TUGAS TTL (SELASA)

11
159

Silakan mahasiswa mengupload tugas TTL di sini.

11 COMMENTS

  1. kelompok 3 1.Fachrizal Ari Setiaji(5211418012) 2.Fawwaz Abiyyu P(5211418013) 3.Yusup Adi Prasetyo(5211418014) 4.Nova Adi Pradana(5211418015) 5.Muhammad Nuur H(5211418016)

    MAKALAH TEKNIK TENAGA LISTRIK
    TRANSISTOR DAN PENGGUNAANYA
    Dosen Pengampu :
    1. Dr. Dwi Widjanarko, S.Pd., ST., MT
    2. Hendrix Noviyanto Firmansyah, ST., MT.
    Disusun oleh :
    1. Fachrizal Ari Setiaji (5211418012)
    2. Fawwaz Abiyyu P (5211418013)
    3. Yusup Adi Prasetyo (5211418014)
    4. Nova Adi Pradana (5211418015)
    5. Muhammad Nuur H (5211418016)

    PROGAM STUDI TEKNIK MESIN
    JURUSAN TEKNIK MESIN
    FAKULTAS TEKNIK
    UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
    TAHUN 2019
    KATA PENGANTAR

    Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya dengan rahmat-Nyalah kami akhirnya bisa menyelesaikan Makalah yang berjudul “Transistor Dan Penggunaanya” ini dengan baik tepat pada waktunya.
    Tidak lupa kami menyampaikan rasa terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan banyak bimbingan serta masukan yang bermanfaat dalam proses penyusunan makalah ini. Rasa terima kasih juga hendak kami ucapkan kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan kontribusinya baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga makalah ini bisa selesai pada waktu yang telah ditentukan.
    Meskipun kami sudah mengumpulkan banyak referensi untuk menunjang penyusunan makalah ini, namun kami menyadari bahwa di dalam makalah yang telah kami susun ini masih terdapat banyak kesalahan serta kekurangan. Sehingga kami mengharapkan saran serta masukan dari para pembaca demi tersusunnya makalah yang lebih baik.
    Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

    Semarang, 24 November 2019

    Penulis

    DAFTAR ISI

    KATA PENGANTAR i
    DAFTAR ISI ii
    BAB I PENDAHULUAN 1
    1.1 Latar Belakang 1
    1.2 Rumusan Masalah 1
    1.3 Tujuan 1
    BAB II ISI 2
    2.1 Pengertian Transistor 2
    2.2 Fungsi Transistor 3
    2.3 Prinsip Kerja Transistor 4
    2.4 Jenis-Jenis Transistor 6
    2.4.1Tansistor Bipolar (Transistor Dwikutub) 6
    2.4.2 Fielld Effect Transistor (FET) 9
    2.4.3 Metal Oxide Semiconduction Field Effect Transistor (MOSFET) 11
    2.5 Aplikasi Transistor 13
    BAB III PENUTUP 17
    3.1 Kesimpulan 17
    DAFTAR PUSTAKA 18

    BAB 1
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Komponen elektronika merupakan sebuah alat yang menjadi pendukung atau bagian dari rangkaian elektronik yang bisa bekerja sesuai dengan fungsinya. Komponen elektronika ini dapat berupa kapasitor, transistor, resistor, dioda, lampu, PCB, CCB dan lain-lain. Semua komponen elektronika tadi di lekatkan pada sebuah papan rangkaian elektronik dengan menggunakan soder atau mungkin tidak melekat pada papan rangkaian namun dihubungkan dengan kabel.
    Komponen elektronika terdiri dari satu atau lebih bahan elektronika yang terdiri dari satu atau lebih bahan-bahan elektronika yang disatukan. Masing-masing rangkaian elektronik memiliki fungsi yang berbeda-beda bergantung pada komponen-komponen elektronika yang terpasang pada rangkaian tersebut.
    Transistor merupakan salah satu komponen elektronika, dalam mempelajari ilmu elektronika perlu sekali untuk memahami apa itu transistor. Karena sebagian besar komponen rangkaian elektronik memiliki transistor maka dari itu seorang yang belajar ilmu elektronika harus mempelajari terlebih dahulu komponen-komponen elektronika salah satunya adalah transistor.
    Transistor ditemukan pertama kali oleh William Shockley, John Barden, dan W. H Brattain pada tahun 1948. Mulai dipakai secara nyata dalam praktek mereka pada tahun 1958. Sebelum transistor ditemukan, teknologi pada masa itu menggunakan sebuah alat berbentuk tabung berukuran ibu jari tangan orang dewasa yang di dalamnya terdapat ruang vakum yang disebut dengan vacum tubes. Teknologi tersebut sudah dipergunakan pada komputer pertama di dunia.

    1.2 Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
    1. Apakah pengertian dari trsansistor?
    2. Apa fungsi-fungsi dari transistor?
    3. Bagaimana cara kerja transistor?
    4. Apa jenis-jenis transistor?
    5. Apa saja pengaplikasian dari transistor?

    1.3 Tujuan

    Berdasarkan rumusan masalah di atas, dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
    1. Mengetahui pengertian dari transistor
    2. Mengetahui fungsi-fungsi transistor
    3. Memahami cara kerja transistor
    4. Mengetahui jenis-jenis transistor
    5. Mengetahui pengaplikasian dari transistor

    BAB II
    ISI

    2.1 Pengertian Transistor

    Transistor adalah suatu komponen aktif yang dibuat dari bahan semikonduktor ada dua macam yaitu transistor dwikutub (bipolar) dan transistor efek medan. Transistor digunakan dalam rangkaian untuk memperkuat isyrat artinya isyarat masukan lemah dan diubah menjadi isyarat kuat pada keluaran. Pada transistor dwi kutub sambungan p-n antara emitor dan basis (Sutrisno,1986).
    Transistor mempunyai tiga kaki (elektroda) yang diberinama basis (b), emitor (e) dan collector (c). Basis dihubungkan pada lapisan tengah sedang emitor dan collector pada lapisan tepi. Emitor artinya pemancar, disinilah pembawa muatan berasal. Kolektor artinya pengumpul.Pembawa muatan yang berasal dari emitor ditampung pada collector. Basis artinya dasar, basis digunakan sebagai elektroda mengendali. (Sriwidodo,2012).
    Transistor adalah komponen aktif yang menggunakan aliran electron sebagai prinsip kerjanya didalam bahan. Sebuah transistor memiliki tiga daerahdoped yaitu daerah emitter, daerah basis dan daerah disebut kolektor. Transistorada dua jenis yaitu NPN dan PNP. Transistor memiliki dua sambungan: satu antara emitter dan basis, dan yang lain antara kolektor dan basis. Karena itu,sebuah transistor seperti dua buah dioda yang saling bertolak belakang yaitu diode-emitter basis, atau disingkat dengan emitter dioda dan dioda kolektor basis, atau disingkat dengan dioda kolektor. Bagian emitter-basis dari transistor merupakan dioda, maka apabila diode-emitter basis dibias maju maka kita mengharapkan akan melihat grafik arus terhadap tegangan dioda biasa. Saat tegangan dioda emitter-basis lebih kecil dari potensial barriernya, maka arus basis (Ib) akan kecil. Ketika tegangan dioda melebihi potensial barriernya, arus basis (Ib) akan naik secara cepat (Malvino,1992).
    Transistor NPN dan transistor PNP merupakan transistor yang terbuat dari semikonduktor tipe P dan semikonduktor tipe N. Pada transistor tipe ini nilai pergerakan dari elektronnya akan lebih tinggi dibandingkan dengan pergerakan muatan positifnya, sehingga akan memungkinkan sistem beroperasi dengan arus yang besar dan pada kecepatan yang besar. Arus pada basis akan dikuatkan oleh kolektor. Jadi transistor NPN akan memasuki daerah aktif ketika tegangan yang berada pada basis lebih tinggi dari pada emitor dan menuju keluar yang menunjukan arah arus konvensional, saat alat mendapat panjar maju (Aditya,2012).
    Transistor mempunyai dua persambungan satu antara emitter dan basis yang lain antara basis dan kolektor. Sehubungan dengan ini, suatu transistor dapat dipandang sebagai dua dioda yang dalam hubungan saling membelakang
    Dalam gambaran ini diode sebelah kiri disebut diode emitter-basis atau singkatnya diode emitter. Dioda sebelah kanan disebut dioda kolektor-kolektor atau secara singkat dioda kolektor (Frenzel,2010).

    2.2 Fungsi Transistor
    Fungsi utama transistor ialah untuk menyambung arus listrik dan memutuskan arus listrik. Namun masih ada fungsi lain dalam komponen transistor. Berikut fungsinya :
    1. Sebagai penyambung dan pemutus arus listrik / saklar.
    Transistor berfungsi sebagai suatu switching (kontak on-off). Adapun kerja transistor yang berfungsi sebagai switching ini, selalu berada pada daerah jenuh (saturasi) dan daerah cut off
    Dengan memanfaatkan karakteristik transistor emitor Bersama, pada kondisi saturasi (jenuh) dan keadaan cut-off (mati) maka transistor dapat dijadikan saklar dengan pemutus dan penyambungnya berupa (tegangan pada basisnya).
    2. Sebagai penguat suara yang terdapat dalam rangkaian amplifier.
    artinya transistor bekerja pada wilayah antara titik jenuh dan kondisi terbuka (cut off), tetapi tidak pada kondisi keduanya.
    3. Sebagai penguat arus dalam sebuah rangkaian khusus.
    Transistor berfungsi sebagai penguat ketika arus basis berubah. Perubahan kecil arus basis mengontrol perubahan besar pada arus yang mengalir dari kolektor ke emitter. Pada saat ini transistor berfungsi sebagai penguat.
    4. Sebagai pengatur tegangan listrik.
    5. Sebagai perata dan pembagi arus listrik.
    6. Sebagai pembagi frekuensi tinggi maupun frekuensi rendah.

    2.3 Prinsip Kerja Transistor

    Transistor adalah komponen tiga terminal. Ketiga terminal tersebut disebut Basis (B), Kolektor (C), dan Emiter (E). Transistor dibangun dengan menumpuk tiga lapisan yang berbeda dari bahan semikonduktor bersama-sama. Ada dua jenis transistor yaitu pnp dan npn. Transistor pada umumnya mempunyai tiga kaki, kaki pertama disebut basis (B), kaki berikutnya dinamakan kolektor (C) dan kaki yang ketiga disebut emitor (E).
    Terdapat dua jenis transistor ialah jenis NPN dan jenis PNP. Pada transistor jenis NPN tegangan basis dan kolektornya positif terhadap emitor, sedangkan pada transistor PNP tegangan basis dan kolektornya negatif terhadap tegangan emitor.

    NPN transistor dirancang untuk meluluskan elektron dari emitor ke kolektor (arus mengalir dari kolektor ke emitor). emitor “memancarkan” elektron ke basis, yang mengontrol jumlah pancaran elektron pada emitor. Sebagian besar elektron yang dipancarkan tersebut “dikumpulkan” oleh kolektor, yang mengirimkannya bersama ke bagian selanjutnya dari rangkaian. Dengan mendoping bahan N lebih banyak daripada bahan P, arus melalui sambungan bias-maju dari transistor NPN terutama disebabkan oleh pergerakan elektron. Dalam transistor NPN, daerah P sangat tipis dibandingkan dengan daerah N.
    Sebuah PNP bekerja dengan cara yang sama tapi berlawanan. Basis masih mengontrol aliran arus, tapi arus tersebut mengalir dengan arah yang berlawanan dari emitor ke kolektor. Emitor memancarkan “lubang (hole)” yang dikumpulkan oleh kolektor. Transistor itu seperti katup elektron. Kaki basis mengatur aliran elektron dari emitor ke kolektor. Pembawa mayoritas di persimpangan bias maju dalam transistor PNP adalah “lubang” (hole). Wilayah N tipis dibandingkan dengan daerah P untuk mengurangi kemungkinan lubang bergabung kembali dengan elektron di wilayah N.

    2.4 Jenis-Jenis Transistor

    Seperti halnya komponen elektronika yang lain, transistor juga memiliki jenis yang berbeda beda. Jenis transistor tersebut sangat mempengaruhi terhadap rangkaian yang terdapat transistor tersebut, beberapa rangkaian yang sangat dipengaruhi oleh jenis transistor yang dipasang atau digunakan adalah rangkaian amplifier, rangkaian audio, rangkaian saklar , rangkaian tegangan tinggi dan lain-lain.

    2.4.1 Tansistor Bipolar (Transistor Dwikutub)

    Transistor jenis ini banyak sekali digunakan pada peralatan-peralatan elektronik di sekitar. Transistor ini memiliki 3 kaki yang berbeda-beda kaki pertama diberi nama Basis atau biasanya dengan kode (B), kaki Emitor atau (E), dan kaki Kolektor (K).

    Transistor bipolar ini terdiri dari dua jenis apabila di tinjau dari jenis susunan lapisan yang ada di dalam transistor tersebut
    A. Transistor Jenis PNP
    Transistor jenis ini terdiri dari dua lapis bahan semi konduktor jenis P dan satu lapis bahan konduktor jenis N.
    Dengan kata lain transistor jenis PNP akan hidup atau bekerja saat Basis lebih rendah dari pada Emitor. Lambang transistor ini memiliki tanda panah yang menunjuk ke dalam pada kaki Emitor (E).

    B. Transistor Jenis NPN
    Transistor NPN terdiri dari dua lapis bahan semi konduktor jenis N, dan satu lapis bahan semi konduktor jenis P. Transistor jenis ini banyak digunakan karena pergerakan elektron pada bahan semi konduktor lebih tinggi sehingga memungkinkan operasi arus besar dan kecepatan tinggi. Cara kerja transistor ini berlawanan dengan transistor jenis PNP, atau dengan kata lain transistor jenis NPN akan bekerja saat Basis lebih tinggi daripada Emitor. Lambang transistor ini memiliki tanda panah yang menunjuk ke luar pada kaki Emitor.

    Tabel Hasil Pengujian Transistor :

    Kaki I Kaki II Kaki III Gejala
    M H – ON
    M – H ON
    H M – OFF
    H – M OFF

    Dari hasil Tabel 4, ditemukan bahwa kaki I adalah kaki Basis, yang mana selama pengukuran harus ada kaki acuan (patokan) dan menunjukkan gejala ON, ON kemudian bila dibalik polaritasnya menunjukkan gejala OFF,OFF maka kaki basis ON pada saat dipasang polaritas negative atau OFF saat dipasang polaritas positif maka jenis transistor adalah PNP. Sedangkan untuk menentukan kaki emitor dan kolektor, kita harus menghitung nilai hambatan yang dimiliki oleh emitor dan kolektor. Apabila kaki II hambatannya lebih besar dari kaki III, maka dapat kita simpulkan bahwa kaki II merupaka kolektor dan kaki III merupakan emitor.

    2.4.2 Fielld Effect Transistor (FET)

    Field Effect Transistor (FET) adalah suatu jenis transistor khusus. Tidak seperti transistor biasa, yang akan menghantar bila diberi arus di basis, transistor jenis FET akan menghantar bila diberikan tegangan (jadi bukan arus). Kaki-kakinya diberi nama Gate (G), Drain (D) dan Source (S).
    Beberapa Kelebihan FET dibandingkan dengan transistor biasa ialah antara lain penguatannya yang besar, serta desah yang rendah. Karena harga FET yang lebih tinggi dari transistor, maka hanya digunakan pada bagianbagian yang memang memerlukan. Ujud fisik FET ada berbagai macam yang mirip dengan transistor.
    Seperti halnya transistor, ada dua jenis FET yaitu Kanal N dan Kanal P. Kecuali itu terdapat beberapa macam FET ialah Junktion FET (JFET) dan Metal Oxide Semiconductor FET (MOSFET).

    A. Junction FET (JFET)

    Cara Kerja JFET pada prinsipnya seperti kran air yang mengatur aliran air pada pipa. Elektron atau Hole akan mengalir dari Terminal Source (S) ke Terminal Drain (D). Arus pada Outputnya yaitu Arus Drain (ID) akan sama dengan Arus Inputnya yaitu Arus Source (IS). Prinsip kerja tersebut sama dengan prinsip kerja sebuah pipa air di rumah kita dengan asumsi tidak ada kebocoran pada pipa air kita. Junction FET atau sering disingkat dengan JFET memiliki 2 tipe berdasarkan tipe bahan semikonduktor yang digunakan pada saluran atau kanalnya. JFET tipe N-Channel (Kanal N) terbuat dari bahan Semikonduktor tipe N dan P-Channel (Kanal P) yang terbuat dari Semikonduktor tipe P.

    • JFET Kanal-N
    Berikut dibawah ini adalah gambar struktur dasar JFET jenis Kanal-N.
    Gate atau Gerbang pada JFET jenis Kanal-N ini terdiri dari bahan semikonduktor tipe P. Bagian lain yang terbuat dari Semikonduktor tipe P

    pada JFET Kanal-N ini adalah bagian yang disebut dengan Subtrate yaitu bagian yang membentuk batas di sisi saluran berlawanan Gerbang (G).
    Tegangan pada Terminal Gerbang (G) menghasilkan medan listrik yang mempengaruhi aliran pada pembawa muatan yang melalui saluran tersebut. Semakin Negatifnya VG, semakin sempit pula salurannya yang akhirnya mengakibatkan semakin kecil arus pada outputnya (ID).

    • JFET Kanal-P
    Berikut dibawah ini adalah gambar struktur dasar JFET jenis Kanal-P.

    Di JFET Kanal-P, semakin Positifnya VG, semakin sempit pula salurannya yang akhirnya mengakibatkan semakin kecilnya arus pada Output JFET (ID).
    Dari Simbolnya, kita dapat mengetahui mana yang JFET Kanal-N dan JFET Kanal-P. Anak Panah pada simbol JFET Kanal-N adalah menghadap ke dalam sedangkan anak panah pada simbol JFET Kanal-P menghadap keluar.

    2.4.3 Metal Oxide Semiconduction Field Effect Transistor (MOSFET)

    Seperti halnya JFET, Saluran pada MOSFET juga dapat berupa semikonduktor tipe-N ataupun tipe-P. Terminal atau Elektroda Gerbangnya adalah sepotong logam yang permukaannya dioksidasi. Lapisan Oksidasi ini berfungsi untuk menghambat hubungan listrik antara Terminal Gerbang dengan Salurannya. Dengan demikian, Impedansi Input pada MOSFET menjadi sangat tinggi dan jauh melebihi Impedansi Input pada JFET. Pada beberapa jenis MOSFET Impedansi dapat mencapai Triliunan Ohm (1012 Ohm). Dalam bahasa Indonesia, MOSFET disebut juga dengan Transistor Efek Medan Semikonduktor Logam-Oksida.
    Seperti yang disebut sebelumnya, bahwa MOSFET pada dasarnya terdiri dari 2 tipe yaitu MOSFET tipe N dan MOSFET tipe P.

    A. MOSFET tipe N
    MOSFET tipe N biasanya disebut dengan NMOSFET atau nMOS. Berikut dibawah ini adalah bentuk struktur dan Simbol MOSFET tipe N.

