TUGAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN

15
1327

Berdasarkan pembelajaran pada minggu lalu, setiap kelompok sudah diberikan tugas untuk mengkaji beberapa materi terkait pendidikan kejuruan. Silakan tugas di upload di kolom komentar (DW).

SHARE
Previous articlePENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
Next articleDASAR SEMIKONDUKTOR
Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang (UNNES)

15 COMMENTS

  1. JUDUL
    MENEJEMEN BERBASIS SEKOLAH
    Dalam Meningkatkan Kepedulian Warga Sekolah, Masyarakat & Dunia Usaha, Dunia Industri Untuk Berpartisipasi Dalam Pelaksanaan Program Sekolah

    Mata Kuliah Pendidikan Teknologi Kejuruan

    Dosen Pengampu:
    Dr. Dwi Widjanarko, S.Pd., M.T.

    Disusun oleh : Kelompok 5
    1. Muntasy Syahrul S. (5202417029/Pend. Teknik Otomotif)
    2. Aldi Edvan Octavio (5202417036/Pend. Teknik Otomotif)

    JURUSAN TEKNIK MESIN
    FAKULTAS TEKNIK
    UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
    2019

    A. PENDAHULUAN
    Lahirnya UU. No. 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah, serta UU.No. 25 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah yang membawa konsekuensi terhadap bidang-bidang kewenangan daerah sehingga lebih otonom termasuk dalam bidang pendidikan.Sehingga penyelenggaraan yang bersifat terpusat atau sentralis berganti kearah desentralisasi. Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah ini diberikan tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan (Yasin & Wahyudi, 2011).
    Dengan adanya kebijakan tersebut maka pengelolaan pendidikan dilakukan secara otonomya itu dengan model Manajemen Berbasis Sekolah (school based management). Manajemen berbasis sekolah sendiri merupakan suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu, efisiensi dan pemerataan pendidikan agar dapat mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah, masyarakat, dudi
    dan pemerintah ().

    B. TUJUAN
    Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengkaji dan menganalisa implemetesi lapangang MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) yang kita tinjau dari salah satu tujuannya, yaitu meningkatkan kepedulian masyarakat, warga sekolah, dan dunia usaha dunia industri untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan program sekolah.

    C. KAJIAN TEORI
    Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
    Istilah manajemen berbasis sekolah merupakan terjemahan dari “school based management”. MBS merupakan paradigma baru pendidikan, yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (pelibatan masyarakat) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional (Sholeh, 2010).
    Menurut Mulyasa (2004, p.11) MBS merupakan suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu dan efisiensi pendidikan agar dapat mengakomodasi kenginginan masyarakat setempat serta menjalin kerjasama yang erat antara sekolah, masyarakat, dan pemerintah.
    Menurut Edmond yang dikutip Suryosubroto MBS merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah (Suryosubroto, 2004). Nurcholis mengatakan Manajemen berbasis sekolah (MBS) adalah bentuk alternatif sekolah sebagai hasil dari desentralisasi pendidikan (Nurkolis, 2005).
    Secara umum, manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan, orang tua siswa, dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional (Suryani & dkk, 2017).
    Lebih lanjut istilah manajemen sekolah seringkali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. Berkaitan dengan itu, terdapat tiga pandangan berbeda; pertama, mengartikan administrasi lebih luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi); kedua, melihat manajemen lebih luas dari pada administrasi (administrasi merupakan inti dari manajemen); dan ketiga yang menganggap bahwa manajemen identik dengan administrasi.
    Dalam hal ini, istilah manajemen diartikan sama dengan istilah administrasi atau pengelolaan, yaitu segala usaha bersama untuk mendayagunakan sumber-sumber, baik personal maupun material, secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal. Pengertian manajemen menurut Hasibuan merupakan ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu (Hasibuan, 2003). Definisi manajemen tersebut menjelaskan pada kita bahwa untuk mencapai tujuan tertentu, maka kita tidak bergerak sendiri, tetapi membutuhkan orang lain untuk bekerja sama dengan baik.
    Berdasarkan fungsi pokoknya, istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama, yaitu: merencanakan (planning), mengorganisasikan (organizing) ,mengarahkan (directing), mengkoordinasikan (coordinating), mengawasi (controlling), dan mengevaluasi (evaluation). Menurut Gaffar (1989) mengemukakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik, sitemik, dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

    D. IMPLEMENTASI LAPANGAN
    Implementasi MBS akan berlangsung secara efektif dan efisien apabila didukung oleh sumber daya manusia yang professional untuk mengoprasikan sekolah, dan yang cukup agar sekolah mampu menggaji staf sesuai dengan fungsinya, sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung proses belajar mengajar, serta dukungan orang tua siswa atau masyarakat yang tinggi.
    Menurut Nurkolis (2005), pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan Implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Namun secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi sebagai berikut (Mulyasa, 2004) :
    1. Sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal, yaitu: otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan, pengembangan pengetahuan dan keterampilan secara berkeseimbangan, akses informasi ke segala bagian, dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berprestasi atau berhasil.
    2. Adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan, proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan interuksional serta non-instruksional
    3. Adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum.
    4. Adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif.
    5. Semua pihak harus menyadari peran serta tanggung jawabnya secara sunggu-sungguh.
    6. Adanya quidelines dari Departemen pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien.
    7. Sekolah harus memiliki transparansi dalam laporan pertanggung jawaban setiap tahunnya.
    Implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS, diantaranya yaitu identifikasi peran masing-masing, pembangunan kelembagaan, mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya, implementasi pada proses pembelajaran evaluasi atas pelaksanaan di lapangan, dan dilakukabn perbaikan-perbaikan.
    Sehubungan dengan implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam rangka desentralisasi pendidikan di Indonesia, maka keberhasilan implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sedikitnya dapat dilihat dari tiga dimensi yaitu efektivitas, efisiensi dan produktivitas. (Mulyasa, 2004).
    Efektivitas berkaitan erat dengan perbandingan antara tingkat pencapai tujuan dengan rencana yang telah disusun sebelumnya, atau perbandingan hasil nyata dengan hasil yang direncanakan. Efektivitas Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sebagaimana efektivitas pendidikan pada umumnya, berarti bagaimana Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berhasil melaksanakan semua tugas pokok sekolah, manjalin partisipasi masyarakat, mendapat dan memanfaatkan sumber dana, sumber daya, dan sumber belajar (sarana dan prasarana) untuk mewujudkan tujuan sekolah.
    Efisiensi yakni perbandingan antara input atau sumber daya dengan output. Artinya suatu kegiatan dikatakan efisien jika tujuan dapat dicapai secara optimal dengan penggunaan sumber daya yang minimal.
    Sedangkan produktivitas dalam dunia pendidikan yakni keseluruhan proses penataan dan penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Jadi, implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di samping dilihat dari segi efektivitas, juga perlu dianalisa dari segi efisiensi untuk melihat produktivitas.
    Berkaitan dengan judul kami, meningkatkan kepedulian masyarakat, warga sekolah, dan dunia usaha dunia industri untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan program sekolah. Untuk merealisasikannya dalam meningkatkan kepedulian masyarakat sekolah dapat membuat komite sebagai perwakilan dari masyarakat atau wali murid untuk peduli terhadap pelaksanaan program sekolah dengan cara menjelaskan apa saja kebutuhan yang diperlukan untuk program sekolah dan apa saja program sekolah yang sedang atau akan dilaksanakan, bentuk kepedulian bisa dengan ikut berpartisipasi atau mendanani program sekolah tersebut.
    Selanjutnya kepedulian warga sekolah. Ini adalah kepedulian yang sangat penting karena kekuatan perubahan yang paling berpengaruh datangnya dari dalam yaitu warga sekolah. Dalam melaksanakannya pihak sekolah harus mewajibkan warga sekolah ikut berpartisipasi dalam program sekolah yang terlebih dahulu disosialisasikan tentang program sekolah yang akan atau sedang dilaksanakan.
    Yang terakhir yaitu kepedulian oleh Dunia usah dunia industri (Dudi). Dalam rangka meningkatkan kepedulian tersebut sekolah dapat bekerjasama dengan Industri yang sesuai dengan bidang kejuruan dari sekolah tersebut. Bentuk kepeduliannya yaitu mendatangkan guru/staff ahli dari industri untuk mengadakan pelatihan kompetensi sesuai bidang kejuruan dan penilaian terhadap hasil belajar siswa, Bantuan berupa peralatan atau media pembelajaran untuk mendukung kegiatan belajar mengajar siswa, dan dudi mempersilahkan siswa yang akan melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL).
    E. ANALISA
    Dalam pelaksanaan MBS untuk mencapai tujuan, salah satunya yaitu meningkatkan kepedulian masyarakat, warga sekolah, dan dunia usaha dunia industri untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan program sekolah terdapat beberapa hambatan yang membuat MBS kurang berjalan lancar.
    Berikut analisa kami terhadapa hambatan dalam pelaksanaan MBS :
    1. Tidak Berminat Untuk Terlibat
    Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. Jadi mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam melaksanakan penerapan program MBS karena menurut sebagian mereka menganggap hanya beban.
    2. Memerlukan Pelatihan
    Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar ada yang tidak tahu atau sama sekali belum berpengalaman menerapkan model yang agak rumit dan partisipatif ini. Mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS, jadi perlu diadakan pelatihan.
    3. Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru
    Pihak-pihak yang terlibat mungkin sudah terbiasa dengan pola kerja yang telah lama mereka geluti. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihak-pihak yang telah terlibat dengan sistem yang baru sehingga kemungkinan besar akan menimbulkan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab dalam pengambilan keputusan.

    Penerapan MBS saat sekarang ini dirasa berjalan cukup lancar walau terdapat beberapa hambatan, tetapi upaya kepedulian dari berbagai komponen yang terlibat membuat penerapan program MBS terlaksana dengan baik dan secara tidak langsung dapat meningkatkan mutu sekolah. Penerapan program MBS dapat meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang ada.

    F. SIMPULAN & SARAN
    Setelah pembahasan yang cukup mendalam diatas, bisa kita simpulkan bahwa MBS dalam implementasiannya diperlukan kepedulian yang cukup dari pihak masyarakat, warga sekolah, dan dunia usaha dunia industri untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan program sekolah demi terlaksanakannya program sekolah dengan maksimal dan tercapainya tujuan dari program itu sendiri.
    Dan meskipun terdapat beberapa hambatan, dengan dilaksankannya sosialisasi tentang MBS secara detail dan menyeluruh terhadap pihak-pihak yang terkait, dapat dipastikan kepedulian terhadap MBS akan meningkat dan juga dapat meningkatkan mutu sekolah.

    G. DAFTAR PUSTAKA
    Depdiknas, 2001. Konsep dan Pelaksanaan dalam Manajemen Peningkat Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Dikmenum
    Gaffar, F., 1989. Manajemen Pendidikan. Bandung: IKIP.
    Hasibuan, M.S.P., 2003. Manajemen : Dasar, Pengertian dan Masalah. Jakarta: Bumi Aksara.
    Mansur, H., 1989. Pengantar Manajemen. Jakarta: P2LPTK.
    Mulyasa, E., 2004. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
    Nurkolis, 2005. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: PT Grasindo.
    Sholeh, A., 2010. Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). p.2.
    Suryani, S. & dkk, 2017. Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah (MBS). p.6.
    Suryosubroto, 2004. Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
    Yasin, A. & Wahyudi, 2011. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah, p.3.

    • • M. Fahmi K. (5202417010) Kel.2
      Sosialisasi tentang MBS diberikan kepada siapa saja, apa saja yang diberikan, dan bagaimana cara menarik audien ?
      Jawab : Sosialisasi tentang MBS diberikan kepada seluruh warga sekolah seperti siswa, guru, dan staff lainnya, dan juga kepada masyarakat (Wali murid) serta DUDI. Yang disampaikan dari sosialisasi tersebut yaitu konsep tentang MBS yang akan dilaksanaakan, pentingnya peran aktif warga sekolah, masyarkat, dan DUDI dalam pelaksanaan MBS, program Sekolah yang akan dilaksanakan, dan pentingnya MBS untuk meningkatkan mutu sekolah.

      • Doni Puji L. (5202417016) Kel.4
      Ketika MBS telah berjalan baik, Bagaimana cara sekolah mengontrol siswanya ketika diluar sekolah?
      Jawab : Untuk terciptanya penerapan MBS yang efektif maka harus ada peran serta dari masyarakat lingkungan sekitar untuk mendukung keberhasilan MBS yaitu dengan memperhatikan siswa yang sedang nongkrong setelah jam pulang sekolah dan membubarkan apabila sudah terlalu kelewatan karena ditakutkan akan terjadi hal yang tidak semestinya, apabila sudah dirumah orang tua pun juga harus ikut mengawasi anaknya bila sedang dirumah karena orang tua berperan sangat penting untuk membentuk karakter anak yang baik agar nantinya saat disekolah dapat menjadi siswa yang bisa menaati peraturan dan menjalankan kewajiban seorang siswa.

      • Eko Juli K. (5202417005) Kel.1
      Bagaimana cara efektif menghadapi hambatan pelaksanaan MBS yaitu tidak berminat untuk terlibat ?
      Jawab : Untuk menghadapi hambatan tersebut caranya yaitu dengan melalkuan sosialisai tentang pentingnya peran aktif warga sekolah, masyarkat, dan DUDI dalam pelaksanaan MBS , dan pentingnya MBS untuk meningkatkan mutu sekolah. Jika program sekolah berjalan sukses dan citra sekolah menjadi baik, pihak-pihak terkait yang berprestasi dapat diberikan reward untuk menambah semangat dan meningkatkan peran aktifnya dalam pelaksanaan MBS.

      • Febiandhika Laksana A. (5202417015) Kel.3
      Otonomi 4 hal tersebut apa saja dan apa makna dari guide line?
      Jawab : Otonomi 4 hal tersebut yaitu meliputi otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan, pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkeseimbangan, akses informasi ke segala bagian, dan pemberian penghargaan kepada pihak yang berprestasi atau berhasil. Guideline merupakan pedoman, yaitu pedoman untuk melaksanakan MBS yg berasal dari Instansi terkait seperti Kemendikbud.

      • M. Ikhwan Rifqi (5202417043) Kel.6
      Bagaimana peran Masyarakat dalam pelaksanaan MBS agar berjalan efektif dan efisien ?
      Jawab : Agar MBS berjalan secara efektif dan efisien peran masyarakat sangat diperlukan. Peran yang dapat dilakukan masyarat diantaranya yaitu ikut andil dalam pelaksanaan Program sekolah, membantu pendanaan untuk program sekolah, dan membantu mengawasi atau mengontrol jalannya program sekolah.

