TUGAS TTL (RABU)

14
163

Silakan mahasiswa mengupload tugas TTL di sini.

SHARE
Previous articleTUGAS TTL (SELASA)
Next articleTEORI KELISTRIKAN OTOMOTIF (RABU)
Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang (UNNES)

14 COMMENTS

  1. PENGUKURAN KOMPONEN ELEKTRONIKA
    Kelompok 5 : Imam Nurohman (5211418052)
    Akmal Putra F (5211418053)
    M Irsyad Naufal S (5211418056)

    Terdapat dua jenis multimeter atau multitester atau avometer yang biasa kita kenal, yakni analog dan digital. Saat ini multimeter digital lebih banyak digunakan karena dianggap lebih mudah dan presisi. Seiring perkembangannya, multimeter tak hanya dapat digunakan untuk mengukuran arus listrik, tegangan, dan hambatan saja, namun juga bisa digunakan untuk mengukur kapasitansi, frekuensi, sampai dengan induksi. Alat ukur Multimeter Analog adalah sebuah alat ukur elektronik yang mempunyai multi fungsi yaitu sebagai Amperemeter, Voltmeter dan Ohmmeter. Multimeter Analog ini digunakan umum oleh para teknisi maupun mahasiswa dalam sebuah laboratorium elektronika untuk mengukur besarnya tegangan listrik searah, mengukur tegangan Iistrik bolak-balik, mengukur tahanan, memeriksa komponen-komponen elektronika dan digunakan sebagai alat bantu pada troubleshooting (mencari kerusakan) rangkaian elektronik.
    Pengujian Pada Komponen Elektronika Menguji Resistor
    Resistor atau sering disebut juga tahanan atau hambatan bisa dalam keadaan baik atau putus. Jika putus maka suatu rangkaian tidak akan bisa bekerja. Makanya untuk mengetahui resistor dapat digunakan atau tidak dilakukan hal-hal sebagai berikut :
    Langkah-langkah pengujian resistor dengan multitester adalah sebagai berikut :
    1. Putar saklar pemilih pada posisi ohm meter.
    2. Tempelkan probe masing-masing pada kawat resistor. Pengukuran jangan sampai tangan menyentuh kawat (salah satu kawat boleh tersentuh asal tidak keduanya).
    3. Perhatikan jarum pada papan skala. Jika bergerak berarti resistor baik, jika diam berarti resistor putus
    Menguji Transistor PNP
    – Menggunakan multimeter analog :
    1. Pastikan kaki kolektor, basis dan emitornya (anda harus mengetahuisecara pasti).
    2. Saklar pemilih pada multimeter harus menunjuk pada ohm meter.
    3. Probe positif (berwarna merah) ditempelkan pada B (basis). Probe negatif (hitam) ditempelkan pada E (Emitor), jika jarum bergerakmaka pindahkan probe negatif pada kolektor. Jika pengukuran pertama dan kedua, jarum bergerak berarti transistor baik. Jika salah satu pengukuran, jarum tidak bergerak berarti transistor rusak.
    – Menggunakan multimeter digital
    1. Jika anda menggunakan multimeter digital, pertama-tama atur posisi saklar ke gambar diode
    2. Setelah itu hubungan probe hitam pada kaki basis (B), dan probe merah pada kaki emitor (E)
    3. Jika display menunjukkan angka tertentu, berarti transistor dalam keadaan baik
    4. Untuk mengetahui transistor PNP rusak atau tidak, salahkan hubungan probe merah pada kaki kolektor (C)
    5. Jika display menunjukkan angka tertentu, berarti kemungkinan transistor dalam kondisi yang baik.

    Menguji Transistor NPN
    – Menggunakan multimeter analog :
    1. Pastikan kaki-kaki transistor, yang terdiri dari kolektor, emitor dan basis.
    2. Putar saklar pemilih pada posisi ohm meter.
    3. Tempelkan probe negatif (hitam) pada basis. Probe positif pada kolektor. Jika bergerak berarti antara kolektor dan basis baik.
    4. Pindahkan probe negaif pada kaki emitor. Jika bergerak maka emitor dan basis baik. Jika salah satu pengukuran (atau keduanya) jarum tidak bergerak berarti transistor putus.

    – Menggunakan multimeter digital :
    1. Jika anda menggunakan multimeter digital, pertama-tama atur posisi saklar ke gambar diode
    2. Setelah itu hubungan probe merah pada kaki basis (B), dan probe hitam pada kaki emitor (E)
    3. Jika display menunjukkan angka tertentu, berarti transistor dalam keadaan baik
    4. Untuk mengetahui transistor NPN rusak atau tidak, salahkan hubungan probe hitam pada kaki kolektor (C)
    5. Jika display menunjukkan angka tertentu, berarti kemungkinan transistor dalam kondisi yang baik

    Menguji Kondensator Elco
    1. Putar saklar pemilih pada posisi ohm meter.
    2. Perhatikan tanda negatif atau positif yang ada pada badan elco dan lurus pada salah satu kaki.
    3. Probe hitam ditempel pada kaki positif (+) dan probe merah ditempel pada kaki negatif (-). Perhatikan gerakan jarum.
    4. Jika jarum bergerak ke kanan kemudian kembali ke kiri berarti kondensator ELCO baik.
    5. Jika jarum bergerak ke kanan kemudian kembali ke kiri namun tidak penuh berarti kondensator ELCO agak rusak.
    6. Jika jarum bergerak ke kanan kemudian tidak kembali ke kiri (berhenti) kondensator ELCO bocor.
    7. Jika jarum tak bergerak sama sekali berarti kondensator ELCO putus.

    Menguji Dioda
    1. Putar saklar pemilih ke posisi ohm.
    2. Probe merah (+) ditempelkan pada kutub katoda dan probe hitam (-) ditempelkan pada kutub anoda. Jika jarum pada papan skala bergerak berarti diode baik, jika diam berarti putus. Selanjutnya dibalik : Probe hitam (-) ditempelkan pada kutub katoda dan probe merah (+) ditempelkan pada kutub anoda. Jika jarum diam, berarti dioda dalam kondisi baik, jika bergerak berarti dioda rusak.

    • Prawiroredjo, K. 2006. Pemahaman dan Penggunaan Alat Ukur Multimeter Analog Sebagai Pengenalan Teknik Elektronika. LEMDIMAS, 67 – 71
      Martias. 2017. Penerapan Dan Penggunaan Alat Ukur Multimeter Pada Pengukuran Komponen Elektronika. Amik BSI Jakarta. Vol 1.
      Barmawi, Malvino. 1995. Prinsip-Prinsip Elektronik. Jakarta. Penerbit Erlangga
      Melville B. Stout, 1986. Basic Electrical Meauserement. New Delhi : Prentice Hall of India
      Millman, Jacob. 1986. Mikro Elektronika Sistem Digital dan Rangkaian Analog. Jakarta. Penerbit Erlangga.
      Sugiri. 2004. Elektronika Dasar dan Peripheral computer. Yogyakarta. Penerbit Andi
      Woollard, Barry. 2002. Elektronika Praktis. Jakarta. Penerbit PT. Pradnya Paramita
      Willian David Cooper. Electronik Instrumentation and Measurement Techniques: Prentice Hall, 1979 : 51- 60.
      David Buchla and Wayne McLachlan. Applied Electronic Instrumentation and Measurement: Prentice Hall International Editions, Engelwood Cliffs. New Jersey, 1992 : 282-295.
      Larry Jones and A. Foster Chin. Electronic Instruments and Measurements: John Wiley &Sons, Inc. : 1983 : 19-28.

