. Kesimpulan hasil kajian masalah ini adalah untuk memaksimalkan terserapnya lulusan SMK kompetensi keahlian tata busana perlu adanya program link and match antara sekolah dan industri, meliputi sinkronasi kurikulum, kelas industri, dan praktik kerja lapangan. Selain itu faktor psikologi juga perlu diperhatikan, faktor psikologi sangat penting untuk kesiapan siswa dalam memasuki dunia kerja, faktor-faktor tersebut seperti minat, bakat, motivasi, sikap dan percaya diri.

  56. 05015190011
    5. Solusi-solusi dari penyebab permasalahan yang ada di SMK Penda 2 Karanganyar adalah:
    a. Melengkapi alat praktek siswa, penambahan jumlah lab praktik siswa.
    b. Mengatur jadwal ulang antara sekolah dan jadwal DUDI dengan penambahan SDM yang kompeten dibidang yang terdapat dalam jurusan sekolah.
    c. Mengatur jadwal ulang pelajaran produktif, dan jadwal pelajaran adaptif normatif menggunakan kelas maya dalam proses pembelajarannya.
    d. Mengajukan proposal untuk memperoleh bantuan 2 jurusan yang lain.
    e. Berusaha mencari DUDI yang dapat menerima prakerin selama 6 bulan
    f. Mendorong guru untuk mengikuti sertifikasi kompetensi dan metodologi dengan biaya yang ditanggung pihak sekolah. Sehingga terpenuhi jumlah guru yang memiliki sertifikat kompetensi jurusan.
    g. Mencari dan mengundang DUDI yang memiliki komitmen untuk menyelaraskan kurikulum dengan sekolah yang sesuai dengan jurusan yang ada.

  57. Contoh kasus di SMK Muhammadiyah 1 Purwokerto merupakan salah satu Sekolah swasta yang juga diajukan untuk menerima bantuan “Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan” pada tahun anggaran 2020, guna meningkatan kualitas dan daya saing terutama alumni SMK Muhammadiyah 1 Purwokerto. Idealnya jika sebuah SMK sudah menerima bantuan revitalisasi, maka SMK tersebut telah memiliki program keahlian unggulan yang menggandeng institusi rekanan sebagai partner, dan kerjasama ini ditujukan bagi pengembangan potensi SMK untuk masa depan siswa SMK mitra binaan kami sekaligus memperkuat jembatan link and match bagi dunia usaha dan dunia industri. Namun hingga saat ini, SMK Muhammadiyah 1 Purwokerto yang menunjuk program keahlian Teknik Bisnis Sepeda Motor belum menggandeng secara spesifik kemitraan sekolah dengan lembaga pemerintah maupun non pemerintah seperti perguruan tinggi, sekolah yang setara, mayarakat, serta dunia usaha dan dunia industri di lingkungannya sebagai mitra kerjasama.
    Sebagai contoh riil pada program keahlian TBSM di SMK Muhammadiyah 1 Purwokerto, belum menggandeng perusahaan otomotif manapun sebagai dasar kurikulum pembelajaran program keahlian TBSM (dibuat menjadi program keahlian teknik bisnis sepeda motor Kelas HONDA misalnya). Padahal idealnya suatu SMK yang memiliki program keahlian teknik bisnis sepeda motor sudah melakukan link and match dengan mitra / institusi yang ditunjuknya, dengan bentuk kerjasama antara lain :
    a. Pelatihan tenaga pengajar
    b. Pelatihan siswa
    c. Pengadaan tenaga fasilitator
    d. praktik kerja industri (prakerind)
    e. Prioritas penempatan lulusan
    f. Standarisasi ruangan
    g. Pengadaan Buku Materi Pelatihan (Modul Ajar), Buku Pedoman Reparasi (BPR) dan Part Catalogue untuk Guru

  58. 0501519002
    Jawaban soal no.3

    Contoh kasus di SMK Muhammadiyah 1 Purwokerto merupakan salah satu Sekolah swasta yang juga diajukan untuk menerima bantuan “Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan” pada tahun anggaran 2020, guna meningkatan kualitas dan daya saing terutama alumni SMK Muhammadiyah 1 Purwokerto. Idealnya jika sebuah SMK sudah menerima bantuan revitalisasi, maka SMK tersebut telah memiliki program keahlian unggulan yang menggandeng institusi rekanan sebagai partner, dan kerjasama ini ditujukan bagi pengembangan potensi SMK untuk masa depan siswa SMK mitra binaan kami sekaligus memperkuat jembatan link and match bagi dunia usaha dan dunia industri. Namun hingga saat ini, SMK Muhammadiyah 1 Purwokerto yang menunjuk program keahlian Teknik Bisnis Sepeda Motor belum menggandeng secara spesifik kemitraan sekolah dengan lembaga pemerintah maupun non pemerintah seperti perguruan tinggi, sekolah yang setara, mayarakat, serta dunia usaha dan dunia industri di lingkungannya sebagai mitra kerjasama.
    Sebagai contoh riil pada program keahlian TBSM di SMK Muhammadiyah 1 Purwokerto, belum menggandeng perusahaan otomotif manapun sebagai dasar kurikulum pembelajaran program keahlian TBSM (dibuat menjadi program keahlian teknik bisnis sepeda motor Kelas HONDA misalnya). Padahal idealnya suatu SMK yang memiliki program keahlian teknik bisnis sepeda motor sudah melakukan link and match dengan mitra / institusi yang ditunjuknya, dengan bentuk kerjasama antara lain :
    a. Pelatihan tenaga pengajar
    b. Pelatihan siswa
    c. Pengadaan tenaga fasilitator
    d. praktik kerja industri (prakerind)
    e. Prioritas penempatan lulusan
    f. Standarisasi ruangan
    g. Pengadaan Buku Materi Pelatihan (Modul Ajar), Buku Pedoman Reparasi (BPR) dan Part Catalogue untuk Guru