  2. GURU SEKOLAH KEJURUAN (SMK) TIDAK BERPENGALAMAN DIDALAM DUNIA INDUSTRI
    Disusun Oleh :
    1. Langgeng Kristianto (5202417028)
    2. Doni puji laksono (5202417016)
    PENDAHULUAN
    Tujuan SMK adalah menghasilkan lulusan yang siap bekerja sesuai bidang keahliannya. Tujuan SMK ini sesuai dengan definisi Unesco (2005) yang menyatakan, “Technical and Vocational Education and Training (TVET) is concern with the acquisition of knowledge and skills for the word of work.” (Pendidikan Teknikal dan Vokasional dan Pelatihan adalah berkenaan dengan penyiapan pengetahuan dan keterampilan untuk memasuki dunia kerja.” Kelemahan definisi Unesco tersebut adalah tidak memasukkan sikap (attitude) di dalam definisinya. Pada hal sikap seseorang lebih menentukan kesuksesan di dalam kariernya dibandingkan dengan pengetahuan dan keterampilan.
    Banyak hasil penelitian menemukan bahwa kesuksesan seseorang lebih ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya daripada kecerdasan intelektualnya. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka yang tujuan pendidikan kejuruan adalah menyiapkan lulusan untuk bekerja sesuai bidang keahliannya secara profesional. Tetapi dalam kenyataannya, link and match di SMK belum berjalan secara efektif seperti yang dinyatakan Slamet PH (2013: 16)
    Pendidik aatau guru adalah tenaga professional seperti yang diamanatkan dalam pasal 39 ayat 2 UU RI No 20/2003 tentang system pendidikan nasional pasal 2 ayat 1 UU RI No 14/2005 tentang guru dan dosen, serta pasal 28 ayat 1 PP RI No 19/2005 tentang standard nasional pendidikan. Landasasn yuridids pemerintah dalam upaya meningkatkan profesionalisme dan penghargaan kepada guru sebagai pelaksanan pendidikan ditingkat pembelajaran yang bermuara akhir pada peningkatan kulaitas pendidikan nasional.
    Berkaitan dengan hal itu saat ini banyak guru-guru di tingkat lanjutan pertama maupun menengah bersemengat melanjutkan studi S-2. Namun prningkatan jumlah guru S-2 bukan berarti secara otomatis meningkat pula profesionalnya.
    Adannya sertifikasi dan Pendidikan dan Latihab Profesi Guru (PLPG) bag guru yang belum lulus sertifikasi merupakan suatu usaha nyata pemerintah dalam rangka pembentukan guru yang professional
    TUJUAN
    1. Untuk mengetahui sejuah mana pengalaman guru kejuruan dalam dunia industry
    2. Untuk mencari tahu sejauhmana profesionalisme guru kejuruan
    KAJIAN TEORI
    1. Pengertian Guru Profesional
    Istilah profesional berasal dari kata profession (pekerjaan) yang berarti sangat mampu melakukan pekerjaan. Sebagai kata benda, profesional berarti orang yang melaksanakan sebuah profesi dengan menggunakan profesiensi (kemampuan tinggi) sebagai mata pencaharian (Muhibbin Syah, 2004 : 230). Jadi, kompetensi profesional guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya. Guru yang ahli dan terampil dalam melaksanakan profesinya dapat disebut sebagai guru yang kompeten dan profesional.
    Kompetensi profesional guru menggambarkan tentang kemampuan yang harus dimiliki oleh seseorang yang mengampu jabatan sebagai seorang guru (Moh Uzer Usman, 2000 : 14). Tidak semua kompetensi yang dimiliki seseorang menunjukkan bahwa dia profesional, karena kompetensi profesional tidak hanya menunjukkan apa dan bagaimana melakukan pekerjaan, tetapi juga menguasai rasional yang dapat menjawab mengapa hal itu dilakukan berdasarkan konsep dan teori tertentu.
    Menurut UU RI No. 14/2005 Pasal 10 ayat 1 dan PP RI No. 19/2005 Pasal 28 ayat 3, kompetensi profesional guru diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diwujudkan dalam bentuk tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang yang memangku jabatan guru sebagai profesi.
    Kompetensi profesional merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan materi pembelajaran bidang studi secara luas dan mendalam yang mencakup penguasaan substansi keilmuan yang menaungi materi kurikulum tersebut, serta menambah wawasan keilmuan sebagai guru.
    Dalam pendidikan kejuruan guru profesional juga dituntut untuk berpengalaman dalam dunia industri yang mana nantinya akan menciptakan sikap perofesionalisme di dalam pendidikan kejuruan, jika guru tidak berpengalaman dalam dunia industri maka akan sulit untuk mengembangkan siswa agar siswa dapat berfikir kreatif dan inovatif dikarenakan guru tidak memahami wawasan pasar, wawasan keunggulan, wawasan mutu dan wawasan nilai tambah.
    IMPLEMENTASI LAPANGAN
    Pengalaman dan pengetahuan guru-guru sekolah menengah kejuruan atau SMK yang bersentuhan dengan dunia usaha dan industri masih minim. Padahal, pembelajaran di SMK yang mengutamakan penguasaan kompetensi dan keterampilan itu membutuhkan para pendidik yang memahami perkembangan di dunia luar sekolah.
    Di SMK itu belajar untuk bisa mengerjakan, sedangkan di SMA siswa belajar tahu. Tetapi pendekatan yang dilakukan guru di SMK masih banyak yang belum bisa menyesuaikan dengan kebutuhan orang-orang yang siap kerja. “Kondisi ini terutama karena guru SMK umumnya tidak banyak yang punya pengalaman terjun di dunia usaha dan industri yang terus berubah dan berkembang,” kata Marlock, Koordinator Lapangan Forum Peduli Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia (FP3KI) di Jakarta, Selasa (26/8, 2008).
    Marlock memperkirakan tidak sampai 50 persen guru SMK di Indonesia yang benar-benar memahami kebutuhan dunia kerja dan industri. Kenyataan ini terlihat dari berbagai pelatihan yang dilaksanakan FP3KI, lembaga yang didirikan sejumlah pengusaha yang terdorong untuk meningkatkan mutu guru dan pembelajaran di SMK, sejak tahun 1997.
    Peningkatan mutu pendidik SMK itu juga harus jadi fokus utama. Bagaimana para guru ini bisa mentransfer keterampilan dan informasi perkembangan teknologi terbaru yang dipakai perusahaan-perusahaan, jika mereka terbatas untuk bisa bersentuhan dengan kalangan industri, kata Marlock. Dari data Departemen Pendidikan Nasional, sebanyak 120.764 guru SMK berpendidikan S1 dan S2 sebanyak 1.691 guru. Masih ada 33.297 guru yang berpendidikan SMA hingga DIII.
    Persoalan lainnya, guru SMK masih belum mampu menerapkan pembelajaran yang aplikatif di dunia kerja. Misal dalam pembelajaran Bahasa Inggris di SMK, guru sering terjebak pada gaya pembelajaran di SMA yang lebih banyak mengajarkan teori. Padahal, kebutuhan siswa SMK harus bisa menggunakannya untuk berkomunikasi sesuai bidang keahlian.
    Henny Hartini, Humas SMKN 30 Jakarta, mengatakan kesempatan magang di perusahaan untuk guru biasanya difasilitasi dinas pendidikan. Jika kuota yang disediakan cukup banyak, guru dari suatu sekolah punya kesempatan lebih banyak untuk mengirim pendidiknya bisa terjun langsung di dunia usaha dan industri.
    ANALISIS
    Pendidikan kejuruan dapat diartikan dari berbagai segi. Bila seseorang belajar cara bekerja, maka orang tersebut mendapatkan pendidikan kejuruan. Byram & Wenrich (1956: 50) menyatakan bahwa dari sudut pandang sekolah, pendidikan kejuruan mengajarkan orang cara bekerja secara efektif. Dengan demikian, pendidikan kejuruan berlangsung apabila individu atau sejumlah individu mendapatkan informasi, pemahaman, kemampuan, keterampilan, apresiasi, minat dan/atau sikap, yang memungkinkan dia untuk memulai atau melanjutkan suatu aktivitas yang produktif. Charles prosser (1925) menyatatakan dalama salah satu prinsip pendidikan kejuruan bahwa pendidikan kejuruan akan efektif jika pelatihnya cukup berpengalaman dan menerapkan kemampuan dan keterampilannya dalam mengajar. Dengan demikian didalam pendidikan kejuruan apabila ingin efektif maka pendidik/pengajar harus berpengalaman baik dalam dunia kejuruan, akademik, maupun dalam dunia industry sehingga dapat menciptakan pendidikan kejuruan yang ideal. Selama ini masih banyak guru/pendidik di SMK yang belum menguasai dunia industry sehingga hal ini akan berdampak pada siswa lulusan nantinnya.
    Kompetensi profesional guru menggambarkan tentang kemampuan yang harus dimiliki oleh seseorang yang mengampu jabatan sebagai seorang guru (Moh Uzer Usman, 2000 : 14). Dari peryataan tersebut dapat dilihat bahwasannya saat ini guru profesional masih belum banyak tersedia dikarenakan banyaknya guru kejuruan yang hannya mengejar akademik saja tetapi tidak memperhidungkan aspek pengalaman dunia industri.
    KESIMPULAN
    Sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, jabatan guru sebagai pendidik merupakan jabatan profesional. Oleh sebab itu guru dituntut agar terus mengembangkan kapasitas dirinya sesuai dengan perkembangan jaman, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kebutuhan masyarakat termasuk kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kapabilitas untuk mampu bersaing baik di forum regional, nasional maupun internasional.
    Guru adalah suatu sebutan bagi jabatan, posisi, dan profesi bagi seseorang yang mengabdikan dirinya dalam bidang pendidikan melalui interaksi edukatif secara terpola, formal, dan sistematis. Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen (pasal 1) dinyatakan bahwa: “Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengrahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah”. Guru kejuruan tidak hanya harus profesional dalam bidang akademik, namun juga profesional dalam bidang kejuruan dan dunia industri karena ternyata masih banyak sekali guru SMK yang tidak berpengalaman didalam dunia industri. Seperti kata Marlock, Koordinator Lapangan Forum Peduli Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia (FP3KI) di Jakarta, Selasa (26/8, 2008) beliau memperkirakan tidak sampai 50 persen guru SMK di Indonesia yang benar-benar memahami kebutuhan dunia kerja dan industri. Kenyataan ini terlihat dari berbagai pelatihan yang dilaksanakan FP3KI, lembaga yang didirikan sejumlah pengusaha yang terdorong untuk meningkatkan mutu guru dan pembelajaran di SMK, sejak tahun 1997. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwasannya masih banyaknya guru yang belum berpengalaman di dunia industry. Dalam pendidikan kejurujan guru profesional tidak hanya baik dalam bidang akademik dan kejuruan saja tetapi juga harus berpengalaman didalam dunia industry.
    SARAN
    Banyaknya guru yang belum tersertifikasi menyebabkan menurunnya kualitas lulusan SMK di tambah lagi masih banyak juga yang kurang berpengalaman di dunia industry mengakibatkan pembelajaran di SMK masiih terlalu banyak hanya berorientasi pada materi saja. Saran kami untuk sekolah menengah kejuruan harus lebih selektif dalam pengajaran dan pemilihan guru serta memerbanyak link and match agar siswa dapat merasakan pengalaman dunia industry dan para guru tidak buta akan dunia industry. Saran kami untuk pemerintah agar memperbayak kuota pelatihan magang guru di perusahaan agar guru tidak buta dunia industry.
    DAFTAR PUSTAKA
    Darmono, Husnaini usman. 2016. PENDIDIKAN KEJURUAN MASA DEPAN. PUSAT KURIKULUM DAN PERBUKUAN Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2016.
    Wijanarka, Bernadius Sentot. 2013. PENDIDIKAN KEJURUAN GURU DI INDONESIA http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/dr-bernadus-sentot-wijanarka-mt/pendidikan-guru-kejuruan-di-indonesia.pdf. Diakses pada 1 November 2019
    . 2008. PENGALAMAN GURU SMK MASIH KURANG https://nasional.kompas.com/read/2008/08/26/19383267/Pengalaman. Diakses pada 1 november 2019
    Huda, Fatkhan Amirul. 2017. KARAKTERISTIK DAN TUNTUTAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN KEJURUAN. http://fatkhan.web.id/
    karakteristik-dan-tuntutan-perkembangan-pendidikan-kejuruan/. Diakses pada 2 November 2019
    Takdir, Muhammad. 2013. PROFESIONALISME GURU KEJURUAN. https://www.academia.edu/5577450/profesionalisme_guru_kejuruan. Diakses pada 2 november 2019
    Subandi Sarjoko. 2016. PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN PROFESI GURU MELALUI REVITALISASI LPTK. Jakarta: Kementerian PPN/Bapenas.
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2012. Sertifikasi Guru dalam Jabatan Tahun 2013-Buku 1: Pedoman Penetapan Peserta. Jakarta: Kemendikbud.
    Suryana, S. 2008. Permasalahan mutu pendidikan dalam perspektif pembangunan pendidikan. https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/edukasi
    /article/viewFile/971/908. Diakses pada 5 November 2019
    Wibowo, Nugroho. 2016. UPAYA MEMPERKECIL KESENJANGAN KOMPETENSI LULUSAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DENGAN TUNTUTAN DUNIA INDUSTRI. Jurnal pendidikan teknologi dan kejuruan, volume 23, nomor 1, mei 2016
    Kerti, Wayan. 2019. Guru sebagai pilar pendidikan menyongsong revolusi industry 4.0. https://www.kompasiana.com/kerti50/5c40f7ff43322f17
    0324fd52/guru-sebagai-pilar-pendidikan-menyongsong-revolusi-industri-4-0?page=all. Diakses pada 5 November 2019

    • PERTANYAAN
      1.fahmi kurniawan 5202417010 (kelompok 2) menyinggung era industri bagaimana pandangan dengan bimbingan online apakah lebih banyak dampak positif atau negatif.
      Jawab :Setiap hal yang dilakukan pasti mempunyai dampak positif dan negatif begitu juga sistem pembelajaran online sendiri kita harus melihat apa sih dampak positif dari pembelajaran online antara lain
      – Bisa mendapatkan materi pembelajaran dengan mudah dimanapun kita berada
      – bisa belaJar di ruang tertutup atau terbuka selagi terkoneksi dengan jaringan internet yg bisa kita akses
      – Dapat mengefesiensikan waktu dalam belajar

      Dampak Negatifnya

      – tidak bertemunya bertatap muka secara langsung antRa murid dengan guru
      – banyak siswa terkadang menyalah gunakan kesempatan belajar online makah justru untuk kegiatan yang lain yg dilakukan nya
      – kalau tidak ada bimbingan an langsung oleh guru secara langsung pembelajaran tidak akan berjalan secara optimal

    • PERTANYAAN
      2. zaky nursahid 5202417003 (kelompok 1) bagaimana cara menambah link and match
      jawab : Adapun cara untuk menambah link and match adalah dengan mengadakan atau membuat program-program yang mana nantinya dapat menarik minat dan keingingan para industri untuk mau menjalin kerjasama dengan sekolah misal contohnya dengan mengadakan acara seminar, lomba karya ataupun penelitian lain nya yg hal tersebut mampu melirik minat darijkalangan dunia industri untuk mau menjalin link and match karena dalam proses pembangunan untuk menjalin link and match kita membutuhkan waktu yang begitu panjaang sekali hal tersebut sulit untuk dilakukan tak hanya 1-2 tahun saja namun bagaimana menjaga hubungam relatioship ini dari sekolah kepada pihak industri ini pun juga harus ada nya support dari seluruh kalangan elemen yang berada di sekolah baik dari internal sampai eksternal sekolah dan seluruh elemen yg ada di sekolah untuk saling mendukung

    • PERTANYAAN
      3.Muntasy sahrul 5202417029 (kelompok 5) seperti apa pelatihan/magang guru apakah sama dengan anak smk/mahasiawa magang?
      jawab : magang guru berbeda dengan magang murid smk/mahasiswa, jika pada magang guru sistemnya seperti pada pelatihan, jadi para guru nanti akan dibimbing oleh seorang instruktur kemudian akan diberikan demo/contoh misal dalam hal membubut, para guru hanya mengamati, kemudian akan mempraktikannya sesuai dengan yang diajarkan oleh instruktur kemudian akan dinilai oleh indtruktur.