    B. MOSFET tipe P
    MOSFET tipe P biasanya disebut dengan PMOSFET atau pMOS. Dibawah ini adalah bentuk struktur dan Simbol MOSFET tipe P.

    2.5 Aplikasi Transistor

    1. Light Sensor
    Aplikasi sensor sederhana dengan menggunakan transistor sebagai driver relay
    Cara kerja rangkaian adalah dengan memanfaatkan cahaya sebagai pengaktifnya. Kita ketahui bahwa LDR mempunyai karakteristik apabila terkena cahaya maka resistansinya kecil dan sebaliknya apabila tidak terkena cahaya maka resistansinya besar. Jadi pada saat LDR tertutup dan tidak terkena cahaya maka resistansinya membesar sehingga arus yang melewati LDR akan terhambat dan mengalir menuju basis Q1 (npn) dimana karakteristik npn adalah akan menghantar apabila basis lebih positif daripada emitter dengan mengalirnya arus menuju basis maka Q1 dalam kondisi menghantar (kolektor dan emitter ON). Untuk Q2 (pnp) sebaliknya emitter harus lebih positif dari basis, karena kolektor emitter Q2 terhubung dengan sumber tegangan melalui lilitan relay seperti yang telah dijelaskan bahwa kolektor dan emitter Q1 ON (saklar tertutup) maka dengan begitu juga kaki basis Q2 terhubung langsung dengan kolektor Q1 sehingga Q2 dalam keadaan menghantar (untuk jenis pnp : diode basis-emiter Q2 dalam kondisi reverse) dengan menghantarnya Q2 maka sumber tegangan yang melalui relay mengalir sehingga menginduksi lilitan relay dan menimbulkan medan magnet yang dapat menarik saklar pada relay. Saklar yang terhubung dengan tegangan 5V dapat mengalir melaui R4 dan LED dengan begitu LED pun menyala.

    2. Transistor sebagai sakelar
    Transistor banyak digunakan dalam peralatan elektronik sebagai sakelar. Yang sangat umum adalah perangkat sub-miniatur dengan resistor built-in untuk koneksi langsung ke, misalnya, jalur switching 5-V dari kontrol mikroprosesor i.c. Memberikan aplikasi tipikal menggunakan baik inverting dan direct switch transistor yang masing-masing dekat dengan input tinggi atau rendah. Mereka digunakan untuk penggantian fungsi dan rute melalui perekam video.

    3. Sirkuit drive-motor
    Aplikasi umum dari transistor bipolar adalah mengendalikan d.c. motor listrik, biasanya dalam sistem servo loop tertutup. OM1 adalah motor tipe sikat mini yang menggerakkan cacing spiral panjang yang dipasang di sepanjang bagian belakang dek penghasil disk. Ini menggerakkan lengan pikap tangensial melintasi permukaan disk audio dan harus mampu menggerakkannya pada berbagai kecepatan di kedua arah.

    4. Konverter daya D.C.
    Transistor sangat berguna dalam pembuatan converter daya arus DC, unit yang dapat dibuat sangat kompak dan yang dapat mengkonversi daya dari sumber tegangan rendah (mis. 6V) ke tegangan yang lebih tinggi (mis. 120V) dengan efisiensi yang dapat mendekati 85 persen dan jarang kurang dari 60 persen.


    BAB III
    PENUTUP

    3.1 Kesimpulan

    Transistor adalah alat semi konduktor yang berguna untuk penguat, penyambung, stabilisasi modulasi sinyal dan lain-lain pada suhu atau keadaan tertentu. Transistor terdiri dari dua dioda yang terbuat dari germanium, silikon, dan garnium arsenide yang dibungkus dengan plastik, metal atau surface Mount.
    Transistor memiki 2 jenis yaitu transistor bipolar (transistor dwikutub), dan transistor efek medan (FET). Transistor bipolar dibagi menjadi 2 berdasarkan susunan bahan semikonduktor yaitu transistor PNP (2 lapis bahan semikonduktor P dan 1 lapis bahan semi konduktor N) dan transistor NPN (2 lapis bahan semikonduktor N dan 1 lapis bahan semikonduktor P). Sedangkan pada transistor efek medan (FET) juga dibagi menjadi dua yaitu enhancemen mode dan depletion mode, hal tersebut berdasarkan polaritas pada saluran-saluran yang ada pada transistor. Transistor memiliki beberapa fungsi di antaranya adalah amplifier (penguat), mixer (mencampur frekuensi), rectifier (penyearah), switcher (penghubung/saklar), oscilater (pembangkit getaran).

    DAFTAR PUSTAKA

    Sutrisno.1986. Elektronika 1. Bandung: ITB
    Malvino.1992. Prinsip-Prinsip Elektronika Edisi 7. Jakarta: Erlangga
    Aditya, Emy.2012. Transistor. Jurnal Transistor. Vol 1(1): 3-4.
    Frenzel, L.2010. Penjelasan Elektronika. Jakarta: Erlangga.
    Kustija, Jaja. modul mekatronika. Bandung: Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
    Ahmad, Jayadin. 2007. ELDAS
    Amos, Stan dan Mike James. 2000. Principles of Transistor Circuits Ninth Edition. Oxford: A division of Reed Educational and Professional Publishing Ltd
    Bestarina, Maria. 2017. Modul Elektronika dan Mekatronika Bipolar Junction Transistor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
    Widodo, Thomas Sri. 2002. Elektronika Dasar. lakarta:Salemba Teknika
    Pike, Charles A., 1982. Transistor Fudamental. Indiana:Howard W. Sams &Co., Inc.
    Zadmira, Efvy Zam. 2005. Panduan Praktis belajar Elektronika. Surabaya : Penerbit Indah.
    Zadmira, Efvy Zam. 2002. Mudah Menguasai Elektronika. Surabaya : Penerbit Indah.

  2. Kelompok 4

    APLIKASI KAPASITOR DALAM BIDANG TEKNIN MESIN

    DOSEN PENGAMPU :
    Dr. Dwi Widjanako S.Pd., ST., MT
    Hendrix Noviyanto Firmansyah ST., MT.
    Disusun oleh :
    Yahya Nurfauzi (5211418017)
    Yusuf Subagyo (5211418018)
    Ahmad Rozikin (5211418019)
    Nico Rivero (5211418020)
    Ahmad Zuhri (5211418021)
    Dewa Surya N. (5211418022)

    PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN S1
    JURUSAN TEKNIK MESIN
    FAKULTAS TEKNIK
    UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
    TAHUN 2019

    KATA PENGANTAR
    Puji syukur keharida Allah SWT Yang Maha Esa, karena atas taufiq dan hidayatnya yang sangat besar sehingga pada akhirnya makalah aplikasi kapasitor dalam bidang teknik mesin ini dapat terselsaikan.tepat pada waktunya.
    Rasa terimakasih kami ucapkan kepada Pak Dwi widjanarko selaku dosen pembimbing mata kuliah proses teknik tenaga listrik yang telah memberikan banyak ilmu dan arahan kepada kami. Terimakasih juga untuk sumber-sumber yang mendukung proses pembuatan makalah ini.
    Semoga dengan pembuatan makalah ini diharapkan dapat menambah ilmu kepada pembaca dan kepada kami selaku penyusun makalah. Semoga pembaca bisa memperoleh referensi dan sumber yang bisa di gunakan dalam makalah ini, serta bisa mendabah pengetahuan juga pengalaman.
    Dari berbagai proses penyusunan makalah ini, makalah ini masih tidak bisa terhindarkan dari kekurangannya. Oleh karenanya, para penyusun sangat terbuka menerima masukan dan saran mengenai apa saja yang sudah disajikan dalam makalah ini.  
    DAFTAR ISI
    DAFTAR ISI i
    KATA PENGANTAR ii
    BAB 1 PENDAHULUAN 1
    2.1. Latar belakang 1
    2.2. Rumusan masalah 1
    2.3. Tujuan 1
    BAB II PEMBAHASAN 3
    2.1. Definisi Kapasitor 3
    2.2. Kegunaan Kapasitor 4
    2.3. Jenis-Jenis Kpasitor 4
    2.4. Kegunaan kapasitor dalam Bidang Teknik Mesin 6
    2.5. Susunan Kapasitor 6
    BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 7
    3.1. Kesimpulan 7
    3.2. Saran 7
    DAFTAR PUSTAKA 8

    BAB I
    PENDUHULUAN
    1.1 Latar Belakang
    Seiring majunya teknologi di masa kini, hal ini sangat berpengaruh terhadap berbagaibidang teknologi dan elektronika yang ada. Setiap alat di desain dengan kelengkapan komponen-komponen yang melengkapi fungsi komponen yang lainnya. Salah satu alat yang sangat dibutuhkan adalah kapasitor, dikarenakan rangkaian ini sangat berperan penting dalam sebuah rangkaian listrik.
    Kapasitor memiliki fungsi sebagai penyimpan muatan listrik, sebagai akibatnya kapasitor merupakan suatu tempat penampungan dimana muatan dapat disimpan dan kemudian diambil kembali. Dalam dunia elektronika kapasior sangat dibutuhkan karena fungsinya tersebut yang dapat menyimpan dan melepaska kembali suatu muatan listrik. Kapasitor memiliki beberapa macam jenis type yang dapat dikombinasikan satu sama lainnya.
    Contoh yang paling sering kita lihat adalah penerapan kapasitor pada sebuah keyboard yaitu menggunakan kapasitor plat sejajar. Selain itu juga kapasitor juga digunakan pada penerapan elektronika yang lainnya. Pada kali ini kita akan membahas sebuah kapasitor dan bermacam penerapannya dalam rangkaian elektronika serta penjelasan beberapa type kapasitor yang ada dalam pengaplikasiannya di bidang teknik mesin.
    1.2 Rumusan Masalah
    1. Apa yang dimaksud dengan kapasitor?
    2. Apa fungsi dari kapasitor?
    3. Apa sajakah jenis-jenis kapasitor?
    4. Apa saja kegunaan kapasitor dalam bidang Teknik Mesin?
    5. Bagaimana susunan yang ada dalam kapasitor?
    1.3 Tujuan
    1. Pembaca dapat mendefinisikan apa itu kapasitor dengan baik dan benar.
    2. Pembaca dapat menyebutkan apa fungsi kapasitor.
    3. Pembaca dapat mengetahui apa saja jenis-jenis kapasitor.
    4. Pembaca dapat mengetahui kegunaan kapasitor.
    5. Pembaca dapat mengetahui susunan yang ada di dalam kapasitor.

    BAB II
    PEMBAHASAN
    2.1 Definisi Kapasitor
    Kapasitor adalah perangkat yang digunakan untuk menyimpan muatan listrik. Sebagai akibatnya, kapasitor merupakan suatu tempat penampungan (reservoir) dimana muatan dapat disimpan dan kemudian diambil lagi. Aplikasi aplikasinya yang umum meliputi kapasitor penampung dan kapasitor penghalus yang digunakan dalam catu daya, pencampuran sinyal-sinyal, dll.
    Suatu kapasitor membutuhkan tidak lebih dari dua buah pelat logam sejajar, jika saklar dibiarkan terbuka, tidak ada muatan yang akan muncul pada semua plat dan dalam kondisi ini tidak ada medan listrik pada ruang di antara kedua plat tersebut sehingga tidak akan ada muatan yang tersimpan didalam kapasitor.

    • Kapasitansi
    Satuan kapasitansi adalah Farad (F). Sebuah kapasitansi dikatakan memiliki kapasitansi 1 F jika arus sebesar 1 A megalir didalamnya ketika tegangan yang berubah-ubah dengan kecepatan 1 V/s diberikan pada kapasitor tersebut.
    Arus yang mengalir didalam sebuah kapasitor karenanya akan sebanding dengan hasilkali kapasitansi (C) dengan kecepatan perubahan tegangan yang diberikan, maka:
    i = C x (kecepatan perubahan tegangan)
    kecepatan perubahan tegangan seringkali direpresentasikan oleh persamaan dv/dt dimana dv mempresentasikan perubahan tegangan yang sangat kecil dan dt mempresentasikan perubahan waktu yang sangat kecil yang berkaitan, maka:
    i = C dv/dt
    Kapasitansi suatu kapasitor bergantung pada dimensi-dimensi fisik kapasitor tersebut (yaitu ukuran pelatnya dan jarak pemisahnya) dan bahan dielektrik di antara kedua plat. Kapsitansi suatu kapasior plat sejajar yang konvensional diberikan oleh:

    2.2 Kegunaan kapasitor
    Telah dijelaskan bahwa kapasitor memiliki fungsi sebagai penyimpan muatan listrik, sebagai akibatnya kapasitor merupakan suatu tempat penampungan dimana muatan dapat disimpan dan kemudian diambil kembali. Selain itu kapasitor juga memiliki fungsi sebagai berikut.
    a. Untuk membatasi arus DC yang mangalir pada kapasitor tersebut
    b. Dapat menympan energi dalam bentuk medan listrik
    c. Sebagai penyaring/filter di dalam rangkaian POWER SUPPLY
    2.3 Jenis-jenis kapasitor
    • Kapasitor keramik
    Kapasitor keramik adalah kapasitor yang isolatornya terbuat dari keramik dan berbentuk bulat tipis ataupun persegi empat. Kapasitor keramik tidak memiliki arah ataupun polaritas , jadi dapat di pasang bolak-balik dalam rangkaian elektronika. Nilai kapasitas dari kapasitor keramik berkisar antara 1 pf sampai 0.01 µF.
    • Kapasitor polyster
    Kapasitor polyster adalah kapasitor yang isolatornya terbuat dari polyster dengan bentuk persegi empat. Kapasitor polyster dapat dipasang terbalik dalam rangkaian elektronika
    • Kapasitor Kertas
    Kapasior kertas merupakan kapasior yang isolatornya terbuat darikertas dan pada umumnya nilai kapasitor kertas berkisar dianatara 300 pf sampai 4 µF. Kapasitor kertas tidak memiliki polaritas arah atau dapat dipasang bolakbalik dalam rangkaian elektronika.
    • Kapasitor Mika
    Kapasitor Mika adalah kapasitor yang bahan Isolatornya terbuat dari bahan Mika. Nilai Kapasitor Mika pada umumnya berkisar antara 50pF sampai 0.02µF. Kapasitor Mika juga dapat dipasang bolak balik karena tidak memiliki polaritas arah.
    • Kapasitor Elektrolit
    Kapasitor Elektrolit adalah kapasitor yang bahan Isolatornya terbuat dari Elektrolit (Electrolyte) dan berbentuk Tabung / Silinder. Kapasitor Elektrolit atau disingkat dengan ELCO ini sering dipakai pada Rangkaian Elektronika yang memerlukan Kapasintasi (Capacitance) yang tinggi. Pada umumnya nilai Kapasitor Elektrolit berkisar dari 0.47µF hingga ribuan microfarad (µF).
    • Kapasitor Tantalum
    Kapasitor Tantalum dapat beroperasi pada suhu yang lebih tinggi dibanding dengan tipe Kapasitor Elektrolit lainnya dan juga memiliki kapasintansi yang besar tetapi dapat dikemas dalam ukuran yang lebih kecil dan mungil. Oleh karena itu, Kapasitor Tantalum merupakan jenis Kapasitor yang berharga mahal. Pada umumnya dipakai pada peralatan Elektronika yang berukuran kecil seperti di Handphone dan Laptop.

    2.4 Kegunaan Kapasitor dalam bidang Teknik Mesin
    Beberapa kapasitor juga digunakan untuk menunjung proses dalam bidang teknik mesin, diantaranya :
    1. CDI pada pengapian motor carburator
    2. Flasher pada lampu kendaraan
    3. Weper pada kaca mobil
    4. Lampu hazard
    2.5 Susunan Kapasitor
    Untuk mendapatkan suatu nilai kpasitansi tertentu, kapasitor-kapasitor tetap dapat disusun dalam bentuk seri maupun paralel. Resiprok (kebalikan) dari nilaikapasitansi efektif dari masing-masing rangkaian seri adalah jumlah dari resiprok kapasitansi-kapasitansi individualnya.
    Utuk kapasitor yang paralel, kapasitansi yang efektif dari rangkaian adalah jumlah dari kapasitansi-kapasitansi individunya. Lebih jelasnya perhatikan gambar bagan dibawah ini untuk rumus matematik susunan kapasitor seri dn paralel.


    BAB III
    PENUTUP
    3.1 Kesimpulan
    Kapasitor adalah perangkat yang digunakan untuk menyimpan muatan listrik. Sebagai akibatnya, kapasitor merupakan suatu tempat penampungan (reservoir) dimana muatan dapat disimpan dan kemudian diambil lagi. Suatu kapasitor membutuhkan tidak lebih dari dua buah pelat logam sejajar, jika saklar dibiarkan terbuka, tidak ada muatan yang akan muncul pada semua plat dan dalam kondisi ini tidak ada medan listrik pada ruang di antara kedua plat tersebut sehingga tidak akan ada muatan yang tersimpan didalam kapasitor. Kapasitor memiliki peran penting juga dalam bidang teknik mesin salah satunya dalam sitem lampu sein pada kendaraan.
    3.2 Saran
    Karena dalam tulisan tulisan ini masih banyak kekurangan. Disarankan utuk pembaca dapat meihat refrensi lain supaya dapat lebih paham tentang kapasior terutama penggunaannya dalam bidang teknik mesin.


    Daftar Pustaka
    Effendi, Rustam. Syamsudin, S. Sinambela, Wilson. dkk. 2007. Medan Elektromagnetik Terapan. Jakarta : Erlangga.
    Tooley, Mike. 2003. Rangkaian Elektronik Prinsip dan Aplikasi. Jakarta : Erlangga.
    Sri Widodo, Tomas. 2002. Elekronika Dasar. Jakarta : Salemba Teknika.
    Woollard Barry dan H Kristono, (2003). Elektonika Praktis. Jakarta : PT Pradnya Paramita.
    Anonim. 1994. Dasar-Dasar Automobile. Jakarta : PT. Toyota- Astra Motor.
    Anonim. 1995. Materi pelajaran Engine Group Step 2. Jakarta : PT. Toyota-Astra Motor.
    Malvino dan Hanapi Gunawan. 1995. Prinsip-Prinsip Elektronika. Jakarta : Erlangga.
    Watkis, A.J san R.K Parton. 2004. Perhitungan Instalasi Listrik. Jakarta : Erlangga.
    Ramdhani, Mohamad. 2005. Rangkaian Listrik. Bandung : Sekolah Tinggi Teknologi Telkom.
    Alciate, David G dan michael B. Histand. 2007. Introduction to Mechtronics and measurement system. New York : Mc Graw Hill.

    • Kelompok 4
      Yahya Nurfauzi (5211418017)
      Yusuf Subagyo (5211418018)
      Ahmad Rozikin (5211418019)
      Nico Rivero (5211418020)
      Ahmad Zuhri (5211418021)
      Dewa Surya N. (5211418022)

      1. Elfira Musyarifah Ramadani (5211418003)
      Kegunaan kapasitor sebagai penyaring pada power suplay dan prinsip kerjanya ?
      Ketika arus masuk pada sebuah power suplay arus masih dalam bentuk AC atau arus bolak-balik kemudian arus yang masuk diblok oleh dioda agar menjadi arus searah, dioda yang digunakan adalah dioda yang berpolaritas tinggi, positif atau negatif sehingga outputnya murni dan pasti lebih kecil dari arus masukannya.