    • Pertanyaan :
      1. Apakah ada cara lain untuk mengukur dioda selain avometer? (M Bustanul Aripin 5211418050)
      2. Jenis jenis dioda apa saja yang dapat diukur dengan avometer? (Agung Wihartanto 5211418038)
      3. Pada kondensator ada salah satu ketentuan dimana apabila jarum menunjukkan ke arah kanan lalu kembali kekiri namun tidak mengarah kekanan kembali maka dianggap agak rusak. Maka, apakah ketentuan tersebut juga dapat belaku pada avometer yang digunakkan untuk mengukur dioda,transistor dsb ? (Andrea Mega P 5211418041)
      4. Apa yang terjadi apabila kita salah menentukan skala pada saat pengukuran? apabila nilai tegangan yang akan diukur adalah hanya 15 Volt sementara kita menempatkan saklar pemilih pada posisi 1000. (Ahmad Rizal Firmansyah 5211418029)

      Jawaban :
      1. Tidak ada cara lain mengukur dioda menggunakan avometer. Jika ada, perkembangan alat dari avometer.
      2. Semua diode bisa diukur dengan avometer, contohnya : Dioda bridge, Dioda normal, Dioda laser, Dioda LED dan lain lain.
      3. Tidak berlaku diselain kapasitor/kondensator, soalnya komponen lain punya cara mengukur sendiri.
      4. Yang terjadi apabila kita salah menentukan skala pada saat pengukuran yaitu: apabila nilai tegangan yang akan diukur adalah hanya 15 Volt sementara kita menempatkan saklar pemilih pada Posisi 1000, maka jarum pada alat ukur hanya akan bergerak sedikit sekali sehingga sulit bagi kita untuk memperkirakan berapa nilai tegangan sebenarnya yang terukur. Untuk itu Pindahkan Saklar Pemilih ke Nilai Skala yang dapat membuat Jarum bergerak lebih banyak agar nilai pengukuran lebih akurat. Misalkan kita menggeser saklar pemilih ke Posisi 10 pada skala DCV. Yang terjadi adalah, jarum akan bergerak dengan cepat ke paling ujung kanan. Hal ini disebabkan nilai tegangan yang akan di ukur LEBIH BESAR dari nilai Skala maksimal yang dipilih. Jika Hal ini di biarkan terus menerus maka alat ukur DAPAT RUSAK, Jika jarum alat ukur bergerak sangat cepat ke kanan, segera pisahkan alat ukur dari rangkaian dan ganti Skala SAKLAR PEMILIH ke posisi yang lebih Besar. Saat saklar Pemilih diletakkan pada angka 10 maka yang di perhatikan dalam layar penunjukan jarum adalah range skala 0-10, dan BUKAN 0-50 atau 0-250.

  2. Nama Anggota :
    1. Achmad Rizal Firmansyah (5211418029)
    2. Riki Sulistyo (5211418030)
    3. Danang Sagita Yugiswara (5211418031)
    4. Mufid Faturohman (5211418032)
    5. Dwi Choirul Maulana (5211418033)

    Bab I
    Pendahuluan

    A. Latar Belakang
    Resistor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk membatasi jumlah arus yang mengalir dalam suatu rangkaian. Sesuai dengan namanya resistor bersifat resistif dan umumnya terbuat dari bahan karbon. Dari hukum Ohm diketahui, resistansi berbanding terbalik dengan jumlah arus yang mengalir melaluinya. Pada resistor menghasilkan tegangan yang sebanding dengan arus listrik melewatinya. Satuan resistansi dari suatu resistor disebut Ohm atau dilambangkan dengan simbol Ω (Omega). Kemampuan resistor dalam menghambat arus listrik sangat beragam disesuaikan dengan nilai resistansi resistor tersebut. Nilai ini ditunjukkan dengan warnanya. Maka dengan mengetahui warna resistor tersebut kita bisa mengetahui kualifikasi resistor tersebut. Dewasa ini dalam dunia teknologi pada saat ini sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat khususnya di bidang elektronika.

    B. Rumusan Masalah
    1. Apa pengertian resistor ?
    2. Apa saja jenis jenis resistor ?
    3. Bagaimana perhitungan dalam resistor ?
    4. Bagaimana pembacaan kode resistor ?
    5. Bagaimana penerapan resistor ?

    C. Tujuan
    1. Menjelaskan pengertian resistor.
    2. Menjelaskan jenis jenis resistor.
    3. Menganalisis perhitungan dalam resistor.
    4. Menjelaskan kode dalam resistor.
    5. Menjelaskan penerapan resistor terutama pada bidang teknik mesin.

    Bab II
    Pembahasan Resistor

    A. Pengertian Resistor
    Resistor merupakan salah satu komponen elektronika yang bersifat pasif dimana komponen ini tidak membutuhan arus listrik untuk berkerja. Resistor memiliki sifat menghambat arus listrik dan resistor sendiri memiliki nilai besaran hambatan yaitu ohm dan dituliskan dengan simbol Ω. Sesuai hukum Ohm bahwa resistansi berbanding terbalik dengan jumlah arus yang mengalir melaluinya. Selain nilai resistansinya (Ohm) resistor juga memiliki nilai yang lain seperti nilai toleransi dan kapasitas daya yang mampu dilewatkannya. Semua nilai yang berkaitan dengan resistor tersebut penting untuk diketahui dalam perancangan suatu rangkaian elektronika oleh karena itu pabrikan resistor selalu mencantumkan dalam kemasan resistor tersebut. Resistor mengandung bahan resistif yang dipengaruhi oleh besar hambatan yang dihasilkan oleh bahan tersebut. Pada umumnya bahan yang digunakan berupa karbon.
    Rumus Resistor adalah sebagai berikut :
    R = V/I
    dimana :
    R = Tahanan dengan satuan Ohm
    V = Tegangan dengan satuan Volt
    I = Arus dengan satuan Ampere

    B. Jenis Jenis Resistor
    Berdasarkan jenis dan bahan yang digunakan untuk membuat resistor dibedakan menjadi resistor kawat, resistor arang dan resistor oksida logam. Sedangkan resistor arang dan resistor oksida logam berdasarkan susunan yang dikenal resistor komposisi dan resistor film. Namun demikian dalam perdagangan resistor-resistor tersebut dibedakan menjadi resistor tetap (fixed resistor) dan resistor variabel. Pengunaan untuk daya rendah yang paling utama adalah jenis tahanan tetap yaitu tahanan campuran karbon yang dicetak. Ukuran relatif semua tahanan tetap dan tidak tetap, berubah terhadap rating daya (jumlah watt), penambahan ukuran untuk meningkatkan rating daya agar dapat mempertahankan arus dan rugi lesapan daya yang lebih besar.
    Macam-macam resistor tetap :
    a. Metal Film Resistor
    b. Metal Oxide Resistor
    c. Carbon Film Resistor
    d. Ceramic Encased Wirewound.
    e. Economy Wirewound
    f. Zero Ohm Jumper Wire
    g. S I P Resistor Network
    Macam-macam resistor variabel :
    a. Potensiometer :
    a.1. Linier
    a.2. Logaritmis
    b. Trimer-Potensiometer
    c. Thermister : Thermistror adalah resistor yang dipengaruhi oleh perubahan suhu atau temperatur
    c.1. NTC ( Negative Temperature Coefisient )
    c.2. PTC ( Positive Temperature Coefisient )
    d. LDR (Light Dependent Resistor) adalah resistor yang dipengaruhi oleh perubahan cahaya.
    e. Vdr Karakteristik Berbagai Macam

    C. Menentukan Nilai Reistor Melalui Kode Warna dan Huruf
    Kode warna pada resistor menyatakan harga resistansi dan toleransinya. Semakin kecil harga toleransi suatu resistor adalah semakin baik, karena harga sebenarnya adalah harga yang tertera dikurangi harga toleransinya. Terdapat resistor yang mempunyai 4 gelang warna dan 5 gelang. Pada Resistor Tidak semua nilai resistansi sebuah resistor dicantumkan dengan lambang bilangan melainkan dengan cincin kode warna. Banyaknya cincin kode warna pada setiap resistor berjumlah 4 dan ada juga yang berjumlah 5. Resistansi yang mempunyai 5 cincin terdiri dari cincin 1 , 2 dan 3 adalah cincin digit, cincin 4 sebagai pengali serta cincin 5 adalah toleransi. Resistansi yang mempunyai 4 cincin terdiri dari cincin 1 , 2 adalah sebagai digit, cincin 3 adalah cincin pengali dan cincin 4 sebagai toleransi.
    Kode Huruf
    1. Huruf I menyatakan nilai resistor dan tanda koma desimal.
    Jika huruf I adalah : R artinya x 1(kali satu) ohm
    K artinya x 103 (kali 1000) ohm
    M artinya x 106 (kali 1000000) ohm
    2. Huruf II menyatakan toleransi
    Jika huruf II adalah : J artinya toleransi ± 5 %
    K artinya toleransi ± 10 %
    M artinya toleransi ± 20 %