    • PERTANYAAN
      4.salam putra 5202417014 (kelompok 3) bagaimana solusi yang ditawarkan kelompok anda untuk mengatasi minimnya pengalaman guru dalam dunia industri
      jawab : menurut kelompok kami, sekolah sebaiknya memperbanyak link and match,mempererat hubungan dengan industri dan mengadakan magang para guru yang sesuai dengan bidangnya di industri tersebut, mengikutsertakan para guru dengan program pelatihan yang diadakan pemerintah. dan pemerintah harus sering mengadakan pelatihan terhadap guru agar guru kejuruan tidak buta akan dunia industri

  3. POLA PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KEJURUAN DALAM HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN DUDI
    Disusun oleh:
    Denis Maulana 5202417042
    Muhammad Ikhwan R 5202417043

    I. PENDAHULUAN
    Salah satu jalur pendidikan sekolah yang di jadikan alternatif untuk mengatasi angka pengangguran adalah pendidikan kejuruan. Sekolah menengah kejuruan (SMK) memiliki tujuan mencetak peserta didik untuk siap kerja, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Pasal 76 yang menjelaskan bahwa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan pendidikan menengah yang bertujuan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan para profesi agar dapat bekerja pada bidang tertentu. Sebagai jenjang pendidikan yang menyiapkan lulusan dalam memasuki lapangan kerja maka dibutuhkan peran serta masyarakat. Masyarakat sebagai salah satu pemilik sekolah mendukung dan berpartisipasi dalam meningkatkan pendidikan di sekolah. Untuk menciptakan situasi dan kondisi yang harmonis antara pihak pengelola sekolah dan masyarakat, maka sangat dibutuhkan kerja sama dan kontak dari kedua pihak secara kontinyu.
    Amirin, dkk (2013: 95) menyatakan bahwa hubungan masyarakat adalah suatu kegiatan yang dilakukan bersama-sama antara lembaga dan masyarakat dengan tujuan memperoleh pengertian, kepercayaan, penghargaan, hubungan harmonis, serta dukungan (goodwill) secara sadar dan sukarela. Lebih lanjut, Nasution (2010: 39) menyatakan bahwa hubungan masyarakat merupakan pengembangan dan pemeliharaan kerjasama yang efisien untuk menyampaikan saluran informasi dua arah. Bertujuan memberikan pemahaman antara pihak sekolah (pimpinan), komunitas sekolah (guru, karyawan dan siswa) dan masyarakat (orang tua, masyarakat sekitar dan lembaga lain di luar sekolah).
    Hubungan masyarakat (humas) berperan penting dalam proses penyelenggaraan pendidikan. Dalam hal ini, humas berfungsi di dalam mendukung hubungan baik kepada masyarakat sehingga dengan adanya hubungan yang harmonis tersebut dapat membantu untuk memperoleh dukungan publik dalam menyiapkan lulusan-lulusan yang memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja ataupun siap bersaing dalam melanjutkan studi di perguruan tinggi terkemuka, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Untuk itu dibutuhkan peran humas dalam menjembatani antara sekolah dengan masyarakat. Humas berkomunikasi langsung dengan masyarakat dan untuk mengetahui keadaan sebenarnya di lapangan, pihak humas memerlukan bantuan dari pihak internal maupun pihak eksternal sekolah.
    Penyelenggaraan sekolah menengah kejuruan sangat dibutuhkan adanya jalinan kerjasama yang baik dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) terutama dalam proses pembelajaran. Hubungan kerjasama yang baik tentunya tidak dapat tercipta dengan begitu saja tanpa adanya proses komunikasai yang berkelanjutan. Bagi pendidikan SMK untuk mendapatkan mitra kerja bukan merupakan hal yang mudah. Untuk dapat menjalin kerjasama dengan DUDI diperlukan adanya keterampilan dari pihak sekolah. Dalam kaitannya peranan humas dibutuhkan guna menarik minat DUDI agar terjalin kerjasama dengan sekolah.
    II. TUJUAN
    Tujuan pembuatan makalah ini yaitu :
    1. Untuk mengetahui Pelaksanaan hubungan sekolah dengan DUDI.
    2. Untuk mengetahui apakah hubungan antara sekolah dengna DUDI berjalan sesuai dengan idealnya atau sesai dengan teori.
    III. KAJIAN TEORI
    Hubungan antara sekolah dan masyarakat pada hakekatnya adalah suatu sarana yang cukup mempunyai peranan yang menentukan dalam rangka usaha mengadakan pembinaan pertumbuhan dan pengembangan murid-murid di sekolah. Arthur B. Mochlan menyatakan school public relation adalah kegiatan yang dilakukan sekolah atau sekolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
    Ada suatu kebutuhan yang sama antara keduanya, baik dilihat dari segi edukatif, maupun dilihat dari segi psikologi. Hubungan antar sekolah dan masyarakat lebih dibutuhkan dan lebih terasa fungsinya, karena adanya kecenderungan perubahan dalam pendidikan yang menekankan perkembangan pribadi dan sosial anak melalui pengalaman-pengalaman anak dibawah bimbingan guru, baik diluar maupun di dalam sekolah.
    Ada tiga faktor yang menyebabkan sekolah harus berhubungan dengan masyarakat :
    a. Faktor perubahan sifat, tujuan dan metode mengajar di sekolah.
    b. Faktor masyarakat, yang menuntut adanya perubahan-perubahan dalam pendidikan di sekolah dan perlunya bantuan masyarakat terhadap sekolah.
    c. Faktor perkembangan ide demokrasi bagi masyarakat terhadap pendidikan.
    Pengertian di atas memberikan isyarat kepada kita bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat lebih banyak menekankan pada pemenuhan akan kebutuhan masyarakat yang terkait dengan sekolah. Di sisi lain pengertian tersebut di atas menggambarkan bahwa pelaksanaan hubungan masyarakat tidak menunggu adanya permintaan masyarakat, tetapi sekolah berusaha secara aktif serta mengambil inisiatif untuk melakukan berbagai aktivitas agar tercipta hubungan dan kerjasama harmonis.
    2. Tujuan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
    Elsbree menggariskan tujuan tentang hubungan antara sekolah dan masyarakat adalah sebagai berikut:
    a. Untuk memajukan kualitas belajar dan pertumbuhan anak
    b. Untuk memperkokoh tujuan dan memajukan kualitas penghidupan masyarakat.
    c. Untuk mendorong masyarakat dalam membantu progam bantuan sekolah dan masyarakat di sekolah.
    Di dalam masyarakat ada sumberdaya manusia dan sumber daya non manusia. Dari kedua sumber daya itu, sekolah dapat memilih dan memanfaatkan untuk program pendidikan sekolah. Jika sekolah itu berhasil memanfaatkan secara maksimal, maka hasil belajar anak akan lebih baik. Dengan demikian potensi anak akan bertumbuh dan berkembang secara maksimal. Pengaruh yang lebih jauh dari perkembangan anak tersebut adalah tujuan pendidikan sekolah akan tercapai dengan meyakinkan. Hal ini berarti bahwa tamatan (output) sekolah secara langsung akan ikut serta dalam memajukan penghidupan dan kehidupan masyarakat.
    Karena itu hubungan timbal balik antara sekolah dengan masyarakat perlu dipelihara dan dikembangkan secara terus menerus.
    IV. IMPLEMENTASI
    Peran industri semakin penting bagi SMK karena perkembangan teori pendidikan dan pembelajaran kejuruan lebih banyak menempatkan DUDI sebagai tempat belajar cara kerja yang efektif. Ada dua teori belajar di tempat kerja yang pokok yang terkait dengan DUDI, yaitu situated learning dan work-based learning (belajar berbasis tempat kerja)
    1. Konsep Situated Learning
    Situated Learning adalah merupakan teori belajar yang mempelajari akuisisi pengetahuan dan keterampilan yang digunakan di dunia kerja (Brown, 1998). Stein (1998:1) mengidentifikasi empat prinsip terkait dengan situated learning, yaitu: (1) belajar adalah berakar pada kegiatan sehari-hari (everyday cognition), (2) pengetahuan diperoleh secara situasional dan transfer berlangsung hanya pada situasi serupa (context), dan belajar marupakan hasil dari proses sosial yang mencakup cara-cara berpikir, memandang sesuatu, pemecahan masalah, dan berinteraksi di samping pengetahuan deklaratif dan procedural, and (4) belajar merupakan hal yang tidak terpisah dari dunia tindakan tetapi eksis di dalam lingkungan sosial yang sehat dan komplek yang meningkatkan aktor, aksi, dan situasi. Dari keempat prinsip ini, prinsip kedua adalah lingkungan yang serupa dengan dunia kerja yang sebenarnya diperlukan oleh sekolah. Lingkungan dunia usaha dan dunia industri adalah lingkungan belajar yang memberikan pengalaman siswa yang mendukung kerja di industri adalah industri sendiri.
    2. Work-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Kerja)
    Work-Based Learning (WBL) adalah bentuk pembelajaran kontekstual dimana proses pembelajaran dipusatkan pada tempat kerja dan meliputi program yang terencana dari pelatihan formal dan mentoring, dan pencarian pengalaman kerja yang mendapatkan gaji. Raelin (2008:2) menyatakan bahwa, WBL secara ekspresif menggabungkan antara teori dengan praktik, pengetahuan dengan. WBL mengakui bahwa tempat kerja menawarkan kesempatan yang banyak untuk belajar seperti di ruang kelas. Sistem magang merupakan salah satu bentuk WBL. Dalam sistem ini siswa belajar dengan seorang ahli atau maestro melalui pengamatan dan imitasi perilaku dan cara kerjanya dengan intens sehingga bisa mendapatkan pengalaman spesifik.
    V. ANALISIS
    Fungsi peran dunia industry dalam dunia pendidikan khususnya dalam pendidikan kejuruan sangat berpengaruh terhadap peningkatan sumber daya manusia dalam menyiapkan lulusan lulusan yang sangat bermanfaat dan sesuai dengan keahlian yang dimiliki.
    Sudah banyak SMK yang memanfaatkan dunia kerja dan industri sebagai tempat praktik maupun sekedar difungsikan sebagai menambah wawasan tentang dunia kerja kepada peserta didiknya. Berikut ini beberapa fungsi dari DUDI yang selama ini ada dalam praktik.
    1. Sebagai Tempat Praktik Siswa
    Banyak SMK yang tidak memiliki peralatan dan mesin untuk praktik dalam memenuhi standar kompetensi atau tujuan yang ditentukan, menggunakan industri sebagai tempat praktik (outsourcing). Permasalahannya adalah pada saat ini jumlah industri tidak sebanding dengan jumlah siswa SMK yang memerlukannya sebagai tempat praktik ini. Sementara itu, masing-masing industri memiliki kapasitas yang terbatas untuk bisa menampung siswa SMK untuk praktik di industri tersebut. Kebijakan pemerintah yang mendorong tumbuhnya jumlah SMK hingga menjadi 70% SMK dan 30 % SMA semakin menambah masalah yang terkait dengan hal ini. Karena anggaran untuk penyediaan alat dan bahan praktik masih kurang, maka akan semakin banyak SMK baru yang tidak mampu memenuhi kebutuhan alat dan bahan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dan standar kompetensi dunia kerja. Dampaknya, pelaksanaan praktik tidak mencapai target pencapaian kompetensi standar yang ditentukan atau standar dunia kerja. Kendala lain adalah, tidak semua siswa mampu memenhui standar kompetensi minimal yang ditentukan pihak industri, sehingga mereka takut mempekerjakan siswa SMK karena memiliki resiko pada kegagalan produksi, yang berakibat pada kerugian di pihak industri.
    2. Industri Sebagai Tempat Magang Kerja
    Sistem Magang (apprenticeship) merupakan sistem pendidikan kejuruan yang paling tua dalam sejarah pendidikan vokasi. Sistem magang merupakan sistem yang cukup efektif untuk mendidik dan menyiapkan seseorang untuk memperdalam dan menguasai. keterampilan yang lebih rumit yang tidak mungkin atau tidak pernah dilakukan melalui pendidikan masal di sekolah. Dalam sistem magang seorang yang belum ahli (novices) belajar dengan orang yang telah ahli (expert ) dalam bidang kejuruan tertentu. Sistem magang juga dapat membantu siswa SMK memahami budaya kerja, sikap profesional yang diperlukan, budaya mutu, dan pelayanan konsumen. Keterbatasan sistim magang adalah sistim ini hanya bisa menampung sedikit peserta magang, sehingga tidak mampu memecahkan permasalahan pada butir 1 dalam menampung siswa SMK sebagai tempat praktik dalam menguasai suatu kompetensi
    3. Industri Sebagai Tempat Belajar Manajemen Industri dan Wawasan Dunia Kerja
    Selama ini, industri dimanfaatkan oleh sekolah sebagai tempat pembelajaran tentang manajemen dan organisasi produksi. Siswa SMK kadang-kadang melakukan pengamatan cara kerja mesin dan produk yang dihasilkan dengan secara tidak langsung belajar tentang mutu dan efisiensi produk. Selain itu siswa juga belajar tentang manajemen dan organisasi industri untuk belajar tentang dunia usaha dan cara pengelolaan usaha, sehingga mereka memiliki wawasan dan pengetahuan tentang dunia usaha. Melalui belajar manajemen dan organisasi ini juga bisa menambah wawasan siswa pada dunia wirausaha. Siswa SMK kadang-kadang menggunakan industri sebagai objek wisata-belajar dengan sekedar mengamati dan melihat-lihat dari kejauhan proses produksi di industri. Mereka juga kadang-kadang mendapatkan informasi dari pengelola industri tentang organisasi dan para pengelolanya
    VI. SIMPULAN DAN SARAN
    SIMPULAN
    1. Pelaksanaan hubungan antara sekolah dengan DUDI sudah cukup berjalan dengan baik, ini dapat dibuktikan dengan berjalanya kegiatan pembelajaran di industri, misalnya PKL atau Prakerin yang telah berjalan secara kontinyu, serta program kunjungan industri yang dilakukan oleh sekolah terhadap industri yang telah terjalin kerjasama.
    2. Hubungan antara sekolah dan industri sudah cukup ideal atau sesuai denngan teori, hal ini dapat dilihat dengan adanya hubungan timbal balik antara sekolah dan industri, misalnya industri memberi bantuan kepada sekolah berupa dana ataupun alat pembelajaran.
    SARAN
    Dari kesimpulan yang telah diambil beberapa saran dapat diajukan seperti kemampuan manajerial hubungan dengan masyarakat harus ditingkatkan, diperlukan publikasi dan promosi dalam rangka menarik simpati dan mempublikasikan kelebihan sekolah, meningkatkan peran public relation untuk mengeratkan hubungan sekolah dengan masyarakat serta meningkatkan akuntabilitas berupa laporan pertanggungjawaban berbagai kegiatan kepada masyarakat.
    VII. DAFTAR PUSTAKA
    Amirin, t. M. d., 2013. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
    Nasution, Z., 2010. Manajemen Humas di Lembaga Pendidikan. Malang: UMM Press.
    Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta
    Brown, L. B. 1998. Applyng Constructivism in Vocational and Career Education. Columbus: ERIC. Raelin, J. A. 2008.
    Work-Based Learning: Bridging knowledge and action in the worksplace. San Francisco: Jossey-Bass. Stein, D. 1998.
    Situated Learning and Adult Education. ERIC Digest No. 195. Columbus: ERIC Clearinghouse on Adult, Career, and Vocational Education, Center on Education and Training for Employment, the Ohio State University. ERIC No. EJ. 461 126). Wardiman Djojonegoro. 1998.
    Praety,Eko. 2016. Pengembangan Sumber Daya Manusia: Melalui Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) . (Diakses 5 november 2019)