      2. Tegar Unggul Pratama (5211418006)
      Apabila kecepatan tegangan kecil pengaruh apa yang ditimbulkan ?
      Sebuah muatan memiliki rumusan matematik
      Q = c x v
      Q = muatan (columb)
      c = Kapasitansi kapasitor (Farad)
      v = Beda potensial (volt)
      Jadi yang diakibatkan jika arus kecepatan tegangan kecil yaitu hasil muatan yang diperoleh semakain kecil karena muatan berbanding lurus dengan beda potensial.

      3. Nova adi pradana (5211418015)
      Apa pengaruh bahan dielektrik sebagai penyimpan arus pada sebuah kapasitor ?
      Kapasitansi kapasitor memiliki rumus matematik
      C = e0 . er . A / d
      C= Kapasitansi kapasitor ( farad )
      e0 = Permitivitas ruang hampa
      er = permitivitas ruang relatif
      A = luas penampang (m2)
      d = jarak antar plat (m)
      Jadi jika kita ingin menghasilkan sebuah kapasitansi kapasitor yang besar maka kita harus memilih bahan dieletrik yang memiliki nilai permitivtas yang paling tinggi. karena semakin tinggi nilai permitivitas maka semakin besar pula keampuan kapasitansi kapasitor dalam menyimpan tegangang/arus listrik. itulah pengaruh pemilihan dielektrik dalam perhitungan kapasitansi kapasitor.

      4. Iwan Maulana Putra (5211418026)
      Apakah yang terjadi jika energi melebihi kapasitansi kapasitor?
      Maka yang terjadi adalah kekosongan pada kapasitor bila mempunyai beban yang tidak terlalu besar, namun akan lebih cepat apabila kaki kapasitor dihubungkan singkat. namun hal ini akan menimbulkan percikan api, hal ini akan amat sangat berbahaya jika tegangan didalamnya besar, oleh sebab itu lebih baik dikosogkan dengan beban.

  3. MAKALAH TEKNIK TENAGA LISTRIK
    PENGUKURAN KOMPONEN ELEKTRONIKA

    Dosen Pengampu :
    Dr. Dwi Widjanarko, S.Pd., S.T., M.T.
    Hendrix Noviyanto Firmansyah, S.T., M.T.

    Disusun Oleh :
    Arga Fernando (5211418023)
    Dirga Afisabilla (5211418024)
    Taufiq Setiyawan (5211418025)
    Maulana Iwan Saputra (5211418026)
    Frendy Setyo Nugroho (5211418027)
    Teguh Supriyatno (5211418028)

    PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN S1
    JURUSAN TEKNIK MESIN
    FAKULTAS TEKNIK
    UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
    TAHUN 2019
    KATA PENGANTAR

    Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kita panjatkan puji syukur kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Teknik Tenaga Listrik yang berjudul “Pengukuran Komponen Elektronika.”
    Adapun Makalah Teknik Tenaga Listrik yang berjudul “Pengukuran Komponen Elektronika” Telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan dari berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan Makalah ini. Untuk itu saya tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan Makalah ini ini.
    Namun tidak lepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainya . oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka saya membuka selebar – lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada saya sehingga Makalah ini dapat diperbaiki.
    Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari Makalah Teknik Tenaga Listrik yang berjudul “Pengukuran Komponen Elektronika” ini dapat diambil manfaatnya bagi para pembaca.

    Semarang , November 2019

    Penyusun

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL i
    KATA PENGANTAR ii
    DAFTAR ISI iii
    BAB I PENDAHULUAN
    1.1. Latar Belakang 1
    1.2. Rumusan Masalah 2
    1.3. Tujuan Penulisan 2
    BAB II PEMBAHASAN
    2.1. Resistor 3
    2.2. Dioda 10
    2.3. Transistor 13
    2.4. Kapasitor 17
    BAB III PENUTUP
    3.1. Kesimpulan 21
    3.2. Saran 21
    DAFTAR PUSTAKA 22

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar belakang
    Elektronika merupakan ilmu yang mempelajari tentang electron. Elektronika membahas cara – cara penggunaan electron untuk melakukan hal – hal yang bermanfaat dan menarik. Elektronika memberikan perubahan yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya elektronika, kita tidak akan menikmati kenyamanan hidup seperti sekarang ini. Perkembangan dunia elektronika semakin pesat seiring dengan berjalannya waktu. Banyak barang baru yang dapat dibuat untuk mempermudah pekerjaan manusia.
    Tetapi jika kita berbicara tentang elektronika tentunya akan berkaitan dengan adanya listrik, karena jika tidak ada listrik alat – alat elektronik juga tidak akan berfungsi. Oleh karena itu, listrik menjadi sangat penting keberadaanya dalam kehidupan sehari – hari untuk digunakan sumber tenaga. Misalnya untuk lampu, televisi, telepon, dan lain – lain.
    Dalam elektronika tentunya ada beberapa komponen elektronik yang berfungi untuk menunjang kinerja dari alat elektronik tersebut. Maka dari itu, kita perlu mengetahui komponen apa saja yang ada dalam alat elektronik. Setelah mengetahui komponen tersebut pastinya kita memerlukan pengukuran pada komponen elektronika agar dapat diketahui bahwa komponen tersebut berfungsi atau tidaknya.

    1.2 Rumusan masalah
    1.2.1 Komponen apa saja yang ada dalam elektronika ?
    1.2.2 Alat – alat apa saja yang biasa digunakan untuk mengukur komponen elektronika ?
    1.2.3 Bagaimana cara mengukur komponen elektronika ?

    1.3 Tujuan penulisan
    1.3.1 Mengetahui dan memahami komponen elektronika.
    1.3.2 Mengetahui dan memahami alat ukur komponen elektronika.
    1.3.3 Mengetahui dan memahami cara menggunakan alat ukur komponen elektronika.

    BAB II
    PEMBAHASAN

    2.1. Resistor
    Resistor adalah salah satu komponen yang sering ditemukan dalam rangkaian elektronika. Hampir disetiap peralatan elektronika menggunakannya. Pada dasarnya resistor yaitu komponen elektronika pasif yang memiliki nilai resistansi atau hambatan tertentu yang berfungsi untuk membatasi dan mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian elektronika. Resistor atau yang sering disebut dalam bahasa Indonesia dengan sebutan Hambatan atau Tahanan, dan biasanya disingkat dengan huruf “R”. Satuan hambatan atau resistansi resistor yaitu Ohm (Ω). Sebutan Ohm diambil dari nama penemunya yaitu Georg Simon Ohm yang juga merupakan seorang fisikawan jerman. Untuk mengatur dan membatas arus listrik dalam suatu rangkaian elektronika, resistor bekerja berdasarkan hukum Ohm. Resistor sendiri mempunai dua kaki yang tersambung dengan dua terminal yang masing-masing adalah positif dan negatif.

    Symbol Resistor
    Resistor yang berbentuk axial adalah resistor yang mempunyai beberapa warna-warna dan letaknya terdapat di body resistor itu sendiri. Umumnya terdapat 4 gelang di badan Resistor, tetapi ada juga yang mempunyai 5 gelang. Pada badan resistor bewarna emas dan perak biasanya terletak ber jauhan dari gelang warna lainnya sebagai tanda gelang terakhir. Gelang terakhir ini juga merupakan nilai toleransi pada nilai resistor yang bersangkutan.
    Dibawah ini adalah warna-warna yang terdapat di badan resistor:

    2.1.1. Cara perhitungan untuk resistor dengan 4 gelang warna:

    1. Masukkan langsung angka dari kode warna Gelang ke-1
    2. Masukkan langsung angka dari kode warna Gelang ke-2
    3. Masukkan Jumlah nol untuk kode warna gelang ke-3 atau pangkatkan angka tersebut dengan 10 (10n)
    4. Merupakan toleransi dari nilai resistor itu sendiri.
    Contoh:
    Gelang ke 1 : coklat = 1
    Gelang ke 2 : hitam = 0
    Gelang ke 3 : hijau = 5 nol dibelakang angka gelang ke-2 atau kalikan 105
    Gelang ke 4 : perak = Toleransi 10%
    Maka pada nilai resistor tersebut adalah 10 * 105 = 1.000.000 Ohm atau 1 MOhm dengan toleransi 10%.
    2.1.2. Cara perhitungan untuk resistor dengan 5 gelang warna:

    1. Masukkan langsung angka dari kode warna Gelang ke-1
    2. Masukkan langsung angka dari kode warna Gelang ke-2
    3. Masukkan langsung angka dari kode warna Gelang ke-3
    4. Masukkan Jumlah angka nol dari kode warna gelang ke-4 atau pangkatkan angka tersebut dengan 10 (10n)
    5. Merupakan toleransi dari nilai resistor tersebut
    Contoh:
    Gelang ke 1 : coklat = 1
    Gelang ke 2 : hitam = 0
    Gelang ke 3 : hijau = 5
    Gelang ke 4 : hijau = 5 nol dibelakang angka gelang ke-2 atau kalikan 105
    Gelang ke 5 : perak = Toleransi 10%
    Maka pada nilai resistor tersebut adalah 105 * 105 = 10.500.000 Ohm atau 10,5 MOhm dengan toleransi 10%.

    2.1.3. Pengukuran resistor dengan multimeter
    Pada perangkat elektronik, resistor pada umumnya digunakan untuk membagi arus dan membagi tegangan. Untuk mengetahui besar tahanan dari sebuah resistor, kita membutuhkan sebuah alat ukur yang sering disebut dengan ohmmeter. Alat ukur lain yang paling banyak digunakan oleh seorang teknisi adalah multimeter.

    Multimeter alat ukur kelistrikan multifungsi
    Multimeter merupakan alat ukur dengan banyak fungsi, pada umumnya bisa digunakan untuk mengukur arus, tegangan dan tahanan. Saat ini multimeter ada dua jenis yang pertama multimeter analog dan multimeter digital. Multimeter analog cara pembacaannya menggunakan jarum penunjuk dan skala, sedangkan multimeter digital pembacaannya lebih mudah dikarenakan sudah ada unit display berbentuk angka.
    A. Mengukur Resistor dengan multitester analog
    kita akan memeriksa sebuah resistor dengan kode warna: kuning, ungu, hitam, dan emas dari hasil perhitungan melihat warna maka kita peroleh nilai resistansi resistor sebesar 47 ohm dengan toleransi 5%. Berikut adalah cara melakukan pengetesan dengan multitesteranalog:

    1. Sebelum mengukur resistor perhatikan dulu skala saklar fungsi pada multitester. Biasanya pada skala yang ada pada saklar fungsi adalah X1, X10, X100, X1K, X10K. Selanjutnya kita sesuaikan posisi saklar fungsi yang akan kita gunakan.

    2. Jika resistor yang akan diukur nilainya dibawah 10 ohm maka kita posisikan saklar fungsi ke nilai X1
    3. Jika resistor yang akan diukur nilainya diatas 10 ohm dan dibawah 100 ohm berarti saklar fungsi diposisikan pada nilai X100
    4. Jika resistor yang akan diukur nilainya di atas 100 ohm dan dibawah 1000 ohm (1K) maka kita posisikan saklar fungsi ke nilai X1K
    5. Jika resistor yang akan diukur nilainya diatas 1K ohm maka kita posisikan saklar fungsi ke nilai X10K
    nilai resistor yang akan diukur harus pada rentang nilai berapa pada saklar fungsi. tehnik pengukuranya yaitu:
    1. Posisikan saklar fungsi pada rentang yang dibutuhkan sesuai nilai resistor yang akan diukur seperti yang sudah dijelaskan di atas.
    2. Hubungkan probe merah dan hitam multitester kemudian perhatikan jarum multitester. kemudian atur posisi jarum supaya menunjuk ke angka Nol (0) dengan cara memutar potensio (adjuster) yang berada tepat dibawah jarum. Hal ini bertujuan supaya hasil pengukuran menjadi akurat. Istilah ini disebut kalibrasi
    3. Hubungkan probe multitester pada kaki resistor, penempatan probe bisa bolak balik karena resistor tidak memiliki polaritas.
    4. Baca hasilnya dengan melihat nilai yang ditunjukan oleh jarum

    Letak skala pembacaan hasil pengukuran ohm
    Contoh 1:
    Nilai resistor yang akan diukur adalah resistor dengan nilai hambatan sebesar 47 ohm. dengan demikian berarti saklar fungsi diposisikan ke skala X1. Jika jarum menujuk ke angka 47 pada skala jarum, maka resistor dalam kedaan bagus. Namun jika jarum menunjukan ke angka yang jauh lebih besar atau jauh lebih kecil berarti nilai resistor sudah berubah dan harus diganti. Kemudian jika jarum tidak bergerak berarti resistor sudah putus.
    Contoh 2:
    Resistor dengan nilai 150 K. Berarti posisi saklar fungsi harus ke posisi X10K, Dengan demikian ketika diukur oleh multitester analog jarum mustimeter harus menujuk ke angka 15.
    15 x 10K = 150K

    Keterangan:
    Letak jarum kemungkinan tidak akan persis tepat menunjuk ke angka yang sesuai dengan nilai resistor, hal ini bisa disebabkan karena toleransi yang ada pada resistor. Sehingga hasil pengukuran bisa sedikit lebih kecil atau lebih besar dari nilai yang ditujukan oleh kode warna pada resistor tersebut.
    Jika kita salah mengatur saklar fungsi maka pengukuran akan sangat sulit untuk dibaca, atau bahkan tidak nilainya tidak terbaca oleh multitester. Sebagai contoh misalnya kita akan mengukur resistor dengan nilai 150K kemudian kita posisikan saklar fungsi ke skala X1. Maka dari hasil pengukuran kemungkina jarum tidak akan bergerak. Kalaupun bergerak, maka jarum akan bergerak sedikit saja

    B. Mengukur Resistor dengan multitester digital
    Ketika menggunakan multitester analog untuk memeriksa sebuah resistor maka kita masih harus menebak atau menghitung hasil yang ditunjuk oleh jarum multitester misalnya angka yang ditunjuk oleh jarum itu 50,5 ohm atau 50,8 ohm. Kita juga diharuskan melakukan kalibrasi yaitu merubah posisi jarum ke angka nol sebelum pengukuran. Namun dengan menggunakan multitester digital hal tersebut tidak perlu dilakukan lagi karena nilai yang ditampilkan pada LCD adalah nilai yang sebenarnya. Selain itu tidak perlu dilakukan kalibrasi sebelum melakukan pengukuran resitor seperti halnya menggunakan multitester analog.
    Cara pengukuran resistor menggunakan multitester digital:
    1. Pertama, rubah posisi saklar fungsi ke posisi ohm (ada lambang ohm)
    2. Tempatkan kedua probe multitester ke kaki resistor
    3. Lihat nilai yang ditunjukan pada LCD multitester. Nilai yang ditunjukan pada display atau LCD adalah nilai yang sebenarnya.

    pengukuran resistor menggunakan multitester digital

    2.2. Dioda
    Dioda (Diode) adalah Komponen Elektronika Aktif yang terbuat dari bahan semikonduktor dan mempunyai fungsi untuk menghantarkan arus listrik ke satu arah tetapi menghambat arus listrik dari arah sebaliknya. Oleh karena itu, Dioda sering dipergunakan sebagai penyearah dalam Rangkaian Elektronika. Dioda pada umumnya mempunyai 2 Elektroda (terminal) yaitu Anoda (+) dan Katoda (-) dan memiliki prinsip kerja yang berdasarkan teknologi pertemuan p-n semikonduktor yaitu dapat mengalirkan arus dari sisi tipe-p (Anoda) menuju ke sisi tipe-n (Katoda) tetapi tidak dapat mengalirkan arus ke arah sebaliknya.

    Simbol dioda
    2.2.1. Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter
    Untuk mengetahui apakah sebuah Dioda dapat bekerja dengan baik sesuai dengan fungsinya, maka diperlukan pengukuran terhadap Dioda tersebut dengan menggunakan Multimeter (AVO Meter).
    A. Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter Analog:
    1. Aturkan Posisi Saklar pada Posisi OHM (Ω) x1k atau x100
    2. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Katoda (tanda gelang)
    3. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Anoda.
    4. Sebelum memulai pengukuran, sebaiknya multimeter dikalibrasi terlebih dahulu.
    5. Baca hasil Pengukuran di Display Multimeter
    6. Jarum pada Display Multimeter harus bergerak ke kanan
    7. Balikan Probe Merah ke Terminal Anoda dan Probe Hitam pada Terminal Katoda (tanda gelang).
    8. Baca hasil Pengukuran di Display Multimeter
    9. Jarum harus tidak bergerak.
    catatan :
    Jika Jarum bergerak, maka Dioda tersebut berkemungkinan sudah rusak.

    B. Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter Digital
    Pada umumnya Multimeter Digital menyediakan pengukuran untuk Fungsi Dioda, Jika tidak ada, maka kita juga dapat mengukur Dioda dengan Fungsi Ohm pada Multimeter Digital.
    Cara Mengukur Dioda dengan menggunakan Multimeter Digital:
    a. (Fungsi Ohm / Ohmmeter):
    1. Aturkan Posisi Saklar pada Posisi OHM (Ω)
    2. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Katoda (tanda gelang)
    3. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Anoda.
    4. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
    5. Display harus menunjukan nilai tertentu (Misalnya 0.64MOhm)
    6. Balikan Probe Hitam ke Terminal Anoda dan Probe Merah ke Katoda
    7. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
    8. Nilai Resistansinya adalah Infinity (tak terhingga) atau Open Circuit.
    Catatan:
    Jika terdapat Nilai tertentu, maka Dioda tersebut berkemungkinan sudah Rusak.

    b. (Menggunakan Fungsi Dioda)
    1. Aturkan Posisi Saklar pada Posisi Dioda
    2. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Katoda (tanda gelang)
    3. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Anoda.
    4. Baca hasil pengukuran diDisplay Multimeter
    5. Display harus menunjukan nilai tertentu (Misalnya 0.42 V)
    6. Balikan Probe Hitam ke Terminal Anoda dan Probe Merah ke Katoda
    7. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
    8. Tidak terdapat nilai tegangan pada Display Multimeter.
    Catatan:
    Jika terdapat Nilai tertentu, maka Dioda tersebut berkemungkinan sudah Rusak.

    Hal yang perlu diperhatikan disini adalah Cara Mengukur Dioda dengan menggunakan Multimeter Analog dan Multimeter Digital adalah terbalik. Perhatikan Posisi Probe Merah (+) dan Probe Hitamnya (-).
    Cara-cara pengukuran tersebut di atas juga dapat digunakan untuk menentukan Terminal mana yang Katoda dan mana yang Terminal Anoda jika tanda gelang yang tercetak di Dioda tidak dapat dilihat lagi atau terhapus (hilang).