  59. 05015190001
    6. Solusi Link and Match
    a. Pengembangan kurikulum
    Pendidikan kejuruan pada dasarnya menyiapkan peserta didik untuk hidup pada era perubahan teknologi yang cepat. Hal ini menuntut pendidikan kejuruan harus merubah orientasi pendidikannya dengan tidak hanya melatih peserta didik menguasai suatu ketrampilan, tetapi lebih dari itu harus juga menyiapkan mereka untuk memiliki daya adaptasi yang baik. Merencanakan kurikulum merupakan upaya untuk menghasilkan lulusan yang siap hidup di masa mendatang. Oleh karenanya desain kurikulum haruslah peka dengan kondisi ke depan. Oleh karena itu sudah saatnya kurikulum lebih diarahkan pada upaya pengembangan potensi siswa secara menyeluruih dari aspek kognitif, afektif dan psikomotoriknya. Konsep-konsep kecerdasan ganda, multiple inteligent, life skill, brad based perlu diterapkan sesuai konteks masing-masing. Kurikulum yang diterapkan di SMK untuk mencapai tujuan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik, kekayaan, dan perkembangan Dunia Usaha/Industri serta masyarakat. Kurikulum SMK ditekankan pada persiapan hidup mandiri di dunia nyata dan persiapan pengembangan karir.
    Prinsip umum dalam pengembangan kurikulum SMK adalah sebagai berikut.
    1) Relevansi
    Terdapat dua macam relevansi, yaitu bersifat ke dalam dan ke luar. Relevansi ke dalam maksudnya kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu tujuan SMK, isi, proses penyampaian dan penilaian yang ada di SMK. Relevansi ke luar adalah hendaknya kurikulum tersebut relevan dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan Dunia Usaha/industri.
    2) Fleksibilitas
    Kurikulum bersifat luwes dimana kurikulum tersebut mudah untuk disesuaikan, diubah, dilengkapi atau dikurangi berdasarkan tuntutan dan keadaan ekosistem dan kemampuan setempat, jadi tidak statis atau kaku.
    3) Kontinuitas
    Proses dan perkembangan belajar anak berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau berhenti. Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas dengan kelas lainnya, antara satu jenjang pendidikan dengan pekerjaan.
    4) Praktis
    Keterampilan yang diajarkan sesuai dengan implementasi di Dunia Usaha/Industri dan menggunakan alat-alat yang disesuaikan dengan kebutuhan Dunia Usaha/Industri.
    5) Efektifitas
    Keberhasilan pelaksanaan suatu kurikulum seharusnya dapat ditinjau dari kualitas dan kuantitasnya.
    Penyelarasan kurikulum SMK akan memantapkan model kesesuaian dan keterkaitan (link and match) dengan Dunia Usaha/Industri. Kurikulum dirancang dengan berorientasi pada penggabungan antara instruction dan construction sehingga pendekatan utama dalam membentuk tahapan pembelajaran mengacu pada fase pembelajaran di sekolah ataupun praktik di industri dan berorientasi pada hasil proses pembelajaran yang diinginkan. Untuk itu, program penyelarasan kurikulum bersama industri diharapkan mampu menambah kompetensi lulusan SMK, sehingga sesuai dengan pasar kerja. Selain itu, adanya penyelarasan kurikulum SMK diharapkan dapat meningkatkan lulusan SMK yang siap kerja sesuai dengan kebutuhan Dunia Usaha/Industri. Penyelarasan kurikulum di sekolah dengan dunia kerja diharapkan dapat menghasilkan kualitas lulusan atau pencari kerja yang dapat memenuhi kualifikasi dan persyaratan yang dibutuhkan dunia kerja atau dapat melakukan wirausaha secara mandiri. Tujuan akhir dari penyelarasan ini adalah tercipta paradigma “The right man on the right place”, memperkaya lapangan pekerjaan melalui wirausaha dan sekaligus memperkecil angka penggangguran.
    Kebutuhan yang harus dipenuhi untuk pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut.
    1) Diberlakukannya kelas industry
    2) Pembelajaran system blok
    3) Pembelajaran bilingual
    Sumber daya yang diperlukan sebagai berikut.
    1) Regulasi pemerintah
    2) Pemangku kebijakan baik pemerintah pusat dan daerah
    3) Tim Pengembang Kurikulum
    4) DUDI
    b. Peningkatan Sarana dan Prasarana
    Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) menyatakan bahwa setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku, sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, dan perlengkapan penunjang untuk proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang terdiri dari lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
    Sumber pemenuhan sarana dan prasarana berasal dari:
    1) Penerimaan hibah
    2) Pembelian peralatan
    3) Pembuatan sendiri
    4) Daur ulang
    5) Perbaikan
    c. Peningkatan Kualitas Tenaga Pendidik
    Sumber daya manusia dalam bidang pendidikan seperti guru memerlukan perhatian lebih dari pemerintah. Pasalnya peningkatan peserta didik yang diperkirakan sebanyak 850 ribu sampai tahun 2020 harus diikuti dengan peningkatan kompetensi guru-gurunya. Peningkatan kompetensi guru berguna untuk menyelenggarakan proses belajar mengajar yang efektif. Meningkatnya jumlah guru SMK tidak sebanding dengan meningkatnya kualitas guru yang kompeten dalam mengajar. Hanya 22% guru SMK yang berkualifikasi guru kelompok mata pelajaran bidang produktif (biasa disebut Guru Produktif).
    Kebutuhan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut.
    1) Guru yang memiliki karakter kuat, terampil, kreatif, inovatif, intuitif dan peka terhadap kearifan local serta tumbuh technopreneurship.
    2) Kepala sekolah yang menjalankan fungsi sebagai motivator, inovator, organizing dan controlling.
    Sumber daya yang diperlukan:
    1) Guru berintegritas dengan kompetensi keahlian teknis
    2) Kepala Sekolah dengan visi yang ke depan
    3) LPTK menghasilkan calon guru yang kompeten