    • Sesi Tanya Jawab
      1. Zeky Nursahid (5202417003) Kelompok 1
      Pertanyaan :
      Apa tolak ukur keberhasilan hubungan masyarakat dengan sekolah dan hambatannya apa saja?
      Jawab :
      1. tolak ukur keberhasilan hubungan sekolah dengan masyarakat yaitu dengan berjalanya proses belajar mengajar di sekolah dengan lancar, minimnya keluhan yang di berikan oleh masyarakat terhadap sekolah, serta siswa yang berprestasi dalam bidang pendidikan atau non pendidikan.
      2. Hambatan yang dihadapi dalam hubungan sekolah dengan masyarakat yaitu contohnya, kurangnya kepedulian masyarakat terhadap peran nya dalam hubungan dengan sekolah, cara mengatasinya yaitu dengan memberikan sosialisasi kepada masyarakat ,Dalma hal ini wali murid tentang pentingnya epran serta masyarakat Dalma kelangsungan kegiatan belajar mengajar di sekolah

      2.Rahmat H. (5202417008) Kelompok 2
      Pertanyaan :
      Apa fungsi dan konsep Bursa Kerja Khusus(BKK)?
      Jawab :
      Fungsi BKK :
      1. Sebagai wadah dalam mempertemukan tamatan dengan pencari kerja.
      2. Memberikan layanan kepada tamatan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing seksi yang ada dalam BKK.
      3. Sebagai wadah dalam pelatihan tamatan yang sesuai dengan permintaan pencari kerja
      4. Sebagai wadah untuk menanamkan jiwa wirausaha bagi tamatan melalui pelatihan.
      Konsep BKK :
      Konsep BKK yaitu melayani tamatan SMK untuk membantu dalam menempatkan tamatan SMK pada industri sesuai bidang yang ditekuninya.

      3.Salam Putra (5202417014) Kelompok 3
      Pertanyaan :
      Apa maksud dari Bursa Kerja Khusus (BKK) ?
      Jawab :Bursa Kerja Khusus (BKK) adalah sebuah lembaga yang dibentuk di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri dan Swasta, sebagai unit pelaksana yang memberikan pelayanan dan informasi lowongan kerja, pelaksana pemasaran, penyaluran dan penempatan tenaga kerja, merupakan mitra Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

      4.Doni Puji L. (5202417016) Kelompok 4
      Pertanyaan :
      a. Yang dimaksud masyarakat yaitu wali murid atau masyarakat biasa?
      b. Peran yang dilakukan masyarakat dan timbal baliknya seperti apa?
      Jawab :
      a. yang dimaksud dari masyarakat dalam hasil diskusi kita itu bukan wali murid melainkan orang-orang yang berada di industry dan komite sekolah yang akan melaksanakan suatu program kerjasama anatara industry dan sekolah.
      b.Peran yang dilakukan masyarakat dalam pelaksanaan kerjasama antara sekolah dan industry yaitu dengan mendukung serta memberikan masukin program-program apa saja yang memberikan dampak positif sehingga komite sekolah dan masyarakat industry dapat menerapkan program kerja yang sesuai harapan,contoh seperti program pkl yang memberikan kesempatan siswa untuk mengenal lebih jauh tentang industry yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.

      5.Muntasy Syahrul (5202417029) kelompok 5
      Pertanyaan :
      Bagaimana meningkatkan managerial hubungan masyarakat?
      Jawab :
      Cara untuk meningkatkan hubungan managerial hubungan masyarakat yaitu dengan cara meningkatkan komunikasi dan saling mendukung dengan adanya program yang berhubungan antara sekolah dengan masyarakat,sehingga tidak adanya kedua belah pihak yang dirugikan dan dapat meningkatkan kualitas lingkungan masyarakat yang berada di sekitar sekolah.

  4. Kelompok 1
    5202417003 / Zeky Nursahid
    5202417005 / Eko Juli Kristanto

    KAJIAN PENDIDIKAN KEJURUAN
    LANDASAN LINK AND MATCH PADA SEKOLAH KEJURUAN

    A. PENDAHULUAN
    Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang mempersiapkan seseorang mampu bekerja pada satu kelompok atau bidang pekerjaan (Rupert Evans, 1978). Dapat juga diartikan program pendidikan yang secara langsung dikaitkan dgn penyiapan seseorang untuk suatu pekerjaan/karir (US Congress, 1976). Menurut UU no. 2 tahun 1989 adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk bekerja dalam bidang tertentu. Sedangkan pada tahun 2003 Aggarwal & Thakur menyatakan bahwa pendidikan kejuruan mengarahkan peserta didik untuk mendapatkan keterampilan praktis untuk bekerja pada bidang tertentu. Dapat disimpulkan bahwa Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang mengajarkan peserta didiknya untuk memiliki kemampuan dalam bekerja secara terampil pada suatu bidang yang ditekuni peserta didik.
    Untuk kelancaran pelaksanaan Pendidikan kejuruan maka dibutuhkan landasan – landasan, karena suatu pekerjaan pasti membutuhkan landasan atau dasar yang menjadi panutan atau pedoman dalam menjalankannya. Landasan – landasan pendidikan kejuruan ada 6 yaitu :
    1) Landasan Hukum.
    2) Landasan Filosofi.
    3) Landasan Ekonomi.
    4) Landasan Psikologi.
    5) Landasan Sosiologi.
    6) Link and Match.
    Landasan – landasan tersebut harus dilaksanakan secara keseluruhan agar pelaksanaan pendidikan kejuruan di Indonesia dapat berjalan dengan lancar. Dalam makalah ini kami akan membahas salah satu landasan pendidikan kejuruan yaitu link and match.

    B. TUJUAN
    Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
    1) Mengetahui dan memahami apa itu landasan pendidikan kejuruan link and match.
    2) Mengetahui implementasi lapangan landasan pendidikan kejuruan link and match.
    3) Mengetahui perbedaan antara teori dan kenyataan implementasi landasan pendidikan kejuruan link and match.

    C. KAJIAN TEORI
    Wardiman Djojonegoro menciptakan Program Link and Match atau program hubung dan kait antara pendidikan dengan dunia usaha dan dunia industri pada tahun 1989 – 1998 sewaktu masih menjabat sebagai menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Link and Match merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi pada dunia kerja yang melibatkan pelajar sekolah kejuruan untuk mempraktikkan ilmu yang didapatkan di sekolah pada dunia kerja guna membekali keterampilan, menambah pengalaman belajar sehingga pada lulus sekolah telah siap untuk masuk pasar kerja.
    Adapun pendekatan yang digunakan untuk mewujudkan link and match adalah pendekatan social dan pendekatan ketenagakerjaan. Pendekatan social merupakan pendekatan yang didasarkan atas keperluan masyarakat yang mana pendekatan ini menitik beratkan pada tujuan pendidikan dan pemerataan kesempatan dalam mendapatkan pendidikan. Sedangkan pendekatan ketenagakerjaan merupakan pendekatan yang mengutamakan kepada keterkaitan lulusan sistem pendidikan dengan tuntutan terhadap tenaga kerja pada berbagai sektor pembangunan dengan tujuan yang akan dicapai adalah bahwa Pendidikan itu diperlukan untuk membantu lulusan memperoleh kesempatan kerja yang lebih baik sehingga tingkat kehidupannya dapat diperbaiki.
    Menurut Tilaar dalam Penelitian Listiana (2012: 12-13), langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk melaksanakan prinsip Link and Match, sebagai berikut:
    1. Pengembangan Kurikulum Pendidikan
    Lembaga pendidikan dituntut untuk mendekatkan diri dengan dunia industri guna mengadakan pengembangan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dengan mempertimbangkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di masyarakat.
    2. Peningkatan Sarana dan Prasarana
    Sarana dan prasarana yang memadai mendukung pelaksanaan penelitian di bidang industri dan praktik-praktik lainnya, sehingga upaya meningkatkan relevansi program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dapat terwujud dan dalam melaksanakan kebijakan akan lebih mudah.
    3. Meningkatkan Kualitas Tenaga Pengajar
    Tenaga pengajar harus dapat bersaing dengan tenaga-tenaga yang ada di dunia kerja, serta fleksibilitas tenaga pengajar yang sewaktu-waktu dapat ditugaskan bekerja di bidang industri atau tenaga industri diberikan kesempatan untuk mengabdi di dunia pendidikan dalam waktu tertentu.
    4. Perbaikan Program Pendidikan
    Program yang dimaksudkan adalah program yang mengarah pada kebutuhan masyarakat dengan tujuan terciptanya relevansi antara program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan adanya relevansi program pendidikan diharapkan kebijakan link and match dapat dilaksanakan dengan baik.

    D. IMPLEMENTASI LAPANGAN
    Dalam penelitian Septiana, dkk pada SMK Negeri 1 Surakarta, implementasi program Link and Match dicapai melalui proses belajar mengajar di sekolah dan jalinan kerjasama dengan industri. Pembelajaran sudah diupayakan mengacu 70%:30%, namun masih belum maksimal. Hal ini ditandai dengan beberapa permasalahan yang muncul. Implementasi lapangan landasan Limk and Match dan masalahnya antara lain:
    1. Sinkronisasi Kurikulum
    Proses menyinkronkan kurikulum yang ada di Dinas Pendidikan dengan kebutuhan yang ada di industri pada awal tahun ajaran melibatkan DU/DI ke sekolah untuk mendiskusikan mengenai program yang akan dilaksanakan. Namun selama ini keberjalannya masih belum maksimal karena sekolah kesulitan untuk menyesuaikan KI/KD dengan tuntutan industri dan Permen No. 61 tahun 2014.
    2. Praktik Kerja Lapangan
    PKL merupakan program kerjasama yang melibatkan industri dengan jalan memberikan pengalaman kepada siswa untuk praktik langsung ke DU/DI selama periode tertentu. Selama ini, PKL yang dilaksanakan sudah sesuai dengan arahan dalam implementasi kurikulum 2013. Namun pada kenyataannya, masih belum maksimal. Hal ini ditandai dengan berbagai hambatan yang muncul selama pelaksanaan. Meski demikian, PKL dianggap telah memberikan berbagai pengalaman berharga dan tentunya manfaat untuk siswa.
    3. Kunjungan Industri
    Berdasarkan hasil penelitian, siswa menganggap KI pada tempat tertentu kurang efektif dan tidak maksimal. Hal ini dikarenakan, pengalaman dan manfaat yang didapatkan tidak sesuai dengan harapan.
    4. Unit Produksi
    Pada praktiknya, siswa mengaku telah memperoleh berbagai pengalaman dan manfaat dari danya praktik toko ini. Meski demikian, sekolah belum mampu memberdayakan toko secara maksimal.
    5. Uji Kompetensi Keahlian
    Dalam penelitian, SMK Negeri 1 Surakarta berhasil menyelenggarakan UKK yang bekerjasama dengan LSP P3 Retail. Melalui UKK itu, siswa mengaku telah mendapatkan pengalaman yang berbeda dan manfaat yang sangat berharga.