    D. Penggunaan Resistor Pada Bidang Teknik Mesin
    1. Salah satu penggunaan resistor pada bidang Teknik Mesin adalah pada penggunaan EFI(Electronic Fuel Injection) pada kendaraan bermotor.EFI (Electronic Fuel Injection) adalah sebuah sistem bahan bakar yang dalam kerjanya sampai (penyemprotan bahan bakar di ruang bakar) dikontrol secara elektronik agar didapatkan nilai campuran udara dan bahan bakar yang selalu sesuai dengan kebutuhan motor bakar. Penyemprotan bahan bakarnya sudah di atur secara electronic, maka pada EFI dikenal ada komponen yang bernama injector yang berfungsi untuk menginjeksikan bahan bakar dalam bentuk kabut yang mudah terbakar.
    2. Pada lampu lalu lintas berbasis arduino mega 2560 menggunakan light dependent resistor (LDR) dan laser. Pada sistem kontrol lampu secara otomatis tergantung pada panjangnya antrian kendaraan. Dengan menggunakan sensor cahaya yang dipancarkan sinar laser untuk mendeteksi panjangnya antrian.
    3. Penerapan light dependent resistor (LDR) sebagai referensi keluaran solar sell. Dengan membandingkan LDR dan waktu efektif matahari dapat dikonversi menghasilkan tegangan yang dapat untuk menentukan apakah solar sell telah melakukan konversi dengan baik atau tidak.
    4. Resistor tetap (fixed resistor) pada sepeda motor yang bisa dilihat pada sistem tanda belok (turn signal) yang menggunakan flasher tipe kapasitor. Resistor akan dialiri arus dai baterai jika posisi plat kontak dalam keadaan membuka. Dengan adanya resistor tersebut, maka aliran arus yang melewatinya akan menjadi lebih kecil dibanding dengan arus yang mengalir melalui plat kontak saat posisi menutup. Hal ini akan berakibat lampu tanda belok (lampu sein) tidak menyala saat arus melewati resistor tersebut walau saklar lampu sein sedang diarahkan ke kiri maupun ke kanan.
    5. Resistor pada koil yang berfungsi untuk membatasi arus listrik yang mengalir menuju koil dari aki. Jika resistor ini putus api tidak akan keluar dari busi, solusi sementara waktu bisa langsung di jumper dengan kabel untuk menghidupkan mesin sebelum ganti resistor yang baru. Contohnya Mobil Carry saat menggunakan resistor arus listrik yang mengalir lewat sekring IG hanya 4,5 Amper. Tetapi ketika resistor ini dilepas dan dijumper langsung, arus listrik lewat sekring IG menjadi 17 Amper.
    6. Varistor (Variable Dependent Resistor )biasanya dipergunakan sebagai Surge Supressor atau penahan lonjakan listrik yang terjadi mendadak pada komponen yang sensitif atau peka terhadap lonjakan. Varistor banyak ditemukan pada circuit switching, exiter generator, pembangkit listrik kecil, dan rangkaian peralatan industri terutama untuk proteksi dan keamanan peralatan.

    Daftar Pustaka
    Ana Sofiana dkk.2018.Identifikasi nilai hambatan jenis arang tempurung kelapa dan arang kayu mangrove sebagai bahan alternatif pengganti resistor film karbon.Unnes physic journsl 1-6
    Ahmad, Jayadin.2007.E book-Ilmu Elektronika.
    Williem.2013.Teknik Listrik Dasar Otomotif.Jakarta.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2013
    Haekal, Windarto M.2012.Aplikasi pengatur lampu lalu lintas berbasis arduio mega 2560 menggunakan light dependent resistor (LDR) dan laser.e-journal 1-10
    Ahmad Ridhoi dkk.2019.Penerapan light dependent resistor (LDR) sebagai referensi keluaran solar sell.e-journal 2(1), 231-236
    Malvino, A.P.; Prinsip-Prinsip Elektronika, edisi ketiga, jilid I dan jilid 2; Penerbit Erlangga, 1987
    Millmann, Jacob; Mikroelektronika, Sistem Digital dan Rangkaian Analog, jilid I dan jilid 2; Penerbit Erlangga, 1986
    Blocher, Richard. “Dasar Elektronika”, Yogyakarta : ANDI. 2003.
    Bishop, Owen. “Dasar-dasar Elektronika”, Jakarta : Erlangga, 2004.
    Wibawanto, Hari. Elektronika Dasar : Pengenalan Praktis. Jakarta : PT Elex Media Komputindo. 2008.
    Ahmad, Jayadin. “Elektronika Dasar : Ilmu Elektronika”, 2008.

    • 1. Abram Puspa Pramudita (5211418047)
      Bagaimana cara mengetahui resistor?
      1. Metode melihat warna (gelang) pada fisik resistor
      Dalam menentukan nilai hambtan sebuah resistor, cara yang paling gampang dan banyak digunakan adalah dengan melihat dari pada warna gelang yang terdapat pada fisik resistor
      2. Menggunakan Alat : Avo Meter
      Jika diatas dilakukan cara manual, maka berikutnya adalah mengukur nilai resistor menggunakan alat bantu AVO METER. hal ini diperlukan, jika memang kita buth cepat dan tidak hafal tabel nilai resistor atau memang ada kondisi tertentu dimana cincin tidak di terlihat jelas warnanya / nilainya.

      2. Murti Ayu Nur Safitri (5211418039)
      Apa perbedaan antara PTC dan NTC serta kapan penggunaanya?
      I. Perbedaan
      Thermistor NTC
      Thermistor NTC memiliki nilai koefisien negatif dimana apabila temperatur turun maka nilai tahanan thermistor NTC akan meningkat dan sebaliknya, nilai tahanannya akan turun apabila temperatur naik.
      Dengan kata lain, thermistor tipe NTC ini akan berbanding terbalik atau negatif antara kenaikan tahanan dengan kenaikan temperaturnya.
      Kenaikan dan penurunan tahanan akan mempengaruhi nilai arus yang dapat melewati komponen thermistor tersebut. Apabila tahanannya tinggi maka arus yang mengalir akan semakin kecil atau bahkan arus tidak dapat mengalir sama sekali dan sebaliknya apabila nilai tahanan kecil maka arus yang mengalir dapat lebih besar.

      Thermistor PTC
      Thermistor PTC memiliki nilai koefisien positif dimana apabila temperatur naik maka nilai tahanan thermistor PTC akan meningkat dan sebaliknya, nilai tahanannya akan turun apabila temperatur turun.
      Dengan kata lain, thermistor tipe PTC ini akan berbanding lurus atau positif antara kenaikan tahanan dengan kenaikan temperaturnya.
      II. Penggunaan
      Jenis NTC memiliki nilai resistansi yang akan menurun jika suhu yang bekerja padanya meningkat atau bertambah panas. Semakin tinggi suhu, maka arus yang dapat melalui resistor ini justru akan semakin besar.
      Jenis PTC memiliki sifat yang berkebalikan dengan NTC. Pada thermistor PTC, jika suhu yang bekerja padanya meningkat ,maka tahanan dalam komponen tersebut akan meningkat seiring dengan peningkatan suhu. Akibatnya ,arus yang mengalir melalui rangkaian atau komponen tersebut akan semakin dibatasi hingga terhenti.

      3. Muhammad Ziddun Ni’am (5211418037)
      Pada resistor tetap terdapat koefisien temperature,maksudnya apa?
      Pada resistor tetap yang hambatannya dipengaruhi oleh temperature itu disebut thermistor. Pada thermistor itu sendiri ada 2 macam yaitu NTC dan PTC yang karakteristiknya itu jika Jenis NTC memiliki nilai resistansi yang akan menurun jika suhu yang bekerja padanya meningkat atau bertambah panas. Semakin tinggi suhu, maka arus yang dapat melalui resistor ini justru akan semakin besar.Jenis PTC memiliki sifat yang berkebalikan dengan NTC. Pada thermistor PTC, jika suhu yang bekerja padanya meningkat ,maka tahanan dalam komponen tersebut akan meningkat seiring dengan peningkatan suhu. Akibatnya ,arus yang mengalir melalui rangkaian atau komponen tersebut akan semakin dibatasi hingga terhenti.