    d. Pelaksanaan prakerin
    Praktik Kerja Industri yang disingkat dengan “Prakerin” merupakan bagian dari program pembelajaran yang harus ditempuh oleh setiap peserta didik di dunia kerja. Hal ini sebagai wujud nyata dari pelaksanaan sistem pendidikan di SMK yaitu Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Program Prakerin disusun bersama antara sekolah dan Dunia Usaha/Industri dalam rangka memenuhi kebutuhan belajar peserta didik dan sebagai kontribusi Dunia Usaha/Industri terhadap pengembangan program pendidikan SMK. Peserta didik dapat menguasai sepenuhnya aspek-aspek kompetensi yang dituntut kurikulum serta mengenal lebih dini dunia kerja yang menjadi dunianya kelak setelah menamatkan pendidikannya. Keterlibatan industri pada Prakerin dalam mewujudkan kerjasama SMK dengan dunia usaha/industri antara lain menyediakan tempat praktik bagi peserta didik, penyediaan dana untuk pelaksanaan sistem ganda, merancang program pendidikan, dan implementasi program sampai pada evaluasi hasil belajar peserta didik di pendidikan kejuruan. Pengelolaan hubungan kerja dalam kegiatan praktik kerja industri diawali dengan perencanaan secara tepat oleh pihak sekolah dan pihak industri, agar dapat terselenggara dengan efektif dan efisien.
    1. Manfaat bagi peserta didik
    a. Mengaplikasikan dan meningkatkan ilmu yang telah diperoleh di sekolah.
    b. Menambah wawasan mengenai dunia kerja khususnya berupa pengalaman kerja langsung (real) dalam rangka menanamkan iklim kerja positif yang berorientasi pada peduli mutu proses dan hasil kerja.
    c. Menambah dan meningkatkan kompetensi serta dapat menamkan etos kerja yang tinggi.
    d. Memiliki kemampuan produktif sesuai dengan kompetensi keahlian yang dipelajari.
    e. Mengembangkan kemampuannya sesuai dengan bimbingan/ arahan pembimbing industri dan dapat berkontribusi kepada dunia kerja.

    2. Manfaat bagi sekolah
    a. Terjalinnya hubungan kerjasama yang saling menguntungkan antara sekolah dengan Du/Di
    b. Meningkatkan kualitas lulusannya melalui pengalaman kerja selama PKL.
    c. Mengembangkan program sekolah melalui sinkronisasi kurikulum, proses pembelajaran, teaching factory, dan pengembangan sarana dan prasarana praktik berdasarkan hasil pengamatan di tempat PKL.
    d. Meningkatkan kualitas lulusan.