    E. ANALISIS
    Berdasarkan kajian teori, implementasi lapangan, dan informasi lainnya maka dapat dianalisis bahwa pelaksanaan landasan link and match pendidikan kejuruan di Indonesia :
    1. Kementerian Perindustrian menargetkan sebanyak 2.600 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan 750 industri yang akan terlibat dalam program pendidikan vokasi link and match pada tahun 2019. Hasil tahap kesepuluh peluncuran program ini, jumlah yang terlibat telah melampaui target dengan mencapai 2.612 SMK dan 899 industri.
    2. Lulusan SMK yang dibutuhkan adalah lulusan yang spesailist, tetapi dalam pelaksanaan pendidikan di SMK kurikulum dan ilmu yang diajarkan masih umum, masih tertinggal dari industri.
    3. Kemampuan sebagian besar lulusan SMK hanya terbatas pada teknologi lama karena tidak memiliki alat praktik teknologi terbaru. Sedangkan teknologi di dunia industry berkembang sangat cepat dan dunia pendidikan belum bias mengikuti.
    4. Peserta didik perlu juga dibekali pemahaman akan pentingnya menjadi pembelajar sepanjang hayat atau lifelong learner karena teknologi di dunia industri berkembang begitu cepat.
    5. Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) memang sudah terlaksana dengan baik, tetapi kenyataan di lapangan banyak siswa SMK yang melaksanakan PKL hanya mengobservasi dan tidak melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan keahliannya sehingga pengalamannya dalam bidang keahliannya masih kurang.
    6. Dalam pelaksanaan pendidikan kejuruan membutuhkan pengajar yang memilliki pengalaman bekerja di dunia industri, tetapi kenyataannya masih belum banyak guru yang memiliki pengalaman banyak, pengalamannya hanya sebatas PKL atau kunjungan saja.

    F. SIMPULAN DAN SARAN
    Simpulan:
    1. Link and Match merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi pada dunia kerja yang melibatkan pelajar sekolah kejuruan untuk mempraktikkan ilmu yang didapatkan di sekolah pada dunia kerja guna membekali keterampilan, menambah pengalaman belajar sehingga pada lulus sekolah telah siap untuk masuk pasar kerja.
    2. Implementasi lapangan Link and Match dilakukan melalui sinkronisasi kurikulum dengan dunia industri, pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL), Kunjungan industri, pengadaan unit produksi di sekolah, dan uji kompetensi keahlian.
    3. Pelaksanaan landasan Link and Match masih mengalami beberapa kendala dalam hal kurikulum & teknologi yang tidak terbaru sesuai dengan dunia industri dan masih boardbase, pengajar yang kurang pengalaman dalam dunia industri, pelaksanaan PKL yang tidak sesuai harapan, kurangnya pembelajaran tentang pentingnya lifelong learner.

    Saran:
    1. Sekolah Menengah Kejuruan sebaiknya selalu dinamis dalam mengembangkan program pendidikan, hal ini sebagai upaya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dengan mengikuti perkembangan IPTEK.
    2. Untuk menunjang pembelajaran pada pendidikan kejuruan menekankan pada learning by doing sehingga Sekolah Menengah Kejuruan harus memiliki sarana dan prasana yang mendukung tujuan tersebut dengan menyiapkan laboratorium, bengkel atau tempat praktek sesuai program pendidikan masing-masing secara nyata sehingga siswa dapat berlatih secara teori dan praktek hal ini merupakan pengalaman berharga sebelum memasuki dunia kerja serta akan meningkatkan mutu output dari institusi pendidikan kejuruan.

    G. DAFTAR PUSTAKA
    Alfian Putra Abdi. 2019. Konsep Link and Match: SMK Di Desain Untuk Langsung ke Dunia Kerja. Diakses pada tanggal 2 November 2019 dari https://tirto.id/konsep-link-and-match-smk-didesain-untuk-langsung-ke-dunia-kerja-djQq.

    D. Cahyanti, dkk. 2018. Implementasi Program Link and Match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri pada Lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta. Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi. Vol. 8, No. 1.

    Kementrian Perindustrian Republik Indonesia. 2019. Pendidikan Vokasi “Link and Match” SMK dan Industri Lampaui Target. Diakses pada tanggal 2 November 2019 dari https://www.kemenperin.go.id/artikel/20452/Pendidikan-Vokasi-“Link-and-Match”-SMK-dan-Industri-Lampaui-Target.

    Listiana. 2012. Analisis Pelaksanaan Program Sistem Ganda (PSG) dalam Mempersiapkan Siswa Memasuki Dunia Kerja (Studi Kasus Di SMK 5 Pancasila Wonogiri Program Keahlian Administrasi Perkantoran Tahun Diklat 2011/2012. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret: Surakarta.

    P. Disas, Eka. 2018. Link and Match sebagai Kebijakan Pendidikan Kejuruan. Jurnal Penelitian Pendidikan. Hal. 231-242.

    Pikiran Rakyat. 2019. Revitalisasi Lembaga Vokasi Dorong Link and Match dengan Dunia Usaha dan Industri. Diakses pada tanggal 2 November 2019 pada https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2019/08/29/revitalisasi-lembaga-vokasi-dorong-link-and-match-dengan-dunia-usaha-dan-industri.

    SMK Negeri 1 Cihampelas. 2019. Hadapi Revolusi Industri 4.0, dan Implementasi Link and Match SMKN 1 Cihampelas Melaksanakan Kunjungan Industri. Diakses pada tanggal 3 November 2019 pada https://smkn1cihampelas.sch.id/2019/04/16/hadapi-revolusi-industri-4-0-dan-implementasi-link-and-match-smkn-1-cihampelas-melaksanakan-kunjungan-industri/

    Suparlan. 2016. Revitalisasi SMK dengan Program Link and Match. Masdik.com. Diakses pada tanggal 3 November 2019 dari http://masdik.com/2498/keluarga/revitalisasi-smk-program-link-and-match.

    Whisnu Bagus Prasetyo. 2017. Ini Tantangan Wujudkan Link and Match SMK dan Industri. Diakses pada tanggal 2 November 2019 pada https://www.beritasatu.com/ekonomi/455794/ini-tantangan-wujudkan-link-and-match-smk-dan-industri.

    Widjanarko, Dwi et. al. _______. Landasan Pendidikan Kejuruan. Semarang: Pendidikan Teknik Otomotif, Universitas Negeri Semarang.

    • Sesi tanya jawab:
      1. Kelompok 3
      Salam Putra 5202417014
      Pertanyaan :Bagaimana penerapan Link and Match di SMK Surakarta ?
      Jawab: Ada beberapa aspek link and match yang telah dilakukan pada SMK N Surakarta, sebagai berikut: 1). Sinkronisasi Kurikulum, proses menyinkronkan kurikulum di Dinas Pendidikan telah melibatkan DU/DI, namun selama ini masih belum maksimal karena sekolah kesulitan untuk menyesuaikan KI/KD dengan tuntutan industri dan peraturan pemerintah. 2). Praktik Kerja Lapangan, selama ini, PKL yang dilaksanakan sudah sesuai dengan arahan dalam implementasi kurikulum 2013. Namun pada kenyataannya, masih belum maksimal. Hal ini ditandai dengan berbagai hambatan yang muncul selama pelaksanaan. 3). Kunjungan Industri, dan berdasarkan hasil penelitian, siswa menganggap KI pada tempat tertentu kurang efektif dan tidak maksimal. Hal ini dikarenakan, pengalaman dan manfaat yang didapatkan tidak sesuai dengan harapan. 4). Unit Produksi, siswa mengaku telah memperoleh berbagai pengalaman dan manfaat dari danya praktik toko ini. Meski demikian, sekolah belum mampu memberdayakan toko secara maksimal. 5). Uji Kompetensi Keahlian, SMK Negeri 1 Surakarta berhasil menyelenggarakan UKK yang bekerjasama dengan LSP P3 Retail.

      2. Kelompok 4
      Langgeng 5202417028
      Pertanyaan : Bagaimana dampak kendala pengajar yang tidak memiliki pengalaman dunia industry serta bagaimana cara mengatasinya ?
      Jawab : Dampaknya adalah jika pengajar tidak memiliki pengalaman dunia industry maka pengetahuan yang disampaikan pengajar belum tentu sesuai dengan kenyataannya di dunia industry sehingga menyebabkan peserta didik memiliki pengetahuan yang salah. Cara mengatasinya bias dengan cara memberikan persyaratan kepada calon guru SMK agar memiliki pengetahuan dunia industry sebelum diangkat, bisa juga dengan mempekerjakan guru honorer yang telah purna dari bekerja di dunia industri.
      Tambahan dari Salam : Mengadakan pelatihan untuk guru berdasarkan kompetensi yang diajarkan.

      3. Kelompok 5
      Aldi Edvan 5202417036
      Pertanyaan : Bagaimana menerapkan pembelajar sepanjang hayat di sekolah ?
      Jawab : Bisa dengan cara guru wali kelas menugaskan siswanya untuk mencari ilmu tentang kompetensinya yang tidak diajarkan di sekolah setiap pekan, kemudian sekolah menyediakan waktu satu atau dua jam pelajaran untuk wali kelas dan saat waktu tersebut untuk membahas ilmu yang telah dipelajari bersama sama sehingga guru dan siswa setiap pekan terus mendapat ilmu baru serta kegiatan tersebut dapat berubah menjadi kebiasaan.

      4. Kelompok 6
      Denis Maulana 5202417042
      Pertanyaan : Apa saja hambatan dalam penyesuaian teknologi lama ke teknologi baru ?
      Jawab : 1. Perkembangan teknologi di dunia industri sangat cepat sehingga dunia Pendidikan sulit untuk menyesuaikan kurikulumnya. 2. Sebagian besar teknologi baru adalah perkembangan dari teknologi sebelumnya sehingga jika kita ingin mempelajarinya kita harus mempelajari yang sebelumnya dan itu membutuhkan waktu.

      5. Kelompok 2
      (Tidak bertanya/tidak hadir)

      Tambahan dari pak Dwi :
      Sistem di Indonesia memungkinkan guru yang tidak berpengalaman dapat masuk. Orang Indonesia yang sudah bekerja di industri tidak mau jadi guru. Guru muda yang baru diangkat menjadi PNS harus bekerja di industry tetapi sistem di Indonesia tidak memungkinkan itu untuk terjadi. Guru diizinakan magang di industri, tetapi sekolah tidak mau membiayai. Guru diizinkan magang di industri, tetapi hanya dalam waktu sebentar.

  5. “PENGARUH IMPLEMENTASI PENDIDIKAN SISTEM GANDA
    PADA SEKOLAH MENENGAN KEJURUAN”
    Rahmat Hidayat, 5202417008, Universitas Negeri Semarang.
    Moh. Fahmi Kurniawan, 5202417010, Universitas Negeri Semarang.

    A. Pendahuluan
    Pelaksanaan pendidikan sistem ganda akan menjadi salah satu bentuk penyelenggaraan penyelenggaraan pendidikan menengan kejuruan sesuai dengan ketentuan pada UU No. 2 / 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan PP No. 29 tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah, dan PP No.39 tahun 1992 tentang Peranan Masyarakat Dalam Pendidikan Nasional, dan Kepmendikbud No. 080 / U / 1993 tentang Kurikulum SMK. Dan hingga saat ini pelaksanaan pendidikan sistem ganda masih terus berlanjut meskipun terkadang hasilnya belum sesuai dengan apa yang diharapkan.

    B. Tujuan Penelitian
    Penelitian yang kami lakukan bertujuan untuk :
    1. Mengetahui tentang pengertian pendidikan sistem ganda.
    2. Mengetahui tujuan dari pendidikan sistem ganda.
    3. Mengetahui efektivitas penyelenggaraan pendidikan sistem ganda di sekolah menengah kejuruan.
    4. Menemukan solusi tentang penyelenggaraan pendidikan sistem ganda yang lebih efektif.

    C. Landasan Teori
    Pendidikan sistem ganda adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional, yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program pengusahaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu.
    Keahlian profesional sendiri hanya dapat dibentuk dengan 3 (tiga) unsur utama yaitu ilmu pengetahuan, teknik, dan kiat (art). Ilmu pengetahuan dan teknik dapat dipelajari dan dikuasai, tetapi kiat tidak dapat diajarkan tetapi dapat dikuasai melalui proses mengerjakan langsung pekerjaan pada bidang profesi itu sendiri. Dari ketiga unsur itu di sekolah telah dipelajari ilmu pengetahuan umum (normatif), ilmu pengetahuan dasar penunjang (adaptif), dan ilmu pengetahuan teknik dasar, secara komulatif mencapai 85% target kurikulum. Sedangkan teknik tidak pula dipelajari di sekolah berupa praktek yang bersifat simulasi dari kiat keahlian profesional. Dengan demikian tugas utama siswa di industri/perusahaan adalah menguasai kiat keahlian profesional dengan jalan melakukan kegiatan bekerja langsung terprogram sesuai dengan kegiatan yang ada di industri/perusahaan.

    Tujuan utama dari pendidikan sistem ganda adalah :
     Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional.
     Meningkatkan dan memperkokoh link and match antara lembaga pendidikan dan dunia kerja.
     Meningkatkan efisiensi penyelenggaraan pendidikan & pelatihan tenaga kerja profesional dengan memanfaatkan sumber daya manusia pelatihan di dunia kerja.
     Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.
    Menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha atau industri menjadi salah satu tujuan penyelenggaraan pendidikan di SMK. Pendidikan berbasis sistem ganda akan membawa konsekwensi bahwa peserta didik diajarkan teori dan praktek dasar kejuruan, di dunia usaha atau industri peserta didik memperoleh keterampilan produktif dengan sistem “learning by doing” dalam suatu program PSG.
    Praktek kerja industri yang di singkat dengan “Prakerin” merupakan bagian dari program pembelajaran yang harus dilaksanakan oleh setiap peserta didik di dunia kerja, sebagai wujud nyata dari pelaksanaan sisitem pendidikan di SMK yaitu Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Program prakerin disusun bersama antara sekolah dan dunia kerja dalam rangka memenuhi kebutuhan peserta didik dan sebagai kontribusi dunia kerja terhadap pengembangan program pendidikan SMK. (Depdiknas 2008:1).

    D. Implementasi Lapangan
    Pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) telah banyak dilakukan di Sekolah Menengah kejuruan salah satunya di SMK Negeri 1 Malang. Dimana Waka Humas di Smk Negeri 1 Malang menyatakan pelaksanaan PSG telah berjalan 100%. program PSG juga telah dibuatkan instruksi kerjanya. Instruksi kerja dibuat dipergunakan untuk dijadikan pedoman pelaksanaan PSG, karena instruksi kerja merupakan urut-urutan kerja atau langkah-lankah kerja pada area tertentu.
    Pendidikan Sistem Ganda (PSG) di SMK Negeri 1 Malang pelaksanaannya dilakukan di dua tempat, yakni di Sekolah dan Dunia Kerja. Dari dua tempat inilah diharapkan peserta didik men- dapatkan pengetahuan yang optimal, sehingga SMK Negeri 1 Malang sebagai Sekolah Menengah Kejuruan dapat memperoleh lulusan yang memiliki kreatifitas atas spesialisasi yang dimilikinya sehingga tercipta lulusan yang profesional.
    Penyelenggaraan PSG di SMK Negeri 1 Malang, secara garis besar dilaksanakan dalam tahapan-tahapan:
    1) penerimaan peserta didik baru PSG
    2) penyusunan kurikulum PSG
    3) penetapan peserta PSG
    4) mencari tempat PSG
    5) penetapan tempat PSG
    6) pembekalan calon peserta PSG
    7) pembimbingan peserta PSG
    8) penilaian kompetensi hasil PSG.