    2.3. Transistor
    Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, di mana berdasarkan arus inputnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya.
    Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal, yaitu Basis (B), Emitor (E) dan Kolektor (C). Tegangan yang di satu terminalnya misalnya Emitor dapat dipakai untuk mengatur arus dan tegangan yang lebih besar daripada arus input Basis, yaitu pada keluaran tegangan dan arus output Kolektor.
    Transistor merupakan komponen yang sangat penting dalam dunia elektronik modern. Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam amplifier (penguat). Rangkaian analog melingkupi pengeras suara, sumber listrik stabil (stabilisator) dan penguat sinyal radio. Dalam rangkaian-rangkaian digital, transistor digunakan sebagai saklar berkecepatan tinggi. Beberapa transistor juga dapat dirangkai sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate, memori dan fungsi rangkaian-rangkaian lainnya.

    2.3.1. Cara Mengukur Transistor
    Kita dapat menggunakan Multimeter Analog maupun Multimeter Digital untuk mengukur ataupun menguji apakah sebuah Transistor masih dalam kondisi yang baik. Perlu diingatkan bahwa terdapat perbedaan tata letak Polaritas (Merah dan Hitam) Probe Multimeter Analog dan Multimeter Digital dalam mengukur/menguji sebuah Transistor.
    Berikut ini adalah Cara untuk menguji atau mengukur Transistor dengan Mengunakan Multimeter Analog dan Multimeter Digital.
    A. Mengukur Transistor dengan Multimeter Analog

    1. Cara Mengukur Transistor PNP dengan Multimeter Analog
    a. Atur Posisi Saklar pada Posisi OHM (Ω) x1k atau x10k
    b. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Basis (B) dan Probe Hitam pada Terminal Emitor (E), Jika jarum bergerak ke kanan menunjukan nilai tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik
    c. Pindahkan Probe Hitam pada Terminal Kolektor (C), jika jarum bergerak ke kanan menunjukan nilai tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik.

    2. Cara Mengukur Transistor NPN dengan Multimeter Analog
    a. Atur Posisi Saklar pada Posisi OHM (Ω) x1k atau x10k
    b. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Basis (B) dan Probe Merah pada Terminal Emitor (E), Jika jarum bergerak ke kanan menunjukan nilai tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik
    c. Pindahkan Probe Merah pada Terminal Kolektor (C), jika jarum bergerak ke kanan menunjukan nilai tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik.
    Catatan:
    Jika Tata letak Probe dibalikan dari cara yang disebutkan diatas, maka Jarum pada Multimeter Analog harus tidak akan bergerak sama sekali atau “Open”.

    B. Mengukur Transistor dengan Multimeter Digital
    Pada umumnya, Multimeter Digital memiliki fungsi mengukur Dioda dan Resistansi (Ohm) dalam Saklar yang sama. Maka untuk Multimeter Digital jenis ini, Pengujian Multimeter adalah terbalik dengan Cara Menguji Transistor dengan Menggunakan Multimeter Analog.

    1. Cara Mengukur Transistor PNP dengan Multimeter Digital
    a. Atur Posisi Saklar pada Posisi Dioda
    b. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Basis (B) dan Probe Merah pada Terminal Emitor (E), Jika Display Multimeter menunjukan nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik
    c. Pindahkan Probe Merah pada Terminal Kolektor (C), jika Display Multimeter nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik.
    2. Cara Mengukur Transistor NPN dengan Multimeter Digital
    a. Atur Posisi Saklar pada Posisi Dioda
    b. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Basis (B) dan Probe Hitam pada Terminal Emitor (E), Jika Display Multimeter menunjukan nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik
    c. Pindahkan Probe Hitam pada Terminal Kolektor (C), jika Display Multimeter menunjukan nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik.
    Catatan:
    Jika Tata letak Probe dibalikan dari cara yang disebutkan diatas, maka Display Multimeter Digital harus tidak akan menunjukan Nilai Voltage atau “Open”.

    2.4. Kapasitor
    Kapasitor adalah Komponen Elektronika yang dapat menyimpan muatan listrik dalam waktu sementara. Untuk mengukur nilai dari sebuah Kapasitor (Kondensator), kita memerlukan sebuah alat ukur yang dinamakan dengan Capacitance Meter (Kapasitansi Meter). Capacitance Meter adalah alat ukur yang khusus hanya mengukur nilai Kapasitansi sebuah Kapasitor. Selain Capacitance Meter, terdapat juga alat ukur gabungan yang dapat mengukur beberapa macam komponen elektronika, diantaranya adalah LCR Meter dan Multimeter.

    LCR Meter adalah alat ukur yang dapat mengukur nilai L (Induktansi / Inductance, untuk mengukur Induktor atau Coil), C (Kapasitansi / Capacitance, untuk mengukur Kapasitor atau Kondensator) dan R (Resistansi / Resistance, untuk mengukur Hambatan atau Resistor) sedangkan Multimeter adalah alat ukur gabungan yang mendapat mengukur Arus, Tegangan, Hambatan (Resistansi) dan juga menguji beberapa macam Komponen Elektronika seperti Dioda, Kapasitor, Transistor dan Resistor.
    Saat ini, telah banyak jenis Multimeter Digital yang telah mempunyai fungsi untuk mengukur nilai Kapasitor sehingga kita tidak perlu membeli alat khusus untuk mengukur nilai Kapasitansi Kapasitor dan tentunya Multimeter sebagai alat ukur gabungan memiliki batas tertentu dalam Mengukur Kapasitansi sebuah Kapasitor. Kapasitor yang mempunyai Kapasitansi yang besar terutama pada Kapasitor Elektrolit (ELCO) tidak semuanya dapat diukur nilainya oleh sebuah Multimeter Digital. Seperti contoh pada salah satu Multimeter dengan merek SANWA yang bertipe CD800a, batas pengukuran Kapasitansi Kapasitor hanya berkisar antara 50nF sampai 100µF.
    Untuk menguji apakah Komponen Kapasitor dapat berfungsi dengan baik, kita juga dapat menggunakan Multimeter Analog dengan Skala Resistansi (Ohm). Multimeter Analog tidak dapat mengetahui dengan pasti nilai Kapasitansi dari sebuah Kapasitor, tetapi cukup bermanfaat untuk mengetahui apakah Kapasitor tersebut dalam Kondisi baik ataupun rusak (seperti Bocor ataupun Short (hubungan pendek).

    A. Menguji Kapasitor dengan Multimeter Analog
    Berikut ini adalah Cara menguji Kapasitor Elektrolit (ELCO) dengan Multimeter Analog:
    1. Atur posisi skala Selektor ke Ohm (Ω) dengan skala x1K
    2. Hubungkan Probe Merah (Positif) ke kaki Kapasitor Positif
    3. Hubungkan Probe Hitam (Negatif) ke kaki Kapasitor Negatif
    4. Periksa Jarum yang ada pada Display Multimeter Analog,
    Kapasitor yang baik, Jarumnya bergerak naik dan kemudian kembali lagi.
    Kapasitor yang rusak, Jarumnya bergerak naik tetapi tidak kembali lagi atau Jarum tidak naik sama sekali.

    B. Mengukur kapasitor dengan multimeter digital yang memiliki fungsi kapasitansi meter.
    Cara mengukur Kapasitor dengan Multimeter Digital yang memiliki fungsi Kapasitansi Meter cukup mudah, berikut ini caranya:
    1. Atur posisi skala Selektor ke tanda atau Simbol Kapasitor
    2. Hubungkan Probe ke terminal kapasitor.
    3. Baca Nilai Kapasitansi Kapasitor tersebut.

    Hal yang perlu diingat, cara di atas hanya dapat digunakan pada Multimeter Digital yang memiliki kemampuan mengukur Kapasitansi.
    Untuk lebih akurat, tentunya kita memerlukan alat ukur khusus untuk mengukur Nilai Kapasitansi sebuah Kapasitor seperti LCR meter dan Capacitance Meter. Cara pengukurannya pun hampir sama dengan cara menggunakan Multimeter Digital, hanya saja kita perlu menentukan nilai Kapasitansi yang paling dekat dengan Kapasitor yang akan kita ukur dengan cara mengatur Sakelar Selektor LCR meter dan Kapasitansi Meter. Dibawah ini adalah gambar bentuk Capacitance Meter, LCR Meter dan Multimeter.

    BAB III
    PENUTUP

    3.1. Kesimpulan
    Pengukuran komponen elektronika sangat penting dalam penggunaanya dalam sebuah rangkaian. Seorang teknisi yang akan merangkai sebuah rangkaian listrik harus mengusai cara pengukuran komponen elektronika. Pengukuran ini juga bisa bertujuan untuk mengetahui kondisi komponen elektronika itu sendiri, apakah komponen tersebut layak digunakan ataupun sesuai atau tidak digunakan dalam suatu rangkaian. Setiap komponen memiliki cara pengukuran yang berbeda-beda dan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda pada saat diukur. Alat ukur yag digunakan bermacam-macam, ada yang bersifat kompleks atau tunggal. Pengukuran suatu komponen elektronika berpengaruh besar dalam membuat suatu rangkaian elektronika.

    3.2. Saran
    1. Lakukan pengukuran pada kompoen sebelum menggunakanya.
    2. Gunakan alat dan prosedur yang tepat untuk mengukur suatu komponen.
    3. Alat ukur yang akan digunakan harus dikalibrasi terlebih dahulu.
    4. Pastikan komponen yang akan digunakan layak digunakan atau tidak.

    DAFTAR PUSTAKA

    Sutrisno. 1986. Elektronika:Teori dasar dan penerapannya. Bandung: ITB.
    Suryatmo, F.. 2005. Dasar – dasar Teknik Listrik. Jakarta: Bina Adiaksara.
    McGraw-Hill. 2007. Electronic Principles,Seventh edition. New York: The McGraw-Hill Companies,inc.
    Holman, J.P.. 1985. Metode Pengukuran Teknik. Jakarta: Erlangga.
    Petruzella, Frank D.. 1996. Industrial Electronies. Yogyakarta: Andi.
    Arismunandar, Artono. 1988. Buku Pegangan Teknik Tenaga Listrik. Jakarta: Pradnya Paramita.
    Bishop, owen. 2004. Dasar – dasar elektronika. Jakarta: Erlangga.
    https://www.technodand.net/2018/02/tehnik-pengetesan-dan-pengukuran-resistor.html (diakses tanggal 22 November 2019).
    https://skemaku.com/cara-mengukur-resistor-dengan-multimeter/ (diakses tanggal 22 November 2019).
    https://cahyokrisma.wordpress.com/2013/09/12/pengukuran-resistor-menggunakan-multimeter/ (diakses tanggal 22 November 2019).
    https://rangkaianelektronika.info/cara-mengukur-besarnya-nilai-resistor/ (diakses tanggal 22 November 2019).
    https://laelitm.com/resistor-fungsi-jenis-karakteristik-cara-menghitungnya/#! (diakses tanggal 22 November 2019).
    http://www.martinrecords.com/info/pengertian-karakteristik-serta-jenis-resistor/ (diakses tanggal 22 November 2019).
    https://teknikelektronika.com/fungsi-dioda-cara-mengukur-dioda/ (diakses tanggal 22 November 2019).
    https://skemaku.com/cara-mengukur-dioda-dengan-multimeter-analog-dan-digital/ (diakses tanggal 22 November 2019).

    • Disusun Oleh :
      Arga Fernando (5211418023)
      Dirga Afisabilla (5211418024)
      Taufiq Setiyawan (5211418025)
      Maulana Iwan Saputra (5211418026)
      Frendy Setyo Nugroho (5211418027)
      Teguh Supriyatno (5211418028)

      1. apa yang dimaksud BJT dan FET ?
      BJT (bipolar junction transistor) adalah salah satu dari dua jenis transistor cara kerjanya dapat di bayangkan sebagai dua diode yang termnal positif atau negatifnya berdempet sehingga ada beda teganganketiga terminal itu yaitu emitor, basis, dan colector.
      FET di bagi mnjadi dua keluarga junction FET dan insulted gate FET. FET lebih jauh lagi menjadi dua tipe enhhancement mode dan defletion mode

      2. fungsi toleransi resistor?
      toleransi adalah perubahan nilai resistansi yang diperbolehkan dan dinyatakan dalam kondisibaik.

      3. apakah ada beda akurasi dalam pengukuran multimeter ?
      multimeter digital penggunaanya lebih akurat karena hasil yang muncul dalam bentuk nomina, sedangkan multimeter analog menggunakan jarum sehingga kondisi pembaca sangat mempengaruhi hasil pegukuran.

      4. Tingkat kesultan pengukuran?
      tingkat kesulitanya relati tergantung keahlian operator.

      5. fungsi resistor selain penghambat?
      menurunkan tegangan, membagi tegangn, dan membangkitkan frkuensi tinggi dan frekuensi rendah.

      6. logic gate dan memory ?
      logic gate adalah gerbang logika yang digunakan dalam bahasa pemrograman pada rangkaian elektronika antara on atau off.
      memory maksudnya teknologi penyimpanan dan pengolahan data dalam skala atomik

      7. hal yang mempengaruhi besar hambatan ?
      Material yang digunakan, luas penampang, rangkaian yang digunakan, dan temperatur

      8. pengaruh warna pada resistor?
      warna gelang yang digunakan menunjukan besarnya hambatan dan toleransi pada resistor

    • Disusun Oleh :
      Arga Fernando (5211418023)
      Dirga Afisabilla (5211418024)
      Taufiq Setiyawan (5211418025)
      Maulana Iwan Saputra (5211418026)
      Frendy Setyo Nugroho (5211418027)
      Teguh Supriyatno (5211418028)

      1. apa yang dimaksud BJT dan FET ? (Feriiansyah Dwi W. 5211418004)
      BJT (bipolar junction transistor) adalah salah satu dari dua jenis transistor cara kerjanya dapat di bayangkan sebagai dua diode yang termnal positif atau negatifnya berdempet sehingga ada beda teganganketiga terminal itu yaitu emitor, basis, dan colector.
      FET di bagi mnjadi dua keluarga junction FET dan insulted gate FET. FET lebih jauh lagi menjadi dua tipe enhhancement mode dan defletion mode

      2. fungsi toleransi resistor? (Salman Dani Z. 5211418005)
      toleransi adalah perubahan nilai resistansi yang diperbolehkan dan dinyatakan dalam kondisibaik.

      3. apakah ada beda akurasi dalam pengukuran multimeter ?( Reza Pahlevi 5211418010)
      multimeter digital penggunaanya lebih akurat karena hasil yang muncul dalam bentuk nomina, sedangkan multimeter analog menggunakan jarum sehingga kondisi pembaca sangat mempengaruhi hasil pegukuran.

      4. Tingkat kesultan pengukuran? Choirul Saleh G. 5211418008)
      tingkat kesulitanya relati tergantung keahlian operator.

      5. fungsi resistor selain penghambat? (M. Nuur Hermawan 5211418016)
      menurunkan tegangan, membagi tegangn, dan membangkitkan frekuensi tinggi dan frekuensi rendah.

      6. logic gate dan memory ? (Fachrizal Ari Setiaji 5211418012)
      logic gate adalah gerbang logika yang digunakan dalam bahasa pemrograman pada rangkaian elektronika antara on atau off.
      memory maksudnya teknologi penyimpanan dan pengolahan data dalam skala atomik

      7. hal yang mempengaruhi besar hambatan ? (Yusuf Subagyo 5211418018)
      Material yang digunakan, luas penampang, rangkaian yang digunakan, dan temperatur

      8. pengaruh warna pada resistor? (Ahmad Zuhri 5211418021)
      warna gelang yang digunakan menunjukan besarnya hambatan dan toleransi pada resistor

  4. RESISTOR

    Dosen Pengampu :
    Dr. Dwi Widjanarko, S.Pd.,ST.,MT.
    Hendrix Noviyanto Firmansyah ,ST.,MT.
    Mata Kuliah : Teknik Tenaga Listrik
    Disusun Oleh :
    Tasya Tamalin ( 5211418001 )
    Moh.Afrizal Muzzaki ( 5211418002 )
    Elfira Musyarifah Ramadhani ( 5211418003 )
    Feri Iansyah Dwi Winara ( 5211418004 )
    Salman Dani Zulkarnain ( 5211418005 )

    PROGAM STUDI TEKNIK MESIN
    JURUSAN TEKNIK MESIN
    FAKULTAS TEKNIK
    UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

    KATA PENGANTAR

    Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, nikmat, taufik dan hidayah-NYA kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, para keluarga, para sahabat, dan mudah-mudahan sampai kepada kita umatnya. Aamiin
    Dalam makalah ini menyajikan tentang resistor. Seiring dengan selesainya penyusunan makalah ini, sepantasnya kami mengucapkan terimakasih kepada pihak yang telah turut membantu kami dalam menyusunan makalah ini.
    Kami menyadari masih banyaknya kekurangan dalam penyusunan makalah ini, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang membangun. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kami maupun pembaca dan mudah-mudahan makalah ini dijadikan ibadah disisi Allah SWT. Aamiin

    Semarang,21 November 2019

    Penyusun

    DAFTAR ISI

    KATA PENGANTAR i
    BAB I 1
    PENDAHULUAN 1
    1.1 Latar Belakang 1
    1.2 Rumusan Masalah 1
    1.3 Tujuan 2
    BAB II 3
    PEMBAHASAN 3
    2.1 Pengertian Resistor 3
    2.2 Macam Macam Resistor 4
    2.3 Fungsi dan Kegunaan Resistor 11
    2.4 Kode warna pada resitor 12
    2.5 Kode huruf pada resitor 15
    2.6 Alat ukur resistor 16
    2.7 Karateristik Resistor 17
    2.8 Prinsip Kerja Resisitor 17
    2.9 Rangkaian Resistor 18
    2.10 Contoh soal dalam rangkaian resistor 21
    2.11 Pengaplikasian Resistor dalam Teknik Mesin 23
    BAB III 24
    PENUTUP 24
    3.1 Kesimpulan 24
    3.2 Saran 24
    DAFTAR PUSTAKA 25

    BAB I
    PENDAHULUAN

    Latar Belakang
    Resistor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk membatasi jumlah arus yang mengalir dalam suatu rangkaian. Sesuai dengan namanya resistor bersifat resistif dan umumnya terbuat dari bahan karbon. Dari hukum Ohms diketahui, resistansi berbanding terbalik dengan jumlah arus yang mengalir melaluinya. Pada resistor menghasilkan tegangan yang sebanding dengan arus listrik melewatinya. Satuan resistansi dari suatu resistor disebut Ohm atau dilambangkan dengan simbol Ω (Omega). Kemampuan resistor dalam menghambat arus listrik sangat beragam disesuaikan dengan nilai resistansi resistor tersebut. Nilai ini ditunjukkan dengan warnanya. Maka dengan mengetahui warna resistor tersebut kita bisa mengetahui kualifikasi resistor tersebut. Dewasa ini dalam dunia teknologi khususnya dibidang komputer dan bahasa pemrograman pada saat ini sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat, berbagai aplikasi diciptakan dan dikembangkan untuk memenuhi suatu kebutuhan sehingga dapat membantu dan meringankan pekerjaan manusia. Berdasarkan uraian di atas, penulis ingin menjelaskan tentang resistor,jenis – jenis resistor,kode warna dan kode huruf dalam resistor,rangakain resistor dll.
    Rumusan Masalah
    Apa pengertian resistor itu ?
    Apa saja jenis-jenis resistor itu ?
    Apa fungsi dan kegunaan dari resistor ?
    Bagaimana kode warna dalam resistor ?
    Bagaimana kode huruf dalam resistor ?
    Apa saja alat ukur dalam resistor ?
    Bagaimana karateristik resistor ?
    Bagaimana prinsip kerja resistor ?
    Apa saja rangkaian dalam resistor ?
    Bagaimana contoh soal tentang rangkaian resistor ?