    3. Manfaat bagi dunia kerja
    a. Du/Di lebih dikenal oleh masyarakat khususnya masyarakat sekolah sehingga dapat membantu promosi produk.
    b. Adanya masukan yang positif dan konstruktif dari SMK untuk perkembangan Du/Di.
    c. Du/Didapat mengembangkan proses dan atau produk melalui optimalisasi peserta PKL.
    d. Mendapatkan calon tenaga kerja yang berkualitas sesuai dengan kebutuhannya.
    e. Meningkatkan citra positif Du/Dikarena dapat berkontribusi terhadap dunia pendidikan sekaligus sebagai implementasi dari Inpres No 9 Tahun 2016.
    Kebutuhan yang harus dipenuhi adalah:
    1) Program Prakerin
    2) Daftar DUDI
    3) Waktu pelaksanaan prakerin
    4) Penilaian selama prakerin
    Sumber daya yang diperlukan:
    1) Peserta prakerin
    2) Pembimbing prakerin dari sekolah dan DUDI
    e. Pelaksanaan Magang Guru
    Memperhatikan jumlah dan komposisi guru SMK, prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan kejuruan, pentingnya pemahaman karakteristik peserta didik terutama kesadaran dan modalitas belajar, maka penyiapan guru-gurunya tidak lagi sekadar sarjana yang relevan di bidangnya, tetapi juga harus memiliki pengalaman kerja di industri. Terlebih lagi jika guru yang sudah mengajar saat ini belum berpengalaman, nantinya harus menjalani proses magang minimal setahun. Hal ini berguna selain untuk mengasah kompetensi, pelatihan ini dapat untuk membuat guru tetap up to date dengan perkembangan dunia usaha dan dunia industri sesuai dengan program keahliannya.
    f. Sertifikasi kompetensi
    Sertifikasi adalah standarisasi secara professional bagi mereka yang kompeten di bidang pekerjaan masingmasing yang dikelola dan dibina oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sertifikasi kompetensi guru SMK Produktif adalah proses pemberian sertifikat kepada guru yang telah memenuhi standar uji kompetensi sesuai dengan paket keahlian masing-masing yang diampu sesuai dengan perundang-undangan. guru SMK Produktif selayaknya memiliki kompetensi yang diakui oleh BNSP sesuai dengan kompetensi keahlian di SMK.
    Mendikbud mengatakan setiap dua semester peserta didik harus mengikuti ujian praktik yang langsung diselenggarakan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Peserta didik yang lulus Uji Profesi akan mendapatkan sertifikat kompetensi BNSP yang kelak dapat digunakan untuk melamar pekerjaan. Masalah pendanaan sementara akan ditanggung oleh pemerintah melalui kerja sama lintas kementerian atau lembaga terkait dengan demikian, setiap peserta didik sekurang-kurangnya mendapat 3 sertifikat keahlian selain ijazah.
    Sertifikasi kompetensi adalah proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan obyektif melalui uji kompetensi yang mengacu pada standar kompetensi kerja baik yang bersifat nasional maupun internasional. Dengan memiliki sertifikasi kompetensi, maka seseorang akan mendapatkan bukti pengakuan tertulis atas kompetensi yang dikuasainya.
    Kebutuhan yang harus dipenuhi:
    1) Adanya lembaga (LSP) yang menyelenggarakan proses uji
    2) Adanya asesor kompetensi yang menguji
    3) Adanya skema uji kompetensi
    Sumber daya yang diperlukan:
    1) Peserta uji
    2) Lembaga uji
    3) Asesor
    g. Rekruitmen
    Adanya regulasi persyaratan penerimaan pegawai harus memiliki sertifikat kompetensi.

    Sumber:
    Djojonegoro, Wardiman. 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia melalui Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas
    Endang S Soesilowati. 2009. Link and Match Dunia Pendidikan dan Industri dalam Meningkatkan Daya Saing Tenaga Kerja dan Industri. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
    Eka Prihatin Disas. 2018. Link and Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung
    Husaini Usman dan Darmono. 2016. Pendidikan Kejuruan Masa Depan. Puskurbuk Kemendikbud: Jakarta.
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017.Strategi Implementasi Revitalisasi SMK (10 Langkah Revitalisasi SMK).Jakarta
    ———-. 2008. Pengembangan Program Prakerin. Jakarta
    ———-. 2016. Peta Jalan Pengembangan SMK 2017-2019. Jakarta
    ———-. 2016. Revitalisasi Pendidikan Vokasi. Jakarta
    ———-. 2016. Inpres No.9 tentang Revitalisasi SMK
    Septiana Dewi Cahyanti. 2018. Implementasi Program Link and Match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri pada Lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta. Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi, Universitas Sebelas Maret: Surakarta.
    Soeprijanto. 2010. Daya Dukung Dunia Industri terhadap Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN). Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 16 (3), 275 – 284.
    Yulianto & Sutrisno, B. 2014. Pengelolaan Kerjasama Sekolah Dengan Dunia Usaha / Dunia Industri: Studi Situs Smk Negeri 2 Kendal. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 24 (1), 19 – 37.