    E. Analisis
    Dilihat dari landasan teori, implementasi di lapangan dan informasi lainnya maka dapat dianalisis bahwa:
    1. Pendidikan Sistem Ganda telah banyak dilaksanakan di SMK
    2. Pada pelaksanaan Praktek Kerja Industri (PKL) masih terdapat siswa yang tidak sesuai dengan program keahlianya hal tersebut sangat disayangkan karena pengalaman yang diterima tidak sesuai dengan keinginan.
    3. Dalam proses penerimaan peserta PSG. DU/DI belum terlibat. Belum terlibatnya DU/DI di atas telah disinggung, bahwa karena kesibukan mereka terhadap pekerjaan utamanya.
    4. Perencanaan PSG masih belum optimal karena dengan beberapa perubahan regulasi yang ada, sangat memerlukan dukungan pembinaan sekolah secara kom-prehensif, baik kualitas, kuantitas maupun pendanaan.
    5. Pelaksanaan PSG melibatkan banyak pihak sehingga diperlukan pengaturan tatacara kerjasama yang menyangkut fungsi, struktur, mekanisme kerja serta hak dan kewajiban semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaannya melalui sosialisasi program
    6. Pada dasarnya DU/DI terlibat dalam penyusunan kurikulum pembelajaran, agar kurikulum yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan DU/DI namun DU/DI belum terlibat. Kendala belum terlibatnya DU/DI dalam penyusunan kurikulum PSG disebabkan kesibukan DU/DI pada pekerjaan utamanya.
    7. Adapun sarana prasana pendukung seperti peralatan praktek di sekolah terbatas, peralatan yang dipergunakan di sekolah belum sesuai dengan peralatan yang dipergunakan di DU/DI. Peralatan tersebut ada yang jumlah kurang, namun ada pula memang sekolah belum punya.

    F. Kesimpiulan
    Pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) Memang sudah berjalan di Indonesia. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan aganya kerja sama antara sekolah dengan DU/DI yaitu Praktik Kerja Industri (PKL). Adapun beberapa kendala yang dalam pelaksanaan Pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) antara lain:
    a. Penerimaan peserta didik baru, DU/DI belum terlibat
    b. Penyusunan kurikulum PSG, DU/DI belum terlibat
    c. Peralatan di sekolah terbatas
    d. Masih terdapat peserta didik yang PSG berada di DU/DI yang tidak sesuai dengan kompetensi keahliannya.
    e. Perencanaan PSG masih belum optimal
    f. Sarana dan prasarana pendukung yang tidak sesuai dengan DU/DI


    Berdasakan kendala-kendala yang terjadi, saran yang diberikan antara lain:
    1. Sekolah perlu meningkatkan pendekatan kepada DU/DI untuk melakukan sosialisasi program Diklat maupun mengenai program PSG yang ada di SMK, tujuannya agar tercipta kesepahaman dan keterukaan antara DU/DI dengan sekolah.
    2. Peningkatan sarana prasarana sangat membantu untuk meningkatkan sikap professional dari peserta didik.
    3. Penentuan/pemilihan DUDI sebagai tempat pelaksanaan kegiatan Prakerin, harus diperhatikan mengingat progam studi yang peserta didik berbeda beda. sekolah harus melakukan survei langsung ke target DUDI secara menyeluruh apakah sudah sesuai dengan program studi peserta didik.
    4. Peningkatan kualitas pembelajaran guna mempersiapakan peserta didik agar lebih maksimal pada saat PKL.

    G. Daftar Pustaka
    Erwani. Yuliana. Suib. EVALUASI PENDIDIKAN SISTEM GANDA (PSG) PADA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 1 SINTANG. Jurnal FKIP Universitas Tanjungpura. Pontianak
    Karwan. Hariri. Rini. 2016. IMPLEMENTASI PENDIDIKAN SISTEM GANDA DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI KOTA BANDAR LAMPUNG. Jurnal Pendidikan Progresif, Vol. VI No. 1
    Mahmudi. 2013. Pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda Bersertifikat ISO di SMK Negeri 1 Malang. Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Volume 1. Nomor 2
    Azzukhruf. 2017. EFEKTIVITAS PENDIDIKAN SISTEM GANDA (PSG) PADA DUNIA USAHA DAN DUNIA INDUSTRI (DUDI) BIDANG KEAHLIAN AKUNTANSI SMK NEGERI 1 DEPOK SLEMAN. Kajian Pendidikan Akuntansi Indonesia Edisi 8
    Miharja. Ghani. 2017. EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN SISTEM GANDA (PSG) DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN FARMASI SARI FARMA DEPOK. Jurnal Penelitian dan Penilaian Pendidikan Volume 2. Nomor 1
    Ardika. 2015. ANALISIS PELAKSANAAN PENDIDIKAN SISTEM GANDA (PSG) PADA SMK NEGERI 2 SERIRIT
    Wayong. Relevansi Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada Sekolah Kejuruan dengan Kebutuhan Dunia Kerja. Seminar Internasional, ISSN 1907-2066 Peran LPTK Dalam Pengembangan Pendidikan Vokasi
    Suhartana. 2016. PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI DALAM PENDIDIKAN SISTEM GANDA DI SEKOLAHMENENGAH KEJURUAN NEGERI 2 DEPOK SLEMAN. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta: Yogyakarta
    SMK Ghoniyatul Ulum. 2018. Pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda/PKL/Prakerin . Diakses tanggal 3 November 2019 http://www.smkghaniyatululum.sch.id/p/pelaksanaanpendidikan-sistem-ganda.html?m=1
    Leksono. Budi. 2016. Evaluasi program Pendidikan Sistem Ganda (PSG) di SMK Negeri 9 Kota Bekasi. Diakses tanggal 3 November 2019. http://lib.unj.ac.id/tugasakhir/index.php?p=show_detail&id=40986&keywords=

    • Langgeng Kristianto (5202417028) Kelompok 4
      Salah satu permasalahan yang dialami dalam pelaksanaan PSG yaitu Kesesuaian Job atau program study para peserta PSG dengan kondisi dilapangan itu berbeda, Kenapa dapat terjadi kejadian tersebut. Kemudian karena terdapat kendala-kendala tersebut akibatnya PSG dinilai kurang maksimal, Bagaimana cara kita mengatasi PSG agar lebih maksimal.
      Jawaban: Ketidaksesuaian disini adalah apabila prodi dari perserta PSG TKR namun pada saat pelaksanaan PSG (PKL) peserta melakukan job yang tidak sesuai, contohnya menginput data jumlah service pada balan tersebut atau lebih condong ke administrasi. Untuk menindaklanjuti keadaan tersebut maka diharapkan peserta PSG dapat membicarakan masalah tersebut dengan guru pembimbing atau pengontrolan secara cermat dari guru pembimbing. Kemudian cara agar pelaksanaan PSG lebih maksimal yaitu dengan meningkatkan komunikasi antara DU/DI dengan pihak sekolah karena pada dasarnya pelaksanaan PSG tidak hanya satu pihak saja yang terlibat, namun semuanya memilki peranan masing-masing, apabila komunikasi sudah diperbaiki maka dapat menciptakan keselarasan antara DU/DI dan pihak sekolah dan tujuan dari PSG dapat tercapai.

      Eko Juli Kristanto. (5202417005) Kelompok 1
      Permasalahan dalam PSG salah satunya adalah penerimaan peserta dan dalam penyusunan kurikulum PSG pihak DU/DI tidak terlibat, bagaimana cara mengatasi keadaan tersebut karena pada dasarnya PSG terjadi karena keselarasan antara DU/DI dan pihak sekolah?
      Jawaban : ketidakterlibatan DU/DI dalam penerimaan peserta dan penyusunan kurikulum PSG disebabkan karena kesibukan dari DU/DI itu sendiri, dimana Du/Di sibuk dengan pekerjaannya di industri. Kemudian untuk mengatasi permasalahan tersebut yang dapat dilakukan yaitu dengan menyiapkan beberapa orang dari pihak sekolah untuk melakukan studi langsung di industri atau semacam pelatihan, dan setelah dilakukannya pelatihan tersebut harapannya orang tersebut dapat menyampaikan dan menggambarkan keadaan yang ada di industri kepada siswanya.

      Salam Putra (502417014) Kelompok 3
      Adakah contoh lain dari PSG selain PKL?
      Jawaban : Ada, contoh lain dari PSG antara lain KKL (Kuliah Kerja Lapangan), Magang, lalu kerjasama antara sekolah dengan suatu perusahaan.

      Aldi Edvan O. (5202417036) Kelompok 5
      Pada bagian kendala/saran terdapat pernyataan meningkatkan kualitas PKL, bagaimana cara agar kualitas PKL dapat lebih maksimal?
      Jawaban : Pada saat pelaksanaan PKL banyak peserta yang belum tahu beberapa peralatan dan cara mengoperasikan peralatan tersebut sehingga waktu mereka tersita untuk mempelajari peralatan tersebut terlebih dahulu hal tersebut dinilai kurang maksimal sehingga mengakibatkan kegiatan PKL menjadi kurang maksimal, untuk mengatasi hal tersebut maka pihak sekolah dapat menyediakan peralatan agar semirip mungkin dengan kadaan pada industry, alternative lain selain penyediaan peralatan kita bekerja sama dengan perusahaan atau tenaga pendidik menyiapkan media pembelajaran tentang peralatan yang ada pada suatu industry sehinga peserta PSG memiliki gambaran tentang peralatan yang digunakan dan cara penggunaannya.

      M. Ikhwan Rifki (5202417043) Kelompok 6
      Kendala yang dialami dalam pelaksanaan PSG antara lain, perencanaan PSG yang belum optimal karena adanya perubahan regulasi. Bagaimana cara agar PSG tetap maksimal atau Optimal dengan adanya perubahan regulasi?
      Jawaban : selain keterkaitan antara DU/DI dan pihak sekolah pelaksanaan PSG juga melibatkan pemerintah yang menyediakan anggaran dalam pelaksanaan PSG dan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Caranya yaitu dengan tetap menyesuaikan kurikulum yang sudah ada, namun ditambahkan beberapa point yang memang diperlukan di luar dari kurikulum tersebut.

  6. kelompok 3
    5202417014 ( salam putra)
    5202417015 (Febiandika Laksana Ajie)

    PENGARUH IMPLEMENTASI PENDIDIKAN
    Link and match
    Salam Putra, 5202417014
    Febiandika Laksana Ajie, 5202417015

    1. Pendahuluan
    Link and match adalah kebijakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang dikembangkan untuk meningkatkan relevansi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha serta dunia industri khususnya. Beberapa prinsip yang akan dipakai sebagai strategi dalam kebijakan Link and Match diantaranya adalah model penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda (PSG).
    PSG pada dasarnya merupakan suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu. Pada hakekatnya PSG merupakan suatu strategi yang mendekatkan peserta didik ke dunia kerja dan ini adalah strategi proaktif yang menuntut perubahan sikap dan pola pikir serta fungsi pelaku pendidikan di tingkat SMK, masyarakat dan dunia usaha/industri dalam menyikapi perubahan dinamika tersebut.
    Program pendidikan PSG direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi bersama secara terpadu antara sekolah kejuruan dengan institusi pasangannya. Sehingga fungsi operasional dilapangan dilaksanakan bersama antara kepala sekolah, guru, instruktur dan manager terkait. Untuk itu perlu diciptakan adanya keterpaduan peran dan fungsi guru serta instruktur sebagai pelaku pendidikan yang terlibat langsung dalam pelaksanaa PSG dilapangan secara kondusif.
    (Sugihartono dalam Dias 2009:12) mengungkapkan “Pendidikan Sistem Ganda pada dasarnya merupakan suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui
    kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu”.
    “Sistem ganda (dual system) merupakan model penyelenggaraan pendidikan kejuruan dimana perencanaan dan pelaksanaan pendidikan diwujudkan dalam bentuk kemitraan dunia kerja dengan sekolah, sehingga penyelenggaraan pendidikan berlangsung sebagian di sekolah dan sebagian lagi di dunia usaha atau dunia industri”. (Pakpaham dalam Dias, 2011 : 12)
    Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan sistem ganda adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian yang dilaksanakan dalam Sekolah Menengah Kejuruan dengan cara menerapkan keahlian kejuruan/keahliannya secara langsung di dunia usaha/dunia industri dalam kurun waktu tertentu untuk mencapai tingkat keahlian tertentu.
    Inti dari Pendidikan Sistem Ganda adalah mensinkronkan kurikulum yang terdapat disekolah dan kompetensi yang diharapkan oleh industri. Sinkronisasi kurikulum dapat tercapai apabila kerjasama antara pihak industri dengan pihak sekolah dapat terjalin dengan baik. Konsep pendidikan ini bertujuan supaya siswa ketika disekolah sudah terbiasa dengan lingkungan yang terdapat di industri, sehingga ketika siswa melaksanakan praktik kerja industri siswa tidak kaget dengan situasi yang ada di industri.
    Pendidikan sisitem ganda ini juga bertujuan untuk membentuk disiplin, mental kerja dan sikap kerja siswa yang positif, terbentuknya sikap kerja positif siswa bermanfaat ketika siswa sudah terjun ke dunia industri sepenuhnya. Terjalinnya kerjasama antara pihak sekolah dengan pihak industri dapat memberi tempat bagi siswa lulusan dan industri pasangan tidak khawatir dengan kompetensi yang dimiliki siswa.
    praktik kerja industri adalah bagian dari pendidikan sistem ganda sebagai program bersama antara SMK dan Industri yang dilaksanakan di dunia usaha maupun dunia industri. Pengalaman praktik kerja industri memberikan wawasan dan tambahan ilmu pengetahuan kepada peserta didik untuk siap bekerja setelah ia lulus dari SMK. Hal ini, karena peserta didik telah melihat dan terbiasa dengan keadaan dunia kerja yang sebenarnya. Selain itu, dengan adanya praktik kerja industri peserta didik dapat melatih keterampilan dan mengaplikasikan teori-teori yang telah didapat di sekolah sehingga menumbuhkan kepercayaan diri untuk siap bekerja setelah lulus dari SMK.