    Tujuan
    Memahami dan mengetahui pengertian resistor.
    Memahami dan mengetahui jenis-jenis resistor.
    Memahami dan mengetahui fungsi dan kegunaan dari resistor.
    Memahami dan mengetahui kode warna dalam resistor.
    Memahami dan mengetahui kode huruf dalam resistor.
    Memahami dan mengetahui alat ukur dalam resistor
    Memahami dan mengetahui karateristik dari resistor.
    Memahami dan mengetahui prinsip kerja resistor.
    Memahami dan mengetahui rangkaian dalam resistor.
    Memahami dan mengetahui contoh-contoh soal rangkaian resistor.

    BAB II
    PEMBAHASAN

    2.1 Pengertian Resistor
    Resistor adalah suatu benda yang mempunyai nilai tahanan tertentu dan menyerap energi dalam bentuk panas. Resistor juga dapat diartikan adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk membatasi jumlah arus yang mengalir dalam satu rangkaian Dalam prakteknya resistor juga disebut tahanan atau hambatan listrik, ada juga yang menyebut resistance atau werstand (belanda). Sesuai dengan namanya resistor bersifat resistif dan umumnya terbuat dari karbon. Pada umumnya resistor yang banyak beredar dipasaran yaitu resistor dengan bahan komposisi karbon, dan metal film. Resistor ini biasanya berbentuk silinder dengan pita pita warna yang melingkar di badan resistor.
    Resistor disingkat dengan huruf “R” (huruf R besar), satuan yang dipakai untuk menentukan besar kecilnya nilai resistor adalah OHM atau disingkat dengan huruf yunani OMEGA (Ω).Nilai satuan terbesar yang dipergunakan untuk menentukan besarnya nilai Resistor adalah :
    1 Mega Ohm (MΩ) = 1.000.000 Ohm
    1 Kilo Ohm (KΩ) = 1.000 Ohm
    Dari hukum Ohms diketahui, resistansi berbanding terbalik dengan jumlah arus yang mengalir melaluinya. Satuan resistansi dari suatu resistor disebut Ohm atau dilambangkan dengan simbol Ω (Omega). Untuk menyatakan resistansi sebaiknya disertakan batas kemampuan dayanya. Berbagai macam resistor di buat dari bahan yang berbeda dengan sifat-sifat yang berbeda. Spesifikasi lain yang perlu diperhatikan dalam memilih resitor pada suatu rancangan selain besar resistansi adalah besar watt-nya. Karena resistor bekerja dengan dialiri arus listrik, maka akan terjadi disipasi daya berupa panas sebesar W=I2R watt.
    Semakin besar ukuran fisik suatu resistor bisa menunjukkan semakin besar kemampuan disipasi daya resistor tersebut. Umumnya di pasar tersedia ukuran 1/8, 1/4, 1, 2, 5, 10 dan 20 watt. Resistor yang memiliki disipasi daya 5, 10 dan 20 watt umumnya berbentuk kubik memanjang persegi empat berwarna putih, namun ada juga yang berbentuk silinder. Tetapi biasanya untuk resistor ukuran jumbo ini nilai resistansi dicetak langsung dibadannya, misalnya 100 Ω 5 W. Resistor dalam teori dan prakteknya di tulis dengan perlambangan huruf R. Dilihat dari ukuran fisik sebuah resistor yang satu dengan yang lainnya tidak berarti sama besar nilai hambatannya. Nilai hambatan resistor di sebut resistansi.
    Pengertian resistor menurut beberapa ahli antara lain :
    Budiharto (2008:1)
    Menurut Budiharto menyatakan bahwa Resistor ialah salah satu komponen suatu elektronika yang mempunyai fungsi untuk memberikan suatu hambatan terhadap aliran arus listrik”
    Rusmadi (2009:10)
    Menurut Rusmadi menyatakan bahwa “Resistor yaitu suatu tahanan atau sebuah hambatan arus listrik.

    Macam Macam Resistor
    Jenis jenis resistor di bagi menjadi 2 macam yaitu Fixed Resistor (resistor tetap) dan Variable Resistor ( resistor tidak tetap ).
    Fixed resistor (resistor tetap)

    Fixed Resistor adalah jenis Resistor yang memiliki nilai resistansinya tetap dan permanen selama resistor tersebut dalam kondisi yang baik. Nilai Resistansi atau Hambatan Resistor ini biasanya ditandai dengan kode warna ataupun kode Angka. Resistor tetap memiliki ciri ciri yang tidak bisa berubah ubah jika resistor tersebut tidak rusak. Resistor tetap juga terdiri dari beberapa jenis resistor yang dikelompokan berdasarkan bahan penyusun resistor tersebut. Berikut ini adalah pembahasan jenis resistor tetap secara mendetail :
    Resistor Kawat

    Resistor kawat merupakan resistor pertama kali dibuat. Dahulu resistor ini digunakan dalam rangkaian yang masih menggunakan tabung hampa sebagai transistornya. Dengan ukuran fisik yang cukup besar dan juga bentuknya yang bervariasi pada masanya, resistor ini juga memilki nilai hambatan yang cukup besar pula. Resistor kawat juga mampu beroperasi pada arus kuat dan panas yang tinggi sehingga banyak ditemukan pada rangkaian elektronika bagian power. Rating daya yang terdapat pada resistor jadul yang ini adalah dalam bebrabagi ukuran seperti 1 watt, 2 watt, 5 watt, serta 10 watt.
    Resistor Batang Karbon

    Resistor jenis batang karbon terhitung jenis resistor jadul sama seperti resistor kawat. Resistor ini tersusun dari bahan karbon didalamnya dan terdapat kode-kode warna untuk menandai besarnya hambatan dari resistor tersebut. Resistor yang merupakan generasi awal ini untuk penggunaanya saat ini sudah sangat jarang. Sehingga kurang familiar bagi para praktisi elektronika saat ini.
    Resistor Keramik

    Sesuai dengan namanya tentu saja terbuat dari bahan keramik atau porselen, dengan lapisan kaca dibagian terluar. Meskipun ukuranya cukup mungil, namun resistansinya bervariasi, mulai dari kisaran puluhan ohm hingga kilo ohm. Kemajuan Teknologi terutama pada bahan yang dibutuhkan sebagai komponen elektronika, resistor keramik pada saat ini kebanyakan digunakan pada gadget yang memilki ukuran cukup kecil. Coba saja buka perangkat ponsel yang anda miliki, dapat dipastikan akan bisa menemukan resistor jenis ini didalamnya. Resistor ini memiliki rating daya sebesar 1/4 watt, 1/2 watt, 1 watt, dan 2 watt.
    Resistor Film Karbon

    Resistor Jenis Carbon Film ini terdiri dari filem tipis karbon yang diendapkan Subtrat isolator yang dipotong berbentuk spiral. Nilai resistansinya tergantung pada proporsi karbon dan isolator. Semakin banyak bahan karbonnya semakin rendah pula nilai resistansinya. Keuntungan Carbon Film Resistor ini adalah dapat menghasilkan resistor dengan toleransi yang lebih rendah dan juga rendahnya kepekaan terhadap suhu jika dibandingkan dnegan Carbon Composition Resistor.Nilai Resistansi Carbon Film Resistor yang tersedia di pasaran biasanya berkisar diantara 1Ω sampai 10MΩ dengan daya 1/6W hingga 5W. Karena rendahnya kepekaan terhadap suhu, Carbon Film Resistor dapat bekerja di suhu yang berkisar dari -55°C hingga 155°C.
    Resistor Film karbon merupakan sebuah perkembangan dari resistor batang karbon. Resistor ini terbuat dari bahan karbon didalamnya dan diluarnya dilapisi dengan bahan pelindung berupa film. Pelindung ini berguna untuk mencegah adanya pengaruh eksternal terhadap karakteristik dari resistor jenis ini. Dipermukaanya terdapat gelang-gelag warna yang berguna sebagai indikator besarnya hambatan yang terkandung didalam resistor tersebut. Memiliki Rating daya sama dengan Resistor Keramik tetapi kalah dalam segi keefektifan ukuran komponen. Sehingga lebih banyak resistor kramik yang digunakan untuk peralatan elektronik seperti Smartphone daripada menggunakan Resistor Film karbon yang ukurannya relatif lebih besar.
    Resistor Film Metal

    Metal Film Resistor adalah jenis Resistor yang dilapisi dengan Film logam yang tipis ke Subtrat Keramik dan dipotong berbentuk spiral. Nilai Resistansinya dipengaruhi oleh panjang, lebar dan ketebalan spiral logam.Secara keseluruhan, Resistor jenis Metal Film ini merupakan yang terbaik diantara jenis-jenis Resistor yang ada (Carbon Composition Resistor dan Carbon Film Resistor).Penampakan bentuk fisiknya sekilas terlihat bahwa resistor jenis film metal mirip dengan resistor jenis film karbon. Perbedaan hanya pada warna dasar yang berbeda. Namun sebenarnya kedua jenis resistor ini memilki karakteristik yang berbeda. Untuk resistor film metal memiliki katelitian tertinggi dibandingkan dengan resistor tetap jenis lain. Toleransinya hanya berkisar antara 1-5%.Resistor Film Metal memiliki resistensi yang lebih besar dibandingkan dengan Resistor Film Karbon. Jika pada Resistor Film Karbon hanya identik dengan 4 kode warna untuk membacanya, pada Resistor Film Metal terdapat 5 dan juga 6 kode warna. Dalam aplikasinya, resistor film metal biasa digunakan pada perangkat elektronik yang memerlukan ketelitian tinggi, misalnya saja multimeter ataupun alat ukur lainya.
    Variable Resistor ( Resistor tidak tetap )
    Variable Resistor adalah jenis Resistor yang nilai resistansinya dapat berubah dan diatur sesuai dengan keinginan.Pengelompokan jenis resistor variable didasarkan pada bagaimana cara merubah resistansi tersebut. Beberapa jenis resistor yang termasuk dalam variable resistor antara lain :
    Potensiometer

    Potensiometer merupakan jenis Variable Resistor yang nilai resistansinya dapat berubah-ubah dengan cara memutar porosnya melalui sebuah Tuas yang terdapat pada Potensiometer. Nilai Resistansi Potensiometer biasanya tertulis di badan Potensiometer dalam bentuk kode angka.
    Potensiometer merupakan resistor yang dapat kita atur besar resistansinya. Resistor jenis ini cukup sering digunakan dalam rangkaian elektronika semacam fm/am tuner, rangkaian sensor cahaya, dan lain sebagainya.
    Bagian dalam potensiometer terbuat dari kawat berhambatan yang melingkar. Namun selain terbuat dari bahan kawat, ada juga potensiometer yang tersusun dari karbon sehingga ukurannya dapat diperkecil dan interval resistansi yang cukup besar.Potensiometer terdiri dari 2 jenis yaitu potensiometer linier dan potensiometer logaritmik.
    Preset Resistor atau Trimpot

    Preset Resistor atau sering juga disebut dengan Trimpot (Trimmer Potensiometer) adalah jenis Variable Resistor yang berfungsi seperti Potensiometer tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil dan tidak memiliki Tuas.Namun agar kita bisa merubah nilai hambatanya tidak cukup hanya memutar menggunakan tangan kosong ataupun menggesernya saja. Diperlukan alat semacam obeng -/+ untuk memutarnya sehingga nilai resistansinya berubah sesuai dengan yang kita inginkan. Trimpot sama seperti potensiometer juga terdiri atas dua jenis, yaitu trimpot logaritmik dan linear. Memiliki ciri khusus yang bentuk ukurannya lebih kecil dari potensiometer.
    Rheostat

    Rheostat merupakan jenis Variable Resistor yang dapat beroperasi pada Tegangan dan Arus yang tinggi . Rheostat terbuat dari uliran kawat yang rapat,sensitif dan berdiameter cukup besar, sehingga ukuranya pun besar. Rheostat paling sering digunakan dalam laboratorium. Cara mengubah resistansinya cukup mudah, yaitu dengan menggeser kepala bagian atas dari rheostat atau yang dinamakan dengan tiroid.
    LDR (Light Dependent Resistor)

    Seperti yang sudah disinggung diatas, LDR merupakan jenis resistor variabel yang resistansinya dapat berubah seiring dengan intensitas cahaya yang mengenai permukaanya. Dengan sifatnya ini, maka wajar jika LDR biasa digunakan pada lampu-lampu yang bisa mati dan hidup secara otomatis. Sebagai contoh biasanya pada lampu lampu jalan yang akan nyala pada malam hari atau pada saat wilayah sekitar gelap seperti saat mendung dan badai yang menutupi matahari dengan otomatis lampu di jalanan akan nyala dengan sendirinya.
    Resistansi LDR menurun ketika terpapar cahaya dengan intensitas tinggi. Sebaliknya, semakin kecil intensitas cahaya yang mengenai permukaanya maka resitansi LDR akan semakin besar. Konsep kerja LDR dapat dijelaskan dengan konsep fotolistrik yang dicetuskan oleh Enstein.
    NTC ( Negative temperature coefficient ) dan PTC ( Possitive temperature coefficient )

    Untuk kedua jenis resistor ini, dapat mengatur besar resistansinya dengan merubah temperature lingkungan sekitar. Pada resistor NTC (negative temperature coefficient) resisntansi semakin kecil ketika suhu lingkungan naik. Untuk PTC (positive temperature coefficient) berlaku sebaliknya, yaitu semakin tinggi suhu lingkungan semakin besar pula nilai resistansinya.
    Pada dasarnya resistansi setiap bahan pasti dipengaruhi oleh suhu lingkungan meskipun sangat kecil pengaruhnya. Dalam sebuah rangkaian listrik skala kecil faktor ini bisa kita abaikan. Namun tidak jika sudah masuk ke dunia industri skala besar, semua faktor yang dicurigai berpengaruh sebisa mungkin di hitung dan diteliti efek kedepanya.
    Fungsi dan Kegunaan Resistor
    Fungsi resistor adalah sebagai pengatur dalam membatasi jumlah arus yang mengalir dalam suatu rangkaian.Dengan adanya resistor menyebabkan arus listrik dapat di salurkan sesuai dengan kebutuhan.Adapun fungsi resistor secara lengkap adalah sebagai berikut :
    Berfungsi untuk menahan sebagian arus listrik agar sesuai dengan kebutuhan suatu rangkaian elektronika
    Berfungsi untuk menurunkan tegangan sesuai dengan yang di butuhkan oleh rangkaian elektronika
    Berfungsi untuk membagi tegangan
    Berfungsi untuk membangkitkan frekuensi tinggi dan frekuensi rendah dengan bantuan transistor dan kondensor (kapasitor)
    Berfungsi sebagai komponen pembatas aliran arus listrik
    Berfungsi sebagai komponen yang dapat mengatur arus listrik
    Kode warna pada resitor
    Kode warna resistor, nilai resistor atau tahanan biasanya bisa di lihat dari kode warna pada resistor tersebut. Warna tersebut biasanya berupa gelang atau pita. Ada resistor yang memiliki 4 Pita warna, ada yang 5 pita warna dan ada yang 6 pita warna.
    Nilai tahanan resistor ini biasanya dengan satuan Ohm. Berdasarkan kemampuan daya nya, resistor memiliki jenis 1/4 watt, 1/2 watt, 1 watt, 2 watt, makin besar nilai watt nya makin besar ukuran resistor nya. Warna warna pada resistor sudah menjadi standar internasional, atau sering kita dengar dengan istilah standart EIA ( Electronic Industries Alliance ).
    Menghitung resistor 4 pita warna :

    Di bawah table ada contoh 1K, warna nya adalah, coklat, hitam, merah, kemudian emas. Dari mana dapat nilai resistor nya? dan warnanya?.
    Mari kita bahas satu satu rule nya sesuai daftar urut di bawah ini,
    Gelang pertama adalah digit pertama dari nilai tahanan
    Gelang kedua adalah digit kedua, sementara
    Gelang ketiga adalah perpangkatan sepuluh
    Gelang keempat adalah nilai toleransi dari tahanan
    Contoh berapakah nilai tahanan dari warna berikut
    Merah, Merah, orange, emas?
    Coklat, Hitam, Kuning, Emas?
    Jawaban :
    Merah = 2, Merah = 2, orange = 3, emas toleransi 5%, jadi nya adalah, 22 x 10³ = 22.000ohm ± 5% atau bisa disederhanakan menjadi 22k ± 5%
    Coklat = 1, Hitam = 0, Kuning = 4, Emas toleransi 5%, jadi nya adalah, 10 x 10(pangkat)4 = 100.000 ± 5% atau bisa di singkat menjadi 100k ± 5%

    Menghitung resistor 5 pita warna :

    , Cara menghitung nya sama persis dengan 5 pita warna. Coba kita jawab pertanyaan di bawah ini.
    Berapakah nilai tahanan dari warna berikut:
    Violet/Ungu, Abu Abu, Merah, Merah, Coklat?
    Merah, Coklat, Violet/Orang, Hijau, Emas?
    Jawabanya adalah sebagai berikut
    Violet = 7, Abu-abu = 8, Merah = 2, Merah = 2, Coklat = Toleransi 1%, Jadi nilai tahananya adalah 782 x 10(pangkat 2) ± 1% = 78.200 ±1% = atau lebih singkat nya 78k2 ± 1% ohm, atau sering juga disebut 78.2k Ohm.
    Merah = 2, Coklat = 1, Violet = 7, Hijau = 5, Emas = 5%, Jadi nilai tahanannya adalah 217 x 10 (pangkat 5) = 21.700.000 ± 5% = 21M7 ± 5% Ohm

    Kode huruf pada resitor
    Resistor dengan kode huruf dapat kita baca nilai resistansinya dengan mudah karena nilai resistansi di tuliskan secara langsung.Pada umumnya resistor yang di tuliskan dengan kode huruf memiliki urutan penulisan kapasitas daya,nilai resistensi dan toleransi resistor.Kode huruf di gunakan untuk penulisan nilai resistensi dan toleransi resistor.

    Kode huru untuk nilai resistensi :
    R,berarti x 1 (ohm)
    K,berarti x 1000 (KOhm)
    M,berarti x 1000000 (MOhm)
    Kode huruf untuk nilai toleransi :
    F, untuk toleransi 1 %
    G, untuk toleransi 2 %
    J, untuk toleransi 5 %
    K, untuk toleransi 10 %
    M, untuk toleransi 20 %
    Dalam menentukan suatu resistor dalam suatu rangkaian elektronika yang harus diingat selain menentukan nilai resistensinya adalah menentukankan kapasitas daya dan toleransinya.