  60. Jawaban No 3
    05015190008

    Kondisi ideal
    1. Melakukan sinkronisasi kurikulum antara SMK dengan Dunia Usaha atau Dunia Industri, di harapkan agar materi pembelajaran yang ada di sekolah sama dengan yang ada di industri atau dunia usaha
    2. Guru atau instruktur harus memiliki kompetensi sesuai dengan bidangnya
    3. Peserta didik, telah memiliki kompetensi sesuai dengan bidangnya
    4. Kegiatan diklat guru diorganisasi secara tepat agar dapat dilaksanakan secara fleksibel dan memberikan perlakuan secara adil kepada peserta didik sesuai dengan potensi yang dimilikinya;
    5. Melaksanakan magang di industri yang tepat, guna untuk menunjang pengetahuan yang sesuai dengan kopetensi siswa
    Kondisi Real Di SMK N 2 Pati
    1. Belum pernah melakukan sinkronisasi kurikulum dengan industri maupun dengan dunia usaha khususnya di jurusan DPIB SMK 2 Pati, di SMK 2 Pati melakukan pembelajaran hanya mengacu pada kurikulum dari pemerintah dan untuk pengembangan materi hanya internal dari guru-guru produktif.
    2. Di SMK 2 Pati untuk tenaga pendidik dari guru-guru senior sudah terfous pada mata pelajaran yang di ampu sesuai dengan kompetensinya masing-masing tetapi untuk guru yang kontrak masih bersifat general dan belum terpetakan sesuai dengan kopentensinya.
    3. Peserta didik di SMK 2 Pati pada jurusan DPID hanya terfokus pada desain perancangan bangunan, tetapi sebagai pengayaan peserta didik di SMK 2 Pati di tambahkan mengenai konstruksi bangunan sebagai bekal pengetahuan ketika nanti bekerja.
    4. Pada kegiatan diklat guru di SMK 2 pati secara internal belum banyak di lakukan, kegiatan diklat yang di ikuti hanya menunggu formasi dari anggaran DIPA,
    5. Kegiatan magang siswa sudah di berlakukan sejak dulu di SMK 2 Pati, kegiatan ini siswa di tempatkan di industri-industri yang terkait dengan bidangnya sebagai pengetahuan di dunia industri yang sebenarnya
    Sumber:
    – Disas Prihatin Eka, (2018) Link and Match sebgai Kebijakan Pendidikan Kejuruan
    https://www.kompasiana.com/yuzelma/5bc1e530c112fe10fc00cc22/ada-apa-dengan-link-and-match-smk?page=all

  61. Jawaban No 4
    05015190008

    Pertama, kurikulum pendidikan yang digunakan belum mengakomodir kebutuhan kompetensi di industri dan masih bersifat broadbased, sementara industri membutuhkan kompetensi yang lebih spesialis,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto dalam peluncuran program vokasi tahap IV di Sugar Industri Medan, Kawasan Industri Medan (KEM), Senin (2/10).
    Saat ini masih banyak institusi pendidikan tinggi khususnya untuk vokasi yang menghasilkan SDM tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Hal tersebut dapat menyebabkan meningkatnya pengangguran dan juga kerugian bagi perusahaan itu sendiri. Salah satu solusi untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menjalankan program link and match. Namun kenyataannya beberapa perguruan tinggi tidak memperhatikan
    Simbiosis mutualisme akan tercipta melalui program ini seperti contohnya ketika perusahaan memiliki sebuah permasalahan maka institusi dengan fasilitas yang ada bisa menemukan solusi. Sedangkan untuk Institusi bisa mengirimkan SDM untuk ditingkatkan secara skill dan selanjutnya SDM bisa langsung diserap perusahaan yang secara tidak langsung mengurangi pengangguran

    Sumber:
    http://www.umy.ac.id/link-and-match-sebagai-solusi-untuk-tingkatkan-kualitas-sdm-indonesia.html
    https://www.beritasatu.com/ekonomi/455794/ini-tantangan-wujudkan-link-and-match-smk-dan-industri
    http://ejournal.upi.edu/index.php/JER/article/download/12965/7676
    http://www.neraca.co.id/article/114576/efektivitas-sistem-pendidikan-link-match

  62. Jawaban no 5
    05015190008

    Untuk itu perlu diciptakan adanya keterpaduan peran dan fungsi tenaga pengajar dan instruktur sebagai pelaku pendidikan yang terlibat langsung dalam pelaksanaa PSG dilapangan secara kondusif. PSG adalah mensinkronkan kurikulum yang terdapat di dunia pendidikan dengan kompetensi yang diharapkan oleh industri. Sinkronisasi kurikulum dapat tercapai apabila kerjasama antara dunia industri dengan dunia pendidikan dapat terjalin dengan baik. PSG juga bertujuan untuk membentuk disiplin, mental kerja dan sikap kerja siswa yang positif, terbentuknya sikap kerja positif siswa bermanfaat ketika siswa sudah terjun ke dunia industri sepenuhnya.
    selain melalui program link and match, institusi perguruan tinggi juga perlu memikirkan tentang pola komunikasi yang dibangun kepada mahasiswa. “Saat ini yang sering terjadi komunikasi yang dibangun oleh institusi pendidikan hanya komunikasi satu arah dari sekolah kepada mahasiswa, sedangkan peran orang tua dikesampingkan. Padahal peran orang tua sangatlah penting dalam rangka membangun sikap yang lebih baik. Banyak kasus terjadi karena SDM tidak memiliki sikap yang baik, kemudian terjadi reject material dalam skala yang besar sehingga menyebabkan kerugian perusahaan
    Maka dari itu perlu dilakukan edukasi terhadap orang tua sehingga nantinya akan tercetak SDM yang tidak hanya baik dalam hal kemampuan dan pengetahuan, namun juga sikap yang dimiliki ikut baik seperti jujur, bertanggung jawab, disiplin, kerjasama serta peduli

    Sumber:
    http://www.neraca.co.id/article/114576/efektivitas-sistem-pendidikan-link-match
    http://www.balipost.com/news/2019/01/14/65994/Revitalisasi-Link-and-Match-Atasi…html
    http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/ptn/article/download/12143/8653