      4. Akmal Putra Fardinansyah (5211418053)
      Apakah resistor variable itu berdiri sendiri atau membutuhkan komponen lainnya?
      Tidak, resistor variabel tidak berdiri sendiri dan membutuhkan komponen lainnya karena pada resistor variabel nilai resistor pada perangkat perangkat tersebut bisa diubah dan diatur.

  3. Nama: Lintang Setiawan (5211418034)
    Fathurahman Naufal M (5211418035)
    Dafa oktaditia (5211418036)
    M ziddun niam (5211418037)
    Agung wihartanto (5211418038)
    Pembahasan
    A. Pengertian Dioda
    Dioda merupakan komponen semikonduktor yang paling sederhana. Kata dioda berasal dari pendekatan kata yaitu dua elektroda yang mana (di berarti dua) mempunyai dua buah elektroda yaitu anoda dan katoda.
    Dioda adalah komponen aktif dua kutub yang pada umumnya bersifat semikonduktor, yang memperbolehkan arus listrik mengalir ke satu arah (kondisi panjar maju) dan menghambat arus dari arah sebaliknya (kondisi panjar mundur). Dioda dapat disamakan sebagai fungsi katup di dalam bidang elektronika. Dioda sebenarnya tidak menunjukkan karakteristik kesearahan yang sempurna, melainkan mempunyai karakteristik hubungan arus dan tegangan kompleks yang tidak linier dan seringkali tergantung pada teknologi atau material yang digunakan serta parameter penggunaan. Beberapa jenis dioda juga mempunyai fungsi yang tidak ditujukan untuk penggunaan penyearahan. Awal mula dari dioda adalah peranti kristal Cat’s Whisker dan tabung hampa (juga disebut katup termionik). Saat ini dioda yang paling umum dibuat dari bahan semikonduktor seperti silikon atau germanium. Walaupun dioda kristal (semikonduktor) dipopulerkan sebelum dioda termionik, dioda termionik dan dioda kristal dikembangkan secara terpisah pada waktu yang bersamaan. Prinsip kerja dari dioda termionik ditemukan oleh Frederick Guthrie pada tahun 1873. Sedangkan prinsip kerja dioda kristal ditemukan pada tahun 1874 oleh peneliti Jerman, Karl Ferdinand Braun. Pada waktu penemuan, peranti seperti ini dikenal sebagai penyearah (rectifier). Pada tahun 1919, William Henry Eccles memperkenalkan istilah dioda yang berasal dari di berarti dua, dan ode (dari ὅδος) berarti “jalur”.
    B. Fungsi Dioda
    Fungsi Dioda adalah untuk menyalurkan arus listrik yang mengalir dalam satu arah dan menahan arus tersebut dari arah sebaliknya. Dioda juga dapat berfungsi sebagai penyearah arus, rangkaian catu daya dan juga untuk stabilisator tegangan. Fungsi dioda sebenarnya tidak menunjukan hidup mati yang sempurna atau bisa di bilang benar benar menghantar saat panjar maju dan menyumbat pada saat panjar mundur, tetapi mempunyai karakteristik listrik tegangan arus taklinier kompleks yang tergantung pada teknologi yang kita gunakan dan kondisi penggunaanya.
    Berikut fungsi dioda beserta contohnya:
    1. Penyearah, contoh: dioda bridge.
    2. Penstabil tegangan (voltage regulator), yaitu dioda zener.
    3. Pengaman /sekering.
    4. Sebagai rangkaian clipper, yaitu untuk memangkas/membuang level sinyal yang ada di atas atau di bawah level tegangan tertentu.
    5. Sebagai rangkaian clamper, yaitu untuk menambahkan komponen DC kepada suatu sinyal AC.
    6. Pengganda tegangan.
    7. Sebagai indikator, yaitu LED (light emiting diode).
    8. Sebagai sensor panas, contoh aplikasi pada rangkaian power amplifier.
    9. Sebagai sensor cahaya, yaitu dioda photo.
    10. Sebagai rangkaian VCO (voltage controlled oscilator), yaitu dioda varactor.
    Contoh penggunaan diode pada sistem penerangan LED
    Sistem penerangan adalah sumber utama konsumsi listrik dunia. Sekitar 20% listrik yang dikonsumsi di dunia adalah untuk penerangan tempat tinggal dan tempat-tempat umum. Dalam beberapa tahun terakhir, lampu light emitting diodes (LED) dianggap berperan penting dalam industri penerangan. Hal ini dikarenakan potensinya dalam menghasilkan bukan hanya cahaya tetapi juga lingkungan yang baik dengan konsumsi daya rendah. Dibandingkan dengan sumber cahaya tradisional, lampu LED mempunyai umur yang panjang, ketahanan uji yang baik dan efisiensi yang tinggi. Dengan karakter “energy saving, low-carbon economy”, LED menjadi trend saat ini sebagai lampu generasi keempat dan telah digunakan dalam banyak aplikasi. LED menghabiskan 50% energi dibandingkan dengan lampu fluorescent atau lampu neon
    LED adalah dioda semikonduktor. Akan tetapi, LED berbeda dengan dioda biasa karena dimanufaktur untuk aplikasi penerangan. LED mengubah energi listrik menjadi cahaya. LED menghasilkan energi cahaya dengan menggunakan 20 sampai 30% energi listrik dan mengubah sisanya 70 sampai 80% menjadi panas. Panas yang dihasilkan menaikkan temperatur junction LED. Temperatur junction yang tinggi akan membuat berkurangnya efisiensi optik dan umur fosfor. Sehingga upaya untuk mengurangi temperatur junction sangat perlu dilakukan untuk menghindari efekefek tersebut.
    Studi tentang pendingin LED telah dilakukan peneliti-peneliti di dunia. Diantaranya oleh Lu yang menggunakan heat pipe yang berhasil menurunkan temperatur junction sampai 52oC. Menggunakan metode elemen hingga untuk memprediksi penyebaran panas dan temperatur junction pada LED berdaya tinggi dan menemukan bahwa dengan menggunakan fan pada sisi dinding heatsink dapat menaikkan koefisien perpindahan panas konvektif untuk menurunkan temperatur junction menggunakan pendingin termoelektrik dan kipas untuk lampu LED pada aplikasi otomotif untuk mengoptimalkan performa LED. Studi perbandingan antara jet-mikro dan alat pendingin cairan kanal-mini dilakukan oleh Bladimir. Membuat pendingin aktif menggunakan heatsink dengan pelat pendingin cairan untuk menyebarkan panas.
    Dilihat dari sisi efek pendinginan, metode-metode di atas dapat menurunkan temperatur junction. Akan tetapi, metodemetode di atas memiliki kekurangan seperti kerumitan, energi yang terbuang dan harga yang mahal. Dari metode yang ada, pendingin pasif masih menjadi pilihan karena kebisingannya rendah, ketahanannya tinggi dan harganya murah. Penelitian ini adalah penelitian fundamental yang bertujuan untuk mempelajari karakteristik lampu LED dengan sistem pendingin pasif menggunakan heatsink konvensional. Studi tentang karakteristik termal lampu LED sangat dibutuhkan untuk merancang pendingin pasif yang mampu membuat performa LED optimal.
    Kesimpulan
    Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Dioda merupakan komponen semikonduktor yang paling sederhana. Dioda juga dapat disamakan sebagai fungsi katup di dalam bidang elektronika. Fungsi Dioda adalah untuk menyalurkan arus listrik yang mengalir dalam satu arah dan menahan arus tersebut dari arah sebaliknya. Dioda juga dapat berfungsi sebagai penyearah arus, selain itu diode juga dapat digunakan atau diterapkan dalam berbagai peralatan elektronika dalam bidang Teknik mesin dan juga dapat digunakan untuk membuat barang-barang yang sering digunakan sehari-hari, seperti: sistem dari lampu LED, sebagai pengaman elektronika mobil, dan lain sebagainya.