    Alat ukur resistor
    Multimeter digital :

    Dalam menghitung besarnya hambatan yang terkandung dalam resistor, kita punya beberapa teknik perhitungan. Pertama adalah cara yang paling gampang, yaitu dengan menggunakan multimeter digital. Setelah kita menyetel multimeter digital dalam mode “ohm”, lalu kedua terminal multimeter kita tempelkan dikedua kaki resistor. Dengan itu seketika muncul besar hambatan dari resistor yang kita ukur.
    Multimeter analog :

    Cara kedua yaitu dengan menggunakan multimeter analog. Untuk menggunakan alat ukur ini maka butuh sedikit keahlian dalam membaca skala pada multimeter. Pada multimeter analog, umumnya kita akan menemukan beberapa skala yang dapat digunakan sesuai kebutuhan ketelitian perhitungan.
    Karateristik Resistor
    Parameter kunci dari resistor yaitu nilai resistensi yang di tunjukkan dengan toleransi resistor dalam presentase
    Parameter yang mempengaruhi nilai resitensi antara lain stabilitas jangka panjang atau koefisien suhu
    Koefisien suhu di tentukkan dalam aplikasi presisi tinggi dan di tentukan oleh bahan resistif serta desain mekanik
    Resistensi terhadap daya listrik boros
    Resistor bersifat resistif
    Terbuat dari bahan karbon
    Prinsip Kerja Resisitor
    Prinsip kerja resistor adalah dengan mengatur elektron (arus listrik) yang mengalir melewatinya dengan menggunakan jenis material konduktif tertentu yang dicampur dengan material lain sehingga menimbulkan suatu hambatan pada aliran elektron (arus listrik). Resistor juga dapat dirangkai secara seri, parallel atau gabungannya sehingga dapat digunakan untuk membagi arus listrik, tegangan listrik, penurun tegangan, filter dan sebagainya.
    Resistor adalah komponen elektronika pasif yang tidak memiliki sumber daya listrik sendiri atau fungsi penguatan (amplification) dan pengolahan signal, tetapi hanya mengurangi arus dan tegangan suatu signal yang melewatinya. Pada saat resistor dilewatkan arus listrik maka terdapat sejumlah energi yang hilang dalam bentuk panas.

    Untuk dapat dilewati oleh arus listrik maka pada kedua kaki resistor harus ada beda potensial listrik. Besar potensial listrik ini seimbang dengan besar rugi-rugi panas yang timbul pada resistor. Semakin besar beda potensial listrik , maka semakin besar rugi-rugi panas yang timbul. Pada rangkaian DC beda potensial ini dikenal dengan sebutan voltage drop. Tegangan jepit pada resistor dapat diukur dengan mengukur beda potensial pada kaki-kaki resistor pada saat resistor sedang mengalirkan arus listrik.
    Resistor termasuk jenis komponen elektronika linier yang menghasilkan voltage drop antara kedua kaki ketika arus listrik mengalir melewatinya. Besar arus listrik dan voltage drop yang terjadi mengikuti aturan hukum Ohm. Besar hambatan resistor akan menentukan besar arus listrik yang mengalir atau besar tegangan jepit yang timbul. Hal ini akan sangat berguna dalam pengaturan arus dan tegangan listrik di rangkaian elektronika.
    Rangkaian Resistor
    Rangkaian seri

    Ketika resistor terhubung ‘end-to-end’ sehingga arus yang sama mengalir melalui mereka semua mereka dikatakan mengalir atau dihubungkan secara seri. Sirkuit seperti itu ditunjukkan pada.Perhatikan bahwa, demi kesederhanaan, sumber ggl yang ideal telah digunakan (tidak ada hambatan internal). Dari bab sebelumnya kita tahu bahwa arus yang mengalir melalui resistor akan menghasilkan p.d yang dikembangkan melintasi mereka. Kita juga tahu bahwa jumlah dari p.d.s ini harus sama dengan nilai ggl yang diterapkan. Demikian,
    V_1=IR_1 volt ; V_2=IR_(2 ) volt dan V_3=IR_3 volt
    Namun, arus rangkaian I pada akhirnya bergantung pada ggl E yang diterapkan dan resistansi total R yang ditawarkan oleh rangkaian. Karenanya
    E=IR volt
    Jadi,E=V_1+ V_2+ V_3 volt
    dan menggantikan E,V_1,V_2,dan V_3 dalam persamaan terakhir ini
    IR=IR_1+IR_2 + IR_3 volt
    dan membagi persamaan terakhir ini dengan faktor umum I
    R=R_1+R_2+ R_3 ohm
    di mana R adalah resistansi total sirkuit. Dari hasil ini dapat dilihat bahwa ketika resistor dihubungkan secara seri, hambatan total ditemukan hanya dengan menambahkan nilai-nilai resistor.
    Rangkaian Paralel

    Ketika resistor bergabung ‘berdampingan’ sehingga ujungnya yang terhubung saling terhubung, konon dihubungkan secara paralel. Menggunakan bentuk koneksi ini berarti bahwa akan ada sejumlah jalur yang melaluinya arus dapat mengalir. Sirkuit yang terdiri dari tiga resistor ditunjukkan pada Gambar 2.4, dan sirkuit tersebut dapat dianalisis sebagai berikut.
    Karena ketiga resistor terhubung langsung di terminal baterai maka mereka semua memiliki tegangan yang sama dikembangkan di mereka. Dengan kata lain tegangan adalah faktor umum dalam pengaturan resistor ini. Sekarang, masing-masing resistor akan memungkinkan nilai arus tertentu mengalir melalui itu, tergantung pada nilai resistansi. Demikian,
    I_1= E/R_1 ampere; I_2= E/R_2 ampere;dan I_3= E/R_3 ampere
    Total arus rangkaian I ditentukan oleh ggl yang diterapkan dan resistansi total Irangkaian R,
    Jadi,I= E/R ampere
    Juga, karena ketiga arus cabang berasal dari baterai, maka total arus rangkaian harus merupakan jumlah dari tiga arus cabang
    Jadi,I= I_1+ I_2+ I_3
    dan mengganti ekspresi di atas untuk arus:
    E/R= E/R_1 + E/R_2 + E/R_3
    dan membagi persamaan di atas dengan faktor umum E:
    1/R= 1/R_1 + 1/R_2 + 1/R_3 siemen

    1/R= G siemen ,dan 1/G=R ohm
    Namun, ketika hanya dua resistor yang paralel, resistansi gabungan dapat diperoleh secara langsung dengan menggunakan persamaan berikut:
    R= (R_1 x R_2)/(R_1+ R_2 )

    Contoh soal dalam rangkaian resistor
    Seri
    Untuk sirkuit yang ditunjukkan pada Gambar. 2.2 hitung (a) resistansi rangkaian, (b) arus rangkaian, (c) p.d. dikembangkan di masing-masing resistor, dan (d) daya hilang oleh rangkaian lengkap ?

    Diketahui ,E=24 v ; R_1=330 ohm ; R_2=1500 ohm ; R_3=470 ohm
    Di tanya ,(a)resistensi rangkaian,(b)arus rangkaian,(c)p.d,(d)daya yang hilang ?
    Di jawab∶
    (a) R = R_1+ R_2+ R_3 ohm
    =330+1500+470
    R =2300 ohm atau 2,3 Kohm
    (b) I =E/A ampere
    = 24/3000
    I =10,43 mA
    (c) V_1 =IR_1 volt
    =10,43 x 〖10〗^(-3) x 330
    V_1 =3,44 volt
    〖 V〗_2 =IR_2 volt
    =10,43 x 〖10〗^(-3) x 1500
    〖 V〗_2 =15,65 volt
    〖 V〗_3 =IR_3 volt
    =10,43 x 〖10〗^(-3) x 470
    〖 V〗_3 =4,90 volt
    (d)P =EI watt
    =24 x 10,43 x 〖10〗^3
    P =0,25 watt atau 250 mWatt

    Rangkaian Paralel
    Mempertimbangkan rangkaian Gambar 2.5, menghitung (a) resistansi total rangkaian, (b) arus tiga cabang, dan (c) arus yang diambil dari baterai ?

    Di ketahui ,E=24 v ; R_1=330 ohm ; R_2=1500 ohm ; R_3=470 ohm
    Di tanya ,(a) resistansi total rangkaian,(b)arus tiga cabang,
    (c)arus dari baterai ?
    Di jawab,
    (a) 1/R= 1/R_1 + 1/R_2 + 1/R_3 siemen
    = 1/330+ 1/1500+ 1/470
    =0,00303+0,000667+0,00213
    =0,005285 siemen
    R=171,68 ohm ( timbal balik dengan 0,005285)
    (b) I_1= E/R_1 ampere
    = 24/330
    〖 I〗_1=72,73 mA
    〖 I〗_2= E/R_2 ampere
    = 24/1500
    I_2=16 mA
    〖 I〗_3= E/R_3 ampere
    = 24/470
    〖 I〗_3=51,06 mA
    (c) I = I_1+I_2+ I_3 ampere
    =72,73+16+51,06 ampere
    I = 139,8 mA
    Atau dengan rumus
    I = E/R ampere
    = 24/171,68
    I = 139,8 mA
    Pengaplikasian Resistor dalam Teknik Mesin
    Resistor dalam bidang teknik mesin diaplikasikan sebagai berikut :
    Resistor di gunakaan untuk membatasi arus listrik yang mengalir menuju koil dari aki. Jika resistor ini putus api tidak akan keluar dari busi, solusi sementara waktu bisa langsung di jumper dengan kabel untuk menghidupkan mesin sebelum ganti resistor yang baru.
    Flasher sein pada kendaraan.

    BAB III
    PENUTUP
    3.1 Kesimpulan
    Berdasarkan penjelasan makalah yang telah penulis susun, penulis menyimpulkan sebagai berikut :
    Resistor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk membatasi jumlah arus yang mengalir dalam suatu rangkaian.
    Resistor dapat dibedakan menjadi 2, yakni Resistor tetap (Fixed Resistor), Resistor tidak tetap (Variable Resistor).
    Resistor berfungsi sebagai pengatur arus listrik, penahan sebagian arus listrik, menurunkan tegangan, membagi tegangan, dan pembatas arus listrik.
    3.2 Saran
    Dari makalah ini, penulis juga memberikan saran :
    Ada baiknya sebelum mengimplementasikan penggunaan alat-alat elektronika, terlebih dahulu mempelajari materi-materi lebih lanjut tentang cara penggunaan alat dan kegunaan-kegunaannya.
    Sebagai penulis menyarankan agar dapat membaca secara lengkap makalah ini dan sumber-sumber pembelajaran lainnya agar pengetahuan tentang resistor ini dapat dipahami.

    DAFTAR PUSTAKA

    Sa’diyah,Hanifatus.2015.Resistor.Jember.Universitas Jember.
    Hidayat,W.2012.Latar Belakang Resistor.eprints akakom.
    Robertson,R Christoper.2008.Fundamental Electrical and Electronic Principles Third Edition.Slovenia.Charon Tec Ltd,A Macmillan Company.
    Rusmadi, Dedy. 2001. Mengenal Komponen Elektronika. Bandung . PT. Pionir Jaya.
    Prasetyono, Dwi Sunar. 2003. Belajar Sistem Cepat Elektronika. Yogyakarta .PT. Absolut.
    Zam, Efvy Zamidra. 2002. Mudah Menguasai ElektronikaI. Surabaya . PT. Indah Surabaya.
    Wasis P. 1981. Keterampilan Elektronika. Surabaya . PT. Usaha Nasional.
    Ahmad,Jayadin.2007.Elektronika Dasar.Jakarta.Eprints polsri.
    Jagad . 2019 . Macam-macam resistor . Jakarta . Universitas Jakarta.
    Sitepu,Jimmy. 2018 . Kode Warna Dalam Resistor . Malang.

    • 1.Tasya Tamalin ( 5211418001 )
      2.Moh.Afrizal Muzzaki ( 5211418002 )
      3.Elfira Musyarifah Ramadhani ( 5211418003 )
      4.Feri Iansyah Dwi Winara ( 5211418004 )
      5.Salman Dani Zulkarnain ( 5211418005 )

      pertanyaan kelompok 2:
      1. M. rifki fauzan (5211418011)
      ditanya : bagaimana cara mengetahui resitor baik dan kenapa resistor bisa rusak?
      jawab: cara mengetahui resistor itu baik dengan cara dicek menggunakan multimeter dengan kedua kabel dibolak balik letak nya, lalu dilihat dari kode warna nya jika nilai resistansi nya sama dengan yg dikode warna pada pengukuran multimeter berarti resistor masih layak digunakan.
      penyebab dari kerusakan resistor adalah daya yang masuk melalui resistor terlalu besar sehingga resistor menjadi panas dan rusak.

      pertanyaan kelompok 3:
      2. yusup adi p (5211418014)
      ditanya: pada resistor tetap terdapat jenis-jenis resistor, mana yang pali baik dari beberapa jenis resistor tersebut?
      jawab : yang paling baik adalah resistor film metal, karena pada film metal memiliki ketelitian tertinggi dibanding resistor lainnya. dan memiliki resistensi yang lebih besar dan memiliki 5 kode warna dan 6 kode warna.

      pertanyaan kelompok 4:
      3. yahya nur fauzi (5211418017)
      ditanya : nilai resistansi resitor didapat dari mana?
      jawab:
      pengaruh nilai resistansi:
      a. jenis bahan: contohnya pada tembaga memiliki nilai resistansi yang lebih rendah dibandingkan baja.
      b. panjang penghantar : semakin panjang suatu penghantar maka semakin tinggi pula nilai resistansinya.
      c. luas penampang: jika semakin kecil diameter suatu penghantar maka semakin tinggi pula nilai resistansi nya.

      pertanyaan kelompok 5:
      4. teguh supriyatno ( 5211418028)
      ditanya: apa kegunaan resistor jenis ntc dan ptc dalam bidang teknik mesin?
      jawab : pada radiator mobil : jika temperature radiator panas maka tahanan nya rendah dan kipas akan menyala dan sebaliknya.

  5. 1. Tegar Unggul P (5211418006)
    2. Tangguh Pranoto W (5211418007)
    3. Choirul Shaleh G (5211418008)
    4. Syah Reza P (5211418010)
    5. Muhamad Rifki Fauzan (5211418011)

    MAKALAH TEKNIK TENAGA LISTRIK

    Dosen Pengampu:

    Dr. Dwi Widjanarko, S.Pd., S.T., M.T.
    Hendrix Noviyanto Firmansyah, S.T., M.T.

    Disusun Oleh :

    1. Tegar Unggul P (5211418006)
    2. Tangguh Pranoto W (5211418007)
    3. Choirul Shaleh G (5211418008)
    4. Syah Reza P (5211418010)
    5. Muhamad Rifki Fauzan (5211418011)

    PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN S1
    JURUSAN TEKNIK MESIN
    FAKULTAS TEKNIK
    UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
    TAHUN 2019
    KATA PENGANTAR
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Pertama-tama kami pajatkan puji dan syukur kepada Allah SWT atas berkah dan rahmat-Nya sehingga kami diberikan kesempatan dan kesehatan untuk menyelesaikan Makalah Teknik tenaga listrik tentang “DIODA & PENGGUNAANNYA DALAM TEKNIK MESIN.” Makalah ini merupakan laporan tugas mata kuliah Teknik Tenaga Listrik dan disusun berdasarkan riset kami memalui buku dan internet yang kami rangkum sedemikian rupa agar bisa dipahami dan disesuaikan dengan penugasan yang diberikan oleh dosen pengampu Mata Kuliah Teknik tenaga listrik.
    Selama kurang lebih satu minggu kami kelompok 2 mahasiswa prodi Teknik Mesin S1 mengerjakan makalah tentang DIODA & PENGGUNAANNYA DALAM TEKNIK MESIN. dan menyelesaikan tugas yang diberikan dosen pengampu kami.
    Terimakasih kami ucapkan kepada teman-teman Teknik Mesin S1 angkatan 18 dan keluarga kami masing-masing karena telah mendukung dan mendoakan kami sampai saat ini. Terimakasih juga kepada Bapak Dr. Dwi Widjanarko, S.Pd., S.T., M.T. dan Bapak Hendrix Noviyanto Firmansyah, S.T., M.T. selaku dosen pengampu Mata Kuliah Teknik Tenaga Listrik saya yang telah memberikan bimbingan dan ilmunya kepada saya.
    Penyusunan makalah ini memang membutuhkan waktu dalam pengerjaan nya dan kami menyadari makalah yang kami buat masih banyak kekurangan, sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar laporan kami kelompok 2 menjadi lebih baik. Semoga makalah ini dapat menjadi bahan bacaan dan referensi bagi para pembaca. Aamiin.
    Terimakasih
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
    Semarang, 21 Juni 2019

    (Kelompok 2)
    DAFTAR ISI

    KATA PENGANTAR 2
    DAFTAR ISI 3
    BAB 1 PENDAHULUAN 4
    1.1 Latar Belakang 4
    1.2. Rumusan Masalah 4
    1.3. Tujuan dan Manfaat 5
    BAB 2 PEMBAHASAN 6
    2.1 Sejarah Dioda 6
    2.2 Pengertian diode 7
    2.3 Prinsip kerja diode 8
    2.4 Cara Pemasangan Dioda 9
    2.5 Jenis-jenis Dioda 12
    2.6. Fungsi diode 15
    2.7 Cara Mengukur Dioda 16
    2.8 Aplikasi diode pada rangkaian elektronika 18
    2.9 Penggunaan Diode dalam Teknik Mesin 21
    BAB 3 PENUTUP 23
    3.1 Simpulan 23
    3.2 Saran 23
    DAFTAR PUSTAKA 24

    BAB 1 PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang
    Prinsip kerja diode ditemukan pertamakali antara tahun 1873 – 1874, pertama kali prinsip kerja diode yang di temukan adalah prinsip kerja dioda Kristal (semikonduktor) dan prinsip kerja dioda Termionik, prinsip kerja dioda Kristal ditemukan oleh Karl Ferdinand Braun (1874) sedangkan prinsip kerja dioda termionik ditemukan oleh Frederick Guthrie(1873). Pada saat penemuan prinsip kerja diode dari kedua dioda tersebut lazim disebut dengan rectifier, Hingga pada tahun 1919 dikenalkan dengan nama Dioda oleh Willien Hendry Eccles. Kemudian perinsip kerja dari diode termionik ditemukan juga oleh Thomas Alva Edison pada tahun 1880 yang kemudian dipatenkan pada tahun 1883 di amerika , tetapi kemudian tidak di kembangkan lagi,Dioda termionik yang pertama di patenkan di inggris oleh John Ambrose Fleming pada tahun 1904 kemudian dipatenkan di amerika pada tahun 1905. Sedankan diode Kristal dipatenkan oleh Karl Ferdinand Broun pada tahun 1899 yang kemudian dikembangkan menjadi perangkat detector radio oleh Jagdish Chandra Bose . Maka dari itu disini kita mengenal lebih banyak tentang diode.
    1.2. Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut.
    1. Apa itu sejarah dioda ?
    2. Apa saja dioda itu ?
    3. Apa prinsip kerja diode ?
    4. Bagaimana cara pemasangan dioda ?
    5. Apa saja jenis dioda ?
    6. Apa fungsi dioda ?
    7. Bagaimana cara mengukur dioda ?
    8. Aplikasi apa saja pada diode ?
    9. Penggunaan diode dalam Teknik Mesin ?
    1.3. Tujuan dan Manfaat
    Dari rumusan masalah tersebut, diharapkan dapat mencapai tujuan sebagai berikut.
    1. Mengetahui sejarah dioda
    2. Mengetahui apa itu dioda
    3. Mengetahui apa prinsip, jenis, dan fungsi dioda
    4. Mengetahui bagaimana cara pemasangan dioda
    5. Mengetahui bagaimana cara mengukur diode
    6. Mengetahui aplikasi apa saja pada diode
    7. Mengetahui penggunaan diode dalam teknik mesin
    Diharapkan setelah membaca makalah ini dapat memperoleh manfaat sebagai berikut.
    1. Menambah pengetahuan tentang diode.