  63. 0501519002
    Jawaban soal no.4
    Penyebab-penyebab permasalahan SMK Muhammadiyah 1 Purwokerto belum melaksanakan link and match yaitu karena belum dipahaminya tentang mekanisme pelaksanaan kerjasama link and match antara sekolah dengan DU DI, hal ini sesuai dengan pendapat Eka Prihatini (2018) bahwa semua stakeholder pendidikan harus bergerak secara simultan untuk mensukseskan program Link and Match dan mau membuka mata dan mulai bersungguh-sungguh menjalankannya. Pendidikan Kejuruan harus bersedia dalam menerima bidang keahlian (kompetensi) yang dibutuhkan dunia kerja sebagai materi pembelajaran.
    Sumber :
    Eka Prihatin Disas (2018). Link And Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Jurnal Penelitian Pendidikan UPI Bandung, 231-242.

  64. 0501519002
    Jawaban soal no.5
    Sekolah harus memahami tahapan pelaksanaan kerjasama antar lembaga pada dasarnya terbagi menjadi tiga tahap yakni tahap 1 meliputi proses analisis kebutuhan, analisis partner ship, perencanaan dan presentasi. Tahap 2 meliputi proses persetujuan, perundingan, dan penandatanganan MoU. Tahap 3 meliputi proses pelaksanaan kerjasama, pelaporan, monitoring dan evaluasi.
    Kemudian membuat model pengembangan sarana, prasarana dan fasilitas pendidikan. Melalui pengamatan ditemukan bahwa program studi yang diteliti telah memiliki rencana pengembangan sarana, prasarana dan fasilitas pendidikan. Rencana tersebut umumnya bersatu dalam rencana sekolah. Sebagian dari rencana tersebut telah disusun secara sistematis, lengkap dan rinci tetapi, namun masih ada yang belum sistematis dan lengkap, sehingga dalam pelaksanaan memerlukan revisi. Sedangkan melalui wawancara pengembangan butir-butir kendali mutu seluruh unsur pimpinan dan pelaksana pendidikan, sepakat diperlakukannya rencana pengembangan sarana

  65. 0501519002
    Jawaban soal no.6
    Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan (2015: 2) menjelaskan bahwa pelaksanaan program kerjasama sekolah dengan pihak eksternal terdiri dari:
    a. analisa kebutuhan program kemitraan sekolah dengan pihak eksternal;
    b. analisa partner institusi/lembaga/masarakat pada kemitraan sekolah sebagai pihak eksternal;
    c. penyusunan proposal kemitraan sekolah dengan pihak eksternal;
    d. penyusunan MoU kemitraan sekolah dengan pihak eksternal;
    e. Penentuan aspek monitoring dan evaluasi kemitraan sekolah dengan pihak eksternal;
    f. Penyusunan program tindak lanjut kemitraan sekolah dengan pihak eksternal. perundingan, dan penandatanganan MoU. Tahap 3 meliputi proses pelaksanaan kerjasama, pelaporan, monitoring dan evaluasi.

  66. 05015190001
    7. Simpulan
    a. Sinkronisasi atau penyelarasan kurikulum antara kurikulum yang diberlakukan di sekolah dengan kurikulum industry yang berstandar SKKNI dilakukan secara kontinyu dan dilaksanakan dengan proses yang benar.
    b. Sarana dan prasarana sekolah disesuaikan dengan kondisi riil di industry agar siswa terbiasa melaksanakan pembelajaran seperti yang sebenarnya ada di industry
    c. Pendidik yang memiliki kompetensi sesuai dengan kompetensi industry dengan tujuan apa yang diajarkan kepada peserta didik akan sama dengan pekerjaan di dunia industry
    d. Prakerin dilaksanakan di tempat industry skala nasional dengan tujuan pekerjaan yang dilakukan sesuai standar industry
    e. Waktu prakerin minimal 3 bulan agar terbentuk karakter dan budaya industry
    f. Magang guru dibutuhkan agar guru memiliki kompetensi sesuai standar industry dan memahami kondisi industry yang sebenarnya
    g. Sertifikat kompetensi diperlukan oleh semua baik guru maupun siswa, dengan mengikuti uji kompetensi di LSP P1/P2/P3 agar dapat dipetakan dan diakui kompetensinya oleh DUDI
    h. Rekruitmen sebaiknya menggunakan persyaratan sertifikat kompetensi diluar syarat formal akademik.

  67. 0501519002
    Jawaban soal no.7
    Link and match mengacu pada keterkaitan (link) dan kesesuaian (match) kompetensi lulusan dari dunia pendidikan agar dapat diterima dan cocok dengan kebutuhan dunia kerja. Sehingga sudah seharusnya dunia pendidikan dapat menjalin kerjasama dengan semua pihak yang terkait dengan dunia kerja, seperti kalangan industri.

  68. Jawaban No 6
    05015190008

    Institusi pendidikan harus menjalin relasi dan menciptakan link dengan banyak perusahaan agar bersedia menjadi arena magang bagi siswa yang akan lulus. Dengan magang on the spot ke dunia kerja seperti itu, lulusan tidak hanya siap secara teori tetapi juga siap secara praktik. Pada saat peserta didik melaksanakan praktik kerja industri, peserta didik dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan suatu pekerjaan agar mempunyai pengalaman yang dapat bermanfaat di kemudian hari.