    Daftar Pustaka
    Nurrohman, Pramono. Gatot E. 2016. Studi Eksperimental Pendingin Pasif Lampu Light Emitting Diode Menggunakan Heatsink Konvensional. Bandung: Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Ibn Khaldun.

    Bishop, Owen. 2002. Dasar-dasar Elektronika.Jakarta: Erlangga.

    Sutrisno. 1985. Elektonoka teori dan Penerapannya 1. Bandung: Penerbit ITB.

    Tooley, Mike. 2002. Rangkaian Elekronika Prinsip dan Aplikasi Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.

    Boylestad, R., & Nashelsky, L. 1989. Electronic Devices and Circuit Theory, Fourth Edition. Delhi : Prentice Hall of India.

    Malvino, A.P. 2003. Prinsip-Prinsip Elektronika, Buku 1. Jakarta : Salemba Teknika.

    Martawijaya, M. A., dkk. 2008. Dasar – Dasar Elektronika, Buku 1. Makassar : Badan Penerbit UNM Makassar.

    Simatupang, S.2011.Elektronika Dasar. Medan : FMIPA UNIMED

    Fauzan Rizqi, Purba Riyan. 2016. Karakteristik Dioda. Surabaya: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh
    Nopember (ITS).

    Chattopadhyay, 1989. Dasar Elektronika. Jakarta: Penerbit Universitas
    Indonesia.

    • Pertanyaan (imam 5211418052)
      4. Bagaimana jika dioda zener dipasang pada dioda forward bias
      Jawaban: Pengertian dan Fungsi Dioda Zener (Zener Diode) adalah Komponen Elektronika yang terbuat dari Semikonduktor dan merupakan jenis Dioda yang dirancang khusus untuk dapat beroperasi di rangkaian Reverse Bias (Bias Balik). Pada saat dipasangkan pada Rangkaian Forward Bias (Bias Maju), Dioda Zener akan memiliki karakteristik dan fungsi sebagaimana Dioda Normal pada umumnya. Jadi, dapat disimpulkan dioda zener dapat dipasang seperti dioda forward bias karena memiliki fungsi yang sama

    • 1. DWI CHOIRUL MAULANA (5211418033)
      pertanyaan : cara mengetahui kerusakan pada dioda LED dan cara memperbaikinya?
      jawab : cara mengetahui kerusakan pada dioda LED yaitu dengan menggunakan Avometer bila katoda ditempelkan pada kabel merah dan anoda ditempelkan pada kabel hitam dan jarum jarum akan bergerak,lalu katoda ditempelkan pada kabel hitam dan anoda pada kabel merah bila jarum tidak bergerak maka dioda dalam kondisi baik bila jarum bergerak maka dioda dapat dinyatakan putus. cara memperbaiki dioda tidak disarankan bila dioda ingin digunakan untuk kebutuhan sehari hari, karena jika kita membuat sendiri belum tentu dioda tersebut akan bekerja dengan maksimal oleh karena itu lebih baik kita membeli dioda baru jikalau dioda tersebut rusak.

      2. ANDREA MEGA PUTRA (5211418041)
      pertanyaan : berapa maksimal tegangan yang bisa disalurkan pada dioda varactor?
      jawab : speksifikasi dioda varactor yang umum dijumpai yaitu
      -nilai kapasitansi (10pF, 22pF)
      -minimum voltage breakdown (12V,30V)
      -power dissipation (300mW,500mW)
      -maksimum peak current (300mA, 500mA)

      3. MUHAMMAD NUR FACHRY ASYIFA (5211418049)
      pertanyaan : jenis dioda yang digunakan pada sebuah mesin las?
      jawab : menggunakan dioda bridge untuk mengubah arus ac menjadi arus dc, dioda yang biasa digunakan yaitu dioda D92-02 (220V, 20A) dan dioda s35vb100 (35A, 1000V) sesuai dengan kebutuhan masing masing.

    • penanya : Fachry (5211418049) (kelompok 4)
      pertanyaan :dioda jenis apa yang digunakan dalam mesin las
      jawab : dioda yang biasa digunakan dalam mesin las adalah jenis dioda yang dapat tahan ampere tinggi (arus tinggi) karena dalam pengelasan dibutuhkan arus yang sangat besar(hingga 500 A), biasanya dioda ini terbuat dari bahan silikon

  4. Kelompok 4
    1. Abram Puspa P (5211418047)
    2. Saeful Dimyati (5211418048)
    3. M Nur Fachry A (5211418049)
    4. M Bustanul A (5211418050)
    5. Baharudin P (5211418051)

    Kajian Tentang Kapasitor dan Penggunaanya Dalam Dunia Teknik Mesin
    1) Kajian Tentang Kapasitor
    Pengertian
    Kapasitor (Kondensator) yang dalam rangkaian elektronika dilambangkan dengan huruf “C” adalah suatu alat yang dapat menyimpan energi/muatan listrik di dalam medan listrik, dengan cara mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan listrik. Kapasitor ditemukan oleh Michael Faraday (1791-1867). Satuan kapasitor disebut Farad (F). Satu Farad = 9 x 1011 cm2 yang artinya luas permukaan kepingan tersebut.

    Dasar dan prinsip kapasitor
    Struktur sebuah kapasitor terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan oleh suatu bahan dielektrik. Bahan-bahan dielektrik yang umum dikenal misalnya udara vakum, keramik, gelas dan lain-lain. Jika kedua ujung plat metal diberi tegangan listrik, maka muatan-muatan positif akan mengumpul pada salah satu kaki (elektroda) metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan negatif terkumpul pada ujung metal yang satu lagi. Muatan positif tidak dapat mengalir menuju ujung kutub negatif dan sebaliknya muatan negatif tidak bisa menuju ke ujung kutub positif, karena terpisah oleh bahan dielektrik yang non-konduktif. Muatan elektrik ini tersimpan selama tidak ada konduksi pada ujung-ujung kakinya. Di alam bebas, phenomena kapasitor ini terjadi pada saat terkumpulnya muatan-muatan positif dan negatif di awan.

    Prinsip dasar kapasitor

    Jenis jenis kapasitor
    Jenis-jenis kapasitor dapat dibagi menjadi 3 yaitu kapasitor nilai tetap, kapasitor variabel dan kapasitor elektrolit.
    Kapasitor nilai tetap (fixed capasitor)
    Kapasitor nilai tetap yaitu kapasitor yang memiliki nilai kapasitas yang nilainya tetap atau tidak berubah-ubah. Kapasitor nilai tetap terdiri dari kapasitor keramik, kapasitor polyester atau milar, kapasitor mika dan kapasitor kertas
    Kapasitor keramik (Ceramic Capasitor), kapasitor jenis ini memiliki bentuk bulat tipis dan tidak memiliki polaritas sehingga pemasangan terminal-terminal (kaki-kaki) nya dapat di bolak balik. Untuk nilai kapasitasnya sendiri memiliki kapasitas yang kecil dari 1 pF sampai 0,1 µF, dengan tegangan kerja maksimum 25 volt sampai 100 volt.
    Kapasitor polyester, kapasitor jenis polyester dibuat dari bahan isolator yang terdiri dari bahan polyester. Kapasitor polyester merupakan jenis kapasitor non polar sehingga terminal-terminal pada kapasitor polyester tidak memiliki polaritas. Pada umumnya nilai kapasitas pada kapasitor polyester antara 100 pF sampai 2 µF.
    Kapasitor mika, Kapasitor jenis mika adalah jenis kapasitor yang erbuat dari bahan isolator yaitu mika. Kapasitor mika ini juga termasuk jenis kapasitor non polar sehingga terminal-terminal pada jenis kapasitor ini idak memiliki polaritas. Pada umumnya nilai kapasitas pada kapasitor mika antara 50 pF sampai 0,2 µF
    Kapasitor kertas, kapasitor jenis kertas adalah jenis kapasitor yang terbuat dari bahan isolator yaitu kertas. Kapasitor kertas ini juga termasuk jenis kapasitor non polar sehingga terminal-terminal pada jenis kapasitor ini idak memiliki polaritas. Pada umumnya nilai kapasitas pada kapasitor kertas antara 300 pF sampai 4 µF.