    2. Tujuan link and match
    • untuk meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan tenaga kerja yang baik dengan adanya link and match maka perubahan yang ada pada sekolah tersebut mengalami peningkatan karena link and match mempunyai dasaran-dasaran untuk tercapaikanya suatu tujuan yang akan di capai
    • Meningkatkan kualitas di peserta didik baik secara teori maupun segi prakteknya karena telah menerapkan suatu sistem yang baik maka hasil yang proleh juga kemungkin baik
    • Sarana prasarana yang mencukupi untuk sekolah tersebut karena adanya kerjasama antara sekolah dengan perusahaan yang akan memberikan dampak yang baik baik kepada sekolah ataupun kepada perusahaan
    • Mempermudah lulusan dari sekolah untuk dapat bekerja
    3. Kajian teori
    a. Konsep Link and Match
    Link and match merupakan kebijakan DEPDIKNAS RI yang diperkenalkan oleh Prof. Dr. Ing. Wardiman Djoyonegoro pada tahun 1989 – 1998 sewaktu masih menjabat sebagai menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Link and match merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi pada dunia kerja yang melibatkan pelajar SMK untuk mempraktikkan ilmu yang didapatkan di sekolah pada dunia kerja guna membekali keterampilan, menambah pengalaman belajar sehingga pada lulus sekolah telah siap untuk masuk pasar kerja.
    langkah – langkah yang dapat dilakukan untuk melaksanakan prinsip link and match, sebagai berikut:
    1) Pengembangan Kurikulum Pendidikan Kurikulum pendidikan harus disusun dengan mempertimbangkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di masyarakat, artinya lembaga pendidikan dituntut untuk mendekatkan diri dengan dunia industri guna mengadakan pengembangan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
    2) Peningkatan Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana yang memadai sangat diperlukan untuk mendukung pelaksanaan penelitian di bidang industri dan praktik – praktik lainnya, dengan begitu upaya meningkatkan relevansi program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dapat terwujud sehingga dalam melaksanakan kebijakan link and match akan lebih mudah.
    3) Meningkatkan Kualitas Tenaga Pengajar Tenaga pengajar harus dapat bersaing dengan tenaga – tenaga yang ada di dunia kerja. Selain itu, perlu adanya fleksibilitas tenaga pengajar yang sewaktu-waktu dapat ditugaskan bekerja di bidang industri dan sebaliknya tenaga industri diberikan kesempatan untuk mengabdi di dunia pendidikan dalam waktu tertentu.
    4) Perbaikan Program Pendidikan Program yang dimaksudkan adalah program yang mengarah pada kebutuhan masyarakat dengan tujuan terciptanya relevansi antara program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan adanya relevansi program pendidikan diharapkan kebijakan link and match dapat dilaksanakan dengan baik.
    Skema Link and Match Untuk menciptakan SMK yang berkualitas, diperlukan implementasi link and match antara sekolah dengan industri secara bertahap dan berkesinambungan dalam bentuk kerja sama riset/ penelitian maupun permagangan. Ada beberapa pihak yang saling terkait untuk mewujudkan program link and match ini, antara lain pendidikan kejuruan, dunia industri, dan pemerintah
    4. Implementasi
    Implementasi program link and match dengan dunia usaha dan dunia industri pada lulusan pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta Link and match merupakan kebijakan DEPDIKNAS RI yang diperkenalkan oleh Prof. Dr. Ing. Wardiman Djoyonegoro pada tahun 1989 – 1998 sewaktu masih menjabat sebagai menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Konsep tersebut mengacu pada keterkaitan (link) dan kesesuaian (match) kompetensi lulusan dari dunia pendidikan agar dapat diterima dan cocok dengan kebutuhan dunia kerja. Implementasi program link and match dengan dunia usaha dan dunia industri pada lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta dicapai melalui proses belajar mengajar di sekolah dan jalinan kerjasama dengan industri. Pembelajaran di SMK Negeri 1 Surakarta direncanakan untuk mengacu 70% praktik dan 30% teori, namun masih belum maksimal. Hal itu diketahui belum adanya keseimbangan antara teori dan praktik, kurangnya peran guru dalam proses belajar mengajar di kelas, serta pendalaman materi yang dirasakan oleh siswa masih belum maksimal. Meskipun demikian, sekolah tetap mengupayakan sebaik mungkin karena yang sudah terjadi kecenderungannya tuntutan untuk praktik harus lebih banyak daripada teori. Sesuai dengan salah satu prinsip link and match yang disampaikan Tilaar dalam penelitian Listiana (2012) menjelaskan bahwa sarana dan prasarana yang memadai sangat diperlukan untuk mendukung pelaksanaan penelitian di bidang industry.
    a. Sinkronisasi Kurikulum Menurut Ixtiarto dan Sutrisno (2016), Sinkronisasi kurikulum termasuk salah satu program kemitraan antara SMK dengan dunia usaha dan dunia industri. Sinkronisasi kurikulum dalam konteks pengembangan kurikulum SMK, Berdasarkan hasil penelitian, sinkronisasi kurikulum terdiri dari beberapa tahapan, antara lain:
    1) Perencanaan/Persiapan Sinkronisasi kurikulum merupakan proses menyinkronkan kurikulum yang ada dinas pendidikan dengan kebutuhan yang ada di industri pada awal tahun ajaran dengan melibatkan DU/DI ke sekolah
    2) Pelaksanaan Secara umum langkah – langkah sinkronisasi kurikulum dimulai dari pembuatan SK Tim Pengembang oleh WKS Kurikulum. Tugas dari tim pengembang adalah menyusun dokumen kurikulum. Setelah dokumen jadi, kemudian diserahkan kepada komite (termasuk perwakilan orang tua), DU/DI, dan pengawas untuk divalidasi, dicek, dan direvisi.
    3) Evaluasi Berdasarkan evaluasi dari tahun ke tahun, SMK Negeri 1 Surakarta belum mampu untuk mendapatkan predikat “Amat Baik”. Hal ini dikarenakan masih ada beberapa permasalahan yang muncul, yaitu sekolah mengaku kesulitan untuk menyesuaikan kebutuhan DU/DI dengan KI/KD yang ada dan Peraturan Menteri No. 61 tahun 2014. Dalam Permen tersebut, masih ada beberapa poin yang dinilai belum bisa terpenuni, salah satunya adalah visi misi. Dari hasil kegiatan sinkronisasi diharapkan memperoleh hasil kurikulum yang memilki relevansi tinggi dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh institusi pasangan
    5. Analisis
    Kalo di lihat dari kenyataan link and match telah di terapkan di sekolah hanya saja tidak sepenuhnya bisa di lakukan sekolah seperti adanya pkl di sebuah perusahaan yang meminta peserta didiknya untuk menempuh pembelajaran di perusahaan dengan kata lain adanya kerja sama antara sekolah dengan perusahaan untuk mendapatkan tujuan bersama baik dari sekolah maupun dari perusahaan
    Simpulan
    1. Konsep Link and Match (keterkaitan dan kesepadanan) merupakan konsep keterkaitan antara lembaga pendidikan denagn dunia kerja, atau denagn kata lain Link and Match ini adalah keterkaitan antara pemasok tenaga kerja dengan penggunanya. Dengan adanya keterkaitan ini maka pendidikan sebaagi pemasok tenaga kerja dapat mengadakan hubunga-hubungan dengan dunia usaha/industri.
    2. Dengan link dan match ini suatu lembaga khususnya Perguruan Tinggi bisa mengadakan kerja sama dengan pihak lain khususnya dengan perusahaan atau industri agar mahasiswa bisa magang di perusahaan tersebut. Perguruan tinggi harus mau melakukan riset ke dunia kerja. Denagn adanya Link and Match tersebut Perguruan Tinggi dapat mengetahui kompentensi (keahlian) apa yang paling dibutuhkan dunia kerja dan kompetensi apa yang paling banyak dibutuhkan dunia kerja..
    3. Adapun pendekatan yang digunakan untuk mewujudkan Link and Match adalah pendekatan social dan pendekatan ketenagakerjaan. Pendekatan sosial merupakan pendekatan yang didasarkan atas keperluan masyarakat yang mana pendekatan ini menitik beratkan pada tujuan pendidikan dan pemerataan kesempatan dalam mendapatkan pendidikan. pendekatan sosial merupakan pendekatan tradisional bagi pembangunan pendidikan dengan menyediakan lembaga-lembaga dan fasilitas demi memenuhi tekanan tekanan untuk memasukan sekolah serta memungkinkan pemberian kesempatan kepada murit dan orang tua secara bebas.
    4. Pendidikan formal dianggap sebagai penentu dalam menunjang pertumbuhan ekonomi, dan titik temu antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi adalah produktivitas kerja, dengan asumsi bahwa semakin tinggi mutu pendidikan, semakin tinggi produktivitas kerja, semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat..
    6.Saran
     Untuk menjalin hubungan yang baik dan bagus dari setiap industri maupun sekolah harus bisa mempercayai tugas dan perjanjian yang dibuat tidak semerta- merta untuk perjanjian di awal namun menjalin hubungan kerja sama yang baik
     Pihak sekolah memperhatikan secara detail dari siswa untuk menuju industri yang dimana akan menjalankan praktik lapangan maupun keterikatan kerja.
     Menjalin silaturahmi yang erat supaya dikemudian hari ketika ada perubahan struktur ataupun pengelola tidak ada lagi miscomunikasi

    7. Daftar pustaka
    https://ibnsukron.wordpress.com/2012/01/29/konsep-link-and-match-fungsi-pendidikan-sebagai-pemasok-tenaga-kerja-siap-pakai/
    Septiana Dewi Cahyanti .2018. Implementasi Program Link and Match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri pada Lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta. Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi Vol 4 No 1
    Anggi Rizki R, 2013Profil Si Kemampuan Psikomotorik Siswa Sebagai Refleksi Dari Praktik Kerja Industri Di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 6 GarutUniversitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

    • PENGARUH IMPLEMENTASI PENDIDIKAN ( perbaikan makalah )
      Link and match
      Salam Putra, 5202417014
      Febiandika Laksana Ajie, 5202417015

      1. Pendahuluan
      Link and match adalah kebijakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang dikembangkan untuk meningkatkan relevansi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha serta dunia industri khususnya. Beberapa prinsip yang akan dipakai sebagai strategi dalam kebijakan Link and Match diantaranya adalah model penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda (PSG).
      PSG pada dasarnya merupakan suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu. Pada hakekatnya PSG merupakan suatu strategi yang mendekatkan peserta didik ke dunia kerja dan ini adalah strategi proaktif yang menuntut perubahan sikap dan pola pikir serta fungsi pelaku pendidikan di tingkat SMK, masyarakat dan dunia usaha/industri dalam menyikapi perubahan dinamika tersebut.
      Program pendidikan PSG direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi bersama secara terpadu antara sekolah kejuruan dengan institusi pasangannya. Sehingga fungsi operasional dilapangan dilaksanakan bersama antara kepala sekolah, guru, instruktur dan manager terkait. Untuk itu perlu diciptakan adanya keterpaduan peran dan fungsi guru serta instruktur sebagai pelaku pendidikan yang terlibat langsung dalam pelaksanaa PSG dilapangan secara kondusif.
      (Sugihartono dalam Dias 2009:12) mengungkapkan “Pendidikan Sistem Ganda pada dasarnya merupakan suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui
      kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu”.
      “Sistem ganda (dual system) merupakan model penyelenggaraan pendidikan kejuruan dimana perencanaan dan pelaksanaan pendidikan diwujudkan dalam bentuk kemitraan dunia kerja dengan sekolah, sehingga penyelenggaraan pendidikan berlangsung sebagian di sekolah dan sebagian lagi di dunia usaha atau dunia industri”. (Pakpaham dalam Dias, 2011 : 12)
      Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan sistem ganda adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian yang dilaksanakan dalam Sekolah Menengah Kejuruan dengan cara menerapkan keahlian kejuruan/keahliannya secara langsung di dunia usaha/dunia industri dalam kurun waktu tertentu untuk mencapai tingkat keahlian tertentu.
      Inti dari Pendidikan Sistem Ganda adalah mensinkronkan kurikulum yang terdapat disekolah dan kompetensi yang diharapkan oleh industri. Sinkronisasi kurikulum dapat tercapai apabila kerjasama antara pihak industri dengan pihak sekolah dapat terjalin dengan baik. Konsep pendidikan ini bertujuan supaya siswa ketika disekolah sudah terbiasa dengan lingkungan yang terdapat di industri, sehingga ketika siswa melaksanakan praktik kerja industri siswa tidak kaget dengan situasi yang ada di industri.
      Pendidikan sisitem ganda ini juga bertujuan untuk membentuk disiplin, mental kerja dan sikap kerja siswa yang positif, terbentuknya sikap kerja positif siswa bermanfaat ketika siswa sudah terjun ke dunia industri sepenuhnya. Terjalinnya kerjasama antara pihak sekolah dengan pihak industri dapat memberi tempat bagi siswa lulusan dan industri pasangan tidak khawatir dengan kompetensi yang dimiliki siswa.
      praktik kerja industri adalah bagian dari pendidikan sistem ganda sebagai program bersama antara SMK dan Industri yang dilaksanakan di dunia usaha maupun dunia industri. Pengalaman praktik kerja industri memberikan wawasan dan tambahan ilmu pengetahuan kepada peserta didik untuk siap bekerja setelah ia lulus dari SMK. Hal ini, karena peserta didik telah melihat dan terbiasa dengan keadaan dunia kerja yang sebenarnya. Selain itu, dengan adanya praktik kerja