    Jika program Link and Match berjalan baik, pemerintah juga diuntungkan dengan berkurangnya pengangguran. Manfaat dari pelaksanaan Link and Match sangat besar, diharapkan semua stake holders dunia pendidikan bersedia membuka diri menerima bidang kompentensi yang dibutuhkan dunia kerja sebagai materi pelajaran utama. Perusahaan juga harus membuka pintu bagi peserta didik yang ingin magang on the spot di perusahaan tersebut. Pemerintah juga harus serius menjalankan program Link and Match bukan hanya sebagai proyek belaka.

  69. Jawaban no 7
    05015190008

    Kesimpulan pada pembahasan saya di atas adalah terdidiknya siswa yang siap bekerja di dunia usaha maupun di dunia industri yang kompeten sesuai dengan bidangya, sehingga terserapnya lulusan smk di dunia kerja sesuai dengan yang di inginkan oleh lembaga pendidikan serta mampu mengembangkan kopetensinya dengan cepat di dunia kerja

  70. 0501519007

    Jawaban soal no.4
    Penyebab permasalahan SMK AL Asror Semarang masih sangat banyak terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan link and match yaitu Belum adanya pemetaan yang jelas dan pasti, berapa dan seperti apa tenaga kerja yang dibutuhkan industri. Belum dipahaminya tentang mekanisme pelaksanaan kerjasama link and match antara sekolah dengan DU DI, hal ini sesuai dengan pendapat Eka Prihatini (2018) bahwa semua stakeholder pendidikan harus bergerak secara simultan untuk mensukseskan program Link and Match dan mau membuka mata dan mulai bersungguh-sungguh menjalankannya. Pendidikan Kejuruan harus bersedia dalam menerima bidang keahlian (kompetensi) yang dibutuhkan dunia kerja sebagai materi pembelajaran. Terbatasnya lowongan kerja untuk lulusan SMU, sehingga banyak yang bekerja sebagai operator di industri, padahal mereka tidak mempunyai keahlian yang sesuai dengan latar belakng pendidikan nya. Masih banyak lulusan SMK yang bekerja diluar jurusan/bidangnya akibat keterbatasan lahan kerja yang sesuai dengan bidangnya dan juga kurangnya SDM yang kompeten
    Sumber :
    Eka Prihatin Disas (2018). Link And Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Jurnal Penelitian Pendidikan UPI Bandung, 231-242.
    Disas. Eka Prihatin. 2018. Link and Match Sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Universitas Pendidikan Indonesia. ISSN 1412-556 X e-ISSN 2541-4135.
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017. (10 Langkah Revitalisasi SMK). Jakarta
    Sukardi, dkk. 2007. Peran Bursa Kerja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan Smk Dalam Rangka Terwujudnya Link And Match Antara Sekolah Dengan Dunia Industri

  71. 0501519007

    Jawaban soal no.05
    Solusi dari masalah tersebut yaitu Melakukan Pembinaan dan pengembangan personil. Bahwa sebagian besar program studi telah mempunyai program pembinaan dan pengembangan personil. Namun sebagian besar program studi belum menyusun rencana tersebut secara sistematis dan rinci, baru berupa butir-butir atau dalam jadwal saja. Sebagian lainnya malah belum tertulis baru disampaikan pimpinan dalam rapat-rapat atau pertemuan. Rencana tersebut meliputi pembinaan dan pengembangan unsur pimpinan, guru dan staf administrasi. Melalui diskusi pengembangan butir-butir kendali mutu, seluruh unsur pimpinan dan pelaksanan pendidikan sepakat diperlakukannya rencana tertulis yang lengkap tentang pembinaan dan pengembangan personil, baik unsur pimpinan, guru maupun staf administrasi.
    Membuat model pengembangan sarana, prasarana dan fasilitas pendidikan. Melalui pengamatan ditemukan bahwa seluruh program studi yang diteliti telah memiliki rencana pengembangan sarana, prasarana dan fasilitas pendidikan. Rencana tersebut umumnya bersatu dalam rencana sekolah. Sebagian dari rencana tersebut telah disusun secara sistematis, lengkap dan rinci tetapi, namun masih ada yang belum sistematis dan lengkap, sehingga dalam pelaksanaan memerlukan revisi. Sedangkan melalui wawancara pengembangan butir-butir kendali mutu seluruh unsur pimpinan dan pelaksana pendidikan, sepakat diperlakukannya rencana pengembangan sarana.
    Sumber :
    Eka Prihatin Disas (2018). Link And Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Jurnal Penelitian Pendidikan UPI Bandung, 231-242.
    Disas. Eka Prihatin. 2018. Link and Match Sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Universitas Pendidikan Indonesia. ISSN 1412-556 X e-ISSN 2541-4135.
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017. (10 Langkah Revitalisasi SMK). Jakarta
    Sukardi, dkk. 2007. Peran Bursa Kerja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan Smk Dalam Rangka Terwujudnya Link And Match Antara Sekolah Dengan Dunia Industri