    Kapasitor variabel (Variable Capasitor)
    Kapasitor variabel yaitu nilai kapasitas dari kapasitor ini dapat diatur besar kecilnya untuk disesuaikan kebutuhan. Secara fisik jenisk kapasitor variabel terbagi menjadi dua jenis yaitu variable condensator (varco) dan kapasitor timmer
    Variable cndensator (Varco), variable condensator merupakan jenis kapasitor yang nilai kapasitasnya dapat diatur dengan cara memutarkan poros pengaturnya.
    Kapasitor trimmer, kapasitor trimmer adalah jenis kapasitor yang nilai kapasitasnya dapat diatur besar kecilnya untuk disesuaikan. Pengaturan nilai kapasitas kapasitor ini dapat diatur dengan memutarkan poros pengatur dengan obeng min

    Kapasitor elektrolit
    Kapasitor elektrolit atau condensator elektrolit (elco) merupakan kondensator yang memiliki polaritas pada terminal-terminalnya yaitu terminal positif dan terminal negatif. Pada umumnya elco ini memiliki bentuk tabung, dan pada kaki positifnya biasanya memiliki ukuran yang lebih panjang dibandingkan kaki negatifnya

    Penggunaan Kapasitor Dalam Bidang Teknik Mesin
    Sistem Pengapian CDI
    Sistem pengapian terjadi pada motor pembakaran dalam (internal combustion engine), ciri utamanya adalah kerja yang digunakan terbentuk dari aksi secara langsung gas panas yang dikeluarkan sehingga menyebabkan gerakan komponen mesin dan menghasilkan tenaga. Menurut Wardan Suyanto (1989) sistim penyalaan (pengapian) adalah suatu sistim pada motor bakar yang menjamin motor dapat bekerja.
    CDI (Capasitor Discharge Ignition) atau Sistem pengapian kondensator merupakan salah satu sistem pengapian pada kendaraaan bermotor yang memanfaatkan arus pengosongan muatan (discharge Current) dari kondensator, guna mencatu daya kumparan pengapian (Ignition coil). Awalnya sebuah pencatu daya akan mengisi muatan pada kondensator dalam bentuk arus listrik searah sampai mencapai beberapa ratus volt. Selanjutnya sebuah pemicu akan diaktifkan untuk menghentikan proses pengisian muatan kondensator, sekaligus memulai proses pengosongan muatan kondensator untuk mencatu daya kumparan pengapian melalui sebuah saklar elektronik.
    Keunggulan CDI (Capasitor Discharge Ignition) :
    Tidak terjadi loncatan bunga api yang melintasi celah titik-titik kontak platina, dan karenanya voltase skunder stabil sehingga start dan performa yang sangat baik pada kecepatan rendah terjamin.
    Saat putaran tinggi bunga api yang dihasilkan oleh busi lebih stabil sehingga mesin akan bekerja secara optimal.
    Tidak memerlukan adanya penyetelan ignition karena tidak memakai titik-titik kontak dan cam.

    Kesimpulan :
    Kapasitor merupakan alat yang dapat menyimpan energi atau muatan listrik didalam medan listrik, dengan cara mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan listrik yang dalam rangkaian elektronika dilambangkan dengan huruf “C”. Struktur kapasitor terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan oleh suatu bahan dielektrik yang umum dikenal oleh kita misalnya udara vakum, keramik, gelas dan lain-lain. Kapasitor dapat dibagi menjadi 3 yaitu kapasitor nilai tetap, kapasitor variabel, dan kapasitor elektrolit. Kapasitor sendiri dalam bidang teknik mesin salah satu penerapannya dalam sistem pengapian CDI (Capasitor Discharge Ignition) atau sistem pengapian kondensator merupakan salah satu sistem pengapian pada kendaraan bermotor yang memanfaatkan arus pengosongan muatan (Discharge Current) dari kondensator, guna mencatu daya kumparan pengapian (Ignition Coil).

    Daftar Pustaka :
    Anonim, 2000, Buku Pedoman Reparasi Honda, Jakarta : PT. Astra Internasional.
    Boenarto, 1990, Cara Pemeriksaan, Penyetelan dan perawatan kerusakan, merawat dan menjalakan kendaraan bermotor, Jakarta, PT. Pradnyaparamita
    Brujin Lade, 1982, Motor Bakar, Jakarta, PT. Bharata Karya Aksara
    Daryanto, 2004, Teknik Sepeda Motor, Bandung : Yrama Widya.
    Daryanto, 2011, Dasar-dasar Kelistrikan Otomotif, Jakarta, Prestasi Pustaka Publisher
    Daryanto, 1978, Sistem Kelistrikan Dan Bahan Bakar Otomotif, jilid 1 dan 2, Jakarta
    https://www.teknik-otomotif.com/2019/02/fungsi-kapasitor-dan-macam-macamnya_21.html
    Rudatin, Taslim., 1994, Teknik Reparasi Mesin – Mesin Mobil dan Motor, Pekalongan : CV. Bahagia.
    Sudjana. 1991. Desaen and Analisis Eksperimen. Bandung : Tarsi.
    Yunan Ginting, 1996, Otomotif Dasar, Bandung, CV. Angkasa

    • Peratanyaan
      1. Muhammad Adnan Bayu Setiawan (5211418043), Bagaimana cara menghitung nilai kapastor? Serta bagaimana perbandingan nilai kapasitor dan resistor?
      2. Akmal Putra Fardinansyah (5211418053), Kapan membuat rangkaian dengan kapasitor selain Elco dan Kapan menggunakan Elco?
      3. Lintang Setyawan (5211418034), Relay klakson pada motor itu termasuk kapasitor tetap atau tidak?
      4. Danang Sagita Yugiswara (5211418031), Kapasitor pada CDI menggunakan kapasitor jenis apa? Dan berapa nialinya?

      Jawaban
      1. Nilai pada rangkaian kapasitor dapat dihitung dengan rumus :
      a. Seri : 1/C1 + 1/C2 + 1/C3 + 1/Cn = 1/C total
      b. Paralel : C1 + C2 + C3 + Cn = C total
      Sedangkan pada rangkaian resistor dapat dihitung dengan rumus :
      a. Seri : R1 + R2 + R3 + Rn = R total
      Paralel : 1/R1 + 1/R2 + 1/R3 + 1/Rn = 1/R total
      Jadi dapat disimpulkan bahwa untuk menghitung nilai rangkaian seri pada kapasitor itu merupakan kebalikan dari nilai rangkaian seri pada resistor. Dan untuk menghitung nilai rangkaian parallel pada kapasitor itu merupakan kebalikan dari nilai rangkaian parallel pada resitor
      2. Elektrolit condensator dipakai untuk keperluan kapasitansi yang besar, sedangkan selain elektrolit kondensator dipakai untuk keperluan kapasitansi yang rendah
      3. Kapasitor tetap biasa dipakai untuk penyetabil frekuensi. Sedangkan pada relay klakson menggunakan elektrolit kondensator
      4. Kapasitor pada CDI moor adalah elektrolit condensator. Untuk nilai aman yang sering digunakan sekitar 4,7 mF/400 volt.

    • Peratanyaan
      1. Muhammad Adnan Bayu Setiawan (5211418043), Bagaimana cara menghitung nilai kapastor? Serta bagaimana perbandingan nilai kapasitor dan resistor?
      2. Akmal Putra Fardinansyah (5211418053), Kapan membuat rangkaian dengan kapasitor selain Elco dan Kapan menggunakan Elco?
      3. Lintang Setyawan (5211418034), Relay klakson pada motor itu termasuk kapasitor tetap atau tidak?
      4. Danang Sagita Yugiswara (5211418031), Kapasitor pada CDI menggunakan kapasitor jenis apa? Dan berapa nialinya?