      2. Tujuan link and match
      • untuk meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan tenaga kerja yang baik dengan adanya link and match maka perubahan yang ada pada sekolah tersebut mengalami peningkatan karena link and match mempunyai dasaran-dasaran untuk tercapaikanya suatu tujuan yang akan di capai
      • Meningkatkan kualitas di peserta didik baik secara teori maupun segi prakteknya karena telah menerapkan suatu sistem yang baik maka hasil yang proleh juga kemungkin baik
      • Sarana prasarana yang mencukupi untuk sekolah tersebut karena adanya kerjasama antara sekolah dengan perusahaan yang akan memberikan dampak yang baik baik kepada sekolah ataupun kepada perusahaan
      • Mempermudah lulusan dari sekolah untuk dapat bekerja
      3. Kajian teori
      1. Program Link and Match
      a. Konsep Link and Match
      Link and match merupakan kebijakan DEPDIKNAS RI yang diperkenalkan oleh Prof. Dr. Ing. Wardiman Djoyonegoro pada tahun 1989 – 1998 sewaktu masih menjabat sebagai menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Link and match merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi pada dunia kerja yang melibatkan pelajar SMK untuk mempraktikkan ilmu yang didapatkan di sekolah pada dunia kerja guna membekali keterampilan, menambah pengalaman belajar sehingga pada lulus sekolah telah siap untuk masuk pasar kerja.
      langkah – langkah yang dapat dilakukan untuk melaksanakan prinsip link and match, sebagai berikut:
      1) Pengembangan Kurikulum Pendidikan Kurikulum pendidikan harus disusun dengan mempertimbangkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di masyarakat, artinya lembaga pendidikan dituntut untuk mendekatkan diri dengan dunia industri guna mengadakan pengembangan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
      2) Peningkatan Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana yang memadai sangat diperlukan untuk mendukung pelaksanaan penelitian di bidang industri dan praktik – praktik lainnya, dengan begitu upaya meningkatkan relevansi program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dapat terwujud sehingga dalam melaksanakan kebijakan link and match akan lebih mudah.
      3) Meningkatkan Kualitas Tenaga Pengajar Tenaga pengajar harus dapat bersaing dengan tenaga – tenaga yang ada di dunia kerja. Selain itu, perlu adanya fleksibilitas tenaga pengajar yang sewaktu-waktu dapat ditugaskan bekerja di bidang industri dan sebaliknya tenaga industri diberikan kesempatan untuk mengabdi di dunia pendidikan dalam waktu tertentu.
      4) Perbaikan Program Pendidikan Program yang dimaksudkan adalah program yang mengarah pada kebutuhan masyarakat dengan tujuan terciptanya relevansi antara program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan adanya relevansi program pendidikan diharapkan kebijakan link and match dapat dilaksanakan dengan baik.
      Skema Link and Match Untuk menciptakan SMK yang berkualitas, diperlukan implementasi link and match antara sekolah dengan industri secara bertahap dan berkesinambungan dalam bentuk kerja sama riset/ penelitian maupun permagangan. Ada beberapa pihak yang saling terkait untuk mewujudkan program link and match ini, antara lain pendidikan kejuruan, dunia industri, dan pemerintah
      4. Implementasi
      Implementasi program link and match dengan dunia usaha dan dunia industri pada lulusan pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta Link and match merupakan kebijakan DEPDIKNAS RI yang diperkenalkan oleh Prof. Dr. Ing. Wardiman Djoyonegoro pada tahun 1989 – 1998 sewaktu masih menjabat sebagai menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Konsep tersebut mengacu pada keterkaitan (link) dan kesesuaian (match) kompetensi lulusan dari dunia pendidikan agar dapat diterima dan cocok dengan kebutuhan dunia kerja. Implementasi program link and match dengan dunia usaha dan dunia industri pada lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta dicapai melalui proses belajar mengajar di sekolah dan jalinan kerjasama dengan industri. Pembelajaran di SMK Negeri 1 Surakarta direncanakan untuk mengacu 70% praktik dan 30% teori, namun masih belum maksimal. Hal itu diketahui belum adanya keseimbangan antara teori dan praktik, kurangnya peran guru dalam proses belajar mengajar di kelas, serta pendalaman materi yang dirasakan oleh siswa masih belum maksimal.
      . Selain mengupayakan pembelajaran di sekolah, SMK Negeri 1 Surakarta juga mengupayakan pembelajaran yang melibatkan industri. Hal itu juga berkaitan dengan salah satu prinsip link and match, yaitu perbaikan program pendidikan. SMK Negeri 1 Surakarta bersama – sama dengan DU/DI untuk mewujudkan program kerjasama antara sekolah dengan industri dalam bentuk: a. Sinkronisasi Kurikulum Menurut Ixtiarto dan Sutrisno (2016), Sinkronisasi kurikulum termasuk salah satu program kemitraan antara SMK dengan dunia usaha dan dunia industri. Sinkronisasi kurikulum dalam konteks pengembangan kurikulum SMK, Berdasarkan hasil penelitian, sinkronisasi kurikulum terdiri dari beberapa tahapan, antara lain:
      1) Perencanaan/Persiapan Sinkronisasi kurikulum merupakan proses menyinkronkan kurikulum yang ada dinas pendidikan dengan kebutuhan yang ada di industri pada awal tahun ajaran dengan melibatkan DU/DI ke sekolah
      2) Pelaksanaan Secara umum langkah – langkah sinkronisasi kurikulum dimulai dari pembuatan SK Tim Pengembang oleh WKS Kurikulum. Tugas dari tim pengembang adalah menyusun dokumen kurikulum. Setelah dokumen jadi, kemudian diserahkan kepada komite (termasuk perwakilan orang tua), DU/DI, dan pengawas untuk divalidasi, dicek, dan direvisi.
      3) Evaluasi Berdasarkan evaluasi dari tahun ke tahun, SMK Negeri 1 Surakarta belum mampu untuk mendapatkan predikat “Amat Baik”. Hal ini dikarenakan masih ada beberapa permasalahan yang muncul, yaitu sekolah mengaku kesulitan untuk menyesuaikan kebutuhan DU/DI dengan KI/KD yang ada dan Peraturan Menteri No. 61 tahun 2014. Dalam Permen tersebut, masih ada beberapa poin yang dinilai belum bisa terpenuni, salah satunya adalah visi misi. Dari hasil kegiatan sinkronisasi diharapkan memperoleh hasil kurikulum yang memilki relevansi tinggi dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh institusi pasangan.
      Implementasi
       Pengembangan kurikulum di sekolah tersebut mulai berbenah karena kurikulum juga sangat menentukan tercapainya tujuan dari link and match tersebut
       Sarana prasarana itu juga sangat penting karena dengan adanya sarana prasarana sekolah tersebut dapat melakukan segala sesuatu dengan adanya sarana dan prasarana yang mendukung untuk tercapainya suatu tujuan dari link anda match tersebut
       Peningkatan tenaga pengajar juga sanagat berpengaruh untuk link and match sendiri dengan adanya tenaga pengajar yang baik maka akan ada pula hasil yang baik karena denagan adanya tenaga terampil maka akan ada hasil yang baik pula karena tenaga pengajar tersebut mengetahui tujuan dan cara untuk mencapai link anda match sendiri.
       Perbaikan program yaitu dengan adanya kerjasama melibatkan masyarakat untuk bisa berkolaborasi untuk mencapai kesuksesan link and match.

      1. Analisis
      Kalo di lihat dari kenyataan link and match telah di terapkan di sekolah hanya saja tidak sepenuhnya bisa di lakukan sekolah seperti adanya pkl di sebuah perusahaan yang meminta peserta didiknya untuk menempuh pembelajaran di perusahaan dengan kata lain adanya kerja sama antara sekolah dengan perusahaan untuk mendapatkan tujuan bersama baik dari sekolah maupun dari perusahaan
      Analisis ada beberapa
      • Pengembangan kurikulum di sekolah kalo untuk kurikulum sendiri ini bisa di perbaiki tergantung pengelolaan di sekolah tersebut.
      • sarana prasarana kalo untuk sarana dan prasarana sendiri terkadang sekolah belum dapat memilkinya karena dengan mahalnya alat dan bahan untuk praktik
      • tenaga penagajar ini bisa di dapatkan dengan adanya pelatihan maka pengajar tersebut akan mendapatkan ilmu penerapan link and match yang nantinya akan di terapkan di sekolah.
      • Untuk program pendidikan bisa di lakukan karena program pendidikan disisi juga hubunganya dengan masyarakat yang nantinya mendapatkan suatu tujuan yang bisa menguntungkan sekolah maupun masyarakatat.

      2. Simpulan
      1. Konsep Link and Match (keterkaitan dan kesepadanan) merupakan konsep keterkaitan antara lembaga pendidikan denagn dunia kerja, atau denagn kata lain Link and Match ini adalah keterkaitan antara pemasok tenaga kerja dengan penggunanya. Dengan adanya keterkaitan ini maka pendidikan sebaagi pemasok tenaga kerja dapat mengadakan hubunga-hubungan dengan dunia usaha/industri.
      2. Dengan link dan match ini suatu lembaga khususnya Perguruan Tinggi bisa mengadakan kerja sama dengan pihak lain khususnya dengan perusahaan atau industri agar mahasiswa bisa magang di perusahaan tersebut. Perguruan tinggi harus mau melakukan riset ke dunia kerja. Denagn adanya Link and Match tersebut Perguruan Tinggi dapat mengetahui kompentensi (keahlian) apa yang paling dibutuhkan dunia kerja dan kompetensi apa yang paling banyak dibutuhkan dunia kerja
      3. Adapun pendekatan yang digunakan untuk mewujudkan Link and Match adalah pendekatan social dan pendekatan ketenagakerjaan. Pendekatan sosial merupakan pendekatan yang didasarkan atas keperluan masyarakat yang mana pendekatan ini menitik beratkan pada tujuan pendidikan dan pemerataan kesempatan dalam mendapatkan pendidikan. pendekatan sosial merupakan pendekatan tradisional bagi pembangunan pendidikan dengan menyediakan lembaga-lembaga dan fasilitas demi memenuhi tekanan tekanan untuk memasukan sekolah serta memungkinkan pemberian kesempatan kepada murit dan orang tua secara bebas
      4. Pendidikan formal dianggap sebagai penentu dalam menunjang pertumbuhan ekonomi, dan titik temu antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi adalah produktivitas kerja, dengan asumsi bahwa semakin tinggi mutu pendidikan, semakin tinggi produktivitas kerja, semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat. Anggapan ini mengacu pada teori Human Capital yang menerangkan bahwa pendidikan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi karena pendidikan berperan di dalam meningkatkan produktivitas kerja.
      5. Kalo di lihat dari ke empat sudut untuk tercapainya link and match tersebut sekolah kekurangan hanya di sarana prasarana karena ini membutuhkan biaya yang banyak untuk memenuhi kebutuhan praktik di sekolah.

      6.Saran
      – Untuk menjalin hubungan yang baik dan bagus dari setiap industri maupun sekolah harus bisa mempercayai tugas dan perjanjian yang dibuat tidak semerta- merta untuk perjanjian di awal namun menjalin hubungan kerja sama yang baik
      – Pihak sekolah memperhatikan secara detail dari siswa untuk menuju industri yang dimana akan menjalankan praktik lapangan maupun keterikatan kerja.
      – Menjalin silaturahmi yang erat supaya dikemudian hari ketika ada perubahan struktur ataupun pengelola tidak ada lagi miscomunikasi

      7. Daftar pustaka
      https://ibnsukron.wordpress.com/2012/01/29/konsep-link-and-match-fungsi-pendidikan-sebagai-pemasok-tenaga-kerja-siap-pakai/
      Septiana Dewi Cahyanti .2018. Implementasi Program Link and Match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri pada Lulusan Pemasaran SMK Negeri 1 Surakarta. Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi Vol 4 No 1
      Anggi Rizki R, 2013Profil Si Kemampuan Psikomotorik Siswa Sebagai Refleksi Dari Praktik Kerja Industri Di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 6 GarutUniversitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

      sesi pertanyaan
      Pertanyaan dari kelompok 1
      1. Saat pkl kompetensi bagaimana cara mengatasi atau memperdalam materi dengen keterbatasan waktu pkl ?

      Jawaban
      1. Peserta didik yang pkl juga akan mendapatkan ilmu saat pkl yang nantinya akan di lanjutkan di sekolah mungkin dengan adanya jam tambahan untuk mengigat kembali yang telah di dapatkan di saat pkl terkadang dari pkl juga hasil yang kurang maksimal di dapat peserta didik mungkin sebagai penunjang agar tercapainya dengan adanya persetujuan dari perusahaan dan sekolah bagaimana agar peserta didik bisa maksimal dengan adanya pkl dan bisa menerapkan nantinya di sekolah atau saat bekerja
      Pertanyaan dari kelompok 2
      1. Kendala yang terjadi pada link and match ?

      Jawaban
      1. Untuk kendala sendiri yaitu mungkin lebih ke sarana dan prasarana dan tenaga pengajar mungkin ada yang juga belum di sebutkan dari kelompok kami memberikan 2 kendala karena dua ini sangat menentukan tercapainya link and match di sekolah tersebut
      Pertayaan dari kelompok 4
      1. Tenaga manusia apa yang dilakukan generasi lapangan sempit dan tenaga manusia di ganti dengan mesin ?
      Jawaban
      1. Dengan adanya pelatihan yang bisa mengantisipasi untuk bekerja nanti agar tenaga manusia juga masih di butuhkan untuk generasi yang maju ini dari sekolah juga di perlukan penyeimbangan untuk mengantisipasi agar bisa bekerja walaupun dengan adanya tenaga bukan manusia atau bisa di sebut tenaga mesin ,tenaga mesi sendiri juga tidak sepenuhnya dilakukan mesin pastinya adanya orang yang di balik yang terpenting dengan adanya pelatihan yang nantinya melatih peserta untuk siap bekerja walaupun dengan adanya lapangan sempit
      Pertanyaan dari kelompok 5
      1. Cara mengatasi kendala dari link and match ?
      Jawaban
      1. Kalo dari kendala tadi ada dua dari kelompok kami cara mengatasinya yaitu:
      • Sarana dan prasarana kalo untuk ini bisa mengajukan ke atasan terkait dengan alat yang kurang memadai untuk pendidikan atau bisa dengan adanya kerjasama dengan perusahaan yang nanti akan memberiakn sarana untuk memenuhi tujuan dari link and match
      • Yang kedua yaitu tenaga pengajar ini bisa di atasi dengan adanya pelatiahn tenaga pengajar yang nanti di sampaikan yang di dapat saat pelatihan ke pemebelajaran atau di terapkan di sekolah tersebut

      Pertanyaan dari kelompok 6
      1. Teori dan praktik proses penyeimbanganya bagaimana ?

      Jawaban
      1. Untuk ini udah di analisis di smk 1 sukoharjo yaitu lebih penerapan agar nanti lulusan bisa siap bekerja makanya perbandingan teori sama praktik di lebihkan untuki praktiknya karena agar peserta didik mendapatkan ilmu untuk bisa bekerja kalo untuk penyeimbangan sendiri walaupun praktik kita juga engga melupakan praktik mungkin beberapa pertemuan awal memberikan materi dulu baru melaksanakanya di praktik biar di praktik peserta didik mendapatkan dasaran dulu sebelum melakukan praktik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here