  72. 0501519010

    Jawaban soal no 06
    . Menurut McNeil (1990), tujuan kurikulum teknologis ditekankan kepada pencapaian perubahan tingkah laku yang dapat diukur. Oleh karena itu tujuan umum dijabarkan ke dalam tujuan-tujuan khusus. Model desain kurikulum teknologi difokuskan kepada efektivitas program, metode, dan bahan-bahan yang dianggap dapat mencapai tujuan. Perspektive teknologi telah banyak dimanfaatkan pada berbagai konteks, misalnya pada program pelatihan di lapangan industri dan pembelajaran pada pendidikan teknologi dan kejuruan. Kurikulum berorientasi teknologi perlu memperhatikan kondisi dan dampak yang terjadi dari peserta didik. Pendidikan kejuruan merupakan salah satu bentuk investasi yang hingga saat ini masih belum disadari masyarakat. Kesadaran investasi pendidikan dapat dilakukan salah satunya dengan cara memberikan program perencanaan karir bagi siswa. Dengan demikian siswa akan mengetahui kemampuan yang dimiliki, sehingga siswa yang memiliki kesiapan yang kecil untuk memasuki dunia usaha akan memutuskan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Selain itu perencanaan karir dapat membuka wawasan siswa mengenai dunia kerja, hal ini akan menyadarkan siswa bahwa dalam dunia kerja terdapat jenjang karir yang harus di lewati, apabila seseorang ingin meningkatkan kesejahteraan hidup. Melalui perencanaan karir, siswa akan lebih matang dalam menentukan pekerjaan yang akan dituju. Diharapkan tenaga kerja dari lulusan SMK tidak lagi keluar masuk perusahaan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap investasi pendidikan, antara lain (1) mengubah paradigma pendidikan gratis dengan pendidikan murah dan berkualitas; (2) perencanaan karir sejak dini; dan (3) investasi pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Sutrisno (2013:10) memaparkan hasil penelitiannya, bahwa jenis aspek perencanaan karir yang perlu difokuskan dalam pendidikan kejuruan adalah aspek kemampuan mengidentifikasi tujuan-tujuan yang berkaitan dengan tuntutan dunia kerja, kemampuan menyusun program kerja pendidikan, termasuk materi kejuruan yang sesuai dengan kompetensi DUDI. Optimalisasi perencanaan karir siswa SMK dapat berjalan apabila; pertama penguasaan materi yang diberikan pada siswa tidak hanya berorientasi pada kompetensi aspek hard skill melainkan memperhatikan soft skill; kedua kompetensi yang diajarkan sekolah dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri, sehingga lulusan SMK dapat langsung diterima oleh DUDI; ketiga model perencanaan karir yang digunakan harus sesuai dengan norma-norma masyarakat; keempat lebih mengorientasikan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi, sesuai dengan karier yang ingin dikembangkan. Prakerin adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional, yang memadukan secara sistematik dan sinkron antara program pendidikan di sekolah dan program pendidikan di dunia usaha/industri yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional. Pada saat Prakerin siswa dihadapkan pada suatu pekerjaan yang sebenarnya dan siswa diharuskan mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan pekerjaan nyata tersebut, seperti perhitungan anggaran biaya dan menggambarkan suatu detail bangunan sesuai dengan rencana. Dengan demikian siswa akan menerapkan teori yang telah didapatkan di sekolah untuk mengerjakan pekerjaan yang diberikan pada saat Prakerin. Dalam praktiknya secara langsung, siswa juga akan mendapatkan pengetahuan baru yang belum didapatkan dari sekolah melalui tempat Prakerin tersebut.
    Sumber :
    Eka Prihatin Disas (2018). Link And Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Jurnal Penelitian Pendidikan UPI Bandung, 231-242.
    Disas. Eka Prihatin. 2018. Link and Match Sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Universitas Pendidikan Indonesia. ISSN 1412-556 X e-ISSN 2541-4135.
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. 2017. (10 Langkah Revitalisasi SMK). Jakarta
    Sukardi, dkk. 2007. Peran Bursa Kerja Khusus Sebagai Upaya Penempatan Lulusan Smk Dalam Rangka Terwujudnya Link And Match Antara Sekolah Dengan Dunia Industri

  73. 0501519007

    Jawaban Soal No 07
    Kesimpulan pada pembahasan saya mengenai masalah link and match yang ada di SMK yang saya ampu yaitu perlunya peran pemerintah dalam mengatur kurikulum, sarana prasarana dan juga didukung peran aktif sekolah dalam pendampingan karir bagi lulusannya, sehingga ketika dihadapkan dengan dunia kerja, lulusannya dapat bersaing dan memiliki kompetensi diatas lulusan dari program keahlian lain.

  74. With havin so much written content do you ever run into any issues of plagorism or copyright infringement? My site has a lot of unique content I’ve either created myself or outsourced but it seems a lot of it is popping it up all over the web without my permission. Do you know any techniques to help protect against content from being stolen? I’d really appreciate it.

    • i have no idea to protect our content from being stolen. there are too many people do not appreciate people’s works by copying incorrectly.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here