      Jawaban
      1. Nilai pada rangkaian kapasitor dapat dihitung dengan rumus :
      a. Seri : 1/C1 + 1/C2 + 1/C3 + 1/Cn = 1/C total
      b. Paralel : C1 + C2 + C3 + Cn = C total
      Sedangkan pada rangkaian resistor dapat dihitung dengan rumus :
      a. Seri : R1 + R2 + R3 + Rn = R total
      Paralel : 1/R1 + 1/R2 + 1/R3 + 1/Rn = 1/R total
      Jadi dapat disimpulkan bahwa untuk menghitung nilai rangkaian seri pada kapasitor itu merupakan kebalikan dari nilai rangkaian seri pada resistor. Dan untuk menghitung nilai rangkaian parallel pada kapasitor itu merupakan kebalikan dari nilai rangkaian parallel pada resitor
      2. Elektrolit condensator dipakai untuk keperluan kapasitansi yang besar, sedangkan selain elektrolit kondensator dipakai untuk keperluan kapasitansi yang rendah
      3. Kapasitor tetap biasa dipakai untuk penyetabil frekuensi. Sedangkan pada relay klakson menggunakan elektrolit kondensator
      4. Kapasitor pada CDI moor adalah elektrolit condensator. Untuk nilai aman yang sering digunakan sekitar 4,7 mF/400 volt.

  5. KAJIAN TENTANG TRANSISTOR DAN PENGGUNAAN DALAM BIDANG TEKNIK MESIN
    Di susun oleh : Kelompok 3
    1. Murti Ayu Nur Safitri ( 5211418039 )
    2. Andrea Mega Putra ( 5211418041 )
    3. Muhammad Adnan Bayu Setawan ( 5211418043)
    4. George David Aloysius ( 5211418044 )
    5. Chandra Yana Yudha Pratama ( 5211418046 )
    Definisi Transistor
    Resistor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk membatasi jumlah arus yang mengalir dalam satu rangkaian yang dimana komponen aktif yang dibuat dari bahan semikonduktor. Secara keseluruhan maka Transistor merupakan komponen semikonduktor yang memiliki berbagai macam fungsi seperti sebagai penguat, pengendali, penyearah, osilator, modulator dan lain sebagainya.
    Jenis – Jenis Transistor
    Ada dua macam transistor yang dibagi berdasarkan fungsi, yaitu transistor dwikutub (Bipolar Junction Transistor-BJT) dan transistor efek medan (Field Effect Transistor-FET). Kedua jenis transistor tersebut memiliki perbedaan yang paling utama diantara dua pengelompokkan tersebut adalah terletak pada bias Input atau Output yang digunakannya. Transistor Bipolar memerlukan arus (current) untuk mengendalikan terminal lainnya sedangkan Field Effect Transistor (FET) hanya menggunakan tegangan saja (tidak memerlukan arus). Dan perbedaan transistor tersebut saat pengoperasinya dimana Transistor Bipolar memerlukan muatan pembawa (carrier) hole dan electron sedangkan FET hanya memerlukan salah satunya.
    1. Transistor Bipolar (BJT)
    Transistor Bipolar adalah Transistor yang struktur dan prinsip kerjanya memerlukan perpindahan muatan pembawanya yaitu electron di kutup negatif untuk mengisi kekurangan electon atau hole di kutub positif. Bipolar berasal dari kata “bi” yang artinya adalah “dua” dan kata “polar” yang artinya adalah “kutub”. Transistor Bipolar memiliki istilah singkatan BJT yang berarti Bipolar Junction Transistor.

    Jenis-jenis Transistor Bipolar
    Transistor Bipolar terdiri dari dua jenis yaitu Transistor NPN dan Transistor PNP. Transistor NPN dan transistor PNP merupakan transistor yang terbuat dari semikonduktor tipe p dan semikonduktor tipe n. Tiga Terminal Transistor ini diantaranya adalah terminal Basis, Kolektor dan Emitor.

     Transistor NPN adalah transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan tegangan positif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan yang lebih besar dari Kolektor ke Emitor.

     Transistor PNP adalah transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan tegangan negatif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan yang lebih besar dari Emitor ke Kolektor.

    2. Transistor Efek Medan (Field Effect Transistor)
    Transistor Efek Medan atau Field Effect Transistor yang disingkat menjadi FET ini adalah jenis Transistor yang menggunakan listrik untuk mengendalikan konduktifitasnya. Yang dimaksud dengan Medan listrik disini adalah Tegangan listrik yang diberikan pada terminal Gate (G) untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan pada terminal Drain (D) ke terminal Source (S). Transistor Efek Medan (FET) ini sering juga disebut sebagai Transistor Unipolar karena pengoperasiannya hanya tergantung pada salah satu muatan pembawa saja, apakah muatan pembawa tersebut merupakan Electron maupun Hole.

    Jenis-jenis Transistor Efek Medan (Field Effect Transistor)
    Transistor jenis FET ini terdiri dari tiga jenis yaitu Junction Field Effect Transistor (JFET), Metal Oxide Semikonductor Field Effect Transistor (MOSFET) dan Uni Junction Transistor (UJT).
    1. JFET (Junction Field Effect Transistor)
    JFET (Junction Field Effect Transistor) adalah Transistor Efek Medanyang menggunakan persimpangan (junction) p-n bias terbalik sebagai isolator antara Gerbang (Gate) dan Kanalnya. JFET terdiri dari dua jenis yaitu JFET Kanal P (p-channel) dan JFET Kanal N (n-channel). JFET terdiri dari tiga kaki terminal yang masing-masing terminal tersebut diberi nama Gate (G), Drain (D) dan Source (S).
    2. MOSFET (Metal Oxide Semiconductor Field Effect Transistor)
    MOSFET (Metal Oxide Semiconductor Field Effect Transistor) adalah Transistor Efek Medan yang menggunakan Isolator (biasanya menggunakan Silicon Dioksida atau SiO2) diantara Gerbang (Gate) dan Kanalnya. MOSFET ini juga terdiri dua jenis konfigurasi yaitu MOSFET Depletion dan MOSFET Enhancement yang masing-masing jenis MOSFET ini juga terbagi menjadi MOSFET Kanal-P (P-channel) dan MOSFET Kanal-N (N-channel). MOSFET terdiri dari tiga kaki terminal yaitu Gate (G), Drain (D) dan Source (S).
    3. UJT (Uni Junction Transistor)
    UJT (Uni Junction Transistor) adalah jenis Transistor yang digolongkan sebagai Field Effect Transistor (FET) karena pengoperasiannya juga menggunakan medan listrik atau tegangan sebagai pengendalinya. Berbeda dengan jenis FET lainnya, UJT mememiliki dua terminal Basis (B1 dan B2) dan 1 terminal Emitor. UJT digunakan khusus sebagai pengendali (switch) dan tidak dapat dipergunakan sebagai penguat seperti jenis transistor lainnya.
    Fungsi Transistor dan Cara Mengukurnya
    1. Fungsi Transistor
    Fungsi-fungsi Transistor diantaranya adalah :
     sebagai Penyearah,
     sebagai Penguat tegangan dan daya,
     sebagai Stabilisasi tegangan,
     sebagai Mixer,
     sebagai Osilator
     sebagai Switch (Pemutus dan Penyambung Sirkuit)
    Transistor merupakan komponen dasar yang biasanya digunakan untuk sistem penguat. Saat digunakan sebagai penguat, transistor harus berada di daerah kerja aktif. Nilai ambang pada transistor merupakan nilai saat arus mulai mengalir pada basis, yang artinya tegangan pada basis telah melebihi potensial barrier minimum. Hasil bagi antara sinyal output dengan sinyal input inilah yang disebut sebagai faktor penguatan arus. Dalam penggunaannya transistor dapat berfungsi sebagai saklar dengan memanfaatkan daerah penjenuhan atau daerah saturasi, dan daerah penyumbatan atau cut-off. Pada daerah saturasi nilai resistansi pada penyambungan kolektor dan emitor akan sama dengan nol di keadaan standar. Sedangkan pada daerah penyumbatan, nilai resistensi penyambungan kolektor dan emitor akan sama dengan tak hingga atau terminal kolektor dan emitter terbuka yang menyebakan tegangan pada kolektor dan emitor sama dengan tegangan sumber.
    Terdapat 3 macam konfigurasi dari rangkaian penguat transistor yaitu common-base (CB), common-emmiter (CE) dan common-collector (CC). Konfigurasi yang paling banyak digunakan sebagai penguat adalah common-emiter karena memiliki penguat arus dan penguat tegangan yang tinggi, konfigurasi ini menunjukan karakteristik dari transitor dwikutub.
    Struktur Dasar Transistor
    Pada dasarnya, Transistor adalah Komponen Elektronika yang terdiri dari 3 Lapisan Semikonduktor dan memiliki 3 Terminal (kaki) yaitu Terminal Emitor yang disingkat dengan huruf “E”, Terminal Base (Basis) yang disingkat dengan huruf “B” serta Terminal Collector/Kolektor yang disingkat dengan huruf “C”. Berdasarkan strukturnya, Transistor sebenarnya merupakan gabungan dari sambungan 2 dioda. Dari gabungan tersebut , Transistor kemudian dibagi menjadi 2 tipe yaitu Transistor tipe NPN dan Transistor tipe PNP yang disebut juga dengan Transistor Bipolar. Dikatakan Bipolar karena memiliki 2 polaritas dalam membawa arus listrik.
    NPN merupakan singkatan dari Negatif-Positif-Negatif sedangkan PNP adalah singkatan dari Positif-Negatif-Positif.
    Penerapan Transistor Pada Bidang Teknik Mesin
    Salah satu contoh penerapan transistor pada bidang teknik mesin adalah penggunaan transistor pada sepeda motor. Aplikasi atau penggunaan transistor pada system kelistrikan sepeda motor dapat ditemukan dalam rangkaian system pengapian transistor semi-transistor dan penuh, mengubah system sinyal dengan menggunakan flasher tipe transistor, system pengisian menggunakan voltase yang dikontrol secara elektronik. Gambar berikut menunjukan penerapan transistor melalui system pengapian dari transistor motor penuh :
    jika terminal dasar TR2 menerima sinyal dari kumparan pick up, arus yang mengalir melalui R akan cenderung menuju massa melalui terminal C ke terminal E TR2 . Sebagai hasilnya, basis TR1 tidak memiliki arus sehingga TR1 akan OFF, sehingga arus pada koil primer koil pengapian akan pecah dan akan menyebabkan pada kedua koil koil pengapian. Terjadinya induksi semacam itu menghasilkan percikan api di busi.