    BAB 2 PEMBAHASAN
    2.1 Sejarah Dioda
    Diode adalah Komponen Elektronika Aktif dua kutub yang pada umumnya bersifat semikonduktor yang berfungsi untuk menghantarkan arus listrik ke satu arah dan menghambat arus listrik dari arah sebaliknya. Diode terdiri dari 2 Elektroda yaitu Anoda dan Katoda. Diode dapat disamakan sebagai fungsi katup di dalam bidang elektronika. Diode sebenarnya tidak menunjukkan karakteristik kesearahan yang sempurna, melainkan mempunyai karakteristik hubungan arus dan tegangan kompleks yang tidak linier dan seringkali tergantung pada teknologi atau material yang digunakan serta parameter penggunaan. Beberapa jenis diode juga mempunyai fungsi yang tidak ditujukan untuk penggunaan penyearahan. Awal mula dari diode adalah peranti kristal Cat’s Whisker dan tabung hampa (juga disebut katup termionik). Saat ini diode yang paling umum dibuat dari bahan semikonduktor seperti silikon atau germanium.
    Walaupun diode kristal (semikonduktor) dipopulerkan sebelum diode termionik, diode termionik dan diode kristal dikembangkan secara terpisah pada waktu yang bersamaan. Prinsip kerja dari diode termionik ditemukan oleh Frederick Guthrie pada tahun 1873 Sedangkan prinsip kerja diode kristal ditemukan pada tahun 1874 oleh peneliti Jerman, Karl Ferdinand Braun. Pada waktu penemuan, peranti seperti ini dikenal sebagai penyearah (rectifier). Pada tahun 1919, William Henry Eccles memperkenalkan istilah diode yang berasal dari di berarti dua, dan ode (dari ὅδος) berarti “jalur”. Prinsip kerja diode termionik ditemukan kembali oleh Thomas Edison pada 13 Februari 1880 dan dia diberi hak paten pada tahun 1883 (U.S. Patent 307.031), namun tidak dikembangkan lebih lanjut. Braun mematenkan penyearah kristal pada tahun 1899. Penemuan Braun dikembangkan lebih lanjut oleh Jagdish Chandra Bose menjadi sebuah peranti berguna untuk detektor radio. Penerima radio pertama yang menggunakan diode kristal dibuat oleh Greenleaf Whittier Pickard. Dioda termionik pertama dipatenkan di Inggris oleh John Ambrose Fleming (penasihat ilmiah untuk Perusahaan Marconi dan bekas karyawan Edison) pada 16 November 1904 (diikuti oleh U.S. Patent 803.684 pada November 1905). Pickard mendapatkan paten untuk detektor kristal silikon pada 20 November 1906 (U.S. Patent 836.531).
    2.2 Pengertian diode
    Dioda merupakan komponen semikonduktor yang paling sederhana. Kata dioda berasal dari pendekatan kata yaitu dua elektroda yang mana (di berarti dua) mempunyai dua buah elektroda yaitu anoda dan katoda.
    Dioda adalah piranti elektronik yang hanya dapat melewatkan arus/tegangan dalam satu arah saja, dimana dioda merupakan jenis vacuum tube yang memiliki dua buah elektroda (terminal). Karena itu, dioda dapat dimanfaatkan sebagai penyearah arus listrik, yaitu piranti elektronik yang mengubah arus atau tegangan bolak-balik (AC) menjadi arus atau tegangan searah (DC). Dioda jenis vacuum tube pertama kali diciptakan oleh seorang ilmuwan dari Inggris yang bernama Sir J.A. Fleming (1849-1945) pada tahun 1904.
    Dioda terbentuk dari bahan semikonduktor tipe P dan N yang digabungkan. Dengan demikian dioda sering disebut PN junction. Dioda adalah gabungan bahan semikonduktor tipe N yang merupakan bahan dengan kelebihan elektron dan tipe P adalah kekurangan satu elektron sehingga membentuk Hole. Hole dalam hal ini berfungsi sebagai pembawa muatan. Apabila kutub P pada dioda (anoda) dihubungkan dengan kutub positif sumber maka akan terjadi pengaliran arus listrik dimana elektron bebas pada sisi N (katoda) akan berpindah mengisi hole sehingga terjadi pengaliran arus. Sebaliknya apabila sisi P dihubungkan dengan negatif baterai/sumber, maka elektron akan berpindah ke arah terminal positif sumber. Didalam dioda tidak akan terjadi perpindahan elektron.

    Symbol diode

    Konstruksi diode

    Bentuk fisik diode
    2.3 Prinsip kerja diode
    Dioda banyak sekali digunakan dalam rangkaian perangkat elektronik yang mendukung kebutuhan manusia. Lemari es, televisi, radio, dan AC merupakan beberapa perangkat elektronik yang menggunakan dioda sebagai pelengkap rangkaian listriknya. Sebenarnya, bagaimana prinsip kerja dioda pada perangkat tersebut?
    Sebelum membahas mengenai prinsip kerjanya, perlu diketahui bahwa dioda merupakan komponen listrik yang sifatnya aktif. Dioda akan aktif jika teraliri muatan listrik artinya dioda akan bekerja mendukung kinerja perangkat elektronik jika sudah dialiri listrik. Secara umum prinsip kerja dioda adalah memaksimalkan arus bolak-balik listrik. Dengan arus bolak-balik yang dilewatkan ke dioda maka kinerja peralatan listrik tersebut akan menjadi maksimal. Hal ini pun sesuai dengan fungsi dipasangnya dioda pada rangkaian elektronika. Dengan dipasangnya dioda pada perangkat elektronik, maka arus listrik yang semula bolak-balik akan mengalir pada satu trek saja.
    Intinya, dengan dipasangnya dioda, maka arus yang semula AC akan diubah menjadi arus DC. Agar dioda bekerja secara maksimal, Anda pun harus memastikan bahwa dioda dipasang dengan benar dan tidak terbalik. Setelah memastikan bahwa dioda terpasang dengan baik dan benar, kemudian aliri listrik. Dalam hal ini, listrik memiliki muatan yaitu muatan negatif dan positif.
    2.4 Cara Pemasangan Dioda

    Dengan dipasangnya dioda, arus yang tadinya dua arah ini, akan menjadi satu arah saja. Dioda akan mengubahnya dengan menggunakan teknik yang dinamakan dengan teknik bias. Saat memasang, pastikan terlebih dahulu warna gelang pada ujungnya. Dioda yang baik dan berfungsi adalah dioda dengan warna gelang putih pada ujung pertama dan warna hitam pada ujung ke dua.
    Pemberian warna tersebut bukan hanya untuk memperindah desain namun memiliki fungsi. Satu ujung berfungsi sebagai output dan satu ujung lainnya berfungsi sebagai input. Sekali lagi, jika sampai ujung dipasang terbalik maka perangkat elektronik tidak akan bekerja.
    Karena prinsip kerja dioda yang berbeda dari perangkat listrik lainnya ini, dioda juga sering digunakan dalam perangkat pengaman atau sekering. Jika dilihat dari bahannya, maka dioda dibuat dari bahan semikonduktor. Bahan semikonduktor tersebut memiliki muatan anoda atau P dan muatan katoda atau N. Muatan P merupakan bahan dengan muatan yang kekurangan satu elektron sedangkan muatan P merupakan bahan yang berlebihan elektron.
    Dengan bahan semacam ini dioda dapat bekerja sebagai pembawa tegangan. Tegangan tersebut akan dialirkan sekaligus dipindahkan. Dari pengaliran dan pemindahan arus tersebut dihasilkanlah arus searah atau biasa disebut dengan arus DC. Secara spesik, dioda akan dialiri tegangan maju. Saat dialiri tegangan maju artinya tegangan di sisi P lebih besar dibandingkan pada sisi N. Nantinya, elektron akan mengalir ke arah sisi N dan mengisi kekosongannya.
    Sebaliknya, Anda pun bisa mengaliri dioda dengan tegangan balik. Namun, pada pengaliran tegangan terbalik, maka tidak aka nada elektron yang mengalir ke sisi P. Hal ini dikarenakan jumlah tegangan di sisi N lebih besar atau tinggi. Dioda ini akan digunakan dalam aplikasi rangkaian penyearah. Dua ujung dioda tersebut juga membentuk hole. Hole inilah yang akan diisi dengan arus dan langsung mengalir sekaligus berpindah. Ada beberapa jenis dioda yang digunakan untuk melengkapi kinerja seperti dioda Zener, dioda varaktor, dioda penyearah, dioda terobosan, dan lain-lain.
    Untuk dapat memahami bagaimana cara kerja dioda kita dapat meninjau 3 situasi sebagai berikut ini yaitu :
    1) Dioda Diberi Tegangan Nol

    Gbr. Dioda Diberi Tegangan Nol

    Ketika dioda diberi tegangan nol maka tidak ada medan listrik yang menarik elektron dari katoda. Elektron yang mengalami pemanasan pada katoda hanya mampu melompat sampai pada posisi yang tidak begitu jauh dari katoda dan membentuk muatan ruang (Space Charge). Tidak mampunya elektron melompat menuju katoda disebabkan karena energi yang diberikan pada elektron melalui pemanasan oleh heater belum cukup untuk menggerakkan elektron menjangkau plate.
    2) Dioda Diberi Tegangan Negatif (Reverse Bias)

    Gbr Dioda Diberi Tegangan Negatif
    Ketika dioda diberi tegangan negatif maka potensial negatif yang ada pada plate akan menolak elektron yang sudah membentuk muatan ruang sehingga elektron tersebut tidak akan dapat menjangkau plate sebaliknya akan terdorong kembali ke katoda, sehingga tidak akan ada arus yang mengalir.
    3) Dioda Diberi Tegangan Positif (Forward Bias)

    Gbr. Dioda Diberi Tegangan Positif
    Ketika dioda diberi tegangan positif maka potensial positif yang ada pada plate akan menarik elektron yang baru saja terlepas dari katoda oleh karena emisi thermionic, pada situasi inilah arus listrik baru akan terjadi. Seberapa besar arus listrik yang akan mengalir tergantung daripada besarnya tegangan positif yang dikenakan pada plate. Semakin besar tegangan plate akan semakin besar pula arus listrik yang akan mengalir. Oleh karena sifat dioda yang seperti ini yaitu hanya dapat mengalirkan arus listrik pada situasi tegangan tertentu saja, maka dioda dapat digunakan sebagai penyearah arus listrik (rectifier). Pada kenyataannya memang dioda banyak digunakan sebagai penyearah tegangan AC menjadi tegangan DC.
    2.5 Jenis-jenis Dioda
    Seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan, Dioda kini telah memiliki banyak jenis dan masing-masing jenis memiliki fungsinya. Berikut dibawah ini adalah jenis-jenis Dioda dan penjelasan singkat pada jenis-jenis dioda tersebut.

    1. Dioda Normal (Dioda PN Junction)
    Dioda jenis ini merupakan dioda yang paling sering ditemui dalam rangkaian elektronika, terutama pada rangkaian pencatu daya (power supply) dan rangkaian frekuensi radio (RF). Dioda jenis ini disebut juga Dioda Normal (Normal Diode) karena merupakan dioda standar yang paling umum digunakan ataupun Dioda Penyearah (Rectifier Diode) karena biasanya digunakan sebagai penyearah pada Pencatu Daya. Dioda ini juga dikenal dengan nama PN Junction Diode.
    2. Dioda Bridge (Bridge Diode)
    Dioda Bridge pada dasarnya adalah Dioda yang terdiri dari 4 dioda normal yang umumnya digunakan sebagai penyearah gelombang penuh dalam rangkaian Pencatu Daya (Power Supply). Dengan menggunakan Dioda Bridge ini, kita tidak perlu lagi merangkai 4 buah dioda normal menjadi rangkaian penyearah tegangan AC ke tegangan DC karena telah dikemas oleh produsen menjadi 1 komponen saja. Dioda Bridge ini memiliki 4 kaki terminal yaitu 2 kaki terminal Input untuk masukan tegangan/arus bolak-balik (AC) dan 2 kaki terminal untuk Output Positif (+) dan Output Negatif (-).
    3. Dioda Zener (Zener Diode)
    Dioda Zener adalah jenis dioda yang dirancang khusus untuk dapat beroperasi di rangkaian reverse bias (bias balik). Karakteristik Dioda Zener ini adalah dapat melewatkan arus listrik pada kondisi bias terbalik (reverse bias) apabila tegangan mencapai titik tegangan breakdown-nya. Namun pada saat Forward bias (bias maju), Dioda Zener ini dapat menghantarkan arus listrik seperti Dioda normal pada umumnya. Dioda Zener dapat memberikan tegangan referensi yang stabil sehingga banyak digunakan sebagai pengatur tegangan (Voltage Regulator) pada pencatu daya (Power supply).
    4. Dioda LED (Light Emitting Diode)
    Dioda LED atau Light Emitting Diode merupakan jenis dioda yang dapat memancarkan cahaya monokromatik ketika diberikan tegangan maju (Forward bias). LED ada yang berwarna merah, jingga, kuning, biru, hijau dan putih tergantung pada panjang gelombang (wavelength) dan jenis senyawa semikonduktor yang digunakannya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menemukan aplikasi LED di lampu-lampu penerangan rumah maupun jalan raya, lampu indikator peralatan elektronik dan listrik, lampu dekorasi dan iklan serta backlight untuk TV LCD.
    5. Dioda Foto (Photodiode)
    Dioda Foto atau Photodiode adalah jenis Dioda yang dapat mengubah energi cahaya menjadi arus listrik. Dioda Foto ini sering digunakan sebagai sensor untuk mendeteksi cahaya seperti pada sensor cahaya kamera, sensor penghitung kendaraan, scanner barcode dan peralatan medis. Dioda Foto ini dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu Dioda Photovoltaic yang menghasilkan tegangan seperti sel surya dan Dioda Photoconductive yang tidak menghasilkan tegangan dan harus diberikan sumber tegangan lain untuk penggerak beban.
    6. Dioda Laser (Laser Diode)
    Dioda Laser atau Laser Diode adalah jenis dioda yang dapat menghasilkan radiasi atau cahaya koheren yang dapat dilihat oleh mata dan spektrum inframerah ketika dialiri arus listrik. Dioda Laser ini sering digunakan pada perangkat audio/video seperti Player DVD dan Blueray, Laser pointer, Scanner Barcode, Alat ukur jarak dan Printer laser. LASER pada dasarnya adalah singkatan dari Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation.
    7. Dioda Varactor (Varactor Diode)
    Dioda Varactor atau kadang-kadang disebut juga dengan Dioda Varicap adalah jenis dioda yang memiliki sifat kapasitas yang berubah-ubah sesuai dengan tegangan yang diberikan. Dioda Varactor ini sering digunakan di rangkaian-rangkaian yang berkaitan dengan frekuensi seperti osilator, TV Tuner dan Radio Tuner. Simbol Dioda Varactor atau Dioda Varicap ini dilambangkan dengan sebuah dioda yang ujungnya ditambahkan sebuah kapasitor.
    8. Dioda Tunnel (Tunnel Diode)
    Dioda Tunnel atau Dioda Terowongan adalah jenis dioda yang mampu beroperasi pada kecepatan yang sangat tinggi dan dapat berfungsi dengan baik pada gelombang mikro (Microwave). Dioda Tunnel ini biasanya digunakan di rangkaian pendeteksi frekuensi dan konverter. Dioda Tunner disebut juga dengan Dioda Esaki. Nama Esaki diambil dari nama penemu Dioda jenis ini.
    9. Dioda Schottky (Schottky Diode)
    Dioda Schottky merupakan jenis dioda dengan tegangan maju yang lebih rendah dari dioda normal pada umumnya. Pada arus rendah, tegangan jatuh bisa berkisar diantara 0,15V hingga 0,4V. tegangan ini lebih rendah dari dioda normal yang terbuat dari silikon yang memerlukan 0,6V. Dioda ini banyak digunakan pada aplikasi rectifier (penyearah), clamping dan juga aplikasi RF.
    2.6. Fungsi diode
    Sifat lain dari dioda adalah menghantarkan arus pada tegangan maju dan menghambat arus pada aliran tegangan balik. Selain itu, masih banyak lagi fungsi diodalainnya, sebagai berikut :
    • Sebagai penyearah untuk komponen dioda bridge.
    • Sebagai penstabil tegangan pada komponen dioda zener.
    • Sebagai pengaman atau sekering.
    • Sebagai pemangkas atau pembuang level sinyal yang ada di atas atau bawah tegangan tertentu pada rangkaian clipper.
    • Sebagai penambah komponen DC didalam sinyal AC pada rangkaian clamper.
    • Sebagai pengganda tegangan.
    • Sebagai indikator untuk rangkaian LED (Light Emiting Diode).
    • Dapat digunakan sebagai sensor panas pada aplikasi rangkaian power amplifier.
    • Sebagai sensor cahaya pada komponen dioda photo.
    • Sebagai rangkaian VCO (Voltage Controlled Oscilator) pada komponen dioda varactor.

    2.7 Cara Mengukur Dioda
    a. Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter
    Untuk mengetahui apakah sebuah Dioda dapat bekerja dengan baik sesuai dengan fungsinya, maka diperlukan pengukuran terhadap Dioda tersebut dengan menggunakan Multimeter (AVO Meter).
    b. Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter Analog
     Aturkan Posisi Saklar pada Posisi OHM (Ω) x1k atau x100
     Hubungkan Probe Merah pada Terminal Katoda (tanda gelang)
     Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Anoda.
     Baca hasil Pengukuran di Display Multimeter
     Jarum pada Display Multimeter harus bergerak ke kanan
     Balikan Probe Merah ke Terminal Anoda dan Probe Hitam pada Terminal Katoda (tanda gelang).
     Baca hasil Pengukuran di Display Multimeter
     Jarum harus tidak bergerak. *Jika Jarum bergerak, maka Dioda tersebut berkemungkinan sudah rusak.

    c. Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter Digital
    Pada umumnya Multimeter Digital menyediakan pengukuran untuk Fungsi Dioda, Jika tidak ada, maka kita juga dapat mengukur Dioda dengan Fungsi Ohm pada Multimeter Digital.

    d. Cara Mengukur Dioda dengan menggunakan Multimeter Digital
    (Fungsi Ohm / Ohmmeter)
     Aturkan Posisi Saklar pada Posisi OHM (Ω)
     Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Katoda (tanda gelang)
     Hubungkan Probe Merah pada Terminal Anoda.
     Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
     Display harus menunjukan nilai tertentu (Misalnya 0.64MOhm)
     Balikan Probe Hitam ke Terminal Anoda dan Probe Merah ke Katoda
     Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
     Nilai Resistansinya adalah Infinity (tak terhingga) atau Open Circuit.
    **Jika terdapat Nilai tertentu, maka Dioda tersebut berkemungkinan sudah Rusak.

    e. Cara mengukur diode dengan multimeter digital (Menggunakan fungsi diode)
     Aturkan Posisi Saklar pada Posisi Dioda
     Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Katoda (tanda gelang)
     Hubungkan Probe Merah pada Terminal Anoda.
     Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
     Display harus menunjukan nilai tertentu (Misalnya 0.42 V)
     Balikan Probe Hitam ke Terminal Anoda dan Probe Merah ke Katoda
     Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
     Tidak terdapat nilai tegangan pada Display Multimeter.
    **Jika terdapat Nilai tertentu, maka Dioda tersebut berkemungkinan sudah Rusak.