    Kelebihan Dan Kekurangan Dari Transistor
    a. Arus pengendali pada transistor jauh lebih kecil sehingga lebih mudah mengendalikannya.
    b. Transistor tidak menggunakan kontak mekanis, sehingga tidak menimbulkan percikan api dan lebih tahan lama.
    c. Ukuran transistor relatif lebih kecil dan kompak dibanding relay.
    d. Dapat bekerja pada tegangan kerja yang bervariasi.
    Namun demikian, disamping mempunyai kelebihan, transistor juga mempunyai beberapa kelemahan antara lain:
    a. Kesalahan penghubungan kaki transistor akan berakibat kerusakan permanen.
    b. Panas yang dihasilkan pada transistor lebih besar sehingga bila tidak diberi pendinginan yang cukup, akan memperpendek usia transistor.

    Daftar Pustaka
    Sastra, Kusuma Wijaya. “Dasar Elektronika 1.” Jakarta: UI.
    Sutrisno. 1986. “Elektronika Teori dan Penerapannya jilid 1.” Jakarta: ITB.
    Emy Aditya, Su’udi, Endarko, Ph.D. “Jurnal Transistor Vol. 1, No. 1”.Surabaya
    Sutirsno, 1987, “Elektronika teori dan Penyelesaiannya”, Jilid 2, Penerbit ITB
    Tasdik Darmana, Tony Kurniawan, “Jurnal Sutet Vol. 7, No.2” Sekolah Tinggi Teknik, PLN.
    Abdullah, M., 2007, Catatan Kuliah : Fisika Dasar II, Penerbit ITB, Bandung.
    Kawasaki, Masashi.2001.Transistor And Semiconductor Device. United States Patent. Japan
    Wage,Jhon F.2003.Trasistor Structures.State Of Oregon Acting By And Througth The Oregon State Board Of Higher Education On Behalf Oregon State University.United State
    Debataraja,Aminuddin.,Mawardi,Latif.,Roberth.2011.Studi Awal MEMS pada Mikrofabrikasi Divais Transistor Bipolar NPN.Politeknik Negeri Jakarta.Indonesia
    Wahid, Syamsudin Nur.,Rizal Maulana Kusmayadi.2017.Simulasi Kuantum Transistor Efek Medan Muti Gerbang (NWEET).Universitas Islam Blitar.Blitar

    • Pertanyaan tentang Transistor
      Pertanyaaan 1
      Penanya : Muhamad Irsyad Naufal Subekti (5211418053)
      1. Apa perbedaan Transistor jenis Bipolar Junction Transistor ( BJT ) dengan Field Effect Transistor (FET) atau Transistor medan efek ?
      Jawaban :
      Perbedaan Transistor BJT dengan FET adalah
      • BJT ( Bipolar Junction Transistor merupakan perangkat bipolar, dimana memiliki aliran pembawa mayoritas dan minoritas, sedangkan FET ( Field Effect Transistor ) merupakan perangkat yang hanya ada pembawa mayoritas yang mengalir.
      • Dalam Segi kontrol, BJT adalah perangkat yang dikendalikan sedangkan FET perangkat yang dikontrol oleh tegangan.
      • Segi penggunaan, FET digunakkan lebih sering daripada BJT dalam elektronik modern
      • Terminal Transistor, Pada BJT disebut Termitor, basis Kolektor, sedangkan Pada FET terminal transistor disebut sumber, biji-bijian, dan gerbang
      • Impedansi, FET memiliki impendansi input yang lebih tinggi dibandingkan dengan BJT. Oleh karena itu, FET menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
      Pertanyaan 2
      Penanya : Baharudin Priwintoko (5211418051)
      2. Apa beda penyearah pada transistor dengan penyearah pada dioda ?
      Jawaban :
      Sama- sama sebagai penyearah namun tergantung kebutuhan dalam pemakaian, karena transistor memiliki beberapa fungsi lain yang tidak dimiliki dioda seperti sebagai mixer, Switch dan Osilator.
      Pertanyaan 3
      Penanya : Dafa Oktaditya Pratama (5211418036)
      3. Apa yang dmaksud Transistor sebagai mixer ?
      Jawaban :
      Transisor sebagai mixer biasanya diterapkan pada rangkaian audio. Rangkaian mixer transistor pada audio merupakan rangkaian yang berfungsi untuk mencampurkan dua sinyal atau lebih. Rangkaian Mixer ini bisa dikatakan rangkaian dasar dari sebuah mixer yang kompleks seperti pada sound sistem, yang mana pada setiap channel input audio dikuatkan oleh sebuah pre-Amp yang menggunakan satu buah transistor sebagai tumpuannya. Rangkaian Pre-Amp ini dibuat untuk menghasilkan impendansi masukan tinggi dengan impendansi keluaran rendah.
      Pertanyaan 4
      Penanya : Riki Sulistyo (5211418030)
      4. Mengapa Dioda yang dipasang terbalik fungsinya tidak sama dengan fungsi transistor ?
      Jawaban :
      karena apabila dioda dipasang terbalik maka akan mengalami reserve bias atau kondisi teganagn negatif dimana kondisi ini sisi anoda dihubungkan dengan terminal positif. karena adanya tegangan dari luar mengakibatkan ion-ion akan menghalangi aliran listrik sehingga tertarik ke masing- masing kutub. diberikannya tegangan negatif maka ion -ion negatif tertarik ke sisi katoda yang dihubungkan dengan sumber listrik positif, ion positif tertarik ke sisi anoda yang diberi sumber tegangan negatif. bergeraknya ion ion ini searah dengan medan magnet statis yang menghalangi pergerakan elektron, mengakibatkan ion-ion semakin banyak. sehingga aliran listrik tidak dapat mengalir. ini alasan mengapa dioda yang terpasang terbalik tidak menjadi penyearah seperti fungsi transistor karena dioda menjadi penghambat arus listrik. transistor sendiri memiliki fungsi lain diantaranya sebagai mixer,osilator,modulator, dan juga sebagai saklar atau switch.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here