    2.8 Aplikasi diode pada rangkaian elektronika
    a. Aplikasi dioda sebagai Rectier (Penyearah)
    Aplikasi dioda sebagai penyearah tegangan AC atau rectier adalah rangkaian dasar dari sebuah power supply yang paling banyak digunakan pada hampir semua rangkaian elektronika. Ada terdapat beberapa rangkaian variasi dari penyearah dioda, yang mana masing-masing variasi rangkaian dioda memiliki karakteristik sinyal output yang berbeda pula. Beberapa jenis dasar dioda sebagai rectier atau penyerah adalah rangkaian setengah gelombang (half wave rectier), gelombang penuh center tap (full wave center tapped), dan rangkaian jembatan gelombang penuh (full wave bridge rectier)
    .

    Gambar diatas merupakan contoh aplikasi dioda sebagai rangkaian dioda penyearah yang masing-masing mempunyai hasil gelombang sinyal yang berbeda. Mengenai cara kerja dan pemahaman lebih lanjut tentang rangkaian dioda sebagai rangkaian penyearah akan dijelaskan pada postingan tersendiri.

    b. Aplikasi dioda sebagai Clipper (Pemotong sinyal)
    Rangkaian clipper adalah rangkaian yang berfungsi untuk memotong bagian sinyal tertentu sesuai dengan yang diinginkan. Biasanya rangkaian pemotong sinyal atau clipper banyak digunakan pada rangkaian pemancar FM, yang mana biasanya rangkaian tersebut berfungsi untuk membantu mengurangi noise. Selain itu aplikasi dioda clipper juga dipakai untuk rangkaian pengaman tegangan dan memastikan sinyal tegangan output tidak melebihi batas level tertentu. rangkaian clipper bisa disebut juga sebagai rangkaian pembatas tegangan. Berikut ini adalah contoh rangkaian dari dioda yang digunakan sebagai clipper atau pemotong sinyal.

    c. Aplikasi dioda sebagai rangkaian penjepit (clamping circuits)
    Rangkaian clamper adalah rangkaian yang berfungsi untuk menjepit atau menggeser tegangan puncak dari sinyal menjadi ke level tertentu yang diinginkan. Tegangan puncak yang diubah atau di geser bisa puncak positif atau negatif sinyal. Rangkaian clamper disebut juga dengan rangkaian level shifter atau DC restorer. Berikut adalah contoh rangkaian penjepit sinyal dengan menggunakan dioda.

    d. Dioda sebagai Pengaman polaritas DC
    Polaritas arus DC memang berbeda dengan arus AC yang tidak memiliki persoalan pada polaritas. pada arus DC, ketika polaritas catu daya yang masuk pada rangkaian elektronika dapat mengakibatkan hal yang fatal. Artinya polaritas arus DC yang terbalik dapat merusak rangkaian atau perangkat elektronika terserbut. Untuk itulah diperlukan sebuah pengaman polaritas terhadap rangkaian elektronika yang mayoritas menggunakan arus DC sebagai catuannya untuk menghindari kerusakan akibat catu daya terbalik karena ketidaksengajaan. Dioda merupakan salah satu komponen yang dapat digunakan sebagai pengaman polaritas terbalik dari arus DC. Untuk menggunakannya sangat mudah, cukup bagian positif catu daya atau baterai di hubungkan secara seri terhadap input catuan positif dari rangkaian elektronika yang akan dilindungi. Dioda tersebut harus dipasangkan secara forward biased. Berikut ini adalah contoh rangkaian sederhana dari pengaman polaritas tegangan DC.

    2.9 Penggunaan Diode dalam Teknik Mesin
    Sebagai komponen pengaman elektronika di mobil. Untuk menghindari terbakar atau rusaknya perangkat elektronika di mobil, semisal ECU, radio/tape, dvd, tv atau radio calling jika terjadi kesalahan akibat salah pasang atau terbalik polaritas kutub batray atau aki agar perangkat tersebut tidak rusak.
    Fungsi dioda pada rangkaian relay.Sering kita menemukan pada relay yang terdapat pada mobil terdapat sebuah dioda dibawah relay tersebut.Fungsi dioda ini pada relay otomotif adalah sebagai anti shock tegangan.
    Aplikasi/penggunaan dioda pada sistem kelistrikan sepeda motor bisa ditemukan dalam rangkaian sistem penerangan maupun sistem pengisian yang menggunakan generator AC (alternator), diode (rectifier) bekerja untuk merubah arus AC (bolak-balik) yang dihasilkan alternator menjadi arus Dc (searah). Arus DC ini kemudian disalurkan ke baterai dan beban (load) seperti lampu tanda belok/sein.
    Sebagai saklar ON/OFF pada beberapa fungsi pada lampu kendaraan maupun peralatan manufaktur. Dioda merupakan semikonduktor (komponen) elektronika daya yang memilki dua terminal, yaitu: anoda dan katoda. Dalam rangkaian elektronika daya, dioda difungsikan sebagai sakelar. Dioda juga bisa berlaku sebagai sebuah saklar tertutup apabila bagian anoda mendapatkan tegangan positif sedangkan katoda mendapatkan tegangan negatif dan juga bisa berlaku sebagai saklar terbuka apabila bagian anoda mendapatkan tegangan negati sedangkan katoda mendapatkan tegangan positif.

    BAB 3 PENUTUP
    3.1 Simpulan
    Dioda adalah komponen aktif semikonduktor yang terdiri dari persambungan (junction) P-N.Sifat dioda yaitu dapat menghantarkan arus pada tegangan maju dan menghambat arus pada tegangan balik. Dioda berasal dari pendekatan kata dua elektroda yaitu anoda dan katoda. Dioda semikonduktor hanya melewatkan arus searah saja (forward), sehingga banyak digunakan sebagai komponen penyearah arus. Secara sederhana sebuah dioda bisa kita asumsikan sebuah katup, dimana katup tersebut akan terbuka manakala air yang mengalir dari belakang katup menuju kedepan, sedangkan katup akan menutup oleh dorongan aliran air dari depan katup.
    3.2 Saran
    Demikian makalah ini kami susun, semoga dapat memberikan wawasan dan tambahan ilmu pengetahuan tentang segala hal tentang dioda. Jika ada kekeliruan baik itu dalam isi maupun kata – kata, kami siap untuk menerima kritikan dan saran yang bersifat membangun, demi kelancaran penyusunan tugas di kemudian hari.

    DAFTAR PUSTAKA
    https://rumus.co.id/dioda/
    https://skemaku.com/prinsip-kerja-dioda-pada-peralatan-elektronika/
    https://teknikelektronika.com/jenis-jenis-dioda-diode-pengertian-dioda/
    https://teknikelektronika.com/fungsi-dioda-cara-mengukur-dioda/
    http://tugas-kuliah-makalah-dioda.blogspot.com/
    https://blogpenemu.blogspot.com/2017/04/penemu-dioda-dan-sejarah-penemuannya.html
    http://www.fachrozya.com/2014/01/fungsi-jenis-jenis-dan-pengertian-dioda.html
    – Bishop, Owen. 2002. Electronics a first course. Jakarta: Erlangga.
    – Yohandri dan Asrizal. 2018. Elektronika Dasar. Bandung: Prenada Media.
    https://www.academia.edu/4785778/Dioda_Sebagai_Saklar
    https://teknikelektronika.com/jenis-jenis-saklar-switch-dalam-rangkaian-elektronika/
    https://panduanteknisi.com/fungsi-dioda-dan-cara-kerja-pada-rangkaian-elektronika.html

    • Nama Kelompok:
      1. Choirul Shaleh Gini (5211418008)
      2. Syah Reza Pahlevi (5211418010)
      3. Muhammad Rifki Fauzan (5211418011)
      4. Tegar Unggul Pratama (5211418006)
      5. Tangguh Pranoto Wibowo (5211418007)

      pertanyaan kelompok 1:
      1. Tasya Tamalin (5211418001)
      Apa pengertian dari emisi termionik dan
      jelaskan mengapa bisa menarik!
      Jawab:
      Emisi termionik adalah pembebasan elektron dari elektroda berdasarkan suhunya (melepaskan energi yang dipasok oleh panas). Ini terjadi karena energi panas yang diberikan kepada pembawa mengatasi fungsi kerja material. Pembawa muatan dapat elektron atau ion , dan dalam literatur yang lebih tua kadang-kadang disebut sebagai thermions. Bisa menarik karena kinerja dari emisi termionik tersebut menarik.

      2. Elfira Musyarifah (5211418003)
      apa pengertian cahaya monokromatik dan
      apa fungsinya?
      jawab: Cahaya Monokromatik adalah cahaya yang memiliki panjang gelombang yang sama sehingga satu warna, dan merupakan peristiwa pelenturan cahaya yang akan terjadi jika cahaya melalui celah yang sangat sempit. Fungsinya yaitu untuk membuat lampu supaya lebih terang dan bisa terfokus pada satu titik serta hanya dapat membuat satu warna saja pada lampu.

      pertanyaan kelompok 3:
      1. Nova Adi (5211418015)
      Apa itu dioda tunel, dan apa karakteristik
      yang membedakan dengan dioda lainnya?
      Jawab: Dioda tunel merupakan jenis dioda yang memiliki kemampuan untuk beroperasi dengan kecepatan yang sangat tinggi dan dapat berfungsi dengan baik pada gelombang mikro. karakteristik yang membedakan dengan dioda yang lain yaitu dioda tunel dimana ketika tegangan bias maju kecil diberikan ke dioda tunel, maka arus juga akan meningkat dan jika tegangan meningkat sedikit dengan nilai tertentu maka arus akan berubah menurun hingga titik rendahnya, tetapi jika diberikan tegangan yang tinggi ayau meningkat maka arus juga akan meningkat.

      2. Fawas Abiyu (5211418013)
      Apa bahan dasar semikonduktor dan
      bagaimana bentuk dioda?
      Jawab: Bahan dasar semikonduktor adalah sebuah unsur yang susunan atomnya memiliki elektron valensi lebih dari 1 dan kurang dari 8. Bentuk dioda yaitu tabung kecil yang mempunyai kaki di kanan (katoda) (-) dan kiri (anoda) (+).

      Pertanyaan kelompok 4:
      1. Nico Pratama Rivero (5211418020)
      Apa patokan layak dan tidaknya dioda dan
      apa penyebab jika tidak layak fipakai dan
      dipaksa?
      Jawab: Patokan dioda layak dipakai agau tidak yaitu jika kaki dibalik satunya hidup dan satunya tidak maka dioda layak dipakai, jika 2 kakinya dibolak-balik dan hidup semua maka dioda tidak layak pakai, dan jika kedua kakinya dibolak-balik mati maka juga tidak layak dipakai. Penyebab jika dioda tidak layak pakai dan dipaksakan yaitu tidak terjadi masalah apa-apa tetapi komponen yang lain atau rangkaian yang lain tidak akan hidup karena tidak adanya aliran listrik.

      2. Ahmad Rozikin (5211418019)
      Untuk apa kita mengetahui harga batas
      dioda zener?
      Jawab: Supaya kita tahu batasan-batasan pada dioda zener, dan jika kita tidak mengetahui batasan tersebut maka kita sudah pasti akan salah dalam pemilihan bahan untuk dioda zener tersebut. Misal jika dioda zener bertekanan maka 100 dan kita memberi lebih dari 100 maka akan sia-sia dan terjadi pemborosan, jika kurang dari 100 maka akan lebih hemat. Dan akan terputus jika tegangan tinggi dan akan menyambung lagi jika tegangan turun.

      Pertanyaan kelompok 5:
      1. Arga Fernando (5211418023)
      Faktor apa yang mempengaruhi pemilihan
      sebuah dioda?
      Jawab: Faktor yang mempengaruhi yaitu tergantung kita membutuhkan dioda dengan kapasitas berapa dan tegangan berapa, jika kita membutuhkan yang besar atau untuk rangkaian elektronik yang besar maka kita memilih pula tegangan dan kapasitas yang besar, dan jika kita membutuhkan atau menggunakan untuk rangkaian elektronik sederhana maka bisa memakai tegangan dan kapasitas yang sedang saja.

      2. Frendi (5211418027)
      Cara kerja dari gelombang penuh dengan ct,
      setengah gelombang dan gelombang penuh
      dengan jembatan dioda?
      Jawab:
      * Cara kerja gelombang penuh dengan ct yaitu pada saat trrminal output transformator pada d1 memberikan sinyal positif maka terminal output pada d2 memberikan sinyal negatif, pada kondisi ini d1 pada posisi forward dan d2 pada posisi reverse dan terus-menerus (berulang).
      * Cara kerja setengah gelombang yaitu mengambil sisi sinyal positif pada gelombang AC dari transformator, pada saat transformator kemberikan output sisi positif dari gelombang AC maka diode dalam keadaan forward sehingga sisi positif gelombang AC dilewatkan dan pada saat transformayor memberikan sinyal sisi negatif maka sinyal tersebut akan ditahan dan terus-menerus(berulang).
      * Cara kerja gelombang penuh dengan jembatan dioda yaitu pada saat transformator memberikan tegangan sisi positif maka pada d1, d4 pada posisi forward bias dan d2, d3 pada posisi reverse bias sehingga akan dilewatkan pada d1 ke d4 dan terus-menerus (berulang).

  6. kelompok 3 1.Fachrizal Ari Setiaji(5211418012) 2.Fawwaz Abiyyu P(5211418013) 3.Yusup Adi Prasetyo(5211418014) 4.Nova Adi Pradana(5211418015) 5.Muhammad Nuur H(5211418016)

    Kelompok 3
    Nama anggota
    1. Fachrizal Ari Setiaji (5211418012)
    2. Fawwaz Abiyyu P (5211418013)
    3. Yusup Adi Prasetyo (5211418014)
    4. Nova Adi Pradana (5211418015)
    5. Muhammad Nuur H (5211418016)

    Soal
    1. Apa perbedaan konfigurasi common base dan common collector? (pertanyaan Mohammad Afrizal Muzaki-5211418002)
    2. Bagaimana proses pembiasan pada transistor? (pertanyaan Tangguh Pranoto Wibowo-5211418007)
    3. Apa yang menyebabkan transistor mengalami kerusakan dan ciri-ciri transistor rusak? (pertanyaan Dewa Suryanegara-5211418022)
    4. Apa maksud dari kode TIP dan jenis-jenis nya? (pertanyaan Taufiq Setyawan-5211418025)

    Jawaban
    1. -konfigurasi common base adalah konfigurasi yang kaki basis-nya digroundkan dan digunakan bersama untuk input maupun input. pada konfigurasi common base sinyal input dimasukan ke emitor dan sinyal output diambil dari kolektor sedangkan kaki basisnya diground-kan
    -konfigurasi common collector memiliki sifat dan fungsi yang berlawanan dengan common base (basis bersama). jika pada common base menghasilkan penguatan tegangan tanpa memperkuat arus, maka common collector memiliki fungsi yang dapat menghasilkan penguatan arus namun tidak menghasilkan penguatan tegangan.

    2. misalkan transistor NPN dihubungkan dengan dua sumber tegangan, yaitu VBE dan VCE. Untuk membuat transistor menghantarkan arus dari kolektor ke emitor, nilai VBE harus diatas nilai minimum transistor tersebut. Nilai minimum VBE pada daerah aktif adalah 0.7 volt (untuk transistor silikon) dan 0,2 volt (untuk transistor germanium).
    Tegangan VBE yang digunakan untuk membuat sambungan p-n antara kaki basis dan emitor dapat mengalirkan aliran listrik konvensional dari basis ke emitor dan memungkinkan aliran elektron dari emitor ke basis.
    Pada mode aktif, medan listrik yang terdapat diantara basis dan kolektor (disebabkan oleh VCE) akan menyebabkan mayoritas elektron untuk melintasi sambungan p-n antara kaki kolektor dan basis menuju ke kolektor untuk membentuk arus kolektor IC.

    3. penyebab transistor rusak :
    a. Body power pada transistor short dengan aluminium pendingin yang ada pada transistor.
    b. Arus base yang diterima oleh sebuah transistor terlalu besar.
    c. Beban yang di miliki tidak sesuai dengan yang seharusnya atau daya beban terlalu besar.
    d. Tegangan power yang di berikan pada transistor terlalu besar

    ciri-ciri transistor rusak:
    test kondisi transistor dengan menggunakan multimeter, jika jarum multimeter tidak bergerak maka transistor dalam kondisi baik, jika jarum multimeter bergerak maka transistor dalam kondisi rusak atau bocor

    4. Setiap tipe transistor yang dibuat mempunyai nama atau inisial tentangnya yang dinyatakan dalam huruf-huruf dan angka-angka. Untuk memudahkan cara membaca, kode angka penandaan standart transistor dibagi menjadi 3, yaitu :
    a) Japanese Industrial Standar (JIS)
    Transistor Jepang mempunyai nama / inisial yang diawali dengan kode angka 2 seperti 2SA, 2SB, 2SC, 2SD. Angka 2 berarti transistor, dan huruf S adalah singkatan dari “semiconductor”. Kemudian setelah kode awal 2S ada huruf A, B, C, dan D. Ini mengambil bentuk dari digit, dua surat, nomor seri ( akhiran ) angka adalah salah satu kurang dari jumlah kaki.
    b) JEDEC (USA)
    Transistor Amerika diawali dengan kode : 2N.
    Angka 2 berarti transistor dan huruf N adalah singkatan dari “no-heating” yang mengandung maksud bahwa itu adalah transistor yang tidak memerlukan elemen pemanas ( heating-elemen/heater ), dan bukan bagian dari tabung vakum yang selalu mempunyai elemen pemanas, dan tambahan akhiran menunjukkan penguatan ( Hfe ).
    c) Pro – Elektron (EURO)
    Transistor Eropa diawali dengan kode-kode huruf pertama dan huruf kedua.
    Huruf pertama terdiri dari huruf A dan B, huruf kedua adalah C, D, F, L, S, dan U. Huruf pertama mengindikasikan tentang bahan pembuatannya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here